(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 113


__ADS_3

Lisa mengunci pintu kamar, mulai membuka lemari di mana tersembunyi sebuah laci di balik baju-baju yang menggantung. Dibukanya pintu rahasia itu, diambil sebuah koper berukuran kecil dan mengeluarkannya.


Membuka benda itu dengan cepat, mengeluarkan isi di dalamnya. Mata Lisa menjegil, napasnya memburu berat. Sesak merebak hingga merambat sampai pada kedua mata. Panik karena tak dapat menemukan apa yang disimpannya selama ini.


"Tidak mungkin! Di mana berkas yang kusimpan di sini? Siapa yang sudah berani mengambilnya? Kurang ajar!" umpat Lisa kembali menutup benda itu dan menendangnya dengan kuat hingga membentur dinding.


Dia berdiri, beralih ke tempat lain mencari berkas kepemilikan rumah yang dia tempati. Membuka setiap laci, mengeluarkan pakaian, serta apa saja yang memungkinkan benda itu tersimpan.


"Di mana? Di mana? Di mana benda itu?" racaunya semakin gelisah. Tangan sibuk mengacak-acak segala sesuatu yang terdapat di kamarnya. Menjadikannya berserak di lantai seperti medan tempur.


"Tidak! Pasti wanita itu yang sudah mencurinya saat aku tidur. Ya, pasti! Awas saja kau, wanita sialan!" umpat Lisa menggeram penuh emosi.


Lisa berdiri cepat, keluar kamar terburu-buru. Berjalan tergesa tanpa menghiraukan panggilan Gyan. Kamar di mana Eva masih terbuai dalam hangatnya selimut tebal.


Brak!


Bahkan, pintu yang dibuka kasar tak menggugah tidurnya. Eva tetap terlelap seolah-olah tak peduli pada keadaan sekitar. Hal itu tentu saja semakin menciptakan kecurigaan di hati Lisa terhadapnya.


"Kurang ajar! Dia pikir ini rumahnya!" geram Lisa dengan gigi-giginya yang merapat. Kedua tangannya mengepal udara hingga buku-buku jemari memutih sempurna.


Lisa melangkah cepat, menatap nyalang wanita yang terlelap dalam tidur. Ditariknya selimut itu, terbukalah sebuah tubuh yang terbungkus lingerie tipis. Oh, pantas saja anaknya tergila-gila. Ternyata disuguhkan hal yang tak semestinya.


"Hei, jal*ng! Bangun! Enaknya kau tidur nyenyak setelah mencuri milikku. Bangun!" Lisa mengguncang kasar tubuh Eva hingga terguling di lantai.


Wanita itu meringis, membuka mata perlahan dan mendapati Lisa dalam pandangan yang samar. Eva memejamkan mata untuk menjernihkan penglihatan. Lamat-lamat terlihat jua sosok bengis di hadapannya.


"Ibu! Apa yang kau lakukan?" Eva bertanya bingung saat mendapati dirinya telah berada di lantai.


"Kau pikir apa? Kau masuk ke kamarku diam-diam dan mencuri apa yang menjadi milikku. Katakan, di mana kau menyembunyikan berkas rumah yang kau curi?!" hardik Lisa menatap kejam pada Eva yang terlihat bingung.


Seingatnya semalam dia tidak melakukan apapun selain bergulat dengan Gyan.


"Apa maksud Ibu? Aku tidak mengerti," ucap Eva benar-benar bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti untuk menutupi perbuatanmu. Aku tahu apa tujuanmu menginap di rumahku. Kau ingin mencuri berkas rumah ini dan menguasainya. Sekarang, serahkan apa yang telah kau curi!" bentak Lisa tak mengendurkan otot-otot di wajahnya.


Sial! Kenapa dia bisa tahu, tapi apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba dia datang dan menuduhku mencuri, padahal aku belum menjalankan rencanaku.


Eva mengumpat menatap tajam wajah Lisa yang merah padam karena luapan emosi.


"Ibu! Apa yang Ibu lakukan kepada Eva? Kenapa Ibu membentaknya?" Suara Gyan meninggi, sosoknya muncul kemudian. Dengan membawa kertas di tangan, dia menghampiri Eva dan membantunya berdiri.

__ADS_1


Eva merubah raut wajahnya menjadi menyedihkan, mengadu kepada Gyan apa yang telah dilakukan Lisa kepadanya.


"Aku tidak tahu apa-apa, Gyan. Ibumu datang tiba-tiba dan langsung menuduhku mencuri di rumah ini. Padahal, semalam aku bersamamu dan baru terbangun karena suara keras Ibumu," adu Eva merengek di pelukan pemuda itu.


Gyan menggeram, keadaan pagi yang tegang semakin memanas. Mata merahnya menatap Lisa nyalang, tak lagi ada rasa hormat terhadap wanita yang telah melahirkannya itu.


Sementara Lisa menganga semakin kesal, wajah tuanya mengernyit. Terlihat jelek.


"Apa benar yang dikatakan Eva, Bu? Ibu menuduhnya mencuri?" sentak Gyan dengan suara meninggi di hadapan ibunya.


"Ibu tidak menuduh. Memang itu kenyataannya, dia mencuri berkas rumah ini. Sekarang Ibu hanya ingin memintanya kembali untuk menunjukkannya kepada orang-orang itu!" balas Lisa tak kalah tinggi.


Gyan menoleh kepada Eva, tatapan mata wanita itu menyiratkan ketidaktahuan. Ia menggeleng karena memang tidak mencuri apapun dari rumah itu.


"Ibu lihat, dia tidak mencurinya. Semalaman aku bersamanya. Tidak mungkin dia mencuri," bela Gyan sungguh tak rela Eva dituduh demikian.


"Lalu, kau pikir siapa yang mencuri berkas yang Ibu simpan di tempat tersembunyi jika bukan dia! Benda itu hilang dari sana sejak dia menginap di sini. Rasanya mustahil karena tak satu orang pun tahu. Bahkan, si tua bangka itu saja tidak mengetahuinya," cerca Lisa meradang.


Gyan menghela napas, ada kesalahpahaman di sini. Ia mendekati Lisa, memberikan kertas yang dibawanya.


"Ini wasiat dari si tua bangka Arya. Dia meminta kita meninggalkan rumah ini karena sudah mewariskannya untuk anak yang tidak jelas itu. Ibu bisa membacanya sendiri dan aku pastikan bukan Eva yang mencurinya!" tegas Gyan sembari menyerahkan kertas berisikan tulisan tangan tuan Arya langsung.


Ia meringis ketika rasa sakit mendera bagian dada kirinya.


"Ah, jantungku! Astaga! Sakitnya ...!" rintih Lisa sembari meremas bagian kiri dadanya.


"Ibu!" Gyan mendekat, menopang tubuh Lisa agar tidak terjatuh. Wanita itu menarik napas pendek-pendek, memburu udara sebanyak-banyaknya untuk merenggangkan dada yang menyempit.


"Ibu! Bertahan, Bu. Jangan seperti ini!" Gyan panik, rasa takut terus menjalar ke dalam hati menciptakan kecemasan yang berlebihan.


Eva terburu-buru mengganti pakaian, berhambur mendekati Gyan yang tengah menenangkan Lisa. Wajah wanita tua itu semakin memucat, bagai tak dialiri darah.


"Bernapas, Bu. Pelan-pelan, tenangkan hati Ibu." Eva turut membantu menenangkan Lisa.


Napas Lisa berangsur-angsurkan normal, sesak yang menghimpit perlahan hilang. Ia beranjak dibantu Gyan, meraung keras menumpahkan emosi.


"Kenapa dia setega itu kepadaku? Kenapa?" raung Lisa tak terima dengan apa yang dilakukan tuan Arya kepadanya.


"Tenang, Bu. Ibu harus tenang, Ibu harus menjaga kesehatan jantung Ibu." Gyan mendekap sang ibu, merasa bersalah karena sempat membentaknya tadi.


"Apa yang harus aku lakukan, ke mana kita akan pergi, Gyan." Lisa merengek, tak tahu harus ke mana jika keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Jangan menangis lagi. Bukankah ada Eva, kita tinggal saja di rumah Eva sementara waktu," ujar Gyan sukses membuat kedua mata Eva membelalak.


Lisa mengalihkan pandangan kepada wanita itu, tapi masih saja merasa gengsi untuk meminta maaf atas tuduhannya tadi.


"E-eva ... kau tidak keberatan kami ikut tinggal bersamamu, bukan? Ayolah, bujuk kembali Caesar dan kita sama-sama tinggal di sana," rayu Lisa tak tahu malu.


Eva gugup, bagaimana caranya merayu lelaki itu? Sedangkan dia sudah ditendang dari rumah sekaligus hatinya.


"Aku tidak ingin kembali ke sana. Jika kalian ingin tinggal bersamaku, maka kita bisa pergi ke rumah orang tuaku. Itupun jika kalian bisa menjaga sikap selama di sana. Aku tidak masalah," timpal Eva menunjukkan kembali sifat aslinya.


"Bagaimana, Bu? Tidak masalah, bukan?" ucap Gyan merasa cemas dengan keadaan ibunya.


"Yah, tidak masalah. Untuk sementara saja, bukan?" Lisa menekankan.


Gyan mengangguk, tidak masalah walau hanya sementara. Dia akan merayu Eva agar memberinya tumpangan untuk hidup.


"Bisakah kalian segera meninggalkan rumah ini? Tuan Besar meminta rumahnya dikosongkan hari ini juga." Suara pemimpin kelompok terdengar di ambang pintu, entah sejak kapan dia berdiri di sana.


"Apa kau tidak lihat, ibuku syok. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Beri kami waktu sebentar lagi!" bentak Gyan penuh emosi.


Pemimpin kelompok itu menggelengkan kepala, tidak memberi waktu mereka walau hanya sebentar saja.


"Sudah tidak ada waktu lagi! Silahkan kemasi barang-barang kalian dan segera pergi!" titahnya seraya berbalik enggan mendengar alasan mereka lagi.


Sungguh menyebalkan. Mereka benar-benar keterlaluan.


Gyan menggerutu di dalam hati, tapi tak dapat melakukan apapun. Ia membantu Lisa untuk beranjak dan mendudukkannya di sofa, sedangkan dirinya membereskan semua barang-barang yang mereka miliki.


Dengan membawa rasa sedih yang mendalam, Lisa melangkahkan kaki keluar dipapah Gyan. Isak tangis mengiringi kepergian mereka. Bahkan, mobil yang selalu mereka gunakan disita oleh orang-orang suruhan tuan Arya.


"Mobil ini bukan milik kalian. Kalian tidak berhak menggunakannya," sergah sang pemimpin kelompok merebut kunci mobil dari tangan Gyan.


"Keterlaluan-"


"Tidak ada yang keterlaluan. Ini bahkan tidak sepadan dengan apa yang sudah dilakukan wanita itu terhadap mendiang majikan kami terdahulu. Pergilah! Kalian sudah tidak diterima lagi di keluarga Arya!" sela pemimpin kelompok tersebut tanpa memberi kesempatan untuk Gyan mengumpat sekalipun.


Gerbang dibuka lebar-lebar, secara terang-terangan mengusir mereka bertiga. Lisa terhenyak, terbayang apa yang telah dia lakukan dulu terhadap ibu Caesar yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Lisa tergugu, sedikit rasa sesal menyambangi hati.


Wanita itu terlalu baik, sampai-sampai tak dapat melihat kejahatan yang dilakukan Lisa dulu. Sungguh, dialah manusia yang tidak tahu balas budi dan tidak berperasaan. Bahkan, untuk sekedar berterimakasih saja tak ia lakukan. Justru menikamnya dari belakang. Meracuninya selama bertahun-tahun sama seperti yang ia lakukan terhadap tuan Arya.


Semua itu dia lakukan hanya untuk menguasai seluruh kekayaan ayah dari Caesar itu.

__ADS_1


__ADS_2