(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 13


__ADS_3

Cempaka meringis-ringis sendirian di dalam kamar saat membayangkan wajah kedua pelayan yang merapikan kamarnya.


"Kenapa kamu bisa lupa merapikan itu?" rutuknya pada diri sendiri.


Ia merintih sambil menutupi wajah dengan selimut. Terlalu malu untuk keluar kamar sekalipun. Cempaka bahkan mengunci pintu, hal yang tak pernah dia lakukan selama tinggal di rumah tersebut.


Wanita itu menjatuhkan tubuh di ranjang, menggelung dirinya dengan selimut. Jenuh, tak ada apapun yang dapat ia mainkan. Cempaka menghela napas, memilih untuk memejamkan mata.


****


Di kantor, Caesar tak bisa mendapatkan konsentrasinya untuk bekerja. Dalam pikiran, selalu terbayang adegan semalam yang dia lakukan bersama Cempaka. Bibirnya tersenyum-senyum sendiri, menggelengkan kepala, menggigit pena, dan berdecak gemas.


"Seperti itu rasa seorang gadis rupanya? Dia sampai menjerit cukup keras. Aku yakin beberapa pelayan pasti mendengar," gumam laki-laki berahang tegas itu. Ia menggigit bibir penuh sensual.


"Sangat berbeda dengan milik Eva. Kenapa saat malam pertama dengan Eva aku tidak merasakan sensasi luar biasa seperti saat bersama Cempaka? Apa Eva sudah tidak lagi gadis? Tapi seingatku, dia dan orang tuanya mengatakan tak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun." Caesar mengusap dagu, berpikir sangat keras.


Bukan hanya tak ada bercak merah yang tertinggal di sprei, tapi juga jalannya yang tak sesempit milik Cempaka. Akan tetapi, selama membina rumah tangga, Caesar sangat mencintai Eva, memanjakannya, menjadikanya ratu di rumah itu. Dia tidak pernah ikut campur meski Eva melakukan tindak kekerasan terhadap pelayan di rumah.


Jangan lupakan makan siang Anda, Tuan.


Kalimat pamungkas yang diucapkan Cempaka pagi tadi, membuatnya mengusap perut sendiri. Tiba-tiba rasa lapar datang menghampiri, hal yang selama ini tak ia pedulikan karena harus fokus pada pekerjaan.


"Kenapa rasanya lapar? Tiba-tiba aku ingin makan siang," gumamnya. Ia meraih ponsel menghubungi Eva untuk makan siang bersama.


Sekali, dua kali, sampai tiga kali panggilan, Eva tak jua mengangkatnya. Caesar berdecak. Beralih panggilan mencari kontak Cempaka.


"Astaga! Dia bahkan tidak memiliki ponsel. Aku lupa itu." Caesar mengusap wajahnya sendiri.


Beranjak dari kursi dan pergi keluar, ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan makan siang bersama istri keduanya di rumah.


"Jun, antar aku pulang, tapi sebelum itu mampir ke toko ponsel terlebih dahulu." Ia memerintah Juna.


"Siap, Tuan!"


Diantar sang supir pribadi, Caesar meminta Juna untuk membelikan sebuah ponsel keluaran terbaru untuk Cempaka. Dia bahkan meminta agar ponsel tersebut dibungkus rapi layaknya sebuah kado istimewa.


"Tuan!" Juna memberikan ponsel tersebut kepada Caesar, dan mengemudi menuju rumah.


Para pelayan baru saja menghidangkan menu makan siang di atas meja. Menu yang tak sebanyak saat sarapan juga makan malam. Yudi terkejut dengan kedatangan mobil Caesar. Buru-buru berjalan ke teras menyambut sang tuan.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan!" sapanya sambil membungkukkan tubuh.


"Di mana dia? Aku akan makan siang di rumah bersamanya," ucap Caesar membuat gelagapan sang kepala pelayan. Pasalnya, Caesar tak pernah makan siang di rumah selain di hari libur kerja.


"Nona ada di kamarnya, Tuan. Perlu saya panggilkan?" tanya Yudi mendapat anggukan kepala dari laki-laki itu.


Yudi membungkuk, mengekor jalan Caesar menuju ruang makan. Lalu, pergi ke kamar Cempaka membangunkan wanita itu.


"Nona, turunlah! Tuan ingin makan siang bersama Anda," ucap Yudi sambil mengetuk pintu kamar Cempaka.


Wanita yang tengah bergulung di dalam selimut itu, terhenyak mendengar ucapan Yudi. Tubuhnya secara refleks terduduk, bingung sendiri.


"Tuan? Apa yang kau maksud itu suamiku?" tanya Cempaka menahan suaranya agar tidak berteriak.


"Ya, Nona. Tuan pulang dan ingin makan siang bersama Anda," ulang Yudi kembali mengetuk pintunya.


"Mmm ... bisakah aku makan siang di kamar saja? Aku ... sedikit tak enak badan," ucap Cempaka seraya menggigit bibir.


Dia terlalu malu untuk keluar, apalagi jika harus bertemu dengan Yudi dan pelayan wanita yang membawa sprei itu. Ah ... tidak! Ditaruh di mana mukanya itu? Mereka sudah pasti melihatnya.


Tak ada lagi suara Yudi, Cempaka memutuskan berbaring kembali. Berpikir laki-laki itu tak akan lagi datang mengganggu kecuali membawakan makanan untuknya. Berselang, suara pegangan pintu yang bergerak terdengar dan mengusik ketenangannya.


"Siapa lagi?" Cempaka bergumam lirih, sengaja diam agar dianggap tertidur pulas.


"Buka! Dia menguncinya," titah laki-laki itu kepada Yudi.


Kepala pelayannya memang sigap, dia selalu membawa kunci-kunci bersamanya ketika berada rumah. Yudi mengangguk-anggukkan kepala, mengeluarkan kunci kamar Cempaka dan membukanya.


Eh?


Cempaka menganga ketika pintu itu terbuka, hampir tersedak ludah sendiri melihat Caesar muncul dengan wajah datarnya. Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, tanpa bertanya menempelkan punggung tangannya pada dahi Cempaka.


"Tak enak badan?" tanya Caesar sembari tersenyum miring.


Bibir Cempaka bergerak-gerak, tapi tak dapat berucap. Ia menunduk gugup dan takut. Apakah dia akan mendapat hukuman karena sudah berbohong?


"Masuk!" perintah Caesar tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Cempaka yang tertunduk.


Suara troli didorong terdengar membuat Cempaka mendongak. Seperti layanan di restoran, para pelayan membawakan makan ke kamarnya. Cempaka menganga, melirik Caesar tak percaya.

__ADS_1


"Bukankah kau ingin makan di kamar karena tak enak badan? Jadi, aku akan menemanimu makan. Yudi, siapkan obat untuknya!" ucap Caesar sekaligus memerintah Yudi untuk menyiapkan vitamin.


Cempaka meneguk ludah, dia tidak membutuhkan obat apapun. Hanya malu untuk keluar.


"Buka mulutmu, biar aku suapi." Caesar mengangkat sendok dan mendekatkannya ke mulut Cempaka.


"A-aku bisa sendiri." Cempaka melengos, terlalu malu untuk menerima suapan dari suaminya.


"Buka mulutmu! Biarkan aku menyuapimu," perintah Caesar lagi tak menerima penolakan.


Cempaka menoleh, melihat kegigihan di mata laki-laki itu, ia terpaksa membuka mulut. Menerima suapan pertama dari suaminya. Caesar menghangat, merasa berguna untuk istrinya.


"Anda tidak makan, Tuan? Sekarang, biarkan aku menyuapi Anda. Aku tidak ingin berhutang apapun kepada Anda," ucap Cempaka setelah beberapa kali suapan ia terima dari laki-laki itu.


Caesar merasa getir, hutang? Apa yang dimaksud hutang oleh Cempaka? Apakah melakukan kebaikan terhadap istri terhitung ke dalam hutang?


"Tuan, buka mulut Anda. Ini rasanya enak," pinta Cempaka mendekatkan sendok ke mulut suaminya.


Caesar melirik, terlihat kesedihan di kedua maniknya yang berwarna hitam. Senyum Cempaka tak lagi menghangatkan, tapi membuat hatinya seketika remuk redam. Bahkan makanan yang menyentuh lidah pun terasa hambar.


"Cukup! Aku sudah kenyang. Ini untukmu, jangan menganggapnya sebagai hutang lagi dan jangan lupa minum obatmu," sergah Caesar sembari menyerahkan ponsel yang dibelinya kepada Cempaka.


"Apa ini?"


Caesar tidak menjawab, melainkan berdiri dan hendak pergi.


"Ah, Tuan! Maafkan aku karena sudah berbohong, sebenarnya aku tidak sakit dan aku tidak membutuhkan obat," ucap Cempaka dengan kepala tertunduk.


"Aku tahu. Itu bukan obat, tapi vitamin. Minumlah! Aku harus kembali ke kantor," ucapnya seraya menutup pintu kamar Cempaka.


"Tuan!"


Pintu tersebut kembali terbuka.


"Terima kasih dan hati-hati!" Cempaka tersenyum tulus.


Hati Caesar kembali menghangat, ia tersenyum tipis dan menutup pintu. Kedua pipinya merona, hatinya berbunga. Laki-laki itu berdehem menormalkan perasaannya ketika Yudi ternyata memperhatikan.


Kebahagiaan Tuan terlihat alami, tidak dibuat-buat. Tak seperti dulu.

__ADS_1


Hati Yudi bergumam sambil mengikuti langkah sang tuan. Sementara Cempaka menjerit kegirangan mendapat hadiah sebuah ponsel yang cukup terkenal.


"Anda baik sekali, Tuan." Ia mendekap ponsel tersebut di dadanya.


__ADS_2