(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 67


__ADS_3

Ani meletakkan bayi Evan di dalam keretanya, ia berkeliling tempat pesta membiarkan para tamu menyapa tanpa menyentuh. Atas titah Eva dan Caesar. Sampai pada perkumpulan keluarga Arya, seseorang merebut kereta bayi itu.


"Ingat! Kau hanya pengasuh, bukan nyonya di sini. Jadi, jangan sok berkuasa. Kami keluarganya dan kau tak dapat melarang kami untuk bermain dengannya. Pergi!" usir seorang wanita muda yang mengaku sebagai bagian dari anggota keluarga Arya.


"Maaf, Nona. Saya memang pengasuh, tapi tugas saya lebih daripada itu. Jadi, saya tidak akan pernah meninggalkan Tuan Muda sendirian. Jika Anda ingin bermain, silahkan! Tapi Anda harus tahu batasan," balas Ani tanpa rasa takut dan segan.


Dia tak akan pernah takut untuk melawan bila ada yang berniat mencelakai bayi yang diasuhnya.


"Ani! Kau itu sangat mencemaskan keadaan cucuku. Kami ini keluarganya, kami tidak akan mungkin mencelakai anggota keluarga kami sendiri. Sekarang, ambilkan minum!" Suara Lisa menyeruak masuk, memerintah bak seorang ratu.


Ani bergeming, menatap tajam dan nyalang pada wanita yang memiliki kehormatan sebagai istri dari tuan Arya. Tak berniat melaksanakan perintah darinya, dan tak akan mungkin dia meninggalkan bayi Evan bersama wanita iblis itu.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau masih berdiri di sini? Cepat ambilkan minuman!" Suara Lisa terdengar penuh penekanan, tapi Ani masih berdiri di sana. Tak berniat pergi meninggalkan bayi itu.


"Apa kau tuli? Ibuku memintamu mengambilkan minuman. Kenapa kau masih berdiri di sini?" tegur anak Lisa sembari mendorong bahu Ani.


Mata Ani melirik pemuda itu, sama nyalangnya seperti ia menatap sang ibu.


"Saya pengasuh, bukan pelayan. Jika ingin meminta sesuatu, mintalah pada pelayan yang berlalu-lalang di pesta ini!" tegas Ani dengan berani.


Lisa dan anaknya juga anggota keluarga yang lain, terperangah mendengar kalimat Ani. Rasa tak percaya seorang yang mereka anggap budak, akan melawan seperti yang dilakukan oleh pengasuh itu.


"Kurang ajar! Jika bukan karena menjaga nama baik keluarga Arya, aku ingin sekali mencakar wajahmu itu. Hanya ambilkan minuman, apa susahnya?" sengit salah seorang lainnya sembari mencibirkan bibir.


"Ayolah, Ani. Kau pikir kami akan menyakiti Evan? Jangan gila! Kami ini keluarganya, aku neneknya, dan mereka sepupu Evan. Kami tidak akan mungkin menyakitinya. Sudahlah, hanya ambilkan minuman dan itu tidak jauh," ucap Lisa dengan suara yang melembut.

__ADS_1


Ia meletakkan tangan di bahu Ani dan meremasnya sedikit kuat. Kilatan mata Ani penuh dengan kecurigaan, ia tidak meringis ataupun merasakan sakit, melainkan segera menepis tangan itu dengan kasar.


Kurang ajar! Lisa mengumpat dalam hati.


Ani berbalik, terpaksa melaksanakan perintah mereka untuk mengambilkan minuman. Di kejauhan, Eva melihat kejadian tadi. Dahinya mengernyit, merasa Ani diintimidasi oleh keluarga Lisa yang notabene tidak memiliki darah keluarga Arya.


"Apa yang terjadi di sana? Kenapa Ani meninggalkan Evan sendirian bersama mereka?" Pandangan Eva menyusuri ke mana Ani pergi, dia meminta seorang pelayan untuk membawakan beberapa minuman pada Lisa dan keluarganya.


Ani kembali dengan segera, matanya membelalak diikuti langkah yang semakin cepat tatkala melihat Lisa yang sedang melakukan sesuatu terhadap bayi Evan. Di tangannya memegang sesuatu yang tak terlihat yang ia dekatkan ke mulut bayi itu.


Beruntung, Ani datang lebih cepat dan segera menepis tangan Lisa dengan kasar. Wanita itu menarik kereta bayi Evan, menjauhkannya dari mereka.


"Apa yang akan Anda lakukan? Apa Anda berniat mencelakai Tuan Muda?" pekikan suara Ani menggelegar di tengah pesta.


Lisa terhenyak, wajahnya seketika memucat. Keringat mulai bermunculan memenuhi wajah serta membasahi pakaian. Di kejauhan Eva yang sejak tadi memperhatikan, datang mendekat.


"Keluarkan apa yang Anda pegang! Saya melihat sesuatu di tangan Anda. Jika Anda tidak berniat mencelakai Tuan Muda, maka Anda tidak perlu takut," pinta Ani dengan berani.


Mulut Lisa membelalak, tapi tangannya bergerak menyimpan sesuatu ke dalam saku. Tak terima seorang pengasuh seperti Ani mempermalukannya seperti itu. Ia melirik sekeliling, ada banyak tamu yang berkerumun di dekat mereka.


"Apa? Aku tidak memegang apapun!" sentak Lisa mengeluarkan tangannya yang sempat ia sembunyikan.


"Ada apa ini?" Eva datang menegur, ia mengambil alih kereta bayi Evan dari tangan Ani. Memeriksa bayinya karena ia pun melihat Lisa mendekatkan tangan ke mulut Evan.


Kegaduhan yang terjadi, menarik perhatian Caesar. Laki-laki itu beranjak, berpamitan kepada seluruh kolega bisnisnya untuk mendatangi tempat kejadian.

__ADS_1


Melihat kedatangan Eva, Lisa mencari simpati dengan menyudutkan Ani.


"Eva! Dari mana kau memungut pengasuh yang tidak memiliki sopan santun ini? Dia berani membentak kami, bahkan mengancam kami. Padahal, kami hanya ingin bermain dengan anakmu. Aku rasa dia ingin menguasai bayimu, Eva." Lisa mulai menghasut Eva, matanya melirik Ani yang terlihat biasa saja.


Kurang ajar! Dia bahkan tidak terlihat takut sama sekali. Percaya diri sekali dia!


Hati Lisa mengumpat, geram dengan sikap Ani yang tidak terprovokasi.


"Maaf, Ibu. Aku memang menyerahkan tanggung jawab keselamatan Evan kepada Ani. Jadi, wajar dia bertindak seperti itu karena jika terjadi sesuatu maka Ani yang akan menerima konsekuensinya." Eva membela Ani, dia percaya pengusaha Evan itu bersikap demikian karena melihat bahaya di sekitar bayinya.


"Kenapa kau malah membela dia? Dia sudah keterlaluan, Eva! Apa kau tidak takut suatu saat nanti, Evan akan dijauhkan darimu dan akan lebih memilih dia? Dia bisa menggunakan itu untuk mengancam kalian!" Lisa kembali melirik Ani dengan nyalang.


Ani mengernyit, licik sekali memang wanita hampir tua itu. Dia mengompori Eva dengan segala kemungkinan yang ... mungkin sedikit ada benarnya. Tidak pada bagian mengancam.


"Maaf sekali lagi, Ibu. Aku percaya kepada Ani karena selama ini Evan selalu aman bersamanya. Dia baik-baik saja ketika bersama Ani, dan aku tidak percaya pada siapapun untuk mengasuh anakku kecuali Ani." Eva mempertegas kalimatnya, dengan mata menatap tajam meski bibir tersenyum ramah.


Ani tersenyum penuh kemenangan ketika Lisa menoleh padanya. Kedua tangan wanita itu mengepal erat, geram dan malu karena diperlakukan tak baik seperti itu.


"Kau sudah keterlaluan, Eva! Aku ini ibu mertuamu, tapi kau justru lebih membela pengasuh ini! Kau tidak menghargaiku sama sekali. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Tidak akan pernah!" kecam Lisa dengan air muka yang menyedihkan.


Dia memang tidak berhasil menarik simpati Eva, tapi dia berhasil menarik simpati para tamu.


"Jika saja suamiku ada di sini, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku akan pulang. Ayo!" Lisa berbalik sambil menarik tangan anak lelakinya, pergi meninggalkan pesta dengan air mata berderai.


Sebagian tamu ada yang merasa simpati, dan menyudutkan Eva melalui pandangan yang mereka anggap telah bersikap keterlaluan. Satu per satu tamu meletakkan gelas mereka, dan pergi mengikuti Lisa.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Caesar datang bertanya, tapi Eva mengunci mulutnya.


Tak berniat membahas kejadian tadi untuk saat ini. Ia mengajak Caesar untuk kembali dan tidak mempedulikan tamu yang pergi. Diikuti Ani yang tersenyum diam-diam, merasa puas karena telah membuat Lisa malu dan marah.


__ADS_2