(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 36


__ADS_3

"Kau terlihat pucat. Apa kau sakit?" tanya tuan Arya setelah menilik wajah Cempaka dalam-dalam.


Wanita itu tersenyum, ada kegetiran di dalam hati bila mengingat keadaannya yang saat ini tengah mengandung.


"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja. Anda tidak perlu mencemaskan saya," jawab Cempaka tersenyum menyembunyikan kegetiran.


Tuan Arya memegang tangan wanita itu, diam-diam memeriksa denyut nadi Cempaka. Kemudian tersenyum, ketika merasakan sesuatu yang lain.


"Kau harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah." Ia menepuk tangan Cempaka dengan lembut.


Seperti apa perasaan wanita itu saat ini? Ia sendiri tidak tahu karena sekalipun tak pernah merasakan sentuhan lembut apalagi kasih sayang seorang ayah. Air mata Cempaka luruh begitu saja.


"Kau menangis lagi!" Tuan Arya mengangkat wajah Cempaka yang tertunduk.


Wanita itu tak dapat mengendalikan hatinya. Ia menggeleng seraya beranjak dari duduk.


"Saya permisi, Tuan." Suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis yang menyeruak. Cempaka berlari masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarnya sendiri.


Dia bahkan mengunci pintu tak ingin siapapun juga masuk ke dalam sana. Cempaka menjatuhkan diri di atas ranjang, menelusupkan wajah pada bantal meredam tangisan.


Tak hanya rasa sedih yang dirasakan hatinya, tapi juga rasa haru karena sentuhan lembut tuan Arya. Sentuhan seorang ayah yang tak pernah ia dapatkan.


"Ada apa dengannya?" Tuan Arya bertanya bingung kepada Yudi.


Yang ditanya pun sama bingungnya. Tak tahu harus menjawab apa. Kepala pelayan itu hanya menatap ke dalam rumah tanpa tahu jawaban pertanyaan dari laki-laki tua di depannya.


"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin dia hanya sedang bersedih teringat pada keluarganya." Sekenanya. Seperti itulah jawaban Yudi.


Tuan Arya manggut-manggut mengerti. Teringat pada kisah Cempaka tentang ibu dan kedua adiknya yang telah pergi meninggalkan dunia ini. Sama seperti dirinya yang akan selalu bersedih bila teringat pada mendiang sang istri.


"Yah. Kau benar. Dia merindukan keluarganya. Apa tidak pernah izin untuk pergi menjenguk mereka? Apa peraturan di sini begitu ketat?" Tuan Arya mengangkat pandangan menatap Yudi yang masih bergeming di tempatnya.

__ADS_1


"Seingat saya tidak, Tuan. Tuan Muda selalu memberi kelonggaran ketika mereka izin untuk bertemu keluarga." Yudi mengangguk yakin.


Tuan Arya menganggukkan kepala dan bertanya lagi, "Bagaimana dengan Eva?"


Yudi terdiam, ia tampak berpikir keras mencari jawaban.


"Tidak jauh berbeda seperti tuan muda, Tuan." Yudi membungkuk menghindari penyelidikan mata tua itu.


Tuan Arya selalu tahu kapan seseorang sedang berbohong dan yang tidak. Laki-laki tua menghela napas, ada banyak rahasia yang disembunyikan rumah anaknya dan dia harus menyelidiki semua itu sendirian tanpa ada yang tahu.


****


"Kau di mana?" Caesar menghubungi Eva di kantornya. Ia ingin memberitahukan tentang kehamilan Cempaka pada wanita itu.


"Ada apa? Aku sedang bersama temanku." Eva bangkit sembari menutupi tubuhnya yang polos. Ia melirik laki-laki di samping yang terlelap setelah menunaikan keinginan.


"Datanglah ke kantorku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," titah Caesar sembari mengernyit.


"Sekarang juga?" Eva terdengar malas.


"Kenapa akhir-akhir ini dia begitu malas bertemu denganku?" Caesar bergumam, mulai menaruh curiga pada istri yang amat dicintainya.


"Tidak mungkin Eva selingkuh dariku. Apapun yang dia inginkan aku beri, bahkan menikah kembali demi memiliki anak untuknya. Aku rela. Dia sangat mencintaiku, bukan?" Caesar bertanya pada dirinya sendiri.


Kadang tak percaya diri pada perasaannya. Apakah Eva masih memiliki perasaan yang sama seperti yang dia miliki?


Caesar meletakkan ponsel di meja. Menatap layar laptop yang memamerkan angka-angka dan deretan laporan yang harus diperiksanya. Ia menghela napas kasar, memikirkan perihal istri yang sangat dicintainya.


Sementara Eva, terburu-buru membersihkan diri begitu Caesar mematikan telpon. Berganti pakaian tanpa membangunkan laki-laki itu. Bergegas menuruni anak tangga dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Berita apa yang dimaksud laki-laki itu? Awas saja jika berita itu tak menarik untukku!" ancamnya sembari menjalankan mobil sendiri menembus jalanan ramai di sore hari.

__ADS_1


Dia terbiasa pergi sendiri bila tak bertemu dengan teman-temannya. Khawatir orang-orang Caesar menaruh curiga padanya. Mobil Eva tiba di parkiran khusus pemilik gedung. Disambut seorang laki-laki yang mengekorinya hingga masuk ke dalam lift.


Ia melebarkan langsung ingin segera tiba di ruangan suaminya. Semua karyawan yang berpapasan dengan Eva, menundukkan kepala sopan. Tanpa mengetuk pintu, Eva masuk ke ruangan Caesar.


Ia menatap suaminya dengan senyum manis dan manja, Caesar menunggu di kursinya. Duduk di pangkuan sang suami tanpa segan sembari mengalungkan kedua tangan.


"Ada apa? Apa kau merindukanku?" tanya Eva manja.


Caesar tersenyum, mengeratkan dekapan pada pinggang sang istri. Ah, rasanya mustahil bila Eva selingkuh.


"Selain itu, aku memiliki kabar baik untukmu," ucap Caesar membelai lengan istrinya dengan lembut.


"Benarkah? Apa itu?" Eva turut menyentuh rahang tegas suaminya. Sikapnya yang selalu manja bila berdekatan, membuat Caesar selalu terpesona.


"Ini adalah hal yang kau tunggu sudah sejak lama. Dia hamil," ucap Caesar menekan pinggul Eva semakin merapat.


Wanita itu tertegun, matanya berkedip-kedip tak percaya. Kabar itulah yang memang dia tunggu, kabar yang pastinya akan memperkuat posisinya di rumah itu, di keluarga Arya.


"Kau tidak sedang bercanda, bukan?" Eva memekik tak percaya. Kedua tangannya menangkup wajah Caesar cukup kuat.


"Untuk apa aku bercanda tentang hal seperti ini? Tentu saja benar. Lalu, apa rencana selanjutnya yang akan kau lakukan?" tanya Caesar menilik wajah berbinar milik sang istri.


"Aku belum memikirkannya. Ini terlalu mengejutkan untukku." Eva memeluk Caesar kegirangan.


Ia tak perlu lagi mencari wanita hamil bila Cempaka sudah menghasilkan. Tinggal memikirkan cara bagaimana agar Cempaka tetap tersembunyi dan hanya dia yang terlihat.


"Aku ingin mengajakmu makan malam di luar malam ini. Kau ada waktu?" ajak Caesar untuk menyenangkan hati istrinya.


"Tentu saja. Aku akan di sini menemanimu. Kau masih ada pekerjaan?" Eva melirik komputer di meja suaminya, ia tersenyum seraya mengecup pipi Caesar sebelum beranjak dari pangkuan laki-laki itu dan berpindah tempat duduk di sofa.


Caesar tersenyum manis, melihat Eva bahagia hatinya selalu ikut merasa bahagia. Apapun yang dia lakukan hanya untuk membuat wanita itu bahagia. Ia melanjutkan pekerjaan, sedangkan Eva memperhatikan dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Cempaka tidak boleh tinggal di rumah itu, apalagi ada ayah di sana. Semakin lama perutnya akan semakin membesar dan ayah pasti mencurigainya. Aku tidak ingin semua rencanaku gagal.


Eva tersenyum licik dengan rencana yang disusun otaknya. Dia memang wanita licik.


__ADS_2