(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 59


__ADS_3

Tuan Arya berdiri di depan sebuah gerbang bertuliskan resort Amanda. Bibirnya tersenyum, entah mengapa ada rasa bahagia yang diam-diam menelusup ke dalam relung jiwa.


"Tempat yang menarik. Aku ingin menginap di sini," ujar tuan Arya seketika jatuh hati pada tempat tersebut.


Mereka berdua memasuki resort milik Cempaka, segera disambut dengan ramah oleh anak sulung Lucy.


"Kami mau menyewa dua kamar VIP di sini," ucap sekretaris tuan Arya padanya.


"Maaf, Tuan. Kamar di sini sama semua, kami belum memiliki kamar khusus seperti yang Anda sebutkan, tapi tenang saja. Kami pastikan Anda merasa nyaman selama menginap di sini," sahut anak sulung Lucy dengan ramah dan sopan.


"Baiklah, tunjukan!"


Ia menuntun mereka menuju lantai tiga gedung dengan menggunakan lift. Kamar-kamar yang disukai para pengunjung karena memiliki view yang menarik.


"Silahkan, Tuan! Dari dalam kamar ini Anda bisa melihat langsung pemandangan laut dan sekitarnya. Kamar dengan ranjang king size yang bisa ditempati dua orang, dilengkapi dengan kamar mandi yang nyaman. Atau Anda butuh dua kamar? Ada satu lagi kamar kosong, tapi di lantai dua gedung."


Pemuda itu membuka tirai kamar, pemandangan laut biru langsung terlihat. Dari sana juga ia dapat melihat sekeliling resort.


"Aku ambil yang ini," ucap tuan Arya dengan yakin.


"Baiklah, tunjukkan kamar yang lain." Sang sekretaris meminta pada pemuda itu.


Ia membungkuk berpamitan, dan membawa sekretaris tuan Arya ke lantai dua di mana terdapat satu kamar kosong. Tuan Arya berjalan ke balkon, menyandarkan tubuh pada pembatas, menatap sekeliling.


Tak sengaja matanya menangkap satu sosok gadis remaja yang sedang bermain dengan seorang bayi perempuan. Tuan Arya mengenakan kacamatanya guna memperjelas pandangan, mengernyit dahinya melihat bayi itu.


"Siapa mereka? Kenapa aku merasa tak asing?" Tuan Arya bertanya pada dirinya sendiri.


Ia ingin sekali menemui mereka, tapi rasa lelah memaksanya untuk segera berbaring istirahat di atas ranjang. Ranjang yang nyaman, tak jauh berbeda dengan miliknya di rumah. Keadaan kamar yang bersih juga rapi, serta harum wewangian alam. Membuat tenang pikiran hingga tak sadar ia terlelap dalam tidur.


"Dinda! Sini, Nak. Zia mau dimandikan," pinta Cempaka memanggil dari dalam rumah.


Dinda membawa bayi itu ke dalam, menyerahkannya kepada Cempaka. Ia kembali ke resort untuk melakukan pekerjaan bersama yang lain.


Tak seperti tuan Arya, sekretarisnya turun ke lantai satu dan pergi ke restoran. Ia membaca menu yang tertera, memilih dan menyerahkannya kepada pramusaji.


"Nyaman sekali meksipun tidak terlalu besar dan terkesan sederhana." Ia menilai, menatap jendela yang ditumbuhi bunga-bunga bermekaran.

__ADS_1


Beberapa saat menunggu, pramusaji membawakan pesanannya. Harum dari aroma makanan, benar-benar menggugah selera. Air liurnya berkumpul banyak tak sabar ingin segera mencicipi.


Satu sendok makanan masuk ke dalam mulutnya. Sebuah nostalgia dengan citarasa, membawanya pada masa belasan tahun silam. Ia membuka mata dengan cepat saat menyadari sesuatu yang aneh.


"Tidak mungkin! Ini sama persis seperti masakan nyonya. Apakah memang hanya kebetulan?" Dia bergumam keanehan.


Kembali menyendok dan memakannya. Merasai dengan hati-hati, soal rasa yang pernah hilang.


"Benar, ini seperti masakan nyonya. Siapa koki yang memasak ini? Apa ada sangkut pautnya dengan keluarga Arya?" Dia penasaran, menoleh pada segala arah, mencari-cari pramusaji.


Namun, mereka semua terlihat sibuk, melayani pengunjung yang tiada henti berdatangan. Ia melanjutkan makan, menghabiskan masakan tersebut.


"Hei, kemarilah!" Sekretaris tuan Arya memanggil seorang pramusaji yang hendak membersihkan meja.


"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.


"Mmm ... kau tahu siapa yang memasak menu di sini?" tanyanya segera.


Pramusaji tersebut melihat tempat yang sudah kosong, dan menggelengkan kepala. Sebagai pramusaji ia tak diizinkan untuk masuk ke dapur restoran.


"Kalo begitu, boleh saya bertemu dengan manager di sini?" pintanya.


"Sebentar, Tuan. Saya tanyakan dulu." Ia berpamitan, sambil membawa piring-piring bekas makan pelanggan pramusaji wanita itu pergi ke ruangan Lucy.


"Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Ia melapor.


"Siapa?" Karena selama satu tahun ini tak pernah ada pengunjung yang meminta bertemu dengannya.


"Meja 105, Nyonya."


Lucy pergi ke ruangan pengawasan, dia harus berhati-hati bila ada yang ingin bertemu dengannya. Bersama penjaga ruang tersebut, Lucy memperhatikan orang yang duduk di meja 105.


Dia sekretaris tuan Arya. Itu artinya tuan Arya ada di sini. Astaga, apakah ini takdir Tuhan yang kebetulan?


Lucy menegakkan tubuh, berjalan keluar diikuti pramusaji tadi.


"Katakan padanya, manager sedang tidak ditempat." Lucy memerintahkan, seraya berjalan keluar melalui pintu belakang.

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Pelayan tadi kembali ke depan untuk menemui sekretaris tuan Arya. Laki-laki itu tersenyum penuh harap dapat bertemu dengan orang yang dimaksud.


"Mohon maaf, Tuan. Manager kami sedang tidak ditempat, beliau sedang melakukan rapat di luar. Sekali lagi saya mohon maaf." Ia membungkuk sopan.


Laki-laki berstatus sekretaris itu menghela napas, mungkin tidak hari ini. Akan tetapi, dia tidak tahu esok atau lusa pasti akan bertemu.


"Baiklah jika begitu. Terima kasih, saya suka pelayanan di sini." Ia memberikan uang tips kepadanya meski menolak, tapi laki-laki itu memaksanya menerima dan menyelipkannya ka kantong seragam.


Ia beranjak kembali ke kamarnya. Duduk di kursi balkon, merenungi makanan yang dicicipinya.


"Kenapa rasanya bisa sama persis seperti masakan nyonya yang pernah aku makan?" Dia masih bertanya-tanya dengan bingung.


"Mungkin tuan juga akan terkejut saat merasai menu di restoran ini." Ia mengusap janggut yang tak ditumbuhi bulu.


Laki-laki tersebut masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Menunggu malam, dia akan mengajak tuan Arya untuk makan di restoran bawah.


Sementara Lucy, masuk ke rumah dengan terburu-buru. Ia mencari Cempaka hendak memberitahu soal sekretaris tuan Arya yang makan di restorannya.


"Manda! Amanda! Kau di mana?" Lucy memanggil Cempaka setengah berteriak.


"Aku di sini, Lucy. Ada apa?" Cempaka menyahut dari dalam kamar.


Namun, saat Lucy hendak masuk ke dalam, ia keluar dan mengajak Lucy menjauh dari kamar.


"Ada apa kau berteriak?" tanya Cempaka heran.


"Gawat, Manda. Ini gawat." Lucy terlihat gelisah.


"Gawat apanya?" Cempaka mengernyit tak mengerti.


"Ada sekretaris tuan Arya di sini, dia menginap dan baru saja makan di restoran. Aku yakin dia tidak sendiri, pastilah tuan Arya bersamanya. Bagaimana jika mereka tahu, Manda?" Dengan panik Lucy menceritakan apa yang dilihatnya.


Tidak seperti Lucy, Cempaka terlihat lebih tenang. Ia bahkan tersenyum menangkan wanita itu.


"Kenapa kau begitu panik, Lucy? Kita bukanlah penjahat. Jika tuan Arya mengetahui keberadaan kita, biarkan saja. Dia berhak mengenali cucunya." Cempaka kembali tersenyum, sedangkan Lucy tertegun.

__ADS_1


__ADS_2