
Di kesunyian malam, Cempaka tengah merenung seorang diri. Duduk di ruang depan, membiarkan tirai terbuka. Mendengarkan deburan ombak yang saling bersahutan. Merenungi perjalanan hidup yang telah ia lalui.
"Bagaimana kabar Ani? Aku ingin sekali mendengarnya." Ia menghela napas, membayangkan sosok wanita paruh baya yang ia minta menjadi pengasuh anak Eva.
"Semoga Caesar memperlakukannya dengan baik. Kau tidak boleh gegabah, Ani. Jangan sampai pengorbanannya sia-sia." Cempaka kembali bergumam, sangat berharap mengetahui kabar Ani juga bayi itu.
Dia kembali terdiam, terlintas dalam benak kejadian saat masih mengandung si Kembar. Sungguh hal tak terduga, tapi ia syukuri karena berkat mereka Cempaka dapat membawa si Kembar bersamanya.
"Manda!"
Teguran dari Lucy mengusik lamunan Cempaka tentang kejadian yang ia alami di dalam hidupnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau tidur?" Lucy mendaratkan bokong di sofa berhadapan dengan wanita itu.
Cempaka berbalik menghadap Lucy, hembusan napasnya terasa berat dan panjang. Ia menunduk, menatap jemarinya sebelum menghadapkan wajah kepada Lucy.
"Aku terpikirkan Ani, Lucy. Aku hanya ingin tahu kabar tentangnya. Apa dia baik-baik saja," ucap Cempaka diakhiri helaan nafasnya yang panjang.
Lucy ikut mendesah, tak dapat ia pungkiri wanita itu memang berjasa besar untuk kepergian Cempaka.
"Kau benar, aku juga terkadang memikirkannya. Semoga dia baik-baik saja di sana." Lucy kembali mendesah, ada hal yang mengganjal di hatinya dan ingin ia tanyakan sedari dulu.
Lucy mengangkat wajah, menatap lekat-lekat wanita di hadapannya.
"Ada apa?" Cempaka bertanya merasa Lucy terus memperhatikan dirinya.
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau bertemu dengan mereka?" tanya Lucy penasaran.
Cempaka tersenyum, memang tidak ada yang tahu cerita awal ia bertemu dengan Ani. Tak satu pun, Cempaka hanya menyimpannya seorang diri.
"Aku bertemu mereka pada saat kita melakukan pemeriksaan dulu. Di kamar mandi rumah sakit, tanpa seorang pun yang tahu." Cempaka menatap Lucy penuh misteri.
****
Flashback
"Arjuna, aku ingin ke kamar mandi. Kau pergilah lebih dulu, aku akan menyusul," ucap Cempaka setelah melakukan pemeriksaan pada waktu itu.
__ADS_1
"Apa perlu saya temani, Nona?" tawar Arjuna dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Tak perlu. Aku tidak akan pergi ke manapun, Arjuna. Aku akan menyusul segera," jawab Cempaka sambil tersenyum meyakinkan.
"Baiklah. Berhati-hatilah, Nona." Arjuna meninggalkan Cempaka dan membiarkan dia pergi ke kamar mandi sendirian untuk melakukan hajatnya.
Pada saat di dalam kamar mandi itu, Cempaka mendengar suara tangisan seseorang. Tangis kesedihan yang terdengar pilu di telinga. Penasaran, Cempaka yang sudah selesai dengan hajatnya menghampiri sumber suara.
"Aku tidak menginginkan bayi ini. Jika mereka tidak dapat menghilangkannya lebih baik aku mati!" racau suara itu di tengah-tengah isak tangisnya.
Jantung Cempaka berdegup kencang, nalurinya memberontak ingin menyelamatkan. Ia membuka paksa pintu kamar mandi tersebut, membuat terkejut seorang wanita di dalam sana.
"Apa yang kau lakukan! Bodoh!" Cempaka menepis tangan yang memegang sebuah silet dah hendak mengiris nadinya sendiri.
Wanita dengan perut buncit itu berdiri, matanya memerah marah dengan apa yang dilakukan Cempaka.
"Siapa kau? Dan kenapa kau menghalangiku?" sengitnya penuh emosi.
Cempaka menghela napas, mengusap perutnya yang bereaksi. Ia memejamkan mata sebentar sebelum menatap wanita di hadapannya.
"Jangan bertindak bodoh! Dengan mengakhiri hidupmu sendiri, semua masalah tidak akan pernah selesai. Kau tidak memikirkan perasaan keluarga yang kau tinggalkan. Mereka akan menjadi sedih karena harus kehilanganmu. Kau sangat berharga bagi keluargamu sendiri," tutur Cempaka.
"Aku tahu kau putus asa, aku mengerti jika mungkin kau tidak menginginkan bayi itu, tapi mengakhiri hidupmu sendiri bukanlah solusi. Akan ada banyak air mata yang jatuh karena kepergianmu. Pikirkan itu baik-baik." Cempaka merayu, berharap remaja di depannya mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup.
Ia kembali menangis, menjatuhkan tubuh di atas toilet. Tangisan putus asa atas apa yang telah terjadi pada hidupnya. Cempaka memberanikan diri untuk mendekat, memeluk remaja tersebut.
Beberapa saat, dia merasakan kehangatan pelukan Cempaka. Hatinya menjadi tenang kembali. Cempaka melepas pelukan, mengusap rambutnya yang basah dan berantakan.
"Dengan siapa kau di sini?" tanya Cempaka kemudian.
"I-ibuku."
Cempaka menghela napas dan berujar, "Mungkin saja ibumu sedang mencari. Bagaimana jika lelahnya karena mencarimu harus dibayar dengan jasadmu yang tak bernyawa? Kau bisa membayangkannya, bukan?"
Remaja itu mendongak, menatap manik Cempaka dengan derai air mata. Ia menggelengkan kepala, tak ingin membayangkan hal itu terjadi.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku juga tidak menginginkan anak ini. Apa yang harus aku lakukan?" Dia kembali meraung, menangisi nasibnya yang malang.
__ADS_1
"Mungkin kau bisa menceritakannya padaku. Aku akan membantu," ucap Cempaka sembari mengajaknya untuk beranjak dari kamar mandi dan keluar.
Ia mengajak remaja itu untuk duduk di sebuah bangku tak jauh dari kamar mandi. Menenangkannya agar mau bercerita kepada Cempaka.
"Aku diperkosa, Nyonya. Seseorang yang mengaku bagian dari keluarga Arya merenggut kesucianku secara paksa, tapi saat aku mendatanginya dia mengelak dan tidak mau mengakui anak ini."
Cempaka terhenyak. Seseorang dari keluarga Arya.
"Keluarga Arya? Kau tahu siapa namanya?" tanya Cempaka terheran-heran. Ada banyak orang yang mengaku sebagai bagian dari anggota keluarga terpandang tersebut. Hanya mengaku-ngaku.
"Dia mengaku bernama Gyan, Nyonya. Dia memaksaku tidur bersamanya meski aku sudah menolak." Ia terisak lagi.
"Gyan? Siapa dia?" Cempaka berpikir siapa yang memiliki nama tersebut. Oh, dia masih sangat baru dalam lingkungan tersebut. Tak tahu siapa saja yang menjadi anggota keluarga.
"Kau tahu seperti apa ciri-ciri laki-laki itu?" tanya Cempaka.
Remaja itu mendongak, mengangguk kecil. "Dia berkulit gelap, Nyonya. Ada tahi lalat di atas bibir bagian kanannya. Itu saja yang aku tahu," jawabnya.
Cempaka tercenung, mengingat-ingat siapa saja yang dia lihat di rumah Caesar yang memiliki tanda tersebut.
Cempaka membelalak saat teringat pada seseorang. Dia pemuda yang pernah dibawa Lisa ke rumah tersebut. Mungkin dia?
"Aku tahu dia. Apa kau ingin aku membantumu?" tawar Cempaka dengan senyum.
Terbesit sebuah ide di dalam otak kecilnya.
"Apa Anda bisa memintanya bertanggungjawab? Menikahiku?" Dia berbinar.
Binar itu hilang saat Cempaka menggelengkan kepala.
"Mungkin aku tidak dapat membantu hal itu, tapi aku bisa membantu anakmu masuk ke dalam keluarga itu," ucap Cempaka dengan senyum yang meyakinkan remaja itu.
Ia berpaling, mendengus kesal karena bukan itu yang dia inginkan.
"Pikirkan dulu. Ini kontakku, kau bisa menghubungiku jika sudah memikirkannya dengan matang." Cempaka memberikan secarik kertas kepadanya.
****
__ADS_1
"Begitu, Lucy."