
Suasana restoran itu begitu romantis, banyak lilin-lilin terpasang mengelilingi. Tempat yang terbuka di tepi danau menjadi khas tersendiri untuk restoran tersebut.
Sepasang suami istri duduk saling berhadapan, bersulang merayakan kebahagiaan yang baru saja mereka raih. Setelah ini, drama pun akan dimulai. Di mana Eva akan berpura-pura hamil dan Cempaka berpindah tempat tinggal jauh dari rumah besar itu.
"Apa kau sudah memikirkannya?" tanya Caesar sembari menatap Eva lekat-lekat.
Wanita itu meletakkan gelas dengan gaya yang elegan, mengibaskan rambut sambil menatap suaminya. Bibirnya yang semerah cabai tersenyum, menyambut pertanyaan Caesar.
"Sudah. Aku sudah memikirkan langkah apa yang akan kita ambil untuk selanjutnya." Eva berbicara dengan yakinnya.
"Benarkah? Apakah itu?" Caesar bertanya tak sabar, ia menyeruput minuman di tangan tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di hadapannya.
"Kau tahu apa yang aku rencanakan. Aku akan berpura-pura hamil, dan Cempaka ... aku ingin dia tinggal di rumah yang berbeda untuk menghindari kecurigaan. Kau bisa menempatkan pengawal di rumah tersebut untuk memastikan keamanannya." Eva menatap Caesar lekat-lekat.
Laki-laki itu tertegun sejenak, berjauhan dengan Cempaka? Rasanya ia tak akan bisa, tapi membiarkan wanita itu tinggal di rumahnya, tentu akan mengundang banyak kecurigaan.
"Mmm ... baiklah. Aku sudah menentukan di mana dia akan tinggal. Aku juga akan menempatkan beberapa pengawal untuk memastikan keamanannya. Kuharap kau tidak terlalu sering keluar rumah. Berdiamlah di rumah selama kau berpura-pura mengandung," jawab Caesar. Menjadikan akhir kalimatnya sebagai syarat untuk Eva.
"Jika kau pergi keluar rumah, aku tidak akan membawa Cempaka keluar karena kau tahu sendiri aku selalu membutuhkan seseorang di sampingku." Caesar tersenyum manis, senyum yang terkesan tajam dan mengancam.
Beberapa saat wajah wanita itu tampak memucat, tapi kemudian tersenyum tak kalah manisnya.
"Apapun itu, sayang. Aku akan menuruti keinginanmu. Demi anak kita," ucap Eva meyakinkan hati laki-laki itu.
Caesar tersenyum puas, tapi tak menghilangkan kecurigaan yang sudah hadir di dalam hatinya. Ia akan tetap menyelediki Eva ke mana saja akhir-akhir ini pergi. Makan malam mereka berjalan dengan lancar tanpa gangguan.
Keduanya bahkan sengaja berjalan-jalan di sekitar danau menikmati pemandangan di malam hari. Ada banyak pasangan di sana, mengabadikan momen bahagia menikmati kebersamaan.
"Sayang. Kau akan menceraikan dia setelah melahirkan, bukan? Kau akan meninggalkan dia dan hanya aku istrimu satu-satunya, bukan? Satu anak saja sudah cukup untuk mengisi kekosongan rumah tangga kita," tanya Eva dengan nada cemas dan gelisah.
Ia memegangi dada Caesar, merabanya dengan mesra.
__ADS_1
Caesar tercenung, dia tidak merencanakan itu meski di dalam kontrak yang dia tandatangani bersama Baron dan Cempaka memang tertulis seperti itu.
"Sayang!" Panggilan Eva menyadarkan Caesar dari pertanyaan yang harus dijawabnya.
Laki-laki itu menurunkan pandangan, menatap kedua manik Eva yang terlihat berkaca sedih.
"Iya. Kau tahu sendiri seperti apa perjanjiannya, bukan? Dia hanya akan menjadi istriku sampai melahirkan saja. Selebihnya, sudah tidak akan memiliki hubungan lagi," jawab Caesar meski tak sejalan dengan hatinya.
Dia tidak akan pernah melepaskan Cempaka dari hidupnya. Wanita yang telah mengembalikan apa-apa yang hilang dari hati laki-laki itu.
Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan pernah melepaskan Cempaka meski harus merahasiakan semuanya dari Eva. Tidak akan!
Eva tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia memeluk Caesar, membenamkan kepala pada dada laki-laki itu. Berpura-pura takut kehilangan, padahal ingin menyingkirkan.
Eva tersenyum licik, otaknya benar-benar dipenuhi oleh rencana-rencana jahat dan busuk. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Sudah malam. Sebaiknya kita kembali," ajak Caesar diangguki Eva dengan patuh.
Sementara di rumah, Cempaka baru saja terbangun dari tidur. Wajahnya sembab karena menangis hampir seharian. Tak ada yang mengganggu karena pintu itu dikuncinya dari dalam.
"Astaga! Kenapa bisa bengkak begini?" Cempaka mendekati cermin, menilik lekat-lekat wajahnya itu.
Tok-tok-tok!
"Astaga!" Cempaka terlonjak ketika pintu tiba-tiba diketuk.
"Nona! Anda sudah bangun? Waktunya makan malam," ucap Yudi membangunkannya.
Cempaka menghela napas, berjalan perlahan mendekati pintu. Ia membuka pintu sedikit, terlalu malu berhadapan dengan laki-laki itu.
"Astaga! Nona, Anda baik-baik saja?" Hampir saja tangan laki-laki paruh baya itu membuka pintu dengan lancang.
__ADS_1
"Pak Yud. Bisakah aku makan di kamar saja? Aku malu keluar, dan tolong jangan ada siapapun datang ke kamar ini," pinta Cempaka sedih.
"Termasuk tuan?" Yudi bertanya memastikan.
Wanita itu mengangguk, ia tak ingin bertemu dengan Caesar malam itu.
"Baiklah. Saya akan meminta Lucy mengantarkan makanan ke kamar Anda." Yudi membungkuk seraya meninggalkan kamar Cempaka.
Ia meminta Lucy membawakan makanan untuk Cempaka ke kamarnya sekaligus menemani wanita itu.
"Nona! Saya Lucy." Lucy meminta izin ketika tiba di depan kamar Cempaka.
Pintu terbuka, Lucy ditarik Cempaka untuk segera masuk ke dalam. Kemudian menguncinya dan kembali ke tepi ranjang dengan wajah yang menunduk. Lucy meletakkan makanan itu di atas meja tanpa memperhatikan Cempaka.
"Nona, silahkan dimakan. Anda sudah meminum obat?" Dengan penuh perhatian Lucy bertanya, ia menyiapkan air juga untuk Cempaka meminum vitamin.
"Nona ... astaga! Apa yang terjadi?" Lucy memekik begitu Cempaka mengangkat wajah menatapnya.
"Maaf, ya. Aku merepotkanmu. Kau jadi harus ke sini menemaniku," ucap Cempaka sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan hatinya.
"Ah, tidak apa-apa, Nona. Mari, Anda harus makan dan minum vitamin. Wajah Anda begitu pucat," Lucy membantu Cempaka beranjak. Ia menemani wanita itu memakan makanannya, menyiapkan obat-obatan yang harus diminum rutin oleh Cempaka sesuai yang dianjurkan dokter.
"Nona, jika Anda butuh teman untuk mengobrol jangan sungkan kepada saya." Lucy merasa iba karena kehadiran Cempaka tak ubahnya pelayan yang dibayar dan dianggap tak ada meski Caesar kerap memperlakukannya dengan lembut.
"Terima kasih, ya. Kau baik sekali," ucap Cempaka sambil tersenyum. Ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya dengan perlahan.
"Lucy, aku ingin makan buah yang masam. Apa kau bisa mencarikannya untukku besok? Sepertinya ini sudah malam, tak akan mungkin aku memintamu membelinya sekarang," pinta Cempaka di sela-sela makannya.
"Tentu saja. Besok saya akan membelikannya untuk Anda, Nona." Lucy menjawab dengan yakinnya.
Ia amat maklum dengan keadaan wanita hamil muda seperti Cempaka karena pernah mengalaminya sendiri. Ingin selalu dimanja, diperhatikan. Sayangnya, Cempaka tak akan pernah mendapatkan itu karena Caesar hanya menginginkan anak darinya.
__ADS_1
"Makan yang banyak, Nona. Anda harus sehat dan kuat," ucap Lucy merasa iba pada wanita polos itu.
"Terima kasih sekali lagi. Kau sudah seperti ibuku." Cempaka berkaca teringat pada ibunya yang pergi.