
"Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangiku untuk bertemu dengan anakku sendiri? Lepaskan aku! Lepaskan aku! Cempaka!" teriak Baron dalam cekalan para penjaga yang diperintah oleh Caesar.
"Tuan tidak memerintahkan kami menerima tamu siapapun itu untuk nona! Pergilah!" Penjaga itu mendorong tubuh Baron hingga terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah.
Dia tidak menyerah, kembali bangkit dan merangsek hendak masuk ke dalam gerbang.
"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan anakku! Cempaka! Keluar kau, Cempaka! Keluar!" Baron keukeuh, terus berteriak memanggil nama Cempaka dengan suara lantang.
Seperti barisan barikade polisi, para penjaga itu saling mengaitkan tangan mereka menghalau Baron untuk memasuki gerbang.
"Sialan! Anak tak tahu diri kau, Cempaka! Keluar!" Umpatan demi umpatan keluar dengan begitu mulus dari lisan Baron.
Namun, Cempaka masih bertahan di dalam rumah, setidaknya sampai Arjuna datang.
"Kenapa Arjuna lama sekali?" keluh Cempaka yang mulai tak tahan melihat Baron berteriak gila di depan gerbang.
"Tuan sedang dalam perjalanan, Nona. Anda tenang dulu, mungkin sebentar lagi tuan Arjuna akan tiba." Lucy di sisinya menenangkan Cempaka.
Wanita hamil itu terlihat panik, peluh sudah bercucuran di wajahnya merembes hingga membasahi punggung.
"Ayo, Nona. Duduk dulu!" Lucy mengajak Cempaka untuk duduk di sofa, karena melihat wajahnya yang pucat tidak menutup kemungkinan dia akan terjatuh di lantai.
Cempaka manut, ia duduk dan menghela napas menenangkan diri juga hatinya. Mencoba bersikap tenang karena Baron tak akan mampu menembus barikade para penjaga itu.
Berselang, deru suara mobil milik Arjuna terdengar. Cempaka menghela napas lega, Lucy gegas beranjak ke jendela untuk melihatnya.
"Ada apa ini?" tanya Arjuna dengan pembawaannya yang tenang.
Mendengar suara Arjuna, Baron segera menoleh. Dia mengenal asisten Caesar itu. Segera berbalik dan menghampiri pemuda itu untuk memohon padanya.
"Tuan! Tuan mengenal saya, bukan? Saya ayah Cempaka, Tuan. Anda pasti mengenal saya. Tolong saya, Tuan. Saya ingin bertemu dengan anak saya. Saya ingin melihatnya, Tuan." Baron memohon dengan sangat kepada Arjuna.
Namun, pemuda itu bergeming, menatap rumah Cempaka yang tertutup rapat. Dia ingat siapa laki-laki yang sedang memohon kepadanya itu. Seorang ayah yang tega menjual anaknya demi sejumlah uang.
__ADS_1
Dia bukan Caesar yang tak punya hati.
"Aku ingat, tapi aku tidak dapat memastikan kau bisa bertemu dengan nona." Arjuna melirik Baron yang bersimpuh di tanah.
Manik setajam elang itu langsung menghujam kedua mata Baron. Ia tertunduk, segan terhadapnya.
"Jangan biarkan laki-laki ini pergi meninggalkan tempat ini. Ada hal yang harus dia pertanggungjawabkan di hadapan hukum," titah Arjuna dengan tegas tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Baron.
Laki-laki kejam itu segera mendongak, menatap Arjuna dengan kedua mata yang melotot lebar. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud Arjuna.
"M-ma-maksud Anda a-apa, Tu-tuan?" tanyanya terbata-bata. Ketakutan segera saja merajalela di hatinya, apakah yang dimaksud Arjuna adalah tentang kematian dua anak kembarnya.
"Kau akan tahu saat berhadapan dengan hukum. Lagipula, aku rasa tak perlu menjelaskan lagi padamu karena kau sendiri tahu apa kesalahanmu!" sinis Arjuna menajamkan pandangannya tepat di kedua manik Baron.
"Ti-tidak mungkin! Saya tidak melakukan apapun, Anda tidak bisa menghukum saya!" kilah Baron sembari berdiri dari atas tanah.
Arjuna tersenyum sinis, dia sudah menyelidiki kehidupan Cempaka juga tentang kematian dua adik kembarnya.
"Te-tentu saja. Sa-saya tidak melakukan kesalahan apapun! Ti-tidak!" Baron membuang wajah dari Arjuna, tidak berani bersitatap dengan manik tajam itu.
Arjuna mendengus, sudah tercium busuk bangkainya, tetap saja berkilah.
"Lalu, bagaimana kau menjelaskan tentang kematian dua anak kembarmu? Juga status buronmu itu? Bukankah kau melarikan diri dari pihak kepolisian? Hah ... penyelidikanku tidak sia-sia. Aku sudah mencarimu ke manapun, ternyata kau datang dengan sendirinya." Arjuna menyeringai, sebuah seringai tajam yang menggetarkan seluruh tubuh Baron.
"Ti-tidak!"
"Tahan dia! Jika kepolisian tidak mampu menahannya, maka kita yang akan memberinya hukuman!" titah Arjuna lagi.
Baron menggelengkan kepala, mencari celah untuk melarikan diri, tapi para penjaga dengan sigap menangkapnya sebelum dia dapat mengayunkan kaki.
"Antarkan laki-laki kejam itu kepada pihak berwajib dan biarkan dia membusuk di dalam penjara!"
"Tidak! Tuan, tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Saya akan melakukan apa saja yang penting tidak dipenjara. Tuan, tolong saya! Tuan!" Baron berteriak histeris, ketakutan jelas tergambar di wajahnya yang seketika memucat pasi.
__ADS_1
Arjuna tak mengindahkan teriakan laki-laki itu, ia berjalan masuk ke dalam gerbang untuk menemui Cempaka dan memastikan keadaannya.
"Nona, laki-laki itu dibawa para penjaga. Mereka akan membawanya ke kantor polisi," lapor Lucy melihat Baron yang digeret para penjaga pergi.
"Biar saja. Dia memang seharusnya berada di sana." Cempaka berdesis dari balik giginya yang merapat. Kebencian terhadap laki-laki itu sudah mencapai puncak, tak dapat lagi memaafkan.
"No-nona?" Lucy tertegun mendengar nada sinis dari seorang Cempaka.
"Dia sudah merenggut yang paling berharga dalam hidupku." Cempaka kembali berdesis, dia bergeming meski air terus berjatuhan dari pelupuk mata.
"Dia sudah menghancurkan hidupku. Dia tidak pantas menikmati kebebasan hidup. Bahkan, hukuman mati pun masih terlalu ringan untuknya." Kilatan mata Cempaka berapi-api.
Lucy tertegun mendengarnya, begitu pula dengan Arjuna yang baru saja memasuki rumah itu.
"Dia seharusnya mendapatkan siksaan yang kejam. Mati perlahan dengan kesakitan yang teramat. Dia pantas menderita sebelum menjelang kematiannya!" Cempaka mengusap air matanya, tak lagi ingin menangis. Akan tetapi, bayangan kedua adik kembarnya yang terbujur kaku selalu berhasil mengoyak hati.
Ia beranjak dari sofa, dan berjalan menuju kamarnya. Melewati Arjuna tanpa berniat menyapa pemuda itu. Mengunci pintu kamar, tak ingin siapapun mengganggunya.
Lucy melirik Arjuna, bertanya lewat sorotan mata. Namun, pemuda itu menghendikan bahu, kemudian berbalik hendak kembali.
"Tuan! Tunggu!" Lucy berlari mengejar Arjuna sampai ke teras rumah.
"Ada apa?" Arjuna menghentikan langkah, berbalik menatap wanita beranak dua itu.
"Apa yang terjadi pada nona? Mengapa nona emosional sekali?" tanya Lucy ingin tahu.
"Apa yang ingin kau tahu?" Arjuna balik bertanya.
"Tentang laki-laki tadi." Lucy menjawab singkat.
"Dia ayah nona. Dia juga yang sudah meracuni kedua adik kembarnya dan menjual nona kepada tuan. Sudahlah, jangan aku bocorkan rahasia ini pada siapapun." Arjuna berbalik setelah menjawab keingintahuan Lucy.
Wanita itu tercenung, tanpa sadar menjatuhkan air mata karena kenyataan tentang Cempaka. Sungguh kejam laki-laki tadi, pantas saja nonanya itu begitu emosi.
__ADS_1