(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 57


__ADS_3

Hari-hari dilewati Ani dengan baik selama menjadi pengasuh bayi di rumah Caesar. Meski ada yang banyak memperhatikan gerak-geriknya, tetapi Ani tidak pernah mempersoalkan hal itu. Urusannya hanyalah mengasuh bayi mereka, tak perlu peduli dengan urusan yang lain.


Ani sedang berdiri di depan sebuah meja yang digunakan untuk menyimpan keperluan bayi Evan. Seperti susu dan yang lainnya. Ia memunggungi pintu dan asik melakukan sesuatu. Sesekali akan melirik bayi yang tertidur pulas di atas ranjang.


Ani tersenyum, kebahagiaan di wajahnya tak dapat ia tutupi. Pekerjaan itu membuat hidupnya lebih baik dan lebih bahagia tentu saja. Terhanyut dengan apa yang dikerjakannya, Ani tak sadar seseorang mengintip dari balik celah pintu.


"Apa yang sedang dilakukan pengasuh itu?" Dia bergumam pelan nyaris tanpa suara.


"Aku harus melaporkan ini kepada tuan Yudi." Pelan, ia berbalik dan pergi menemui kepala pelayan di rumah itu.


"Tuan!" Ia memanggil Yudi yang kebetulan sedang mengawasi dapur.


Laki-laki itu mendongak, mengernyit melihat pelayan tadi melambaikan tangan kepadanya. Yudi menghampiri karena dari raut wajah pelayan tersebut ada hal penting yang ingin dia sampaikan.


"Ada apa?" tanya Yudi dingin.


Pelayan tadi tidak menjawab, melainkan memintanya untuk sedikit membungkuk agar ia dapat berbisik dengannya. Mata Yudi membesar meski tidak terlalu kentara, dahinya berkerut mendengar laporan pelayan tadi.


"Kau yakin?" Yudi melirik tajam, pelan-pelan menegakkan tubuhnya kembali.


"Aku yakin, Tuan. Aku mengintipnya tadi saat akan membawakan air panas ini ke kamar tuan muda," jawabnya setengah berbisik.


Yudi menilik lekat-lekat wajah wanita itu, kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar sang tuan muda untuk memastikan laporannya diikuti oleh wanita pelayan tadi. Dia tersenyum puas, akhirnya Ani kedapatan berbuat jahat kepada tuan muda mereka.


Setelah ini, kau pasti akan dipecat. Kerjamu enak sekali, tidak seperti kami yang harus melakukan pekerjaan berat setiap hari.


Batinnya bergumam jahat. Dia menantikan hari di mana Ani dipecat dan dikeluarkan dari rumah itu. Ada banyak pekerja yang tidak menyukai pengasuh bayi Evan itu karena terlalu dekat dengan tuan muda mereka bahkan, tak mengizinkan para pelayan untuk menyentuhnya.


Tanpa mengintip, tanpa mengetuk, tanpa permisi, Yudi membuka pintu kamar tuan muda mereka. Keduanya berdiri di ambang pintu menatap Ani yang tengah duduk di lantai dengan kepala bersandar di tepi ranjang bayi Evan.

__ADS_1


Pelayan tadi menganga tak percaya, secepat itu Ani tertidur. Dia yakin, pengasuh tuan muda mereka hanya berpura-pura tertidur. Yudi meliriknya dengan tajam, seketika merasa bersalah saat Ani terbangun karena suara pintu yang membentur dinding.


Samar matanya melihat dua sosok yang berdiri di ambang pintu, ia menguceknya untuk memperjelas penglihatan.


"Tuan, ada apa?" Ani bertanya dengan suara yang parau khas bangun tidur. Ia melirik bayi Evan yang menggeliat dan menepuk bokongnya agar kembali tertidur.


"Tuan Muda baru saja tidur, jika ada hal yang perlu dibicarakan di luar saja. Tunggu sampai Tuan Muda kembali terlelap, aku akan menyusul," lirih Ani khawatir bayi Evan akan terbangun dari tidurnya.


Yudi kembali melirik pelayan tadi, dia meringis mendapat tatapan tajam dari kepala pelayan itu.


"Tidak perlu!" sahut Yudi kemudian berbalik sambil menarik tangan pelayan wanita tersebut.


Ani yang penasaran pun beranjak, berjalan mengendap mendekati pintu saat mendengar desas-desus dari luar. Ia menempelkan telinga pada daun pintu guna dapat mendengar dengan lebih jelas.


"Lain kali jika kau membuat laporan harus akurat. Kau membuang waktuku saja," ketus Yudi kesal.


"Kau lihat sendiri, bukan. Dia sedang tertidur, bahkan tertidur di lantai bukan di atas ranjang. Sudahlah, kau jangan mengada-ada. Ani terlihat lelah karena mengasuh bayi itu tidak mudah. Biarkan dia beristirahat!" Yudi berbalik meninggalkan pelayan wanita tadi.


"Ta-tapi, Tuan ...."


Ceklak!


Pintu terbuka dan menampakkan Ani yang terlihat kebingungan. Pelayan wanita tadi terkejut sampai tubuhnya terlonjak.


"Ah, maaf. Apa kau datang untuk mengganti air panas milik tuan muda?" tanya Ani sambil meletakkan termos air panas di lantai.


Jelas sekali pelayan wanita tadi terlihat gugup dan gelisah.


"Be-benar." Buru-buru ia meletakkan termos berisi air panas yang baru dan mengambil termos lama. Lalu, dengan kepala tertunduk pergi meninggalkan lantai dua menuju tempatnya bekerja.

__ADS_1


Ani masih di sana, tersenyum tipis melihat tingkah gugup si pelayan tadi.


"Jadi, tadi dia mengintip ke dalam kamar ini? Sepertinya aku harus lebih berhati-hati. Para pelayan di sini, menginginkan posisiku sebagai pengasuh. Mereka akan melakukan berbagai macam cara untuk membuatku terlihat buruk." Ani bergumam sendiri sebelum masuk ke dalam kamar.


Ia meletakkan termos tersebut di atas meja, merapikannya dan memastikan keamanan yang dia lakukan tadi.


"Beruntung mereka tidak masuk ke dalam dan tidak sampai menggeledah. Jika sampai mereka melakukan itu, maka semuanya akan terbongkar." Ani kembali bergumam setelah memastikan semuanya aman.


Ia kembali mendekati ranjang, beranjak naik dan tertidur bersama bayi itu. Rasa kantuk menyerang karena di setiap malam bayi Evan selalu terbangun mengganggu tidurnya. Beruntung, Ani sudah berpengalaman.


Sementara Eva, sedang melakukan pertemuan dengan dua orang yang selama ini menjadi rekan bisnisnya.


"Berhenti menghubungiku untuk beberapa saat ke depan. Kau bisa saja menghancurkan rencanaku." Eva melipat kedua tangan sambil menumpuk salah satu kakinya di atas kaki yang lain.


Pandangannya terlihat remeh, tak suka dengan kedatangan dua orang itu.


"Apa kau mencoba untuk melupakan kami? Ingat, siapa yang membantumu selama ini?" ketus salah satu orang yang di hadapan Eva.


Wanita itu tersenyum sinis, merasa sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak ada lagi ancaman yang dia takuti karena dialah ancaman terbesar yang sesungguhnya.


"Tentu saja tidak. Hanya saja aku minta kepada kalian untuk menahan diri terlebih dahulu dari menghubungi aku. Sampai rencanaku sempurna, aku sendiri yang akan menghubungi kalian. Kalian tidak usah risau, aku tidak akan pernah melupakan kalian." Eva tersenyum, matanya melirik nakal pada salah satu dari mereka.


Kedua orang itu saling melirik satu sama lain, dalam hati merasa ragu akan ucapan dari Eva. Namun, mereka pun tak dapat melakukan apa-apa untuk saat ini.


"Baiklah. Kami akan mencoba untuk percaya. Ingat, kau harus menepati janjimu!" ucap salah satu dari mereka seraya beranjak dari sofa berwarna merah muda itu.


Eva mengedipkan mata menggoda pada salah satunya. Tersenyum dia, tanpa banyak bicara ikut berdiri meninggalkan salon milik Eva.


Wanita itu mendengus, dengan memanfaatkan bayi Evan, dia akan menguasai seluruh harta milik keluarga Arya.

__ADS_1


__ADS_2