
"Rumahmu cukup untuk kami tumpangi, bukan?" tanya Lisa cemas. Yang dia tahu, Eva bukan berasal dari kalangan yang sepadan dengan Caesar.
"Aku tidak tahu. Itu jika ibuku tidak ada di rumah, tapi perasaanku mengatakan ibuku sudah kembali ke rumah itu," jawab Eva ambigu.
Lisa dan Gyan saling menatap satu sama lain, terlihat kebingungan.
"Maksudmu bagaimana?" Gyan bertanya menuntaskan rasa penasaran.
Eva berpaling pada jendela, menatap hamparan gedung yang tertanam kokoh di sepanjang jalan. Ada rasa enggan menceritakan perihal keluarga terutama tentang ibunya.
"Sejak ayahku meninggal, ibu menikahi seorang pria yang aku tidak tahu siapa. Dia pergi meninggalkan aku, dan tinggal bersama pria itu. Lalu, aku menikah dengan Caesar dan meninggalkan rumah. Aku ingin melupakan semua kenangan pahit yang terjadi di rumah itu. Untuk itulah aku tidak pernah datang ke rumah," ungkap Eva menguak kisah masa lalunya yang silam.
"Kukira kau anak seorang pengusaha. Ternyata ...." Lisa mencibir membuat mata Eva membeliak lebar.
"Ibu! Jaga ucapan Ibu!" bisik Gyan tak enak hati melihat reaksi Eva.
__ADS_1
"Yah, setidaknya aku memiliki rumah untuk kembali. Jika kau tidak bersedia, maka kau bisa pergi mencari tempat tinggal sendiri. Itu justru lebih baik bagiku," sindir Eva sembari memutar bola mata malas.
Gyan melotot ke arah Lisa ketika mata mereka beradu. Wanita angkuh itu sadar betul bahwa saat ini hanya Eva yang bisa dia andalkan. Lisa menepis ego di hati, membuang sifatnya yang angkuh.
"Ya, baiklah. Aku minta maaf," ujarnya meski terdengar malas.
Eva tidak menanggapi, tapi dia memendam sebuah rencana untuk dijalankannya saat tiba di rumah nanti.
Lihat saja, kau tidak akan bisa berkata angkuh lagi setelah berada di rumahku.
Batin Eva menggeram penuh tekad. Tak sabar rasanya ingin segera tiba di rumah dan bersikap layaknya seorang nyonya. Yah, di mana pun dia berada, dia harus menjadi nyonya. Mobil memasuki sebuah gerbang komplek perumahan.
Eva turun dan membiarkan Gyan yang membayar ongkosnya. Dia enggan mengeluarkan uang barang sepeserpun. Lagipula, cek yang diberikan Caesar belum sempat dia uangkan.
"Nona Eva?" Penjaga gerbang tersenyum kepada Eva.
__ADS_1
"Iya, Pak. Tolong buka pintunya!" pinta Eva.
Gerbang terbuka lebar, laki-laki itu bahkan membawakan koper milik Eva. Namun, ketika Lisa menyodorkan koper, Eva mencegah penjaga gerbang tersebut untuk membawakannya.
"Tidak usah, Pak. Punyaku saja, biar mereka membawanya sendiri." Eva melirik sekilas, kemudian melanjutkan langkah menapaki tangga menuju teras. Lisa mendengus.
Belum sempat tangan Eva membuat pintu, ianya sudah terbuka sendiri. Seorang wanita seusia Lisa dan seorang gadis seusia Cempaka berdiri di sana menatap tak senang kehadiran mereka.
"Kau pulang? Kukira kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi," cibir wanita hampir tua itu sembari tersenyum sinis.
"Kenapa? Bukankah aku masih memiliki hak untuk menempati rumah ini? Seharusnya Ibu meminta izin kepadaku terlebih dahulu ketika akan pulang ke rumah ini. Ibu lupa? Ibu meninggalkan aku ketika menikahi pria itu," sahut Eva seraya masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan ekspresi wajah wanita yang dipanggilnya ibu itu.
"Bisakah kita membicarakan semuanya dengan baik-baik?" pintanya sembari berbalik menatap punggung Eva.
"Tergantung. Pindahkan barang-barangmu dari kamarku! Aku tidak suka ruang pribadiku ditempati orang lain!"
__ADS_1
Gadis yang bersama ibunya itu merengek manja sambil memegangi tangan ibu mereka. Meminta perlindungan dari sikap keras Eva.
Namun, wanita itu justru memintanya untuk menuruti perintah Eva.