
Hening. Seketika suasana berubah mencekam tatkala Eva berhasil membuka map tersebut. Wajah pucatnya dibanjiri keringat kasar, mata membeliak tak berkedip. Lembar demi lembar ia keluarkan dari sana sembari menahan degup jantung yang membuat tangannya bergetar.
"Tidak! Ke-kenapa bisa begini?" racaunya hampir menangis.
Mata mulai terasa panas hingga membentuk embun di kedua sudutnya. Jelas sekali terlihat jemari lentik itu gemetar saat menarik isi di dalamnya. Sungguh hal yang tak pernah ia duga, lembaran itu kini menjadi saksi bisu yang nyata yang sudah pasti akan menghancurkan hidupnya.
Emosi Eva memuncak, rongga dada mulai terasa menyempit, sesak menahan udara yang dihirupnya masuk. Hancur dunia Eva, runtuh sudah apa yang selama ini dia banggakan. Pantas saja Caesar begitu membencinya. Bahkan, berniat menceraikannya. Dia tak dapat lagi mengelak.
"Bagaimana? Ada yang ingin kau jelaskan tentang itu semua?" Suara Caesar yang tiba-tiba menyeruak, menyentak tubuh Eva.
Ia mendongak cepat bersamaan dengan kedua matanya yang melebar. Terlambat, dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyembunyikan itu semua. Entah sejak kapan laki-laki itu ada di ruangan, Eva merasa tidak mendengar suara pintu dibuka.
"Cae-caesar ... i-ini tidak seperti apa yang kau bayangkan-"
"Apa? Bagaimana? Tidak seperti apa yang aku bayangkan? Memang kau tahu apa yang sedang aku bayangkan?" sela Caesar sembari melipat kedua tangan di perut. Dia bahkan tidak menjauh dari pintu, enggan berdekatan dengan wanita yang kini mati kutu di depannya.
"I-ini semua tidaklah benar!" tolak Eva masih saja berkilah meski semua bukti perselingkuhan telah ada di depan mata.
"Benarkah? Lalu, yang benar itu yang seperti apa? Bisakah kau jelaskan?" Caesar tersenyum aneh, pandangan matanya seolah-olah menguliti Eva hingga tuntas.
Wanita itu menunduk, bola matanya bergerak tak beraturan mencari-cari alasan yang logis agar Caesar mempercayainya.
"I-itu ... ini pasti jebakan. Ada orang yang tidak senang terhadap hubungan kita. Jadi ... jadi, dia membuat ini semua," kilah Eva meski ragu Caesar akan mempercayainya.
Caesar mengangkat alis, menatap lebih intens ke dalam manik istrinya. Eva segara menunduk menghindari tatapan itu. Ia menggigit bibir gelisah, bagaimana caranya agar Caesar menolak semua bukti di itu.
"Siapa yang ingin menjebakmu? Dan keuntungan apa yang akan dia dapatkan dari melakukan ini semua?" tanya Caesar semakin membuat Eva kehilangan kepercayaan diri.
"Ya ... tentu saja mereka iri dengan kebahagiaan kita. Ingin kita berpisah, ingin kita hancur. Mereka pasti akan berpesta jika berhasil memisahkan kita. Ya, pasti seperti itu. Percaya padaku, Caesar!" Tubuh Eva berdiri dari duduknya, terlihat ketegangan di sana. Wajahnya gelisah, terus menghindari tatapan Caesar.
"Benarkah? Seingatku tidak ada yang menginginkan kita hancur. Kecuali salah satu di antara kita yang menginginkannya." Caesar menelisik seluruh tubuh Eva. Muak dan jijik bila mengingat pergulatan dengannya. Tubuh itu sudah dinikmati orang lain, dan Caesar enggan menyentuhnya.
Eva mendongak, mereguk ludah susah payah. Tatapan mata Caesar masih sama, tajam dan nyalang. Eva tak sanggup melihatnya.
"Kita tidak pernah tahu siapa yang menginginkan kehancuran kita, Caesar. Ada banyak musuh dibalik selimut yang diam-diam menusuk-"
__ADS_1
"Ah, kau benar. Tepat sekali! Musuh dalam selimut. Kau tahu ... aku sudah menemukan orangnya. Salah satunya ada di hadapanku saat ini." Caesar tersenyum jahat ketika Eva menatapnya dengan mata lebar.
"A-apa maksudmu?" Masih berpura-pura tidak mengerti.
Caesar mendesah, berpaling sejenak untuk tetap membuat hatinya tenang.
"Maksudku semua bukti yang ada di hadapanmu saat ini. Semuanya membuktikan bahwa kalianlah musuh di dalam selimut itu. Kau mengatakannya dengan sangat jelas," ucap Caesar seraya menjatuhkan diri di atas sofa.
"Aku masih ada banyak lagi, kau ingin melihatnya?" Caesar mengambil sesuatu dari bawah kolong meja, meletakkan di atasnya. Ia mulai melempar satu demi satu foto-foto yang diterimanya dari seorang mata-mata.
Eva panik, matanya terus berputar menatap lembaran yang terus berterbangan di udara dan mendarat di lantai. Napasnya terhenti, gambar itu jelas membuktikan persengkokolan mereka bertiga.
"Kalian manis di depanku, tapi menusuk di belakang. Kalian ingin menghancurkan keluargaku, bukan? Kau ingin merebut semua harta yang aku miliki? Tak semudah itu, Eva. Tidak semudah itu!" Caesar memainkan telunjuknya di depan wajah, menumpuk salah satu kaki di atas kaki yang lain.
Eva bungkam, air mata berjatuhan tanpa dapat ia tolak. Semuanya sudah usai, semua sudah berakhir. Berakhir sebelum rencananya berhasil. Kedua tangan Eva mengepal kuat, menatap penuh kebencian pada laki-laki yang duduk di depannya.
"Apa yang kau cari tidak akan pernah kau temukan di sini. Aku sudah menyimpan semuanya ke tempat lain agar tidak dapat kau temukan. Aku tahu, kau, Lisa, dan lelaki menjijikan itu bekerjasama untuk menghancurkanku. Dengan memanfaatkan Evan yang sebenarnya tak kau inginkan. Sayang, rencanamu gagal sebelum kau jalankan."
Caesar menghela napas, menjauhkan punggung dari sandaran, tersenyum kepada wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya itu.
Tak ada yang bisa dilakukan Eva, memohon? Rasanya percuma saja. Caesar tidak akan pernah memaafkan sebuah pengkhianatan.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Caesar. Kau telah berjanji akan menjagaku untuk seumur hidupmu. Kenapa kau ingkar?" seru Eva tidak terima dengan keputusan yang diberikan Caesar.
Langkah laki-laki itu terhenti, dia kembali berbalik menatap sinis pada Eva.
"Janji? Aku akan menepati janjiku jika kau tidak melakukan pengkhianatan di dalam rumah tangga kita. Pergilah sebelum matahari terbit. Jangan tinggalkan apapun di rumah ini!" Caesar kembali berbalik, tangannya bersiap membuka pintu, tapi lagi-lagi Eva menghentikannya.
"Kau pikir kau sudah menang dariku? Perlu kau tahu, sebenarnya kau sudah kalah, Caesar. Yah, kau tidak akan menyangka jika gadis yang kau anggap baik-baik itu telah menipumu!" seru Eva berniat membongkar semuanya.
Caesar menghela napas, tak ingin mendengar ocehan wanita itu lagi. Dia tetap melanjutkan langkah meninggalkan ruangan bersama wanita itu.
"Kau akan menyesal di kemudian hari! Aku pastikan kau akan menyesal! Evan bukan anakmu! Dia bukan anakmu!" jerit Eva menggelegar.
Langkah Caesar surut, mematung di luar ruangan. Eva tersenyum sinis, melangkah keluar dari meja kerja Caesar dan berdiri di depannya.
__ADS_1
"Dia tidak memberikan anaknya kepadamu. Kau ditipu, Caesar. Bahkan, ayahmu merahasiakan ini darimu. Kau mudah sekali dibodohi!" Eva menertawakan Caesar.
Dia akan sangat bahagia jika lelaki itu termakan omongannya.
"Aku tahu di mana dia sekarang. Jika kau membiarkan aku tinggal, aku bersedia membantumu untuk mengambil mereka. Ah, kau pasti belum tahu jika dia melahirkan bayi kembar." Tawa Eva kembali terdengar, lebih renyah dari sebelumnya.
Dapat dia lihat tubuh Caesar menegang, mungkin saja saat ini emosi lelaki itu memuncak karena mendengar kenyataan bahwa dirinya telah ditipu Cempaka.
"Ayolah, Caesar. Kau ingin kedua anakmu itu, bukan? Bekerjasamalah denganku. Kita bisa saling menguntungkan, aku mendapatkan apa yang aku inginkan dan kau akan mendapatkan mereka," ucap Eva lagi memberinya penawaran.
Senyum masih terkembang di bibirnya, dia yakin Caesar akan setuju dan mau bekerjasama. Oh, dia tidak jadi pergi dari rumah itu. Namun, yang terjadi selanjutnya, justru membuat Eva semakin syok.
Caesar berbalik sambil tersenyum, tidak ada kebencian, apalagi api amarah di matanya. Itu tentu saja membuat Eva merasa gagal. Senyumnya hilang berganti kekesalan. Urat di wajahnya menegang seiring rahang yang mengeras.
Apa salahnya? Kenapa dia terlihat biasa saja.
"Setidaknya kedua anakku akan aman bersama ibunya. Kau tidak perlu repot-repot membantuku mencarinya. Aku percaya Cempaka akan menjaga mereka dengan baik. Dia tidak sepertimu yang selalu sibuk dengan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Dan satu hal lagi, dia tidak menipuku. Dia melakukan itu karena sebagai seorang ibu yang baik ... dia tidak akan rela berpisah dengan anaknya." Caesar merasa bersyukur mengetahui semuanya meski sempat terkejut.
"Keputusanku tetap sama, pergi sebelum matahari terbit. Kemasi semua barangmu jangan ada yang tertinggal. Aku meninggalkan cek di meja rias, gunakan dengan baik untuk memperbaiki hidupmu!" tegas Caesar bergeming pada keputusannya.
Dia berbalik, melangkah tanpa beban. Bunga-bunga berjatuhan memenuhi taman hati mengetahui bahwa dia memiliki dua orang anak kembar. Tak peduli siapa orang tua Evan, Caesar sudah terlanjur menyayanginya, dan menganggapnya anak. Dia akan merawat bayi itu seperti anak sendiri.
Eva luruh di lantai, usahanya untuk membuat Caesar merubah keputusan berakhir sia-sia. Dia sudah gagal. Beberapa saat Eva kehilangan udara, sesak karena harus menerima kenyataan bahwa dia sudah hancur berkeping-keping.
Eva menangis sendirian, tangannya mengais-ngais lantai menumpahkan kesedihan. Kuku-kuku yang selama ini dirawatnya hancur dan tak berupa. Mungkin itulah karma, balasan atas apa yang selama ini dia lakukan.
"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini? Kenapa semuanya hancur begitu saja? Semua ini karena kehadiran perempuan itu!" Eva menggeram, kemudian kembali menangis meratapi nasib diri.
Betapa jahatnya dia, masih saja menyalahkan orang lain untuk semua kejahatan yang dia lakukan.
"Aku tidak terima ini semua hanya terjadi padaku. Lisa dan Gyan juga harus mendapatkan balasan yang sama. Mereka harus menderita sama sepertiku!" kecam Eva teringat pada dua manusia yang masih bisa menikmati tidur mereka.
"Mereka pasti tidur nyenyak malam itu. Lalu, bagaimana denganku? Tidak! Aku harus mendapatkan rumah itu. Jika tidak di sini, maka di sanalah aku harus mencari keuntungan!" tekad Eva seketika sebuah rencana terbesit di dalam otak kecilnya.
Sudah tak ada lagi harapan di rumah itu. Eva bangkit, berjalan gontai menuju kamarnya sendiri untuk mengemas semua barang. Dia mencibir melihat secarik kertas yang teronggok di atas meja, sebuah cek dengan nominal yang tidak sedikit. Eva menyambarnya, malam itu juga dia berniat pergi dari rumah Caesar.
__ADS_1