(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 103


__ADS_3

Beberapa saat setelah kepergian Caesar, Eva masih menempatkan diri di dalam lemari. Hanya untuk memastikan bahwa salah satu dari mereka tidak kembali ke ruangan itu. Rasa panas dan keringat yang sudah membasahi pakaiannya membuat Eva tak dapat menahan diri lagi untuk tidak keluar.


"Oh, astaga! Di dalam sana panas sekali. Aku hampir kehilangan udara." Eva mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah dan dadanya, menghalau gerah dan panas yang memenuhi seluruh tubuh.


Dia melangkah ke hadapan rak buku di mana Arjuna mengambil sesuatu dari balik benda tersebut. Dipandanginya benda tinggi itu, rasanya cukup berat untuk membuat rak tersebut bergeser.


Ia mencibir melihat kekacauan yang dilakukannya telah tiada. Keadaan ruangan kembali rapi dan bersih, benda-benda telah terletak pada tempatnya semula. Tak lagi berserakan.


"Kinerja yang bagus! Tidak sia-sia Caesar membayar mereka, tapi sebentar lagi mereka semua akan meninggalkan rumah ini termasuk tuan mereka yang bodoh itu!" Eva tertawa kecil kegirangan. Merasa semua yang dia inginkan telah berada di hadapan dan dalam genggaman.


Eva mulai menurunkan benda-benda yang menurutnya berat dan mudah terjatuh bila bergerak. Setelahnya, dia mencoba untuk menggeser rak tinggi tersebut sedikit demi sedikit. Sesekali akan menjeda karena tenaganya tidak terlalu kuat untuk menggeser sekaligus.


"Huh! Berat sekali benda ini," keluhnya sembari bertolak pinggang dan mengambil udara banyak-banyak.


Eva melepas pakaian luarnya dan hanya menyisakan lingerie tipis yang hampir mengekspos semua lekuk tubuhnya. Ia mengambil kuda-kuda bersiap untuk menggeser rak buku itu lagi.


"Begini rasanya jika tidak pernah melakukan pekerjaan kasar." Eva mengerang sambil terus mendorong rak tersebut. Sedikit demi sedikit posisi benda itu berubah memperlihatkan bagian belakangnya.


Eva semakin bersemangat ketika melihat sebuah laci yang menempel pada dinding. Setelah mengerahkan seluruh sisa tenaga, akhirnya rak tersebut bergeser juga meski tak jauh.


"Sepertinya sudah cukup," gumamnya sambil mengusap keringat di dahi dengan napas yang memburu.


Tidak ingin menunda, Eva segera membuka laci tersebut yang ternyata tidak terkunci sama sekali. Dia tertawa lagi, berhasil menemukan apa disembunyikan Caesar. Terburu-buru mengambil benda itu dan membawanya ke sofa. Rasa lelah karena mendorong rak membuat Eva menjatuhkan bokong dengan kasar di sofa.


"Ah, lelahku tidak sia-sia." Eva mendekap map besar di dadanya, menjatuhkan punggung ke sandaran kursi sambil menengadah dengan mata terpejam. Puas sekali rasanya meskipun dia hampir kehilangan tenaga.


Beberapa saat dia berada di dalam posisi tersebut, meregangkan seluruh otot yang menegang, menenangkan dada yang berdegup tak karuan. Senyum kepuasan terkembang sempurna di bibirnya, bayangan kekayaan yang melimpah sudah hadir dalam pelupuk.


Oh, betapa beruntungnya dia! Tanpa harus bersusah payah kekayaan kini ada dalam genggaman.

__ADS_1


"Caesar bodoh! Dari dulu memang bodoh!" umpatnya diiringi tawa kecil yang ia lakukan.


Rasanya membahagiakan sekali menertawakan Caesar dengan segala kebodohannya. Eva menghirup udara dalam-dalam, melepaskannya dengan pelan. Ia menegakkan tubuh, memandangi map besar di tangan.


"Seluruh kekayaan milik Caesar akan berpindah ke tanganku. Tunggu saja, kau akan terkejut saat mengetahui perusahaanmu sudah menjadi milik orang lain. Aku pastikan kau akan memohon kepadaku, bersujud, bersimpuh. Bahkan, mencium kedua kakiku ini." Eva kembali tertawa kecil membayangkan saat semua itu terjadi.


"Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu, Caesar. Aku hanya menginginkan ini darimu. Harta yang kau miliki tidak boleh jatuh ke tangan orang lain. Beruntung aku bertindak cepat sehingga bisa mendapatkannya tanpa harus bersusah payah." Eva mencibirkan bibir, mengejek ketiga orang yang baru saja melakukan diskusi di ruangan itu.


****


"Bagaimana? Kita masuk sekarang?" tanya Arjuna setelah memperhatikan layar yang memperlihatkan tingkah laku Eva.


"Tunggu sebentar, aku ingin melihat dia membuka benda itu dan mengetahui isi di dalamnya," tolak Caesar sambil menahan geram menyaksikan sendiri kelakukan Eva yang sesungguhnya.


"Bagaimana nyonya bisa berpikir untuk bersembunyi di dalam lemari sempit itu. Pasti rasanya pengap dan panas," ucap Yudi keheranan.


"Demi mendapatkan harta yang dia inginkan, dia rela melakukan itu. Selama ini aku sudah dibodohi olehnya." Caesar menghela napas, ada emosi yang memuncak dari lubuk hatinya.


Namun, rasanya tak akan mungkin dia memarahi Eva habis-habisan, karena bagaimanapun wanita itu sudah menemani harinya selama hampir tujuh tahun.


"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Tuan?" tanya Arjuna sembari melirik sang atasan yang terlihat murung dan sedih.


"Entahlah. Aku meminta Eva dengan baik-baik dan akan memulangkannya dengan baik-baik juga kepada keluarganya. Inilah jalan terbaik yang aku ambil karena aku tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang pengkhianatannya." Caesar mendesah mengakhiri ucapannya.


Baik Arjuna maupun Yudi, tak satupun dari mereka yang menimpali. Keduanya diam dan mendukung apa yang akan dilakukan Caesar untuk ke depannya. Itu semua menjadi urusan mereka, tak satupun berhak ikut campur.


Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat di mana Eva mulai tertarik untuk membuka map besar tersebut. Ia mulai menimangnya, menatap setiap sisi, memperhatikan dengan saksama benda besar di tangannya.


"Kenapa aku merasa curiga?" gumamnya setelah menelisik dengan saksama benda di tangan.

__ADS_1


****


Ayo, bukalah! Dan lihat isinya!


Batin Caesar bersorak, tak sabar ingin melihat reaksi Eva setelah mengetahui isi di dalamnya. Ketiga laki-laki itu merasa gemas melihat Eva tak kunjung membuka benda di tangannya.


"Kenapa dia tidak kunjung membuka benda itu? Aku tak sabar ingin melihat ekspresi wajahnya," celetuk Arjuna mengutarakan rasa penasaran di hatinya.


"Bukan hanya Anda, Tuan, saya juga penasaran ingin melihatnya." Yudi menimpali setelah mendengar ungkapan Arjuna.


Mereka memainkan jemari gelisah, benar-benar tak dapat menahan kesabaran karena Eva yang tak juga membuka benda itu. Hanya Caesar yang terlihat lebih tenang dan sabar. Menunggu Eva yang perlahan mulai membuka ikatan tali yang menguncinya.


"Dia mulai membukanya. Cepatlah!" racau Arjuna, jiwa mudanya bergelora, kesabarannya mungkin saja akan segera habis.


"Apa aku harus memeriksa isinya di sini? Bagaimana jika nanti Caesar atau yang lainnya kembali ke sini?" Eva menghentikan gerakan tangannya membuka tali, menoleh pada pintu di mana salah satu CCTV terpasang.


Arjuna dan Yudi mengeluh, keduanya mengumpat secara bersamaan ketika Eva menghentikan gerakan tangannya membuka tali kunci.


"Sial! Kenapa dia berhenti?" umpat Arjuna.


"Mungkin dia takut Tuan atau salah satu dari kita akan kembali ke ruangan itu," timpal Yudi melihat dari eskpresi wajah Eva.


"Ah, kau benar." Mereka kembali fokus kepada Eva yang terlihat ragu.


"Sebaiknya aku cepat!" Eva kembali menggerakkan tali itu memutar, membuka kunci dan melihat isi di dalam benda tersebut.


Kedua mata Eva membeliak besar, mulutnya menganga lebar, setelah mengetahui bagian dalam dari map tersebut.


"Sial! Apa ini?"

__ADS_1


__ADS_2