(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 63


__ADS_3

Pagi-pagi sekali seorang pelayan laki-laki mengantarkan teh herbal ke kamar tuan Arya atas perintah dari Cempaka. Laki-laki tua penghuni kamar itu teramat senang menerimanya. Bentuk dari sebuah perhatian yang seharusnya ia dapatkan dari sang anak.


"Dia begitu memperhatikan aku. Rasanya Cempaka-lah anakku," gumam tuan Arya sambil menikmati teh herbal Cempaka di balkon kamar ditemani indahnya pemandangan lautan.


Tak terasa, teh tersebut telah tandas dari cangkirnya. Ia tersenyum memandangi cangkir kosong di tangan.


"Aku semakin yakin, obat-obatan yang diberikan Lisa bukanlah obat. Akan tetapi, racun yang perlahan membuatku lumpuh dan kemudian mati." Tuan Arya meremas cangkir di tangan, teringat betapa bodohnya dia dulu. Terlalu patuh kepada Lisa sampai-sampai bergantung padanya.


"Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu. Biarlah sampai mati aku di sini, menemani istriku," sumpahnya dengan kilatan mata penuh emosi.


Lintasan cerita tentang Lisa yang mulai mencekokinya racun muncul ke permukaan. Saat itu, tuan Arya sedang jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu lamanya.


Lisa dengan penuh perhatian membawakan obat-obatan yang dia katakan dari dokter yang menanganinya sepulang dari rumah sakit. Sejak saat itu, dia rutin meminum obat yang diberikan Lisa. Namun, bukanlah kesembuhan, tapi tulang kaki yang tak mampu menopang bobot tubuh yang ia dapatkan.


Tuan Arya menghela napas, bersyukur kini ia terlepas dari sosok Lisa yang menghantuinya. Tuan Arya meletakkan cangkir tersebut di atas meja, mendongak menatap indahnya deburan ombak di pagi hari. Ditemani sunrise yang mempesona, kemunculan sang menteri pagi.


Tok-tok-tok!


"Tuan! Tidakkah Anda ingin berjalan-jalan di pagi hari?"


Suara sang sekretaris mengusik ketenangan pagi tuan Arya.


Ia bangkit dari kursi balkon dan berjalan ke arah pintu. Membukanya, menyambut sang sekretaris dengan senyum hangat di pagi hari.


"Ayo! Aku merasa lebih sehat pagi ini," katanya, seraya berjalan lebih dulu keluar kamar.


Sekretaris itu menganggukkan kepala, seraya menutup pintu dan menguncinya sebelum mengekor di belakang sang tuan. Mereka berdua pergi ke restoran untuk sarapan, makanan yang disuguhkan begitu menggugah selera.


"Rasanya, aku ingin berlama-lama di sini. Apa kau keberatan? Jika kau ingin kembali kepada keluargamu, pulanglah lebih dulu. Aku akan di sini dan tidak ingin pernah kembali," ujar tuan Arya menyatakan keputusannya.

__ADS_1


"Tapi, Tuan ...?"


"Tidak apa-apa. Cempaka lebih baik daripada mereka yang di sana. Aku akan tinggal di sini menyaksikan tumbuh kembang cucuku. Sesekali datanglah, bawa sekalian keluargamu untuk berlibur di sini," sela tuan Arya dengan cepat memangkas ucapan sang sekretaris.


Hanya satu kata, pasrah. Akhirnya laki-laki hampir seusia tuan Arya itu menganggukkan kepala setuju. Dia akan kembali kepada keluarganya, dan kembali ke villa untuk menjenguk sang tuan.


"Aku sudah selesai, ayo!" Tuan Arya bangkit dari kursi, berjalan lebih dulu keluar. Sang sekretaris menyelesaikan semuanya sebelum menyusul.


Keduanya berjalan-jalan di bibir pantai, menikmati angin sejuk di pagi hari. Warung-warung di pinggiran sebagian ada yang sudah buka, dan sebagian masih tertutup.


Sampai matahari naik sepenggalan, tuan Arya dan sekretarisnya duduk di atas batu mengenang masa lalu indah dengan sang istri. Di rumahnya, Cempaka berniat mempertemukan tuan Arya dengan sang anak.


"Kau yakin akan membawa mereka kepadanya?" tanya Lucy memastikan keputusan Cempaka.


"Tentu saja, aku sudah berjanji. Kau tahu Lucy, villa yang ada di sini itu milik ayah. Dia meminta kita untuk datang berkunjung ke sana. Temani aku," sahut Cempaka dengan binar keyakinan di kedua matanya.


Lucy menghela napas, dia belum bisa berkompromi dengan hati untuk mengenalkan anak Cempaka kepada kakeknya. Ditatapnya Cempaka yang terlihat biasa saja, tak ada jejak kekhawatiran di wajah sederhana itu. Tak seperti dirinya yang terkesan berlebihan.


"Biarkan Gilang menemanimu, aku tidak bisa meninggalkan resort," usul Lucy saat melihat putra sulungnya keluar dari resort.


Cempaka mengangguk dan menunggu Lucy memanggil anaknya itu. Mereka jarang berinteraksi, tak seperti Dinda yang sering menghabiskan waktu bersamanya. Gilang, lebih memilih tinggal di kamar karyawan bersama pekerja lainnya.


"Mari, Nona!" Pemuda itu terlihat canggung.


"Jangan memanggilku nona. Usia kita tak jauh berbeda, bukan?" Cempaka menelisik wajah yang begitu serupa dengan ibunya.


Dia memang tidak tampan seperti Caesar, tapi cukup manis dan gagah. Tubuhnya tinggi dan kekar, hidung mancung, mata besar, alis yang tebal, dan bibir yang seksi. Kulitnya bersih meski tak seputih dirinya.


"Mmm ... baiklah, Manda." Ia semakin terlihat canggung, mungkin karena mereka sangat jarang berkomunikasi.

__ADS_1


Keduanya melangkah berdampingan menuju pantai. Sesekali Gilang akan mencuri pandang kepada wanita beranak dua yang ditemaninya itu.


"Gilang, apa kau tidak ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi?" tanya Cempaka di sela-sela perjalanan mereka.


"Sepertinya tidak. Aku lebih suka bekerja membantu ayah," jawab Gilang dengan tegas.


Cempaka menganggukkan kepala, mungkin karena usianya sudah lewat untuk sekolah. Gilang tidak berkeinginan melanjutkan pendidikannya.


"Apa kau belum ingin berkeluarga? Kulihat ada beberapa karyawan perempuan yang sering mencuri lirik kepadamu. Apa kau tidak ingin memilih salah satunya?" tanya Cempaka mengingat Lucy dan suaminya yang mulai beranjak tua.


Terdengar helaan napas dari pemuda yang berjalan di sampingnya. Cempaka melirik tanpa memalingkan wajah. Gilang terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


"Entahlah. Sampai saat ini belum ada wanita yang menarik hatiku. Aku takut mereka tidak bisa menerima keluargaku. Mungkin aku terlalu pemilih, tapi aku juga tidak bisa memaksakan hati untuk segera memilih," jawab Gilang setelah sekian lama terdiam.


Ia melirik Cempaka yang tersenyum. Dulu, dia tidak memiliki pilihan. Menikah bukan karena inginnya, bukan lelaki yang dia idam-idamkan. Menyesal? Tentu saja, tapi setelah melihat dua pasang mata kecil yang ia lahirkan, penyesalan itu menguap begitu saja.


"Kau sendiri bagaimana? Apa kau tidak ingin mencarikan ayah untuk anakmu? Sudah satu tahun sejak kau melahirkan mereka," tanya Gilang sambil melirik wanita tangguh di sampingnya.


Cempaka tersenyum, menatap sang anak di dalam kereta dan menghela napas. Langkahnya terhenti, Cempaka memutar tubuh menghadap lautan. Dulu, ia tak bisa pergi ke manapun. Hidupnya tak sebebas orang lain.


"Aku sudah menikah meskipun terpaksa. Setidaknya aku sudah merasakan seperti apa itu hidup berumah tangga. Aku belum berkeinginan untuk menikah lagi. Tak mudah menerima seorang wanita yang sudah menikah apalagi sudah memiliki anak. Mereka bisa menerimaku, tapi belum tentu bisa menerima anakku," ujar Cempaka dengan pandangan kosong ke hadapan.


Menatap ombak di lautan yang meninggalkan buih mengapung. Lalu, hilang.


"Bagaimana jika ada laki-laki yang bisa menerima kalian?" Gilang menyelidik, melirik wajah itu dari samping.


Cempaka kembali tersenyum, menatap sang anak yang terlihat begitu tenang.


"Mungkin mereka terlihat menerima, tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan berubah setelah menikah karena merasa anakku bukan anaknya. Aku takut itu terjadi. Aku tidak ingin anakku mengalami apa yang aku alami sejak kecil. Anakku harus merasakan masa kanak-kanak, jangan sepertiku. Yang untuk pergi bermain saja aku tidak punya waktu karena harus membantu ibu." Cempaka menghela napas, mengingat betapa keras kehidupan yang ia jalani sejak masih kecil dulu.

__ADS_1


Gilang terenyuh, ditatapnya dalam-dalam wajah itu. Sedikit hatinya berdesir.


"Nak!"


__ADS_2