
"Cempaka? Bukankah dia istri Arjuna yang waktu itu? Kenapa kau ingin mencarinya?" Lisa bertanya heran.
Eva gugup, lupa bahwa dia mengenalkan Cempaka sebagai istri Arjuna kepada mertuanya itu. Ia berpikir keras mencari jawaban juga alasan yang tepat kenapa mencarinya.
"Tidak apa-apa, dia mengetahui satu rahasia keluarga Arya yang tidak aku ketahui. Untuk itu aku ingin mencarinya, Arjuna membawa dia pergi entah ke mana. Bertanya padanya percuma," dalih Eva berbohong.
Kedua manik Lisa melotot mendengar itu, sebagai keluarga inti dari keluarga Arya ia merasa dipunggungi mendengar orang lain lebih mengetahui rahasia tentang keluarga tersebut.
"Kau yakin? Bukankah dia hanya orang baru? Kenapa bisa lebih mengetahui dari pada kita?" Rasa tak suka, kesal, mulai terlihat di wajah Lisa. Dia termakan omongan Eva.
"Tentu saja, saat aku ingin mengorek informasi darinya, Arjuna terburu-buru membawa dia pergi. Jadi, kau harus membantuku, Ibu. Kita harus menemukan Cempaka untuk mendapatkan informasi tentang rahasia itu darinya," tegas Eva meyakinkan Lisa untuk mempercayai dan mau bekerjasama dengannya.
Lisa tertegun, melihat wajah Eva yang tampak serius, dia akhirnya percaya dan bersedia bekerjasama dengan menantunya itu.
"Dari mana kau tahu dia memegang rahasia keluarga Arya?" selidik Lisa merasa harus mengetahui sumber berita.
"Aku mendengar dengan telingaku sendiri, dia mengatakan tentang sebuah rahasia saat menelpon seseorang. Apa Ibu tahu? Sekarang, Caesar dan Evan pun tidak ada. Di kantor, di rumah ... entahlah, aku sudah mencari mereka, tapi tidak juga menemukan. Apa Ibu tahu ke mana mereka pergi?" Gelisah, itulah yang terlihat pada wajah sang menantu.
Lisa mengernyit mendengar itu, dia tertawa dalam hati mengetahui kabar bahwa Caesar pergi dan menghilang.
"Mungkin dia bersama istri Arjuna itu? Atau Ibu pernah mendengar tentang rumah utama keluarga Arya. Apa kau tahu di mana?" Lisa menduga, menatap dalam kepada mata Eva.
"Rumah keluarga Arya? Caesar pernah mengajakku ke sana, tapi hanya sekali. Aku takut tidak dapat menemukan jalannya," jawab Eva penuh sesal.
__ADS_1
Rumah yang berada jauh dari kedua rumah yang mereka tempati. Rumah utama yang lebih sederhana dari rumah mereka, tapi begitu asri dan sejuk. Siapapun pasti ingin menempatinya. Dilengkapi dengan para pekerja yang begitu setia dan menghormati siapa saja yang menjadi anggota keluarga Arya.
Fasilitas yang lengkap, ada gedung olahraga khusus, taman bermain anak, juga kolam renang yang terawat. Tak lupa para tukang kebun yang begitu telaten menanam aneka sayur mayur.
"Bagaimana keadaan rumahnya?" tanya Lisa.
"Tak jauh berbeda dengan rumah kita, tapi fasilitas di sana jauh lebih lengkap. Kita tidak akan kekurangan apapun jika tinggal di sana. Jangan lupakan para pekerja yang sangat menghormati siapapun yang menjadi anggota keluarga Arya. Dulu, Caesar mengajakku tinggal di sana, tapi karena ku ingin menempati rumah yang lebih besar dan megah. Aku memilih tinggal di rumah Caesar," jawab Eva diakhiri dengan helaan napas.
"Sepertinya rumah itu peninggalan mendiang ibu Caesar. Dia lebih suka kesederhanaan meski menikah dengan pria yang bergelimang harta." Lisa menghela napas, teringat pada mendiang ibu Caesar yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Mungkin mereka ada di sana, kau harus mengingat jalan ke rumah itu. Kita sama-sama pergi, aku juga ingin tahu seperti apa rumah peninggalan wanita itu," ucap Lisa lagi dengan pasti.
"Aku akan mencoba mengingatnya, tapi mungkin kita tidak pergi sekarang. Bagaimana jika besok? Jika Caesar tidak kembali ke rumah sampai besok, kita akan pergi ke rumah itu," sahut Eva menjanjikan.
"Ya sudah. Tidak masalah." Lisa menghendikan bahu, kapanpun dia akan menunggu karena begitu penasaran dengan rumah utama tersebut.
"Dia di kamar. Beberapa hari terakhir ini selalu mengurung dirinya dan enggan keluar. Entahlah, apa yang terjadi padanya. Ibu tidak tahu, tapi dia selalu mengatakan 'dia akan datang' entah siapa dia yang dimaksud." Lisa menghela napas, memikirkan tentang Gyan yang bertingkah tak seperti biasanya.
"Mungkin dia memiliki masalah dengan teman-temannya?" terka Eva sembari beranjak dari sofa dan mengunjungi kamar pemuda itu.
Langkahnya menapak di atas anak tangga, lantai dua yang sering dikunjunginya setiap kali datang ke rumah Lisa. Eva menempelkan telinga pada daun pintu, mendengarkan dengan saksama suara-suara dari dalam sana. Tak ada suara apapun yang terdengar, pintu juga terkunci dari dalam.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
"Gyan! Ini aku, Eva." Dia mengetuk pintu memanggil pemuda itu.
Beberapa saat tak ada sahutan, penghuni kamar itu diam tak menjawab.
"Gyan! Apa kau tidak merindukanku? Buka pintunya?" pinta Eva lagi, tetap saja tak ada sahutan.
Kesabarannya mulai terkikis, pemuda di dalam sana sama sekali tidak menjawab panggilannya. Gyan tengah duduk di tepi ranjang, merenungi pesan yang dikirimkan oleh seorang asing padanya. Dia mendengar, kepalanya mendongak menatap pintu, tapi enggan untuk menjawab.
"Gyan! Aku sudah datang menemuimu. Bukankah sudah lama sekali kita tidak melakukan itu? Apa kau tidak ingin melakukannya lagi denganku? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Eva terus meracau merayu pemuda yang selama ini menjadi teman bermainnya di atas ranjang.
Mendengar itu, Gyan meneguk ludah gugup. Dia merindukan Eva, dia merindukan sentuhan wanita itu. Sudah sangat lama dan sabar menunggu semenjak Eva berpura-pura hamil dan melahirkan.
"Jika kau sudah tidak menginginkanku, aku bisa mencari penggantimu. Kau tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagi. Kau dengar itu!" Eva mengancam karena kesabarannya telah habis.
Dadanya naik dan turun tak berirama. Napas memburu karena sesak yang menghimpit. Matanya menatap nyalang daun pintu kamar tersebut yang tak kunjung terbuka. Dia berbalik hendak pergi, ketika kunci pintu terdengar.
"Maaf, aku sedang di kamar mandi tadi," ucap Gyan saat Eva menoleh padanya. Pemuda itu hanya berbalut handuk di pinggang, dengan tubuh yang basah. Dadanya yang bidang dan terdapat beberapa tetes air, membangkitkan gelora Eva yang tak terpenuhi dengan Caesar.
Wanita itu merangsek masuk, menutup pintu dan menguncinya. Memindai tubuh Gyan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tangan terlipat di perut. Ia menggigit bibir, menggoda Gyan, berkedip nakal seperti Eva yang dulu.
Pemuda itu diam bergeming, kedua matanya tak lepas dari wajah cantik istri kakak tirinya itu.
"Kudengar kau mengurung diri di kamar? Ada apa? Apa kau memiliki masalah?" tanya Eva sembari melangkah, mendekati Gyan. Jari telunjuknya yang lentik menyentuh dada pemuda itu, bermain-main nakal di sana. Menggoda, merayu, untuk meluapkan sebuah gejolak.
__ADS_1
"Itu karena kau tidak pernah mendatangiku lagi," jawab Gyan berkilah.
Eva mendorong tubuh pemuda itu hingga terjatuh di atas ranjang. Kemudian, menindihnya. Selanjutnya ... terjadilah hal yang tidak sepantasnya terjadi.