(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 61


__ADS_3

Di hadapan mereka kini terhampar beberapa macam menu masakan ala rumahan. Seperti bernostalgia, tuan Arya menatap makanan itu dengan perasaan yang dalam.


"Aku seperti tak asing dengan masakan ini. Apakah rasanya akan sama?" gumam tuan Arya menatap ragu masakan tersebut.


"Saya yakin Anda akan menyukainya." Sang sekretaris berkata dengan sangat yakin.


Tuan Arya mulai mencicipi satu menu, tubuhnya menegang seketika. Lidah tua itu terdiam merasai makanan yang baru saja menyapa.


Kenapa? I-ini seperti masakan istriku juga Cempaka. Apa tebakanku benar, jika pemilik resort ini adalah menantu yang kucari selama ini?


Tuan Arya kembali melahap makanan di hadapannya, untuk sekian lama ia kembali mencicipi makanan tersebut. Pantas saja restoran itu selalu ramai, mereka menyukai menu masakan di sana. Menu yang sederhana, tapi begitu menggugah selera.


"Bagaimana, Tuan?" tanya sang sekretaris setelah tuan Arya menghabiskan makanannya.


"Kau sudah bertemu dengan manager di sini?" tanya tuan Arya tak menjawab pertanyaan bawahannya itu.


"Dia tidak ingin aku temui, Tuan. Dengan alasan tidak ditempat, dia menolakku bertemu," jawab orang kepercayaannya itu dengan pasti.


Tuan Arya menghela napas, satu hal yang membuatnya penasaran adalah bangunan yang terpisah dengan resort tersebut di mana dia melihat seorang gadis remaja bersama seorang bayi.


"Ada apa, Tuan?" tanya sekretaris tersebut saat melihat tuan Arya termenung tanpa kata.


"Ikut aku!" Tuan Arya beranjak, para pengunjung diizinkan berkeliling resort untuk melihat-lihat berbagai macam tanaman bunga yang sengaja ditanam di sekitar area tersebut.


Terdapat gubuk-gubuk di beberapa sudut untuk mereka menikmati waktu bersama keluarga atau sekedar beristirahat. Ada taman bermain anak, juga kolam renang yang tak pernah sepi.


Keduanya sengaja berkeliling, melihat-lihat hal menarik dari resort yang dibangun Cempaka. Sampai tiba pada bangunan terpisah di sana, di mana sebuah gubuk pun tersedia. Tuan Arya mengajak bawahannya untuk duduk menikmati pemandangan bulan yang muncul dari sela-sela dedaunan.


"Tuan, kenapa kita ke sini?" tanya sekretarisnya dengan heran.


Deburan ombak dapat mereka dengar dari tempat duduk tersebut bahkan, ketika menoleh mereka dapat dengan jelas melihat lautan yang ramai meski gelap.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Tuan Arya terlihat misterius.


Beberapa saat lamanya mereka duduk, gadis remaja yang dilihat tuan Arya berjalan ke arah bangunan tersebut. Tuan Arya diam-diam memperhatikan sampai dia berdiri di depan pintu rumah itu.

__ADS_1


"Nona!" Dia mengetuk dan memanggil Cempaka.


"Buka saja, Din. Tidak dikunci." Suara Cempaka yang samar terdengar, membuat hati tua tuan Arya berdenyut.


Laki-laki tua itu beranjak dari gubuk, hendak mendekati bangunan tersebut.


"Tuan, Anda mau pergi ke mana?" tanya sang sekretaris cemas.


Namun, tuan Arya memberinya isyarat untuk diam, dan tetap duduk di gubuk tersebut. Sementara dia, melangkah tanpa rasa takut mendekati bangunan. Laki-laki tua itu berdiri di depan pintu, menghela napas panjang sebelum tangannya mengetuk.


Tok-tok-tok!


Tanpa merasa curiga, Dinda yang baru saja masuk ke dalam, kembali pada pintu untuk membukanya. Ia mengernyit, melihat sosok tua yang tersenyum ramah di depan rumahnya.


"Ya, Tuan. Ada keperluan apa? Apakah Anda tersesat?" tanya Dinda dengan nada yang ramah meskipun bukan di waktu bekerja.


Tuan Arya tidak lekas menjawab, matanya berlari ke dalam rumah mencari sosok lain. Ketika mulutnya hendak terbuka untuk berbicara, tapi dihentikan oleh suara yang ditunggu-tunggu olehnya.


"Siapa, Din?" Cempaka keluar dengan membawa handuk di tangan, sepertinya dia baru saja membersihkan diri. Akan tetapi, ia tidak menampakkan diri di depan tuan Arya.


"Antarkan saja kembali ke resort. Mungkin lupa jalannya." Suara Cempaka kembali terdengar belum menyadari tentang keberadaan tuan Arya di resort miliknya.


"Tuan, mari saya antar kembali ke resort!" Dinda keluar dari rumah hendak mengajaknya, tapi gelengan kepala tuan Arya membuatnya mengernyit kebingungan.


"Saya ingin masuk ke dalam. Boleh?" pamit tuan Arya meski terdengar lancang tak masalah baginya.


"Maaf, Tuan, tapi tamu dilarang masuk ke dalam rumah ini," jelas Dinda mulai curiga dengan laki-laki tua di hadapannya.


Tuan Arya tetap tersenyum ramah, dia penasaran dengan pemilik suara yang mirip seperti menantunya itu.


"Saya hanya ingin memastikan sesuatu saja, saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan. Tidak!" ucap tuan Arya sambil memasang wajah penuh harap untuk diizinkan masuk ke dalam.


"Maaf, Tuan. Tetap tidak bisa. Sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda," tolak Dinda dengan tetap ramah.


Sambil menahan geram karena sepertinya laki-laki tua di hadapan itu enggan pergi. Berselang, sosok yang ditunggu tuan Arya muncul dengan anggun. Dia terlihat berbeda, lebih bersih, dan cantik. Cempaka terkejut, tapi hanya sejenak. Setelahnya, dia tersenyum ramah seraya melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

__ADS_1


"Tuan? Apa yang Anda cari di sini?" tanya Cempaka dengan senyum ramah tanpa terlihat jejak kebencian di pancaran matanya.


Tuan Arya mendekat meski hanya selangkah. Kedua mata tuanya berbinar dapat menemukan sosok menantu yang dicarinya.


"Boleh Ayah masuk, Nak?" pintanya tetap mengaku sebagai ayah mertua Cempaka.


Dinda terlihat bingung, ia menoleh kepada Cempaka meminta penjelasan.


"Tidak apa-apa, dia tuan Arya." Cempaka tersenyum kepada Dinda, seketika remaja itu menjadi cemas.


Dia tak tahu harus apa ketika Cempaka justru mengizinkan laki-laki tua itu untuk masuk ke dalam. Untuk apa bersembunyi? Mereka bukan buronan.


"Terima kasih, Nak." Tuan Arya berkaca, ia mengikuti langkah Cempaka untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Cempaka pergi ke dapur, membuatkan teh hangat yang dulu sering ia suguhkan untuknya.


"Bagaimana keadaan Anda, Tuan? Anda tidak lagi menggunakan tongkat?" tanya Cempaka sembari memberikan teh herbal tersebut kepada mantan ayah mertuanya.


"Sejak kau memberikan teh ini, Ayah tidak lagi butuh tongkat itu. Ayah bisa berjalan dengan kaki sendiri. Kau sendiri bagaimana? Sepertinya kehidupanmu sudah lebih baik?" Tuan Arya menyeruput teh tersebut, minuman yang membuatnya kembali merasa sehat dan segar.


"Ya, seperti kelihatannya. Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Kami bahagia di sini," jawab Cempaka sambil menunjukkan keadaannya yang jauh lebih baik.


"Kau tahu, Nak. Selama satu tahun ini Ayah mencarimu. Ayah bahkan meminta orang-orang Ayah untuk mencarimu ke segala penjuru kota, tapi sampai detik ini mereka tak dapat menemukanmu. Sampai akhirnya Ayah mendengar tempat ini dan merasa dekat denganmu," ungkap tuan Arya dengan sesungguhnya.


Cempaka terharu, ia tahu tuan Arya bukanlah orang jahat. Dia orang baik, dan selalu menganggapnya anak.


"Sebenarnya aku tidak bersembunyi, aku hanya pergi karena ingin menjauh dari kehidupan mereka. Aku mencari kebahagiaan serta kehidupanku sendiri di sini. Sebenarnya Anda tidak perlu mencariku, Tuan." Cempaka merasa sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Arya.


"Kenapa kau seolah-olah tidak mengakui Ayah sebagai ayahmu lagi, Nak?" tanya tuan Arya sedih.


Cempaka menghela napas, ia menatap tuan Arya tanpa rasa segan.


"Karena aku merasa sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga Arya lagi, Tuan. Tuan Caesar sudah menceraikan aku. Sekarang, aku bukanlah siapa-siapa." Cempaka tersenyum menyembunyikan kegetiran hatinya.


"Tapi Ayah tetap merasa kau adalah anak Ayah. Lagipula, kau telah melahirkan cucu Ayah, bukan? Ayah tidak akan mungkin menelantarkan kalian. Izinkan Ayah bertemu dengannya, Nak. Jika boleh, tetap panggil Ayah dengan sebutan ayah meskipun kau bukan lagi istri Caesar." Tuan Arya menatap Cempaka penuh harap.

__ADS_1


Wanita itu gamang, tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2