
Seorang wanita paruh baya terlihat berdiri di depan sebuah gedung megah menjulang tinggi. Ia mendongak, menatap puncak dari gedung itu. Seketika meneguk ludah, merasa ragu dapatkah ia bertemu dengan pemilik gedung tersebut.
Ia berjalan menghampiri seorang petugas keamanan untuk mengkonfirmasi kebenaran tentang gedung yang ia datangi.
"Tuan, apakah benar gedung perusahaan ini milik keluarga Arya?" tanyanya dengan sopan.
Laki-laki yang bertugas sebagai keamanan tersebut menoleh dan memindai penampilannya dari atas hingga bawah.
"Benar. Ada keperluan apa Anda menanyakan hal tersebut?" tanyanya menyelidik.
Ia tersenyum senang, di tangannya memegang sesuatu. Secarik kertas yang entah berisi tentang apa.
"Jika begitu apa tuan Caesar ada di tempatnya? Saya perlu bertemu dengannya. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan dari seseorang yang sangat penting," ucapnya sambil terus tersenyum berharap akan diizinkan bertemu dengan orang tersebut.
"Kau sudah membuat janji?" selidik sang kepala keamanan.
Ia menggelengkan kepala sedih, tak tahu jika ingin bertemu dengan Caesar harus membuat janji terlebih dahulu.
"Tuan, saya memang belum membuat janji karena saya tidak tahu, tapi bisakah Anda menyampaikan kepada tuan Caesar tentang saya yang ingin bertemu?" pinta wanita itu dengan serius.
Penjaga keamanan tersebut menghela napas sebelum berujar, "Mungkin saya bisa menyampaikan, tapi tak dapat berjanji jika Anda bisa bertemu dengan tuan. Tunggulah, biasanya sekretaris tuan keluar. Saya akan mencoba berbicara kepadanya."
Wanita itu menganggukkan kepala, tak lupa berterimakasih sambil tersenyum. Ia mencari tempat nyaman untuk duduk menunggu. Didekapnya sesuatu yang ia pegang, berharap tak akan ada penolakan.
Beberapa saat menunggu, terlihat Arjuna keluar seorang diri. Itu sudah hal biasa terlihat oleh para pegawai.
"Mari! Itu tuan Arjuna!" ajaknya.
Wanita itu gegas bangkit dan mengekor petugas keamanan mendekati Arjuna yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Tuan!" Panggilan dari satpam tersebut menghentikan tangan Arjuna membuka pintu. Ia menoleh dengan dahi mengernyit.
__ADS_1
"Ada apa?" Arjuna bertanya dingin.
"Mmm ... maaf menganggu Anda, Tuan. Saya membawa seorang wanita yang ingin bertemu dengan tuan Caesar. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan," ucap petugas keamanan tersebut sambil menunjukkan wanita yang datang bersamanya.
Arjuna melirik, mengernyit dahinya karena merasa tidak mengenali sosok tersebut.
"Hal penting apa yang kau bawa sehingga berani untuk bertemu dengan tuan?" tanya Arjuna pun ikut menyelidik.
Wanita itu melangkah ke hadapan Arjuna, menilik wajah sang pemuda menyesuaikan dengan apa yang dikatakan oleh Cempaka.
"Nona meminta saya datang menemui tuan, nona mengatakan jika saya harus bertemu langsung dengan tuan bukan dengan yang lain." Ia menatap kedua manik Arjuna, mencoba berbicara tentang Cempaka tanpa harus menyebutkan namanya.
Arjuna tercenung, seketika tahu siapa yang dimaksud wanita itu. Ia menutup pintu mobilnya kembali. Urung untuk pergi.
"Ikut aku!" Arjuna berbalik dan berjalan lebih dulu.
Wanita tersebut membalikkan tubuh, membungkuk dan berterimakasih kepada petugas keamanan sebelum mengikuti langkah Arjuna. Gedung yang luar biasa megah, setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka akan membungkukkan tubuh. Dari sana dia tahu Arjuna pastilah orang penting di gedung itu.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu ke mana nona pergi. Nona hanya berpesan demikian sebelum pergi malam itu," jawabnya dengan jujur.
"Dengan siapa nona pergi? Sendiri?" Arjuna kembali bertanya sambil melirik wanita di belakang dengan ekor matanya.
"Saya melihat Lucy bersama nona, Tuan. Selebihnya saya tidak tahu." Ia tak ingin terlalu banyak bicara.
Arjuna menghela napas, tak lagi bertanya tentang Cempaka padanya. Lift berhenti saat tiba di lantai puncak di mana ruangan Caesar berada. Keduanya keluar dari lift dan berjalan menuju sebuah pintu.
Arjuna mengetuk pintu, meminta izin kepada Caesar untuk masuk.
"Masuk!" Suara Caesar dari dalam ruangan.
Arjuna membuka pintu dan masuk lebih dulu diikuti wanita tadi setelah tangan pemuda itu memintanya untuk masuk. Caesar mengernyit melihat orang asing berada di ruangannya.
__ADS_1
"Siapa yang kau bawa itu, Arjuna?" tanya Caesar dingin. Ia memalingkan wajah pada pekerjaan enggan menatap keduanya.
"Dia datang membawa pesan dari nona, Tuan." Arjuna menjawab intinya.
Caesar tertegun, tangannya berhenti bergerak mendengar jawaban dari sang asisten. Lalu, perlahan mendongak menatap wanita asing itu. Arjuna memintanya untuk mendekat dan menyampaikan sendiri pesan apa yang dibawanya.
"Maafkan saya, Tuan. Nona memberikan ini kepada saya sebelum pergi di malam itu. Nona meminta saya memberikannya langsung kepada Anda, bukan pada yang lain," ucapnya sembari menyodorkan sebuah amplop yang ia sendiri tak tahu apa isi di dalamnya.
Caesar melirik benda putih tersebut, mengambilnya sambil menatap wajah wanita itu. Ia mengeluarkan isi di dalamnya, sebuah kertas berisi tulisan milik Cempaka. Caesar membacanya dengan serius, jantungnya berdebar membaca setiap huruf yang dituangkan Cempaka pada kertas tersebut.
Di dalamnya juga terselip sebuah kartu, ATM yang dulu diberikan Caesar kepadanya. Laki-laki itu menghela napas, menutup kembali surat tersebut.
"Kau tahu ke mana dia pergi?" tanya Caesar kembali memandang wanita itu.
Kedua manik hitamnya memancarkan kerinduan juga kesedihan sekaligus. Dia tak ingin berpisah dengan wanita itu, tapi begitulah takdir. Salahnya yang di awal membuat perjanjian itu.
Wanita tersebut menggelengkan kepala, Cempaka tak pernah mengatakan ke mana dia akan pergi.
"Saya tidak tahu, Tuan. Nona tidak mengatakan ke mana akan pergi. Nona hanya meminta saya membawa itu kepada Anda. Saya sendiri tidak tahu apa isi di dalamnya," jawab wanita itu dengan kepala tertunduk.
Lagi-lagi Caesar menghela napas panjang, harus memupus harapan untuk dapat bertemu dengan Cempaka. Wanita itu yang telah melahirkan seorang keturunan untuk keluarga Arya.
"Datanglah besok ke rumahku. Atau jika kau tak tahu, berikan alamatmu Arjuna akan menjemput," titah Caesar sembari melirik Arjuna yang sigap menganggukkan kepala.
"Baiklah, Tuan. Terima kasih banyak." Wanita itu kembali membungkukkan tubuh.
"Kau boleh pergi. Arjuna akan mengantarmu." Caesar berbalik memunggungi, menatap surat Cempaka di tangannya.
Wanita itu membungkukkan tubuh lagi, berbalik mengikuti Arjuna keluar. Caesar membuka suratnya lagi, membaca sekali lagi dengan hati yang perih.
Kartu ini aku kembalikan karena sudah tidak berhak memilikinya lagi. Aku harap kau mengabulkan satu permintaan terakhirku. Aku ingin wanita yang datang membawa suratku kepadamu, menjadi pengasuh anak kita. Aku hanya mempercayai dia tidak dengan yang lain. Jangan bertanya ke mana aku pergi, jangan pernah berpikir untuk mencariku lagi. Saat kau menerima surat ini, aku sudah tidak ada lagi di kota ini. Jaga anak itu, sayangi dia dengan sepenuh hatimu. Hati-hati, ada ular di dalam rumah itu.
__ADS_1
Demikian surat yang ditulis Cempaka, kalimat terakhir yang ditulisnya membuat bingung Caesar.