(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 51


__ADS_3

Eva terbaring di ranjang rumah sakit, ditemani Caesar dan juga Arjuna yang berjaga di depan ruangan. Pagi itu, tuan Arya dan anggota keluarga yang lain bergantian datang menjenguk si jabang bayi yang baru dilahirkan.


"Dia tampan sekali. Kapan kau melahirkan?" tanya Lisa setelah melihat bayi di dalam box tersebut.


"Tadi malam. Cukup mendadak memang, tadi malam tiba-tiba aku kontraksi," jawab Eva sembari melirik Caesar yang duduk di dekatnya.


Caesar menganggukkan kepala tersenyum bibirnya, padahal hati perih tak terkira.


"Rasanya semalam aku tidak mendengar suara apapun. Keadaan rumah juga tenang dan baik-baik saja saat aku bangun." Lisa mengernyitkan dahi, terlihat tak percaya bahwa Eva telah melahirkan.


Istri Caesar itu gugup sendiri, ia meremas tautan tangan mereka meminta bantuan kepada laki-laki itu.


"Yah. Aku memang sengaja tidak membuat kegaduhan karena awalnya aku pikir Eva hanya sakit biasa, tapi ketika tiba di rumah sakit dokter mengatakan jika anak kami akan lahir," ucap Caesar mengarang cerita. Teringat pada cerita Lucy tentang Cempaka yang tiba-tiba kontraksi.


Lisa manggut-manggut sambil mengangkat alisnya. Di samping wanita itu, tuan Arya duduk dengan tenang. Memperhatikan wajah anak dan menantunya yang berganti-ganti eskpresi.


"Hei, coba lihat! Dia lucu sekali, kira-kira menurutmu dia mirip siapa? Ibunya atau ayahnya?" seru keluarga yang lain sambil memperhatikan bayi milik mereka yang tertidur dengan tenang.


"Aku rasa dia mirip ibunya."


"Tidak! Dia mirip dengan ayahnya."


"Tunggu dulu! Bayi ini tidak mirip dengan ibu atau ayahnya." Caesar dan Eva tersentak saat mendengar itu, semua orang tertuju padanya ingin mendengar penjelasan.


"Benarkah?" Lisa yang penasaran mendekat, melihat dengan saksama wajah yang dimiliki bayi tersebut.


"Benar. Kenapa dia tidak mirip dengan salah satu dari kalian?" Lisa mendramatisir keadaan. Membuat Eva dan Caesar terlihat gugup dan panik.


"Tidak apa-apa. Itu bukanlah masalah besar. Dulu, ayahnya juga tidak mirip denganku ataupun ibunya. Padahal, jelas-jelas yang melahirkan dia adalah ibunya, tapi seiring berjalannya waktu, wajah itu berubah perlahan dan semakin tahun semakin memiliki kemiripan meskipun tidak terlalu." Tuan Arya berkomentar demi meredam keributan.


Ia hanya khawatir akan timbul berita yang tak diinginkan hanya karena bayi itu tidak memiliki kemiripan dengan orang tuanya.


"Benarkah?" Lagi-lagi Lisa tak percaya.


Namun, tuan Arya lebih bersikap tenang daripada kedua orang itu. Ia tersenyum dan menganggukkan kepala menjawab ketidakpercayaan Lisa.


****

__ADS_1


"Dokter, terima kasih atas semua bantuan Anda. Pertolongan Anda ini tidak akan pernah kami lupakan," ucap Caesar kepada dokter yang bekerjasama dengannya.


Laki-laki berjas putih itu menghela napas, tersenyum kemudian.


"Yah. Jangan sungkan, Tuan. Ke depannya semoga Anda dan keluarga berbahagia selalu," jawab dokter tersebut seraya menyambut uluran tangan Caesar.


Eva sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil bersama Arjuna, dia mengamankan perut palsu yang dipakainya semalam di tempat tersembunyi di dalam mobil. Mereka kembali ke rumah, pesta penyambutan sang pewaris pun digelar sangat meriah.


Di tengah pesta meriah itu, ada satu sosok yang tak menikmati jalannya pesta. Dia, tuan Arya duduk merenung memikirkan keadaan Cempaka. Tak satupun yang memberi kabar tentang wanita itu kepadanya.


Tuan Arya menelpon sang sekretaris untuk mengantarnya ke rumah Cempaka malam itu juga. Diam-diam ia meninggalkan pesta, pergi dengan membawa hadiah untuk wanita itu juga anaknya.


Namun, kejanggalan pun terasa di saat mobil mereka tiba di halaman rumah tersebut. Keadaan rumah sepi, seperti tak ada aktivitas di dalamnya.


"Tuan, sepertinya rumah ini sepi. Mungkin penghuninya sudah meninggalkan tempat ini," ujar sang sekretaris setelah melihat kejanggalan yang ada.


Tuan Arya menghela napas, pandangannya tak terlepas dari teras rumah Cempaka yang nampak sepi.


"Panggil mereka menghadapku!" titah tuan Arya pada sekretaris tersebut.


Mereka berlarian ke hadapan laki-laki tua itu, berbaris rapi menunggu perintah.


"Kalian tahu ke mana yang menghuni rumah ini?" Tuan Arya mulai bertanya.


"Maaf, Tuan. Sejak kepergian mereka tadi malam ke rumah sakit, nona belum kembali ke rumah ini." Salah satu penjaga menjawab.


"Dengan siapa dia pergi?" Tuan Arya kembali bertanya sambil melayangkan tatapan tajam pada mereka.


Para penjaga itu saling menoleh satu sama lain, takut untuk menjawab.


"Siapa? Katakan padaku siapa yang membawa mereka ke rumah sakit?" tekan tuan Arya membuat tubuh mereka gemetaran.


"Tu-tuan Arjuna, Tuan!" jawab mereka takut-takut.


Mendengar itu, tuan Arya beranjak dari kursi dan mengajak sang sekretaris untuk pergi ke rumah sakit. Bertanya langsung kepada dokter di sana tentu saja akan lebih akurat.


"Kita ke rumah sakit!" titah tuan Arya pada laki-laki yang ikut bersamanya.

__ADS_1


Mereka pun pergi meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit.


Sebegitu rahasiakah Cempaka? Hingga kau menyembunyikannya sedemikian rupa.


Batin tuan Arya bergumam, tak habis pikir kepada Caesar yang telah menyembunyikan Cempaka dari semua orang.


Sementara di tempat lain, Cempaka bertemu dengan seseorang. Sosok lain yang telah membantunya menjalankan rencana.


"Sesuai janjiku padamu. Ini untukmu, dan bawalah ini ketika kau datang ke rumah itu. Berikan kepada tuan Caesar. Ingat, tuan Caesar bukan yang lain," ucap Cempaka kepada orang tersebut sambil memberikan sesuatu kepadanya.


"Terima kasih, Nona. Terima kasih karena telah menolong kami. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Lalu, bagaimana dengan Anda?" Ia menggenggam erat pemberian Cempaka dan tak akan pernah melepaskannya.


"Aku akan pergi meninggalkan kota ini dan tak tahu apakah akan kembali lagi. Semoga kau berhasil! Berhati-hatilah selalu!" Cempaka berbalik diikuti Lucy. Tak ada yang tahu ke mana mereka akan pergi.


Orang tersebut masih berdiri di sana, melambaikan tangan pada mobil Cempaka.


"Berhati-hatilah, Nona. Semoga selamat sampai tujuan!" Dia bergumam lirih. Mengepalkan tangan melepas kepergian wanita itu.


Lalu, dia pun kembali ke rumahnya dan melanjutkan rencana Cempaka.


"Nona, bagaimana perasaan Anda sekarang?" tanya Lucy sembari menatap bayi di dalam gendongan Cempaka.


Ia tersenyum lega, rasanya sudah melepaskan beban berat yang selama ini bergelayut di pundaknya.


"Aku merasa lega, Lucy. Aku merasa bebas. Bebas dari ayahku, juga cengkeraman laki-laki itu." Cempaka mencium bayi di gendongannya.


Dia tidak membutuhkan laki-laki itu untuk merawat anaknya. Seorang diri saja sudah mampu untuk membesarkannya.


"Bagaimana keadaan di sana? Bisakah kita berbisnis?" Cempaka menanyakan situasi kota yang akan mereka tinggali.


"Kita akan tinggal di pesisir, Nona. Mata pencaharian masyarakat di sana kebanyakan menjadi nelayan." Lucy memberitahu.


"Mmm ... adakah tempat wisata di sekitar sana?"


"Ada, Nona. Meski kecil, tapi selalu ramai dikunjungi para wisatawan."


"Kita akan berbisnis, Lucy."

__ADS_1


__ADS_2