
Keheningan menyelimuti dua isan yang tengah duduk di halaman belakang rumah utama. Baik Cempaka maupun Caesar, tak satupun dari mereka yang memulai percakapan. Cempaka lebih banyak menunduk, terasa canggung untuk pertama kalinya bertemu lagi setelah mereka berpisah.
Berkali-kali Caesar melirik, tapi lisan masih enggan untuk digerakkan. Hanya helaan napas yang terdengar untuk mengurai sesak dan gugup yang melanda hati.
"Jika ada yang ingin kau bicarakan, bicara saja. Jika tidak, aku akan segera kembali ke rumahku," ucap Cempaka pada akhirnya membuka percakapan.
Ia memberanikan diri untuk melirik, penampilan laki-laki itu sedikit berbeda dari pada saat mereka bertemu untuk yang terakhir. Sedikit tak terurus, cambang yang tak pernah nampak sebelumnya kini terlihat menghitam.
"Hmm ... ya. Jangan pergi! Aku hanya ingin mengatakan itu kepadamu. Tetaplah di sini karena bukan hanya mereka yang membutuhkan dirimu, tapi aku juga," ujar Caesar tanpa berani menatap wajah wanita yang ia rindukan.
Cempaka tersenyum mendengar itu, tapi rasa ragu masih menguasai melihat sikap Caesar yang tak sedikit pun menoleh padanya.
"Benarkah? Kenapa aku merasa tidak yakin?" gumam Cempaka sembari menghela napas. Pandangannya kembali beralih ke depan, menatap hamparan hijau sayur mayur.
Caesar terhenyak mendengar itu, tapi hatinya mewajarkan karena pertemuan mereka terjadi akibat keterpaksaan. Menikah secara terpaksa, melayani pun tanpa sukarela.
"Kenapa kau tidak mempercayaiku ... ah, tentu saja. Kita menikah bukan karena cinta, tapi karena keterpaksaan dan hanya sebatas kontrak semata. Aku bisa mengerti," ucap Caesar pasrah pada nasib cintanya.
Cempaka tersenyum, ternyata laki-laki di sampingnya terlalu berperasaan. Padahal, bukan itu maksud Cempaka yang sebenarnya.
"Tatap mataku dan katakan itu sekali lagi!" Suara Cempaka yang lirih bagai tiupan angin sepoi-sepoi di senja hari yang menyejukkan hati.
Caesar menoleh bersama kedua matanya yang melebar. Senyum yang diukir Cempaka membuat tenggorokannya menyempit hingga kesulitan walau hanya untuk menelan liur saja.
"A-apa?" Spontan bertanya belum mengerti apa yang dimaksud Cempaka. Atau hanya ingin memastikan jika telinga tak salah mendengar.
Cempaka tersenyum, menatap dalam pada kedua manik hitam di depannya. Menyalurkan segala rasa yang ada di hati, agar mendapat sambutan hangat dari seberang.
"Katakan itu sekali lagi, aku ingin kau mengatakannya sambil menatap mataku," pinta Cempaka melirik kanan dan kiri kedua mata lelaki di depannya.
Jantung Caesar berdebar-debar, laksana seorang perjaka yang baru pertama kali mengenal cinta.
Apa ini? Kenapa rasanya dadaku berdebar? Padahal Cempaka bukan cinta pertamaku dan ini bukanlah yang pertama. Oh, jantungku berhenti membuat kegaduhan.
Caesar meneguk ludah, belum lagi lisannya berkata-kata peluh sudah bermunculan di sekitar pelipis.
"Aku menunggu. Jika kau tidak ingin mengatakannya, aku akan pergi," ancam Cempaka membuat Caesar gentar.
Tangannya dengan cepat meraih jemari wanita di hadapan, menggenggamnya dengan hangat dan lembut. Sungguh, demi apapun Cempaka dapat merasakan getaran-getaran di tubuhnya. Dalam hati ia tertawa, bertanya-tanya ada apa dengan lelaki angkuh di depannya itu?
"Kumohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku lagi. Kau pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara waktu itu. Sekarang, aku ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa aku menginginkan dirimu ada di sisiku. Tetaplah di sini, Champa. Aku kehilangan separuh hidupku semenjak kau pergi meninggalkan aku. Aku membutuhkanmu. Sungguh! Percayalah padaku," ungkap Caesar meski menahan gejolak yang membuncah di dalam hatinya.
Berdesir darah Cempaka, berguncang hatinya. Dia melihat ketulusan yang dipancarkan kedua manik hitam itu. Kesungguhan akan apa yang terucap lisan, tak ada dusta apalagi tipu muslihat. Dia bahagia, tapi ....
"Tapi bagaimana dengan Eva? Bukankah kau dan dia saling mencintai dan tak dapat terpisahkan? Kau bahkan tidak pernah datang untuk menjengukku ketika mengandung mereka. Aku ragu dia akan rela bila aku kembali," ucap Cempaka masih menahan diri untuk tidak membalas genggaman tangan Caesar.
Bukannya terlepas, tapi jemari lelaki itu justru semakin menguat. Aliran hangat mengalir ke seluruh pembuluh darah, menghangatkan seluruh rasa di dalam hatinya.
"Kau tidak akan pernah tahu jika tidak ikut bersamaku untuk melihatnya. Champa, aku ... aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu, aku baru menyadarinya setelah kau pergi meninggalkan aku. Saat ini, hanya kau yang aku inginkan. Bukan yang lain. Bukan juga Eva. Kembalilah padaku, kita mulai semuanya dari awal lagi. Apa kau bersedia?" tutur Caesar mengeratkan genggaman pada kedua tangan Cempaka.
Wanita itu tersenyum, berpikir mungkin yang dilakukan Caesar saat ini adalah sebuah lamaran.
__ADS_1
"Di mana bunganya? Apa kau tidak menyiapkan bunga untukku?" Kepala Cempaka celingukan ke kanan dan kiri mencari bunga yang selalu digunakan laki-laki untuk melamar seorang perempuan.
Caesar terhenyak kebingungan. Tidak mengerti lagi apa yang dimaksud oleh Cempaka.
"A-apa?" Gelagapan laki-laki di depannya, bingung.
Cempaka menghela napas, hampir menarik tangannya jika saja Caesar tak segera menahan.
"Bukankah kau sedang melamarku? Biasanya seorang laki-laki yang ingin melamar perempuan akan membawa bunga juga cincin. Apa kau juga menyiapkan itu?" tanya Cempaka menggoda.
Bersemu wajah Caesar, berpaling dengan cepat untuk menyembunyikannya.
"Kau lupa membawanya, ya? Ya sudah tidak apa. Sekarang apa masih ada yang ingin kau katakan?" ucap Cempaka sembari menahan senyum melihat tingkah Caesar yang serba salah.
Ia menggigit bibir sebelum kembali berpaling menatap wanita di hadapannya. Mendekatkan tangan Cempaka pada bibir, mengecupnya dengan mesra. Senyum terukir lembut di sana, menyiratkan kebahagiaan hatinya.
"Aku akan menyiapkan pesta pernikahan kita dengan megah. Aku ingin mengenalkanmu pada seluruh dunia agar semua orang tahu bahwa saat ini kaulah satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupku." Caesar kembali mengecup tangan Cempaka, membentuk rona merah di pipinya.
"Champa, aku ingin memelukmu. Bisakah aku mendapatkannya?" pinta Caesar dengan kesungguhan hatinya.
"Kau sudah melakukannya tadi. Aku rasa itu saja sudah cukup untuk mengobati rindumu. Apa lagi? Kau bisa mendapatkan semuanya setelah kita resmi kembali. Untuk sekarang kau harus berpuasa menahan keinginan," tolak Cempaka tetap dengan senyum terukir di bibir.
Wajah Caesar berubah muram, sedih memayungi hatinya. Jika tak ada meja yang menghalangi, dia sudah menarik tubuh Cempaka untuk merebah di dada. Mendekapnya dengan erat dan tak akan pernah melepasnya lagi.
"Jadi, kau setuju kembali lagi padaku?" Mata Caesar berbinar terang, kebahagiaan yang sempat hilang kembali lagi muncul.
"Yah, tergantung apa kau benar-benar bersungguh-sungguh ingin mengajakku kembali? Atau hanya sekedar pelampiasan saja." Cempaka kembali menguji kesungguhan Caesar meski hatinya sudah tidak merasakan ragu lagi.
Cempaka menarik tangannya, terasa lembab dan sedikit pegal.
"Itu karena aku kesal padamu. Aku marah karena selama aku mengandung mereka kau tidak pernah datang menjenguk. Untuk itulah aku menyembunyikan mereka darimu. Bahkan, Arjuna saja tidak tahu jika bayi yang aku berikan bukanlah bayiku." Cempaka menghela napas mengingat perjuangannya di malam itu.
"Maaf," lirih Caesar seraya menunduk. Rasa bersalah perlahan hadir mengisi hatinya. Terbersit rasa sesal dan ingin mengulang waktu yang terbuang.
"Tidak masalah, tapi aku mendapatkan penggantimu. Seseorang menemaniku selama kehamilan, menjadi temanku, menjadi tempatku mengadu. Jika dia tidak ada waktu itu, aku benar-benar akan pergi tanpa kau tahu." Cempaka berpaling padanya tepat secara bersamaan Caesar menoleh.
"Siapa?" Dalam hati dia berpikir itu pastilah Arjuna. Caesar berencana menginterogasi pemuda itu apa saja yang sudah dia lakukan bersama Cempaka.
"Ayah."
Namun, jawaban singkat Cempaka, membuat lidahnya kelu seketika. Sungguh di luar dugaan jika yang dimaksud wanita itu adalah ayahnya sendiri.
"Yah. Ayah. Ayah datang mengatakan semuanya bahwa dia sudah mengetahui rahasia yang kita simpan. Ayah mengakuiku sebagai menantunya, tak hanya Eva. Ayah begitu memperhatikan aku dan kehamilanku. Jika tidak ada ayah, aku tidak tahu akan seperti apa jadinya," ucap Cempaka jujur.
Caesar merasa kecil di hadapan laki-laki tua itu, ia berpaling dan menunduk dalam. Melupakan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah untuk anak yang dikandung Cempaka.
"Untuk Evan. Dia anak yang terlahir karena sebuah keterpaksaan. Aku bertemu seorang gadis yang hendak melakukan percobaan untuk diri. Dia mengaku seseorang dari keluarga Arya telah merenggut kesuciannya hingga dia mengandung, tapi laki-laki itu tidak ingin bertanggungjawab."
Cempaka menghela napas mengingat pertemuannya dengan ibu Evan pada waktu mereka sama-sama mengandung.
"Dan apa kau tahu siapa orangnya?" Cempaka bertanya di sela-sela penjelasannya.
__ADS_1
Caesar menggelengkan kepala, tak tahu siapa yang dimaksud Cempaka.
"Gyan. Dia yang sudah menghamili gadis itu dan tidak mau bertanggungjawab. Untuk itu aku berani memberikannya kepadamu karena dia pun termasuk salah satu anggota keluarga Arya yang harus dirawat dan diasuh dengan layak."
Sumpah demi apapun, Caesar terkejut bukan main. Tentunya ini sebuah kejutan yang tak pernah disangka-sangka. Tak mengira selain bersama Eva, dia juga melecehkan gadis lainnya. Keputusannya mengasuh Evan memang sudah benar. Caesar akan melindungi anak itu dari ayahnya sendiri.
"Lalu, Ani?" Caesar teringat pada Ani, wanita yang dikirim Cempaka untuk mengasuh Evan.
"Dia ibu dari gadis itu. Neneknya Evan, yang aku minta menjadi pengasuh cucunya sendiri."
Kejutan lain yang tak kalah hebat membuat jantung Caesar berdetak tidak normal.
"Untuk itu Ani sangat protektif. Dia bahkan tidak membiarkan siapapun untuk menyentuh Evan. Akhirnya aku tahu, itu semua dia lakukan hanya untuk melindungi Evan agar tidak disentuh sembarang orang. Yah, aku mengerti," ucap Caesar mengerti posisi Ani yang pada waktu itu bahkan jauh lebih perhatian daripada ibu sambungnya sendiri.
"Begitulah!" Cempaka menghendikan bahu tak acuh, mewajarkan sikap Ani yang melindungi cucunya. Keduanya terus terlibat obrolan sampai suara tangis si Kembar kembali terdengar memekakkan telinga. Kini, tak hanya dua, tapi tiga.
Evan ikut menangis, dan segera ditenangkan pengasuhnya. Cempaka melirik arloji di tangan Caesar, melihat waktu yang sudah menunjukkan jam makan siang dan beristirahat untuk si Kembar.
"Pantas mereka menangis, sudah waktunya untuk mereka makan siang dan tidur. Bisakah aku pergi? Atau kau ingin ikut bersamaku? Bukankah kau ingin mengenal anakmu?" cecar Cempaka seraya beranjak dari kursi dan bersiap pergi.
"Tentu saja aku akan ikut. Jika diizinkan kau juga ingin menemanimu menidurkan mereka." Caesar mengedipkan mata nakal.
Cempaka mendengus, memutar bola mata malas berpaling darinya. Ia berjalan, terburu-buru Caesar mengejar tak ingin tertinggal. Eva membawa keduanya masuk ke dalam kamar, begitu pula dengan Evan yang digiring kelapa pelayan ke kamarnya sendiri.
"Kau akan ke mana?" sergah tuan Arya di saat Caesar hendak menyusul Cempaka ke kamarnya.
"Aku ingin ikut menidurkan mereka." Caesar menjawab polos, tapi tuan Arya menggeleng tegas.
"Tidak! Sebelum hubungan kalian diresmikan. Ikut Ayah!" Tuan Arya mengajak sang anak untuk duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat sebagai teman berbincang.
"Bagaimana? Apakah berhasil?" tanya tuan Arya berharap semuanya berjalan sesuai harapan.
"Yah, Ayah. Bisakah Ayah memberitahuku kenapa kedua anakku dekat dengan Ayah," pinta Caesar teringin tahu meski Cempaka sudah memberitahunya.
"Yah. Itu karena kami sering bertemu. Bahkan, Ayah menemani kedua anakmu sejak di dalam kandungan. Jadi, wajar saja bila mereka sangat dekat dengan Ayah," jawab tuan Arya sembari memalingkan wajah dari sang anak.
Caesar meringis, seharusnya yang ada di posisi tuan Arya pada waktu itu adalah dirinya. Namun, karena Eva selalu berhasil mencegahnya pergi, jadilah Caesar tak pernah datang berkunjung ke rumah di mana Cempaka tinggal.
Caesar tercenung, memikirkan semua yang telah terjadi didalam hidupnya. Mulai dari kematian sang ibu yang ia sendiri tidak tahu pasti sakit apa yang diderita sang ibu sampai nyawa terlepas dari tubuh.
"Bagaimana dengan Eva?" Tuan Arya kembali bertanya tentang Eva yang kelakuannya telah diketahui.
"Aku akan menceraikan Eva, aku bahkan sudah mengusirnya dari rumah bukan karena Cempaka. Aku sudah melakukan itu semalam, sebelum memutuskan untuk pergi mengunjungi Ayah di sini," jawab Caesar disambut helaan napas oleh laki-laki tua di sampingnya.
"Lalu, apa kau sudah mengetahui tentang Evan?" Tuan Arya bertanya lagi mengingat Caesar belum mengetahui perihal anak yang dirawatnya selama satu tahun ini.
"Sudah, Ayah. Aku mengetahuinya semalam, dan aku tidak keberatan mengasuhnya. Dia anak yang tidak berdosa dan tidak seharusnya menanggung beban kesalahan orang tuanya." Caesar menghela napas teringat pada nasib Evan yang terlahir tidak memiliki keberuntungan.
"Kau benar. Ayah mendukung apa yang menjadi rencanamu itu, tapi jangan biarkan mereka mengambil Evan dengan alasan apapun. Kau harus mempertahankan anak itu sampai dia dewasa." Tuan Arya mendukung penuh apa yang akan dilakukan Caesar terhadap Evan.
Dia mengetahui semuanya, perbuatan Gyan dan Eva, juga Lisa yang ikut bekerjasama dengan mereka.
__ADS_1