
Mobil memasuki rumah besar Caesar di mana Cempaka pernah mendapat curahan perhatian dari sang empu. Tanpa segan, laki-laki itu menautkan jeraminya pada jemari sang istri, menunjukkan pada semua orang bahwa nyonya mereka sudah berganti.
"Tunggu!" Tangan Cempaka yang lain menyentuh tautan tangan mereka, menghentikan sejenak langkah untuk mengatur napas yang tiba-tiba tak beraturan.
"Ada apa?" tanya Caesar sambil tersenyum.
"Kau yakin, tidak akan membiarkannya memarahiku? Ah, sebenarnya tak apa. Aku hanya merasa tidak enak saja terhadapnya," bisik Cempaka dengan ekspresi wajah yang menggemaskan di mata Caesar.
Lelaki itu tertawa, sungguh tingkah sang istri membuatnya semakin tak sabar untuk mengabarkan pada dunia bahwa hanya dia yang saat ini dan untuk selamanya dia cintai.
"Kau tenang saja, tidak akan terjadi apapun terhadap kalian. Aku janji," jawab Caesar berjanji dengan sepenuh hati.
Cempaka terlihat ragu, menatap dalam-dalam manik hitam suaminya itu.
"Janji!" tegas Caesar sekali lagi.
Cempaka menghela napas, mengangguk kecil sebelum melanjutkan langkah menapaki teras rumah. Semakin dekat dengan pintu utama, semakin berdebar jantungnya. Ia melirik ke belakang, di mana si kembar dan bayi Evan berada di gendongan pengasuh mereka.
Derit pintu yang terbuka membuat Cempaka reflek menoleh. Ia meneguk saliva susah payah, mencoba percaya pada suaminya. Diliriknya wajah Caesar yang tampak tersenyum bahagia.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya! Kami senang Anda kembali ke rumah ini." Suara Yudi yang tiba-tiba terdengar sekali lagi mengejutkan Cempaka.
Rasanya jantung hampir melompat keluar karena syok melihat deretan pekerja yang dikepalai Yudi membungkuk menyambut kedatangan mereka.
"Terima kasih. Mulai sekarang, Nyonya Cempaka yang akan memegang kuasa di rumah ini. Dengarkan dia, patuhi semua aturannya. Buat dia nyaman di rumah ini agar tidak pergi lagi dari sisiku!" tegas Caesar tanpa segan mengumumkan kondisi hatinya yang berbunga.
Melirik Cempaka dengan ekor mata, sedangkan wanita di sampingnya menganga kebingungan. Ke mana Eva? Kenapa harus dia yang menggantikan posisi wanita itu? Seperti itu kira-kira pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
"Baik, Tuan!" Serempak mereka menjawab, membangkitkan bulu roma di tubuh Cempaka.
"Yudi, kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan, bukan?" tanya Caesar kepada kepala pelayan itu.
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah sesuai dengan keinginan Anda," jawab Yudi sambil menundukkan kepala sopan.
"Bagus. Terima kasih. Kau memang tidak pernah membuatku kecewa," puji Caesar seraya beranjak menuju kamar mereka.
__ADS_1
Bukan kamar yang dulu di tempati olehnya dan Eva, melainkan kamar bekas Cempaka yang diperluas lagi. Sementara bekas kamar utama, dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat ditempati ketiga bayi itu berikut pengasuh mereka.
Caesar melihat kecemasan di wajah sang istri, mungkin dia masih mengira Eva ada di rumah itu.
"Kau sudah menyiapkan kamar untuk anak-anak kita?" tanya Cempaka lirih. Bahkan, dia tidak berani mengangkat suaranya lebih tinggi dari pada bisikan.
"Sudah. Kamar mereka ada di sebelah sana, dan kamar kita kamar tempatmu dulu. Aku tahu kau tidak ingin menempati kamar utama di rumah ini," jawab Caesar menunjuk ke arah kamar yang berlawanan.
Seingat Cempaka, tidak ada kamar di sebelah kamar utama. Lalu, di mana kamar anak-anak?
"Aku ingin melihat kamar anak-anak dulu. Apa boleh?" pinta Cempaka penasaran.
"Baiklah. Padahal, aku ingin langsung berduaan denganmu," ucap Caesar lirih di akhir kalimat.
Cempaka semakin merasa tak enak hati kepada Eva jika sampai wanita itu memergoki kedatangannya. Caesar membawa sang istri ke kamar utama. Benar, tidak ada kamar lagi selain kamar utama itu.
"Di mana?" bisik Cempaka ketika mereka berdiri di depan kamar itu.
"Di sini."
Jantung Cempaka semakin berpacu cepat, menatap tak percaya pada suaminya. Caesar membuka pintu, cengkeraman pada lengannya terasa menguat. Ia tahu dan dapat merasakan kecemasan Cempaka.
Namun, ketika pintu terbuka, Cempaka berubah takjub melihat keadaan di dalamnya. Ada tiga ranjang berpasangan, ada tiga lemari, dan meja yang berisi persediaan ketiga bayi itu. Kamar tersebut menjadi semakin luas hampir menghabiskan setengah dari lantai dua rumah.
"Di sini kamar mereka," ucap Caesar seraya membawa Cempaka masuk ke dalam.
Di bagian bayi Zia, didesign layaknya kamar seorang bayi perempuan. Cempaka menyukai itu, ketiganya tidak perlu tidur di kamar terpisah.
"Lalu, kamar Eva di mana?" tanya Cempaka masih sempat terpikirkan tentang Eva.
Caesar menghadap ke arah sang istri, memegang kedua bahu wanita itu. Menatap lekat ke dalam maniknya.
"Tidak ada Eva di rumah ini. Dia sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali. Hanya ada kau, aku, dan ketiga anak kita di sini. Tidak ada lagi orang lain," ungkap Caesar bersungguh-sungguh.
Pandangan Cempaka masih menyiratkan keraguan, yang dia tahu Caesar begitu mencintai Eva dan meratukannya. Rasanya tak mungkin wanita itu pergi dari rumah yang dia kuasai.
__ADS_1
"Hei. Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau tidak percaya padaku?" ucap Caesar sedikit mengguncang bahu Cempaka.
Alih-alih menjawab, wanita itu hanya membuka bibirnya sambil menggelengkan kepala. Hal tersebut membuat Caesar merasa gemas, ditariknya tubuh Cempaka ke dalam dekapan. Dihujaninya dengan ciuman.
"Sudahlah, kau bisa percaya setelah tinggal di sini beberapa saat. Sekarang, aku ingin mengajakmu ke kamar kita. Ayo!" Tanpa menunggu jawaban, Caesar memutar tubuh Cempaka keluar. Merangkul bahunya dan membawa sang istri menuju kamar mereka.
"Ini kamar kita." Caesar membuka pintu lebar-lebar.
Cempaka kembali dibuat takjub dengan keadaan kamar tersebut. Ruangan yang dulu tidak begitu luas, sekarang menjadi sangat luas. Ada sofa, ada meja rias dengan cermin besar, juga lemari besar di dalamnya. Jangan lupakan televisi besar yang menempel di dinding.
"Apa benar ini kamarku yang dulu?" tanya Cempaka dengan takjub.
"Tentu saja, sayang. Aku meminta Yudi merenovasi kamar ini agar menjadi kamar utama. Bagaimana, kau suka?" Caesar mendekap tubuh sang istri dari belakang. Menjatuhkan dagu di bahunya, sambil menikmati aroma khas dari tubuh itu.
Aroma yang memabukkan dan membuatnya candu, ingin selalu menghirup dan menyesap permukaan kulitnya.
"Mmm ... ya, aku suka." Cempaka terharu, mengusap lengan suaminya yang melingkar di perut.
"Kita bisa tenang membuat adik untuk mereka," bisik Caesar menyentak tubuh Cempaka.
"A-adik?" Gelagapan ia bertanya, ketiganya masih terlalu bayi untuk memiliki adik. Bahkan, bayi Zio dan Zia masih menyusu kepadanya.
"Iya. Aku menginginkan anak lagi, adik untuk mereka." Caesar menegaskan dan meyakinkan Cempaka akan ucapannya.
"Tapi mereka masih terlalu kecil," protes wanita itu.
"Tidak mengapa."
Cempaka menggeram, apa menurut laki-laki itu mengandung dan melahirkan semudah membalik telapak tangan? Seenaknya saja ingin menambah anak.
"Tidak! Aku akan ikut program Keluarga Berencana. Mereka baru satu tahun, masih terlalu kecil untuk memiliki adik. Setidaknya, tunggu sampai usia mereka lima tahun. Aku tidak akan keberatan," ujar Cempaka sembari berbalik dan menatap mata suaminya.
Melihat kesungguhan di wajah itu, Caesar mengalah. Menghela napas, dan mendekap tubuh itu lagi.
"Baiklah. Aku mengerti," katanya pasrah. Cempaka tersenyum, bersyukur karena laki-laki itu dapat mengerti.
__ADS_1