
Cempaka beranjak bangun dari tidurnya, rasa perih di perut ikut membangunkan, menariknya dari alam mimpi. Ia menatap jam di dinding, tak terasa hari telah berganti. Malam datang menyelimuti bumi, memberi ruang pada setiap insan untuk menjeda dari aktivitas.
"Aku lapar," gumam Cempaka sambil mengusap-usap perutnya.
Tok-tok-tok!
"Nona, ini sudah waktunya makan malam." Suara Lucy membentuk senyuman di bibir Cempaka.
"Aku menyusul!" sahutnya seraya berdiri dan masuk ke kamar mandi mencuci muka sebelum keluar.
Dahi Cempaka mengernyit melihat seseorang duduk di meja makan. Ia berjalan memutar untuk memastikan bahwa tak salah melihat.
"Tuan, mengapa Anda ada di sini?" tanya Cempaka heran.
"Duduklah, Nak. Ayah akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan," jawab tuan Arya tanpa segan.
Ingatan Cempaka berputar kembali pada waktu sore tadi, di mana tuan Arya membuka satu rahasia besar miliknya.
"Jadi, yang tadi itu bukanlah mimpi?" lirih Cempaka pada diri sendiri.
"Tentu saja bukan. Duduklah, kita makan bersama-sama," timpal tuan Arya mempersilahkan Cempaka untuk duduk di kursinya.
"Ah. I-iya." Cempaka menarik kursi dan mendudukinya.
Rasanya canggung, tapi sepertinya dia harus terbiasa dengan kehadiran laki-laki tua itu. Tidak dilayani, Cempaka mengambil sendiri makanannya.
"Kau ingin pindah ke rumah yang lebih baik? Ayah akan menyiapkannya," tanya tuan Arya.
"Mmm ... tidak, aku di sini saja," jawab Cempaka sambil menundukkan kepala.
Tuan Arya manggut-manggut mengerti, ia pun tak akan memaksa Cempaka untuk menuruti keinginannya. Pada awalnya mereka makan baik-baik saja, sampai pada pertengahan makan Cempaka membanting sendok ke atas meja. Membuat dua orang lainnya terkejut seketika.
__ADS_1
Cempaka menolehkan kepala pada laki-laki tua itu, menatapnya dengan tajam dan penuh kecurigaan.
"Ada apa, Nak?" tanya tuan Arya bingung.
"Katakan padaku, untuk apa kau menetap di sini?! Apa mereka yang menyuruhmu untuk memata-matai aku?" sentak Cempaka tak tahan lagi dengan segala aturan dan pengawasan yang dilakukan Caesar.
Kening tuan Arya mengernyit tak mengerti. Ia menatap Lucy yang juga terkejut sepertinya. Lalu, kembali beralih pada Cempaka yang terus menatapnya curiga. Tuan Arya tersenyum, meletakkan sendok dengan pelan di atas piring.
"Kau salah faham, Nak. Aku bukan suruhan siapa-siapa, apalagi mereka. Aku datang ke sini murni karena keinginanku sendiri. Selama berhari-hari tinggal di rumah Caesar, selama itu juga aku menyelidiki siapa dirimu. Hingga akhirnya aku tahu rahasia apa yang disembunyikan rumah itu." Tuan Arya sangat tenang, dia tidak terlihat panik apalagi gelisah.
"Lalu, hari di mana kau pergi. Aku mencarimu, tapi yang mereka katakan kau dibawa Arjuna karena dia suamimu. Mereka pikir aku percaya begitu saja? Nyatanya, aku tak pernah mempercayai mereka. Jadi, kuputuskan mencari tahu tempat tinggalmu hingga sekarang aku berada di sini." Tuan Arya terlihat bersungguh-sungguh.
Dari raut wajah, sorot mata, dan bahasa tubuh, tak ada kebohongan yang dia sembunyikan. Bahkan, dia terlihat sangat tenang.
Cempaka menelisik, perlahan menurunkan emosi. Entah mengapa dia begitu takut Caesar memantau kehidupannya.
"Maaf." Cempaka berucap lirih, kepalanya menunduk dalam.
Tuan Arya mengerti kenapa dia sampai bersikap demikian.
Cempaka mengangkat wajah, menatap sang ayah mertua dengan mata berkaca-kaca. Dia memang ingin pergi, jika bisa saat itu juga pergi meninggalkan semua kehidupannya di kota terkutuk itu.
"Kenapa Anda begitu baik kepadaku?" tanya Cempaka melankolis.
Tuan Arya tersenyum, mengangkat tangan dan menggenggam jemari Cempaka.
"Karena kau begitu mirip dengan mendiang istriku. Sikapmu, perilakumu, semua yang ada padamu mengingatkanku padanya. Aku sudah kehilangan dia, tak ingin lagi kehilanganmu," ungkap tuan Arya bersungguh-sungguh.
Matanya berkaca memancarkan kesedihan yang mendalam. Ada kerinduan yang terpendam, juga cinta yang luar biasa.
Cempaka tak tahu harus menjawab apa, dia tersenyum sambil menitikan air mata. Seperti itu rasanya diakui. Selama ini Baron tak pernah menghargainya sebagai anak. Sejak kecil, Cempaka sudah mendapat perlakuan kasar dari laki-laki itu.
__ADS_1
"Kumohon, panggil aku ayah!" pinta tuan Arya mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Cempaka.
Wanita itu menganggukkan kepala, "Ayah!"
Jatuh air mata tuan Caesar, ia beranjak menghampiri cempaka dan memeluknya.
"Anakku."
Cempaka larut dalam dekapan hangat laki-laki yang memiliki jiwa seorang ayah yang sempurna itu. Darinya, ia tahu seperti apa rasanya pelukan seorang ayah. Darinya dia tahu seperti apa rasanya diperhatikan oleh laki-laki yang seharusnya menjadi cinta pertama untuk seorang anak perempuan.
Semua itu tak pernah ia dapatkan dari Baron, seorang penjudi dan suka bermain wanita. Menghabiskan uang di club-club malam, juga tempat 'jajan'.
"Sudah. Ke depannya hiduplah dengan baik. Jangan mudah dimanfaatkan orang lain." Tuan Arya menasihati menantunya itu.
Cempaka menganggukkan kepala. Lucy tersenyum haru melihat pemandangan di depan matanya. Berharap Cempaka akan tetap tersenyum sampai kapanpun.
****
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa menemui Cempaka?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah istri Baron.
Laki-laki pemalas itu berdecak, ia tidak ingin terlalu sering keluar karena itu sama saja dia menyerahkan diri kepada pihak berwajib.
"Banyak penjaga di sekitar rumahnya. Mereka selalu siaga dan tidak pernah melupakan tugas mereka menjaga tuannya. Katakan padaku jika kau memiliki ide," jawab Baron sengit.
Ia yang sudah terbiasa malas dan tak pernah mencari uang, begitu kesal bila sang istri membahas soal ekonomi, apalagi yang sampai menyudutkan dirinya.
"Sebenarnya bukan itu yang kau hindari, tapi para polisi yang berjaga di jalanan. Memangnya apa yang sudah kau lakukan sehingga para polisi itu akan selalu dapat menemukan dirimu!" cecar istri Baron dengan pandangan melotot lebar.
"Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka terus mengejarku. Sudahlah, kau jangan terlalu banyak bertanya. Sudah seperti aparat saja. Aku akan mencoba lagi mendatangi Cempaka, lagipula semua uangku aku berikan kepadamu." Baron bangun dari kursi, membanting pintu kamar kesal.
Istri Baron berdecak, menyesal dia menikah dengan laki-laki pengangguran juga pemalas itu. Bisanya hanya menyusahkan, tak sekalipun membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Kau memang laki-laki yang sangat menyusahkan, Baron. Aku menyesal tergoda rayuanmu dulu. Jika tahu begini, tak akan aku mau menerima lamaranmu apalagi sampai menikah denganmu." Dia menarik napas kasar, teringat pada nasihat kedua orang tuanya dulu sebelum dia memaksa mereka untuk menikahkannya dengan Baron.
"Ah, aku memang bodoh. Orang tuaku dulu sudah melarangku, tapi aku yang memaksa mereka untuk menerima laki-laki itu. Ini semua memang salahku." Dia merutuki diri sendiri.