
Dengan langkah lebar dan panjang, Eva memasuki rumah besar itu. Berjalan dengan rahang yang mengeras juga mata yang memerah.
"Nyonya!" sapa Yudi saat berpapasan dengannya.
"Di mana ayah?" tanya Eva langsung tanpa memandang ke arah kepala pelayan itu.
"Tuan sedang beristirahat di kamarnya, Nyonya." Yudi membungkuk sopan.
"Wanita itu?"
"Nona ... sepertinya juga di kamarnya," jawab Yudi sedikit curiga pada Eva.
Wanita angkuh itu melanjutkan langkah menapaki anak tangga menuju lantai dua. Tak ada yang dapat mencegah, semuanya mengkhawatirkan diri masing-masing.
Brak!
Eva membuka pintu kamar Cempaka dengan kasar, melilau matanya dengan tajam. Tak ditemukan wanita itu di sana. Didatanginya kamar mandi, suara gemericik air samar terdengar dari dalam sana.
Eva kembali dan duduk di sofa menunggu. Kedua kakinya yang semampai ditumpuk, menoleh berulang kali pada pintu tersebut.
"Dia mandi atau bermain air? Seperti kanak-kanak," keluh Eva kesal sendiri. Ia memainkan gadget mengusir bosan, berkirim pesan dengan seseorang.
Beberapa saat menunggu, pintu kamar mandi tersebut pun terbuka. Cempaka keluar mengenakan bath robes sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia pikir tak ada siapapun di dalam kamarnya.
"Apa kau sedang berusaha menarik perhatian suami dan ayah mertuaku?" Pertanyaan sengit itu membuat jantung Cempaka melompat-lompat tak karuan.
"Nyo-nyonya? A-anda ...?"
Bibir Cempaka bergetar, tangannya meremas handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Sesekali akan digigitnya bibir agar berhenti berkedut.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau berpikir akan mampu menarik perhatian mereka?" Eva berdiri dari duduknya, menatap Cempaka dengan kedua tangan terlipat di perut.
Cempaka terkejut, kedua matanya membelalak lebar, kemudian menundukkan pandangan lagi.
"Ti-tidak, Nyonya. Sama sekali tidak," jawabnya terbata.
__ADS_1
"Benarkah?" Eva mengikis jarak di antara mereka, berdiri tepat di hadapan Cempaka semakin mengintimidasi wanita yang sudah ketakutan itu.
"Lalu, untuk apa kau memasak makanan kesukaan mereka jika bukan untuk menarik perhatian? Katakan, apa kau bermimpi berada di posisiku? Menjadi nyonya di rumah ini?" Eva semakin menyudutkan Cempaka.
Ia termundur hingga menabrak lemari. Dengan kepala tertunduk Cempaka menggeleng, menolak sangkaan Eva.
"Ingat! Kau hanya seorang perempuan yang aku beli. Aku membeli rahimmu untuk melahirkan seorang anak, bukan untuk menjadi istri suamiku apalagi menarik perhatiannya. Kau tak jauh beda dengan pelayan di rumah ini. Apa kau mengerti!" bentak Eva tepat di hadapan Cempaka.
Wanita itu memejamkan mata, mengkerut ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar, kepala berdenyut nyeri.
"Sa-saya mengerti, Nyonya," jawab Cempaka sembari menahan nyeri yang mendera kepalanya.
"Jangan pernah berharap kau akan ada di posisiku. Kau tidak pantas! Jika Minggu ini kau tidak dapat mengandung seorang anak, maka aku akan memutuskan kontrak denganmu!" Eva mendorong tubuh Cempaka hingga terjerembab di lantai.
"Argh!"
Ia tak peduli, melengos pergi meninggalkan Cempaka yang tengah menahan nyeri.
"Kepalaku!" Pandangannya berkunang-kunang, dunia seakan-akan berputar tiada henti. Rasa mual datang menyerang, perlahan dunia menjadi gelap.
Cempaka tak sadarkan diri.
"Nona! Anda baik-baik saja?" Yudi bertanya cemas.
Oleh karena tidak ada sahutan, ia memberanikan diri membuka pintu kamar tersebut. Yudi membelalak melihat tubuh Cempaka tergolek di lantai tak sadarkan diri.
"Astaga! Nona, apa yang terjadi!" Ia memekik seraya mengangkat tubuh Cempaka yang lunglai dan memindahkannya ke atas ranjang.
Yudi mengeluarkan ponselnya menghubungi Caesar. Ia memberitahu kondisi wanita itu padanya.
"Ada apa?" tanya Caesar begitu sambungan terangkat.
"Tuan, Nona pingsan di kamarnya. Saya tidak tahu kenapa, tapi ketika saya memeriksa Nona sudah terbaring di lantai." Yudi berucap dengan nada cemas yang tak dapat ia tutupi.
Namun, bukan jawaban, sambungan yang tertutuplah yang ia terima. Caesar mematikan telpon secara sepihak membuat Yudi bingung harus melakukan apa. Apakah segera membawanya ke rumah sakit, tapi ia hanya mengenakan jubah mandi saja? Apa Caesar rela orang lain melihat tubuh wanitanya? Hal tersebutlah yang membuat Yudi gamang.
__ADS_1
Dia memutuskan menuruni anak tangga menuju lantai satu, bermaksud memanggil Lucy yang akhir-akhir ini dekat dengan Cempaka. Meminta bantuan wanita itu untuk menggantikan pakaiannya.
"Lucy!" panggil Yudi yang tak melihat sosok yang dicarinya.
"Saya, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" Lucy berlari menghampiri, ia baru saja membantu tukang kebun merapikan tanaman di halaman belakang.
"Kau ... bersihkan tanganmu dan ikut denganku!" titah Yudi yang lekas dilaksanakan oleh wanita itu.
Ia bergegas menuju wastafel mencuci tangan hingga benar-benar bersih dan steril. Setelahnya, mengekor di belakang Yudi menuju lantai dua, kamar Cempaka.
"Astaga! Nona! Ada apa dengan Nona, Pak?" pekiknya sambil menutupi mulut. Kedua matanya membelalak lebar, alangkah terkejutnya ia.
"Jangan banyak bicara! Aku meminta kau ikut untuk menggantikan pakaian Nona dan setelah itu kita akan membawa Nona ke rumah sakit. Cepatlah!" Yudi kembali memerintah, ia bergegas keluar meninggalkan Lucy yang akan menggantikan pakaian Cempaka.
Wanita itu bimbang, semua pelayan tahu Caesar tidak menyukai miliknya disentuh orang lain. Lucy menggigit bibir, bingung sendiri. Akan tetapi, jika ia tidak segera kemungkinan akan terjadi hal buruk terhadap majikannya itu.
"Ayo, Lucy. Tidak apa-apa, ini semua demi Nona." Lucy menghela napas panjang, berbalik menuju lemari. Mengambil pakaian dari dalam dan membawanya mendekati Cempaka.
Lucy berdiri memperhatikan wajah wanita yang terbaring di atas ranjang itu. Ia merasa iba, wajah Cempaka tampak pucat pasih seperti tak dialiri darah.
"Maafkan saya, Nona. Saya akan menggantikan pakaian Anda," lirih Lucy seraya membungkuk hendak membuka jubah mandi milik sang majikan.
Namun, belum sempat tangannya mencapai kain yang menutupi tubuh Cempaka, pintu terbuka dengan begitu kasar.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" sentak Caesar berapi-api.
Lucy mundur dengan cepat, napasnya tiba-tiba tercekat mendengar suara tinggi Caesar. Kedua matanya memerah takut, bibirnya berkedut-kedut gemetar.
"Menyingkir!" Caesar menarik tangan Lucy dan menghempaskannya dengan kasar. Beruntung, Yudi sigap menangkap tubuh itu, dan membawanya keluar kamar.
"Pak, mengapa Anda tidak mengatakan jika Tuan kembali?" bisik Lucy dengan suaranya yang bergetar.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba Tuan sudah ada di lantai ini dan masuk begitu saja ke dalam," balas Yudi yang juga berbisik.
Keduanya berdiri menunggu Caesar memakaikan pakaian Cempaka. Berselang, pintu terbuka bersamaan dengan Caesar yang keluar menggendong tubuh Cempaka yang masih terkulai.
__ADS_1
Yudi dan Lucy mengekor di belakang laki-laki itu. Di halaman, Arjuna sudah membukakan pintu untuk mereka. Caesar bergegas masuk, dengan isyarat yang hanya dimengerti Yudi, ia meminta Lucy ikut masuk ke dalam mobil.
Yudi mendorong punggung wanita itu agar segera masuk ke dalam mobil. Mereka melaju menuju rumah sakit.