(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 88


__ADS_3

Hening. Beberapa saat lamanya, ayah dan anak itu terpaku dalam diam. Saling menyelami rasa pada masing-masing hati. Terutama Caesar yang semakin nyata merasakan penyesalan yang kian menusuk-nusuk jiwanya.


Tuan Arya menghela napas, melirik sang anak yang masih tertunduk menyiapkan hati untuk menceritakan semuanya. Sabar. Itulah yang harus dia lakukan sampai Caesar berani mengungkap apa yang disembunyikan hatinya.


"Aku mau meminta maaf kepada Ayah," lirih Caesar mengawali kisahnya.


Tuan Arya manggut-manggut, masih menatap sang anak yang setia dalam tunduknya. Mencoba menahan diri untuk diam dan mendengarkan dengan baik.


"Ada hal yang selama ini aku sembunyikan dari Ayah dan mungkin ini akan membuat Ayah kecewa," ungkap Caesar semakin dalam menundukkan kepalanya.


"Katakanlah, akan Ayah dengarkan. Ayah akan lebih kecewa jika kau justru tidak mengatakannya," ucap tuan Arya mengusap-usap punggung anaknya.


Mendengar itu, Caesar mengangkat kepala menatap sang ayah. Senyum lembut dan hangat yang tersemat di bibir keriputnya cukup memberikan ketenangan pada hati Caesar yang gundah.


"Perlu Ayah tahu, Evan bukanlah anakku dengan Eva." Caesar mematri tatapan pada riak wajah sang ayah.


Ada reaksi terkejut yang tak dibuat-buat. Caesar tahu, pancaran mata itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


"Ya, Ayah. Evan bukan terlahir dari rahim Eva, tapi dari wanita lain," lanjut Caesar seraya memalingkan wajah menghindari tatapan sang ayah.


Bagaimana tidak terkejut, tuan Arya kira Evan benar anak Eva karena kedua anak Cempaka ada di dekatnya. Lalu, jika bukan Eva adakah wanita lain yang dinikahi Caesar? Begitu isi pikiran tuan Arya.


"Maksudmu ... bagaimana?" tanya tuan Arya kebingungan.


Caesar menggelengkan kepala, menggigit bibir menahan rasa yang bergejolak dan memanas.


"Ya, Ayah. Aku menikahi wanita lain selain Eva atas saran darinya hanya untuk mendapatkan anak. Seperti kebanyakan pernikahan kontrak, setelah dia melahirkan kami berpisah," ucap Caesar melirih di bagian akhir.

__ADS_1


Ada getar kesedihan juga penyesalan pada kata-kata yang diucapkannya. Tuan Arya menangkap semua itu.


"Sebenarnya aku tidak ingin berpisah dengannya, Ayah. Aku mencintainya, apalagi dia sudah melahirkan anakku. Rasanya aku tidak rela berpisah dengannya, tapi dia memilih pergi dan meninggalkan aku karena salahku sendiri." Caesar mulai terisak, air yang jatuh segera disapunya.


Benar, Caesar mencintai Cempaka dan mungkin rasa yang dia miliki untuknya melebihi rasa yang ia berikan untuk Eva.


"Kenapa kau tidak membicarakan ini kepada Ayah? Apa kalian sengaja menyembunyikan rahasia ini dari Ayah?" tanya tuan Arya sedikit sedih.


"Aku hanya takut Ayah tidak bisa menerimanya," lirih Caesar seperti seorang pengecut.


"Bodoh! Jika wanita yang kau maksud itu adalah Cempaka, maka Ayah akan menerimanya." Kelepasan, tuan Arya tanpa sadar menyebut nama Cempaka.


Hal itu tentu saja membuat Caesar terkejut. Dengan gerakan cepat kepala Caesar menoleh, raut kaget begitu jelas terlihat.


"Ayah ... tahu?" Terbata Caesar bertanya.


"Yah, Ayah tahu. Ayah tahu semuanya. Bahkan, Ayah yang menemani Cempaka di rumah kecil itu selama kehamilannya. Dia merawat Ayah dengan baik, sangat baik sehingga Ayah bisa sesehat ini. Ini semua berkat Cempaka, menantu Ayah itu."


Caesar menganga mendengar penuturan ayahnya, sungguh tak menduga semua yang akan dia ceritakan telah diketahui. Tuan Arya menghela napas lagi, dan menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya Ayah sedikit kecewa kepadamu karena kau terkesan seperti membuang Cempaka dari rumahmu. Ayah kira itu semua karena Eva benar-benar mengandung, untuk itu kau memindahkan Cempaka. Sayangnya, kau tidak pernah datang untuk menjenguk. Padahal, dia dan janin di dalam rahimnya begitu membutuhkan sosok ayah, sosok suami untuk menguatkannya." Tuan Arya menatap kecewa pada putranya.


Caesar berpaling, benar-benar menangis bila mengingat semuanya. Dia telah menelantarkan Cempaka selama kehamilannya karena untuk menghargai Eva sebagai istri sah.


"Ayah tidak tahu akan seperti apa hidupnya jika tidak ada wanita itu di sana yang membantu. Jika bukan karena Cempaka, Ayah tidak akan bisa sehat seperti sekarang ini. Ayah bersyukur mengetahui bahwa Cempaka adalah menantu Ayah. Bukan, tapi lebih dari itu. Dia anak Ayah sekarang. Jika cintamu hanya akan menyakitinya, Ayah minta jangan datang kepadanya karena sakitnya, sakit Ayah juga," ungkap tuan Arya.


Caesar tercenung, lambat-lambat menatap manik sang ayah yang menusuk ke dalam matanya. Dia serius, tidak ada kepalsuan dari setiap apa yang dikatakannya tadi. Tuan Arya menarik udara untuk mengurai sesak yang tiba-tiba hadir menghimpit dada. Berpaling dari tatapan sang anak, menatap hamparan bunga yang terawat.

__ADS_1


"Apa Ayah tahu di mana dia sekarang?" tanya Caesar. Berharap dia akan bertemu dan memohon ampun kepadanya.


Tuan Arya menggelengkan kepala, tak akan mungkin dia memberitahu keberadaan Cempaka kepada Caesar tanpa melihat perjuangannya terlebih dahulu.


"Di manapun dia berada, Ayah harap dia bisa hidup bahagia." Tuan Arya kembali mengisi paru-parunya dengan udara. Entah mengapa setiap kali mengingat kehidupan Cempaka, hatinya merasa pilu.


Ia berpaling, menatap wajah sang anak.


"Apa Evan anak Cempaka?" tanya tuan Arya berharap tak ada wanita lain selain mereka berdua di dalam kehidupan sang anak.


"Ya, Ayah. Dia anakku dan Cempaka. Setelah memberikan Evan, Cempaka memintaku menceraikannya. Aku terpaksa karena pada saat itu belum menyadari situasiku." Caesar menyesal karena terlambat mengetahui semuanya.


"Ya, semuanya sudah terjadi. Biarkan Cempaka bahagia dengan kehidupannya. Kau sudah memiliki anaknya, jangan lagi kau ambil hidupnya." Tuan Arya menggelengkan kepala, meminta dengan sangat kepada sang anak untuk tidak menyakiti Cempaka lagi.


"Aku ingin mencarinya, Ayah. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan memintanya kembali ke sisiku. Aku merasa memiliki istri saat dia melayaniku, tidak seperti Eva yang selalu mempedulikan dirinya sendiri. Cempaka ... aku merindukannya, Ayah. Aku menginginkan dia menjadi istriku," ungkap Caesar menyadari betul posisi Cempaka untuk hidupnya.


Tuan Arya menatap sang anak dengan dalam, ia mendengar kesungguhan dari setiap kata yang dilontarkan lisannya.


"Lalu, bagaimana dengan Eva? Dia tidak akan rela jika kau memilih kembali bersama Cempaka," tanya tuan Arya.


Caesar menggelengkan kepala, ada geram dan kesal setiap kali mengingat Eva.


"Entahlah. Aku baru sadar selama ini dia hanya memperbudakku, Ayah. Lagipula aku sudah mengetahui kebusukannya. Untuk itu aku meninggalkan rumah dan menetap di apartemen Arjuna. Aku enggan pulang ke rumah, muak melihatnya. Entahlah, Ayah. Dia juga tidak peduli kepada anakku, padahal dia yang memaksaku untuk menikahi Cempaka waktu itu," terang Caesar sembari menggelengkan kepala bingung.


Teringat pada nasibnya yang tak jauh berbeda dengan sang anak, tuan Arya menghela napas.


"Yah, kau jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Selidiki dulu lebih jauh sampai kau benar-benar memiliki bukti yang kuat untuk melawannya." Tuan Arya menepuk-nepuk pundak sang anak.

__ADS_1


Apa Cempaka melahirkan tiga orang bayi?


__ADS_2