(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 75


__ADS_3

Di kantor, Caesar merenung sembari menatap alamat sebuah cafe yang dikirimkan Lisa. Ragu. Itulah yang terdetik di hatinya.


"Mungkin dia tahu di mana ayah. Mereka mengatakan ayah tak ada di rumah saudaranya," gumam Caesar yang sudah lama mencurigai Lisa tentang menghilangnya sang ayah.


Caesar menghela napas, berpikir sejenak sebelum bangkit dari kursi kebesarannya. Ia pergi menuju ruangan Arjuna, mengajak asisten itu untuk pergi.


"Juna, ikut aku!" Caesar segera berbalik setelah memerintah demikian. Diikuti Arjuna yang sigap berdiri dan mengekor di belakang sang tuan.


"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya sang asisten setelah membukakan pintu untuk Caesar.


"Aku akan bertemu dengan ibu," jawab Caesar setelah duduk di kursinya.


Arjuna menjalankan mobil tersebut sesuai arahan dari Caesar. Sebuah cafe yang berada di pusat kota, tempat berkumpulnya para elit sosial. Mobil Caesar tiba di sana, Arjuna tetap mengikuti dari belakang.


"Sebaiknya Anda berhati-hati, Tuan," ingat Arjuna.


"Apa yang bisa dia lakukan, Juna? Kau tunggu di sini saja, berjaga dan waspada!" titah Caesar seraya masuk ke dalam sebuah ruangan dengan diantar seorang pelayan.


"Akhirnya kau datang juga!" Lisa menyambut berdiri, tapi Caesar segera mengambil tempat duduknya.


"Tidak perlu berbasa-basi, apa yang ingin Ibu bicarakan?" ucap Caesar langsung.


Keadaan pagi yang seharusnya hangat membuat hati Lisa memanas. Semenjak menikah dengan ayahnya, Caesar tidak pernah berbicara hangat kepadanya. Caesar tidak pernah menyukai pernikahan mereka.


"Mmm ... begini, sudah lama sekali ayahmu tidak pulang ke rumah. Apa kau tahu di mana dia sekarang? Ibu sangat mencemaskan keadaannya. Dia juga lupa membawa obatnya," tanya Lisa dengan raut wajah dibuat sedih seolah-olah mencemaskan keadaan tuan Arya.


Alis Caesar bertaut bingung, dia berniat menanyakan hal tersebut kepada Lisa. Nyatanya, wanita itu justru yang bertanya lebih dulu.


"Aku tidak tahu, baru saja aku akan menanyakan itu kepada Ibu. Orang-orangku tidak menemukan ayah di rumah saudaranya. Kukira Ibu tahu di mana ayah?" ucap Caesar mengejutkan Lisa.


Kini, hatinya benar-benar cemas. Bukan mencemaskan keadaan tuan Arya, tapi mencemaskan dirinya.

__ADS_1


Jangan-jangan dia sudah mengetahui semuanya.


Batin Lisa bergumam. Caesar yang melihat terenyuh, dia pikir ibu tirinya itu benar-benar mencemaskan keadaan ayahnya.


"Ibu tidak perlu cemas, ayah pasti baik-baik saja. Hanya saja, kita tidak tahu di mana ayah sekarang. Aku sudah meminta orang-orangku untuk terus mencari keberadaan ayah. Cepat atau lambat ayah pasti kembali kepada kita," ungkap Caesar mencoba menenangkan Lisa yang terlihat gelisah.


Lisa menghela napas, tak peduli tentang keadaan tuan Arya. Lisa menatap Caesar, lelaki itu sudah termakan kebohongannya.


"Bagaimana tidak cemas, ayahmu meninggalkan obatnya. Sedangkan dia tak pernah berhenti meminum obat itu. Kau tahu sendiri, selama ini ayahmu bergantung pada obat. Lalu, jika sekarang dia tidak meminum obat, bagaimana keadaannya?" Lisa semakin terlihat gelisah, dia menghindari tatapan Caesar yang melekat pada kedua maniknya.


Ibu benar, selama ini ayah selalu meminum obatnya.


Caesar menghela napas, ikut mencemaskan sang ayah yang saat ini tak diketahui keberadaannya.


"Kau sudah bertanya pada sekretaris keluarga Arya? Mungkin dia tahu keberadaan ayahmu," ujar Lisa sembari menatap Caesar.


"Sudah, tapi dia tidak mengatakan apapun tentang ayah. Dia mengatakan jika pertemuannya waktu itu adalah yang terakhir." Caesar menghela napas, berpikir ke mana ayahnya pergi.


"Mmm ... Jika kau mendapat kabar tentangnya, tolong beritahu Ibu. Ibu tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, dan tidak enak makan semenjak ayahmu pergi," pinta Lisa dengan kesungguhan yang dibuat-buat.


Caesar tersenyum, sepertinya dia harus bisa membuka hati untuk wanita itu.


"Iya, Ibu. Jika sudah tidak ada yang dibahas, aku permisi ke kantor lagi," ucap Caesar berniat pergi lebih dulu.


"Eh, tunggu dulu! Ada hal lain yang ingin Ibu bicarakan. Ini tidak kalah penting dari ayahmu. Soal anakmu," sergah Lisa dengan cepat.


Caesar yang sudah berdiri dari kursi, kembali duduk setelah mendengar tentang anaknya.


"Ada apa dengan Evan?" tanya Caesar tak sabar.


"Bukan Evan, tapi Eva. Ibu perhatikan istrimu itu tidak begitu memperhatikan Evan dan dia juga terlalu membebaskan Ani dalam pengasuhannya. Ibu hanya khawatir itu akan menjadi bumerang untuk kalian saat Evan sudah dewasa nanti," ungkap Lisa mulai mengadu domba antara suami dan istri itu.

__ADS_1


Caesar mengernyit, mengingat-ingat kedekatan pengasuhnya dengan Evan. Dia tidak bisa memecat Ani karena wanita itu dipilih langsung oleh ibu kandung Evan, Cempaka.


"Mungkin kau tidak tahu karena seharian berada di kantor. Ibu tadi pagi ke rumahmu, dan bertemu dengan Ani yang hendak mengajak pergi Evan. Dia mengatakan atas izin Eva dia boleh membawa anak kalian." Lisa mematri tatapan pada wajah dingin Caesar. Dia mulai terpengaruh.


"Bukankah Eva di rumah? Aku yang memintanya untuk tidak pergi ke manapun," tanya Caesar bingung.


"Dia memang ada di rumah, tapi sibuk dengan dirinya sendiri. Entahlah, apa yang dipikirkan istrimu itu. Dulu, ingin sekali memiliki anak, setelah ada dia terkesan tidak memperdulikan anak kalian. Bagaimana jika Evan justru menganggap Ani sebagai ibunya, dan bukan Eva?" Lisa menakut-nakuti hati Caesar.


Apa yang diucapkan Lisa memang benar adanya. Caesar mulai merasa cemas. Hatinya diliputi rasa marah karena sikap Eva yang keterlaluan.


"Aku akan mencoba berbicara dengannya, Bu. Terima kasih karena sudah mengingatkan aku," ucap Caesar seraya berdiri dari kursi berniat untuk pulang ke rumah.


"Kau tidak makan atau minum dulu?" tanya Lisa ikut berdiri.


"Tidak, Bu. Aku harus segera pergi." Caesar meninggalkan ruangan tersebut, menemui Arjuna dan memintanya untuk segera kembali ke rumah.


Lisa tersenyum puas, setelah ini Eva tidak akan bisa bersenang-senang lagi. Caesar kembali ke mobil bersama Arjuna, sesuai perintah tuanya Arjuna membawa mobil ke rumah.


"Ada apa, Tuan? Apa ada masalah di rumah?" selidik Arjuna tak biasanya Caesar meminta kembali ke rumah di saat pagi hari.


"Aku hanya ingin memastikan ucapan ibuku," jawab Caesar tak sabar rasanya ingin menegur Eva.


Aku tahu dia bukan anaknya Eva, tapi bukankah ini maunya. Aku menikah dan memiliki anak. Sekarang, dia bahkan tidak peduli pada anakku.


Tangan Caesar terkepal erat, ada rasa kesal di hatinya setelah mendengar ucapan Lisa.


"Tuan, bukankah itu tuan muda? Kenapa ada di sini?" Arjuna memelankan mobilnya ketika melewati sebuah mal.


Di sana, di kejauhan terlihat Ani menggendong Evan bersama seorang laki-laki. Mereka terlihat bahagia, tertawa dan bercanda dengan anak itu.


"Kurang ajar! Menepi di sana, Arjuna!" titah Caesar telah habis sudah kesabarannya terhadap Eva.

__ADS_1


__ADS_2