
"Apa yang kau lakukan ... Eva?" Caesar berteriak saat melihat Eva terjatuh di lantai tak sadarkan diri. Wajahnya pucat pasih, tapi ia segera meredam kepanikan. Khawatir semua orang akan datang dan memanggil dokter pribadi keluarga.
"Astaga, Eva! Ada apa denganmu?" Ia menutup pintu dan menguncinya. Mengangkat tubuh Eva ke atas ranjang dan menidurkannya.
Caesar mengambil botol minyak kayu putih, dan menempelkannya di hidung sang istri. Berharap Eva akan segera bangun dan menjelaskan tentang keadaannya.
Beberapa saat tak ada respon, sampai wajah itu mengernyit tak lama melenguh pendek. Eva membuka mata pelan, kemudian menutupnya lagi karena terpaan sinar lampu yang menyilaukan.
"Eva?" Caesar memanggil dengan nada cemas.
"Haus." Terbata Eva mengatakan itu.
Caesar mengambil air yang tersedia di kamar wanita itu, membantu sang istri untuk duduk dan meminum air tersebut.
"Ada apa denganmu?" Caesar menggenggam tangan Cempaka, hangat dan terasa menenangkan.
Eva belum menyahut, matanya terpejam dan ia jatuhkan kepala ke atas dasbor.
"Aku tidak tahu, tapi kepalaku sedikit pusing. Sepertinya aku tak enak badan, Caesar." Eva berkata lirih tanpa mengangkat kepalanya yang terasa berat.
"Ya sudah, istirahat saja di rumah. Jangan lakukan apapun, istirahat yang cukup sampai keadaanmu membaik," ucap Caesar penuh perhatian.
Eva membuka mata, menatap Caesar yang begitu mencemaskan keadaannya. Ia menarik tubuh laki-laki itu agar ikut bersandar sepertinya. Eva menjatuhkan kepala di bahu laki-laki itu, tangannya membalas genggaman Caesar tersenyum senang karena dia masih peduli padanya.
"Maaf, kita gagal lagi hari ini ke rumah Cempaka. Aku ingin kau di sini, temani aku." Dengan manja dia meminta agar Caesar tidak meninggalkannya.
Harus bagaimana? Pada akhirnya Caesar mengangguk pasrah, menemani Eva beristirahat di kamarnya. Keadaan wanita itu tiba-tiba saja menjadi lemah, lesu dan tak bertenaga. Dia bahkan terpejam hampir seharian.
Diam-diam Caesar membuka ponsel, menatap gambar Cempaka sembari menahan kerinduan.
Maafkan aku, Champa. Seharusnya hari ini aku datang menemuimu, tapi Eva tiba-tiba sakit dan aku tak dapat meninggalkannya.
Penuh sesal, tapi juga tak berdaya. Ia menutup ponsel, dan mengusap lengan wanita itu ketika ia terusik dalam tidurnya. Sampai matahari berada di puncak, Eva mulai membuka mata.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Caesar ketika melihat Cempaka tersenyum padanya.
"Sudah lebih baik meskipun masih terasa sedikit berat. Terima kasih karena kau tidak meninggalkan aku." Eva terlihat sudah lebih baik, wajahnya yang semula pucat sudah sedikit merona.
"Kau lapar?" tanya Caesar padanya. Eva menganggukkan kepala, tanpa mengangkatnya.
Caesar menelpon Yudi memintanya membawakan makanan ke kamar Eva. Ia beranjak membuka pintu, dan membiarkannya terbuka begitu saja.
"Tuan! Makanan Anda," ucap Yudi dari luar kamar. Ia tak berani melangkah masuk meski pintu kamar itu terbuka lebar.
"Masuklah!" Perintah dari Caesar membuat Yudi melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Ia membawa troli makanan dan minuman sesuai yang diminta Caesar. Ada juga buah segar yang dengan sengaja dipesan laki-laki itu.
"Makanlah! Agar kesehatanmu segera pulih. Yudi juga membawakan obat untukmu," ucap Caesar seraya membantu Eva untuk duduk.
Dengan disuapi laki-laki itu, Eva mengunyah makanannya. Bergantian dengan buah yang dibawakan Yudi, dan air untuk melancarkannya menelan makanan.
Caesar memberikan obat padanya, dengan sendiri dia meminum pil tersebut. Yudi masih berdiri di sana, menunggu perintah dari sang tuan. Sampai Caesar menyelesaikan makan siangnya, barulah kepala pelayan itu beranjak sambil membawa kembali troli makanan ke dapur.
"Sudah lebih baik?" tanya Caesar lagi setelah Yudi menutup pintu kamar tersebut.
Eva mendongak dan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Rencananya menghambat kepergian Caesar menemui Cempaka telah berhasil meski harus menahan nyeri pada bagian kepala, tapi dia begitu puas dengan hasil akhirnya.
"Sayang, apa masih lama anak itu terlahir?" tanya Eva bergelayut manja di lengan suaminya.
"Aku dengar hanya tinggal menunggu sekitar dua bulanan lagi saja. Apa kau sudah menyiapkan pengasuh untuknya nanti?" tanya Caesar karena merasa tak yakin Eva akan mampu mengurus anaknya.
"Masalah itu kau tenang saja. Aku sudah mempunyainya. Kau sendiri, apa kau sudah memiliki nama untuk anak kita nanti?" Eva balik bertanya sambil mendongak pada wajah suaminya.
"Sudah. Aku sudah menyiapkan nama itu sejak jauh-jauh hari. Kita hanya tinggal menunggunya lahir saja," ucap Caesar terasa hambar hatinya ketika ia mengatakan itu. Karena yang seharusnya melakukan perbincangan itu adalah dirinya dan Cempaka. Bukan Eva.
"Sayang, kau pasti akan menceraikannya setelah kelahiran anak kita, bukan? Jangan menyalahi janjimu sendiri," ucap Eva sedikit cemas karena kehadiran Cempaka bisa saja menjadi hambatan untuk semua rencananya.
__ADS_1
Caesar menghela napas, sungguh berat rasa hatinya mendengar permintaan Eva yang itu.
"Sayang?"
"Kau tenang saja, semuanya akan berjalan sesuai yang tertulis di dalam surat kontrak." Caesar tersenyum meski terpaksa disaat Eva menatapnya.
"Terima kasih banyak. Aku mencintaimu." Eva menelusupkan kepala di ketiak laki-laki itu, bersikap manja yang dulu sangat disukai oleh Caesar. Namun, sekarang terasa hambar, sejak kehadiran Cempaka di antara mereka.
"Aku juga mencintaimu. Kuharap kau tak akan pernah mengkhianatiku," sahut Caesar yang seketika membuat tubuh Eva menegang.
Laki-laki itu melirik, tapi Eva berhasil menguasai diri dan bersikap normal kembali.
"Kau tenang saja. Mana mungkin aku mengkhianatimu. Aku sudah memiliki suami yang sempurna secara fisik dan materi, tak ada laki-laki lain lagi yang sehebat dirimu. Kau satu-satunya di hatiku, sayang." Eva mengeratkan pelukan, mencoba meyakinkan Caesar lewat sentuhan.
Caesar mengusap-usap lengan sang istri, mencoba untuk percaya padanya. Kehadiran si buah hati tentunya akan melengkapi bahtera rumah tangga mereka. Mengisi hari-hari mereka yang sunyi, meramaikan rumah besar itu.
****
Di malam hari, di rumah Cempaka yang terasa damai dan tenang. Kedua penghuninya sedang menikmati makan malam sederhana mereka. Sambil saling bercerita, mengungkapkan isi hati masing-masing.
Secara tiba-tiba keributan terjadi di luar pagar rumah tersebut.
"Lucy, sepertinya ada keributan. Apa kau dengar?" tanya Cempaka yang lantas menghentikan gerakan tangannya untuk menyuapkan nasi ke mulut.
"Benar, Nona. Sepertinya ada yang ingin menerobos masuk ke dalam, tapi dihalangi para penjaga," sahut Lucy setelah mendengarkan dengan saksama keributan di luar pagar rumah itu.
"Ayo, kita lihat!" Cempaka beranjak dengan hati-hati, dibantu Lucy mereka berjalan ke ruang depan rumah.
Tanpa berani keluar, Cempaka dan Lucy mengintip lewat jendela.
"Baron?" Napas Cempaka tercekat tatkala melihat sang ayah yang mengamuk di depan pagar rumahnya.
"Hubungi Arjuna!"
__ADS_1