(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 102


__ADS_3

Ruangan itu tak lagi berupa, seluruh isi di dalamnya telah berserakan di lantai. Dari sekian banyak barang yang dihamburkannya, tak ada apapun yang dia temukan.


"Sial! Di mana sebenarnya dia menyembunyikan semua dokumen? Tidak mungkin di kantor, bukan? Kapan dia mulai tidak percaya padaku?" Eva ambruk di sofa dalam ruangan itu. Peluh membanjiri tubuhnya, deru napas pun ikut memberat.


Eva mengangkat pandangan, memindai seisi ruangan. Memeriksa takut-takut ada yang terlewatkan. Dulu, semua diserahkan kepadanya. Apapun itu, tak ada yang disembunyikan Caesar. Bahkan, seluruh aset yang dimiliki laki-laki itu dia yang menyimpannya.


Sekarang, semuanya berbalik. Tak ada lagi kuasa di tangannya. Para pekerja yang selalu dia rendahkan, tak satu pun datang membantu. Eva kembali beraksi, membuka lemari memeriksa setiap rak di dalamnya.


Pintu tak berdosa itu dibantingnya, kesal karena lagi-lagi tak menemukan apapun. Akan tetapi, dia masih belum menyerah. Ada banyak tempat tersembunyi di ruang kerja suaminya itu.


Di luar, mobil Caesar memasuki halaman. Disambut dengan hormat oleh penjaga gerbang juga Yudi yang sudah menunggu di teras. Kepala pelayan itu membukakan pintu, berdiri sedikit membungkuk hingga sang tuan keluar bersama bayi Evan di gendongan.


"Bagaimana keadaan rumah? Apa dia membuat ulah?" tanya Caesar tanpa memperhatikan Yudi.


"Nona ada di ruang kerja Anda, Tuan."


Caesar terdiam sejenak, selanjutnya ia tersenyum sinis dan melangkah masuk ke dalam rumah. Keputusan Caesar menyimpan semua aset ke tempat lain adalah benar. Sejak kecurigaannya kepada Eva, Caesar berinisiatif memindahkan penyimpanan semua hartanya.


Ia berpura-pura tidak mengetahui jika Eva berada di dalam ruang kerjanya. Berencana mengajak Arjuna dan Yudi untuk berdiskusi setelah merebahkan Evan di atas kasur.


"Ibu tidur di sini saja sampai aku datang. Kunci pintunya karena aku khawatir akan ada yang berbuat buruk terhadap kalian," ingat Caesar setelah memberikan kecupan di dahi anaknya.


"Baik, Tuan," jawab ibu pengasuh, seraya mengekori Caesar menuju pintu dan menguncinya.


Arjuna sudah menunggu bersama Yudi, keduanya bersama-sama mengikuti langkah Caesar menuju ruang kerjanya. Tanpa mendengar perintah, Yudi bergegas membuka kunci pintu.


Eva yang sedang asik mengobrak-abrik almari berisi berkas dan dokumen, tersentak mendengar suara kunci dibuka. Matanya membelalak melihat betapa hancur ruangan tersebut. Eva bergegas turun dari kursi dan bersembunyi didalam lemari.

__ADS_1


Oh, percuma! Ada rekaman CCTV di ruangan itu yang sengaja Caesar pasang tanpa sepengetahuan Eva. Pintu terbuka, Eva membekap mulutnya sendiri. Dari balik lubang lemari dia melihat Caesar melangkah masuk, tapi kemudian menghentikan ayunan kakinya.


"Kenapa ruangan kerjaku seperti ini, Yudi?" Caesar bertanya sembari memindai seluruh ruangan. Dia tak mengira Eva akan benar-benar melakukan kekacauan.


"Aku hanya pergi selama beberapa hari saja, kenapa bisa kacau seperti ini? Siapa yang sudah berani masuk ke dalam sini?" Suara Caesar terdengar menggeram. Dia sedang tidak berpura-pura marah, Caesar sangat tidak suka ruang pribadinya berantakan.


Yudi bungkam tidak menyahut, dia tahu Eva masih berada di dalam ruangan itu.


"Bereskan! Aku tidak akan bisa berkonsentrasi jika ruanganku kacau begini," titah Caesar seraya mendaratkan bokong di sofa.


Eva memejamkan mata cemas, dia takut Caesar akan menemukannya di dalam sana dan langsung mengusirnya. Berharap laki-laki itu akan keluar, Eva membuka mata dengan pelan. Ia meringis ketika melihat laki-laki itu justru duduk santai di sofa, sementara Yudi dan Arjuna bersama tiga orang lainnya merapikan kekacauan yang dia buat.


Sial! Kenapa dia tidak keluar ruangan saja? Di sini panas, tapi aku harus bertahan untuk mengetahui di mana Caesar menyimpan semua dokumen.


Eva bertekad meski peluh membanjiri wajah. Selama apapun dia akan bertahan di dalam sana, menunggu Caesar menunjukkan tempat penyimpanan itu. Setengah jam berlalu, keadaan ruangan kembali seperti semula. Caesar beranjak dan beralih tempat duduk di kursi kebesarannya. Diikuti Arjuna juga Yudi yang duduk berseberangan dengannya.


Mata Eva membeliak. Itulah yang dia tunggu-tunggu.


Kurang ajar! Ternyata ada tempat tersembunyi di ruangan ini. Pantas saja aku tidak dapat menemukannya. Kau bodoh, Caesar! Kau sendiri yang menunjukkannya kepadaku.


Eva tersenyum sinis, merasa sudah berada di atas langit. Dia lupa bahwa Yudi-lah yang telah membukakan pintu untuknya. Arjuna menggeser rak buku dan membuka sebuah laci yang berada di baliknya. Mengambil sebuah map besar, membawa benda itu kepada Caesar.


"Tuan. Sepertinya semua aman." Ia menyerahkannya kepada Caesar. Mata Eva tak berkedip barang sedetik pun. Dia ingin tahu di mana Caesar akan menyimpannya lagi.


Laki-laki itu membuka map tersebut, tersenyum lega ketika semua yang ada di dalamnya masih utuh.


"Kembalikan! Aku yakin Eva tidak akan mengetahuinya." Caesar memberikannya lagi kepada Arjuna untuk disimpan di tempat semula.

__ADS_1


Bodoh! umpat Eva di dalam hati. Tak sia-sia dia bersembunyi di dalam lemari tersebut, sebab akhirnya dapat mengetahui di mana yang dia cari disimpan.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Yudi?" tanya Caesar mengawali diskusi.


"Ini masalah Ani, Tuan. Saya merasa cemas jika dia terus berada di sini. Saya khawatir dia akan mengganggu pengasuh baru itu karena merasa lebih dulu merawat tuan muda," ungkap Yudi.


Dahi Eva mengernyit mendengar penuturan kepala pelayan itu. Dia tidak akan pernah peduli kepada Ani meskipun Caesar mengusirnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, sungguh wanita licik dan serakah.


Caesar menghela napas, menatap Yudi dengan dalam.


"Itu hakmu sebagai kepala pelayan di rumah ini. Jika kau rasa Ani tidak baik berada di sini kau bebas memulangkannya kapanpun. Sebaiknya sebelum semua kekhawatiran terjadi," jawab Caesar menyerahkan sepenuhnya kepada Yudi.


Bagus! Pulangkan saja dia agar aku tidak harus bertanggungjawab untuk hidupnya di sini. Aku muak dengan semua ini.


Eva menggeram di dalam hati, tak perlu ikut campur. Ani akan tetap keluar dari rumah itu. Tak akan ada lagi beban yang dipikulnya.


"Mmm ... Tuan, apa Anda serius soal perceraian itu?" Arjuna bertanya karena ia sendiri pun tidak tahu Caesar merencanakan hal tersebut.


Eva membeku, dia menajamkan telinga ingin mendengar langsung tentang ucapan Caesar yang akan menceraikannya.


"Tentu saja. Pengacaraku sudah mengurusnya, cepat atau lambat sidang akan digelar. Aku tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku lagi, Arjuna." Caesar menghela napas, biarlah Eva mendengarnya. Dia memang ingin wanita itu tahu betapa sakit hatinya karena dikhianati.


Kurang ajar kau, Caesar! Lihat saja, aku akan mencuri semua asetmu dan menjualnya. Kau akan jatuh miskin dan terhina!


Tangan Eva mengepal tanpa sadar seiring emosi yang memuncak. Api dendam berkilat-kilat di kedua pancaran matanya.


Kau akan hancur, Caesar. Hidupmu akan berakhir menjadi gelandangan!

__ADS_1


Ancaman yang tidak main-main.


__ADS_2