(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 56


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, resort yang dibangun Cempaka telah rampung dengan sempurna. Ia menyambut dengan suka cita, masyarakat setempat pun ikut bergembira. Hari pertama dibuka untuk umum, berbagai macam menu hidangan tersedia untuk dinikmati semua orang.


Cempaka tersenyum puas, ia menatap bangunan yang hampir mirip dengan hotel itu. Bangunan berlantai tiga dengan lantai dasar yang dijadikan sebagai restoran. Terdapat kolam renang yang disediakan untuk mereka yang menginap.


"Nona, Anda berhasil. Masyarakat bahkan terlihat antusias untuk melihat bangunan ini," puji Lucy yang tak menyangka bangunan tersebut begitu megah dan menarik.


"Ya. Meskipun harus menghabiskan uang yang aku miliki, aku sangat puas dengan hasilnya. Semoga tempat ini akan terus berkembang dan menjadi sumber kehidupan kita untuk ke depannya, Lucy." Cempaka menggenggam tangan Lucy, tanpa wanita itu apalah dia.


Lucy terharu, mengaminkan doa Cempaka yang ia ucapkan tadi. Suaminya bertugas sebagai kepala keamanan, Lucy dan Cempaka bertugas di dapur sementara sampai ada orang-orang yang bisa dia percaya. Kedua anak Lucy bertugas sebagai penerima tamu. Juga ada beberapa warga yang bekerja sebagai pelayan.


"Ma-ma-mam!" Suara anak Cempaka mengalihkan perhatian mereka, wanita itu berjongkok, dan bermain bersama sang anak.


"Kita akan baik-baik saja, sayang. Meski tanpa ayahmu, Mom yakin kita akan dapat hidup dengan baik di sini." Cempaka mencium dahi sang anak, mata itulah yang menjadi tekad terkuat di dalam dirinya.


Dimulai hari itu, semuanya berjalan lancar. Meski masih sedikit yang datang karena memang belum dikenal para wisatawan, tetapi mereka tetap bersemangat dan melayani setiap pengunjung dengan sepenuh hati.


Resort Amanda.


Itulah nama yang tertera pada sebuah papan yang menggantung di pintu masuk yang berupa lorong bunga. Pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai macam bunga yang sengaja ditanam ketika memasuki wilayah tersebut.


"Jika aku sudah memiliki uang, kita akan bangun rumahmu dan menyatukannya dengan tempat ini." Ada harapan di dalam setiap kata yang ia tuangkan.


Keinginan selanjutnya Cempaka adalah membangun rumah Lucy dan menjadikannya satu dengan area resort. Membeli lahan kembali memperbesar usahanya. Entah kapan, tapi Cempaka yakin satu tahun ke depan dia akan mampu mewujudkannya.


"Terima kasih, Nona. Anda begitu baik kepada kami," ucap Lucy penuh haru. Kedua matanya bahkan berkaca-kaca, tak menyangka kehidupan mereka akan berubah.

__ADS_1


"Yang seharusnya berterimakasih adalah aku, Lucy. Kau sudah banyak membantuku sejak masih tinggal di rumah itu. Hanya kau teman berbincangku, kau yang selalu tahu keluh kesahku. Kau seperti ibuku, Lucy. Jangan lagi memanggilku nona, panggil saja Amanda."


Cempaka menggenggam tangan Lucy, tersenyum penuh syukur karena yang menemaninya adalah wanita itu. Bukan yang lain. Ia menarik tubuh Lucy ke dalam pelukan, jatuh air matanya karena merindukan sang ibu.


"Terima kasih karena kau begitu tulus membantuku, Lucy. Tanpamu aku tidak akan tahu akan menjadi seperti apa. Kebaikanmu tak akan pernah bisa aku balas sampai kapanpun." Cempaka mengeratkan pelukan, Lucy terisak haru.


Di kejauhan, suami dan kedua anak Lucy menatap keduanya. Mereka ikut tersenyum, bersyukur karena mulai saat itu kehidupan akan berubah. Mereka tak perlu lagi bertaruh nyawa dengan pergi melaut. Makan akan selalu enak, tempat tinggal juga nyaman. Bersama-sama akan membantu Cempaka mengembangkan tempat tersebut.


Sementara di rumah lama, tuan Arya melakukan pertemuan dengan sekretarisnya. Membahas seluruh harta yang dia miliki yang akan dibagikan kepada ahli warisnya.


"Anda yakin, perusahaan itu akan diberikan kepada tuan muda? Beliau masih sangat kecil," tanya sang sekretaris memastikan keputusan tuan Arya.


"Itu sudah janjiku kepada mereka. Dia memang masih sangat kecil, untuk sekarang ada Caesar yang mengurusnya. Biarlah, lagipula aku sudah tidak sanggup untuk mengurus perusahaan sebesar itu." Tuan Arya menghela napas, dia hanya harus menepati janji kepada mereka.


"Untuk cucuku yang lain yang saat ini belum aku temukan, tapi aku yakin cepat atau lambat mereka akan segera aku temukan." Tuan Arya tersenyum mengenang masa-masa saat tinggal bersama Cempaka.


Sekretaris tuan Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, mereka masih berusaha mencari tau keberadaan Cempaka.


"Lalu, bagaimana dengan nyonya Lisa?" Teringat istri kedua sang tuan yang sudah pasti meminta bagiannya.


"Rumah yang mereka tempati sudah cukup. Jangan memberikan mereka yang lain lagi," jawab tuan Arya dengan yakin.


Semua dicatat dengan baik oleh sang sekretaris. Tanpa melewatkan satu persen pun dari harta yang dimiliki tuan Arya.


Di rumahnya, Eva kembali seperti dulu. Keluar rumah meninggalkan anak mereka, dan akan kembali saat sore hari. Namun, yang dia lakukan kali ini adalah, untuk mengurusi bisnis salon yang dia bangun sendiri.

__ADS_1


Ani mengajak bayi Evan bermain, seperti seorang ibu kepada anaknya. Seperti itulah perlakuan Ani. Yudi sering memperhatikannya, sedikit cemas melihat sikap Ani yang begitu posesif terhadap bayi Evan.


"Akan kau bawa ke mana Tuan Muda?" tegur Yudi disaat melihat Ani membawa bayi Evan ke dalam gendongan. Ia juga membawa tas berisi keperluan bayi itu.


"Maaf, Tuan. Saya hanya akan membawa Tuan Muda berjemur di taman komplek. Saya sudah meminta izin kepada nyonya. Jika Anda khawatir saya akan berbuat yang macam-macam, maka Anda boleh mengutus pengawal untuk mengawasi saya," ucap Ani tanpa terlihat gelisah.


Dia bahkan tersenyum meyakinkan Yudi, bahwa dia tidak akan berbuat yang macam-macam kepada tuan muda mereka.


"Baiklah." Yudi memanggil dua orang pekerja keamanan dan meminta mereka untuk mengawasi Ani.


Taman komplek yang tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu lima menit saja mereka sudah tiba di tempat tersebut. Ani membentang sebuah kain, dan membiarkan bayi Evan bermain di tempat tersebut. Hangat sinar matahari pagi sangat disukai bayi itu.


Ani terlihat menyayangi tuan muda mereka, pandangannya tak pernah lepas dari sang bayi. Mengajaknya terus bermain dan bersenda gurau. Dibawah pengawasan dua orang pengawal, Ani tidak merasa canggung sama sekali.


"Kau akan tumbuh menjadi anak yang hebat." Ani tersenyum haru, berterimakasih kepada Cempaka walau hanya di dalam hati.


Waktunya bersama Evan lebih banyak daripada Eva. Dia hanya akan menemani bayi Evan ketika Caesar libur bekerja. Di akhir pekan, keduanya selalu pergi berlibur dengan mengajak serta Ani sebagai pengasuh.


"Nona, di mana anda sekarang? Apakah kehidupan anda sudah lebih baik?" Ani menatap langit cerah pagi itu, di pangkuannya bayi Evan terlihat tenang.


"Aku perhatikan, tuan muda lebih merasa nyaman dengan pengasuhnya daripada ibunya sendiri." Salah satu pengawal yang memperhatikan, berbisik kepada rekannya.


"Kau benar. Mungkin karena nyonya terlalu sibuk di luar dan hanya memiliki waktu sedikit saja bersama tuan muda." Yang lain menimpali sambil berbisik pula.


Keduanya terus menjaga mereka sampai kembali ke rumah saat matahari mulai naik.

__ADS_1


__ADS_2