
Keesokan harinya, Caesar kembali ke rumah membawa perempuan yang kemarin datang ke kantornya. Dia datang bersama Arjuna membawa satu tas pakaian berukuran sedang. Ia celingukan menatap sekeliling rumah mewah itu. Untuk seumur hidup, baru kali itu dia memasuki rumah besar dan megah.
Ia dibawa Caesar menemui Yudi sebagai kepala pelayan di rumah itu. Sementara dirinya pergi ke halaman belakang di mana Eva berada. Duduk bersantai bersama bayi di dalam keretanya. Dia tidak sendirian, ada beberapa pelayan menjaga di sekitar tempat tersebut.
"Sayang!" panggil Caesar sambil menyematkan senyum di bibirnya.
Eva menoleh, beranjak menyambut kedatangannya. Lalu, keduanya duduk di kursi malas memperhatikan bayi mereka yang masih jarang sekali menangis.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia rewel seharian ini?" tanya Caesar sambil mendekatkan wajah pada kereta anaknya.
"Yah, aku mulai merasa lelah karena dia terus menangis," jawab Eva sambil menjatuhkan kepala di pundak suaminya.
Mereka terlihat seperti pasangan yang berbahagia. Kehadiran bayi itu di rumah mereka, meramaikan suasana. Tiba-tiba, bayi itu menangis histeris. Caesar sampai dibuat kebingungan karenanya.
"Dia menangis, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya sambil menjauhkan diri dari kereta sang anak.
Eva terkekeh, mulai terbiasa dengan tangisan bayi tersebut. Ia mengambilnya dari kereta, menimang di gendongannya.
"Tapi dia terus menangis." Caesar tak habis pikir, biasanya bayi itu akan berhenti menangis bila Eva menggendongnya.
"Mungkin dia lapar. Ambilkan susu itu." Eva menunjuk botol berisi susu yang sudah disiapkannya.
Caesar sigap mengambil dan memberikannya kepada Eva. Namun, bukanya redam, bayi itu justru menolak benda tersebut. Dia terus saja menangis, membuat panik para pelayan yang ada di sana.
"Oh, ini tidak biasanya. Kenapa masih saja menangis?" keluh Eva yang kini berdiri dari duduknya.
Ia mulai kewalahan mendiamkan bayi itu, kesabarannya hampir terkikis bila tak ingat ada Caesar di sana.
"Lalu, bagaimana?" Caesar cemas.
"Kau sudah membawa pengasuh itu ke rumah ini?" tanya Eva tak henti menggoyangkan bayi di gendongannya.
"Ah, ya. Sebentar, dia diantar Yudi ke kamarnya." Caesar beranjak hendak menghampiri pengasuh bayi yang datang bersamanya.
Namun, belum sempat meninggalkan tempat tersebut, Yudi muncul membawa wanita itu ke hadapan Eva. Seketika, bayi itu berhenti menangis seolah-olah menemukan buaiannya.
"Nyonya!"
__ADS_1
Caesar tertegun, merasa bingung terhadap bayinya yang tadi menangis histeris dan terdiam ketika wanita itu datang.
"Dia pengasuh anakku?" Eva menunjuk wanita tersebut sambil membenarkan letak bayinya.
Yudi memintanya untuk memperkenalkan diri. Ia maju ke hadapan dengan kepala tertunduk.
"Saya Ani, Nyonya. Saya yang akan menjadi pengasuh Tuan Muda mulai hari ini," ucap wanita bernama Ani tanpa mengangkat kepalanya.
Caesar tertegun, memperhatikan wanita tersebut dengan saksama. Hatinya dibuat bingung dengan tingkah sang anak yang tiba-tiba diam dari tangisan.
"Baiklah. Kau akan mengenakan seragam pengasuh saat bekerja. Aku akan memberitahumu apa saja yang harus kau lakukan saat mengasuh anakku." Eva meletakkan bayi tersebut ke dalam keretanya.
Ani melirik dan tersenyum, ajaibnya bayi itu menggerakkan tangan sambil tertawa seolah-olah meminta digendong oleh pengasuh barunya itu.
"Dia menyukaimu, Ani. Syukurlah, semoga saja di tanganmu dia tidak rewel," ucap Eva merasa takjub.
"Syukurlah, kalo Tuan Muda menyukai saya." Ani tetap menunduk.
"Ayo, ikut denganku!" Eva mendorong kereta anaknya, mengeluarkan sang bayi dari sana menggendongnya ke lantai dua.
Dia punya kamar sendiri di rumah itu, kamar yang dulu ditempati Cempaka ketika masih tinggal di sana. Direnovasi sedemikan rupa, menjadi sebuah kamar yang menarik untuk ditempati seorang bayi laki-laki.
"Saya mengerti, Nyonya." Ani menganggukkan kepala.
"Ini, coba kau mandikan bayiku. Aku akan memperhatikannya." Eva menyerahkan bayinya kepada Ani untuk dimandikan. Setelah ini, dia akan lebih bisa bersantai dan merawat dirinya lagi.
"Baik, Nyonya." Ani mengambil alih bayi Evan dari tangan ibunya.
Bayi itu tertawa riang, disepanjang Ani melepaskan satu demi satu pakaian dari tubuhnya. Eva memperhatikan dengan saksama, Ani terlihat begitu lihai dan lebih berpengalaman dari pada dirinya.
Ia bahkan memastikan air yang akan digunakan bayi itu sebelum mulai memandikannya.
"Waktunya Tuan Muda mandi. Bersihkan tubuh dulu, agar lebih segar dan sehat." Ani berceloteh di sepanjang memandikan bayi Evan.
Eva tersenyum puas melihatnya, Caesar tidak salah membawa pengasuh untuk anak mereka. Laki-laki itu datang untuk melihat, berdiri di belakang Eva memperhatikan.
"Dia sudah berpengalaman. Di mana kau bertemu dengannya?" bisik Eva pada suaminya.
__ADS_1
"Entah. Arjuna yang merekomendasikan. Syukurlah jika kau menyukainya," balas Caesar berbisik pula.
Dengan lemah lembut, Ani memandikan bayi itu sambil mengajaknya bermain dan berbicara. Keduanya menyingkir ketika ia membawa Evan untuk dipakaikan baju.
"Tali pusatnya belum putus. Apa tidak apa-apa?" tanya Eva kepada pengasuh anaknya itu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Nanti seiring waktu akan putus dengan sendirinya." Ani menjawab sembari membungkus tali pusat anak tersebut.
Sampai selesai dengan segala ritualnya, mereka berdua tidak meninggalkan kamar Evan.
"Silahkan, Nyonya. Tuan Muda siap untuk pergi berjalan-jalan di sore hari," ucap Ani sambil tersenyum ramah ketika menyerahkan bayi itu.
"Sempurna! Aku suka cara kerjamu!" Eva menerimanya kembali, mengendus bau harum sang bayi.
"Kau sudah wangi, kita ke depan." Eva mengajak Caesar untuk pergi ke teras rumah.
"Seragammu ada di lemari itu. Letakkan saja pakaianmu di sana." Eva memerintah sebelum benar-benar keluar.
Ani tersenyum, ada keharuan di dalam pandangan matanya. Ia mengusap sudut mata yang tiba-tiba berair, sebelum mengganti pakaiannya dengan pakaian pengasuh.
Ani mendekap seragam itu, ia bahkan mengendus handuk Evan yang meninggalkan jejak harumnya. Hati wanita itu berbunga, beranjak dengan perasaan yang membuncah.
Di teras, Lisa datang berkunjung sekalian menanyakan keberadaan tuan Arya yang sudah beberapa hari menghilang.
"Kalian sudah menemukan pengasuh. Jika belum, aku akan membawakannya untuk kalian," tanya Lisa penuh perhatian.
"Tidak perlu, Ibu. Evan sudah memilikinya dan dia memiliki kinerja yang bagus," jawab Eva menolak langsung tawaran ibu mertuanya.
"Oh. Bagaimana dengan ayahmu? Sudah ada kabar darinya?" tanya Lisa lagi kepada Caesar.
"Ibu tidak perlu risau, ayah pergi mengunjungi saudaranya dan akan menetap di sana." Caesar menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari bayi di gendongan Eva.
Lisa menghela napas, gagal lagi untuk mencekoki laki-laki tua itu dengan obat-obatan yang sudah disiapkannya. Ia berpamitan kembali ke rumah dengan membawa perasaan yang tak menentu.
Ani melihatnya dari balkon kamar Evan.
Satu perempuan lagi yang harus aku waspadai. Dia ibu tiri tuan yang memiliki ribuan rencana jahat. Berhati-hatilah terhadapnya, mungkin saja dia akan mencelakai bayi mereka.
__ADS_1
Peringatan dari Cempaka tentang siapa saja yang harus dia waspadai.