(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 99


__ADS_3

Mobil mereka tiba di halaman rumah besar Caesar setelah sebelumnya singgah di rumah Lisa karena kondisi kejiwaan Gyan yang terguncang.


"Nyonya, apa yang akan Anda lakukan sekarang? Apakah Anda akan memberitahu tuan tentang siapa tuan muda?" tanya Ani sesaat setelah Eva mematikan mesin mobil.


Wanita itu menghela napas, mencengkeram kemudi untuk beberapa saat sebelum menghembuskan udara dari mulutnya.


"Entahlah, Ani. Aku takut jika Caesar tahu yang sebenarnya, dia akan semakin marah dan justru mengusirku dari rumah." Eva menoleh kepada pengasuh anaknya itu, memegang tangan Ani, mengajak bekerjasama.


"Tolong, rahasiakan semua yang terjadi hari ini dari Caesar. Aku pastikan kau akan tetap bekerja di sini dibawah perlindunganku," pinta Eva dengan sorot mata memelas.


Ani bersorak di dalam hati, itulah yang dia inginkan. Tetap berada di rumah itu sebagai pengasuh cucunya.


"Iya, Nyonya. Saya berjanji akan merahasiakan semuanya dari tuan," sahut Ani bersungguh-sungguh. Tentu saja, dia tidak ingin keluar setelah menikmati kemewahan yang diberikan Caesar dan Eva sebagai pengasuh anak angkat mereka.


"Bagus!"


Eva merasa senang, dia tak perlu mencemaskan apapun tentang siapa sebenarnya Evan.


Sekarang, waktunya berpura-pura sedih. Ayolah, Eva. Kau bisa melakukannya!


Eva merubah penampilan menjadi sedikit berantakan, menggunakan tetes mata untuk membuat jejak tangisan. Ia juga menghapus riasan di wajah, agar meyakinkan hati Caesar. Barulah keduanya turun dari mobil.


Eva menghela napas sebelum berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil nama Evan.


"Evan! Evan! Di mana kau?" teriak Eva menggema di dalam rumah.


"Jangan berteriak, dia sedang tidur!" Suara Caesar memperingatkan tanpa terlihat wujudnya.

__ADS_1


Eva menoleh ke ruang tamu, melihat punggung suaminya yang duduk di sofa. Ia segera berlari menghampiri diikuti Ani yang hendak meminta pengampunan dosa darinya.


"Caesar! Dari mana saja kalian? Kenapa pergi tanpa memberitahuku?" cecar Eva yang mendatangi tempat Caesar duduk bersama Arjuna.


Ia berpura-pura menangis, tampak menyedihkan. Tangannya terentang hendak memeluk, tapi Caesar memberinya isyarat untuk tidak mendekat. Laki-laki itu mengangkat tangan kanannya menolak pelukan.


"Berhenti di sana! Jangan dekat-dekat denganku!" tolak Caesar seraya melipat kedua tangan dan mengangkat salah satu kakinya.


Eva mematung tak percaya, melirik Arjuna dengan ekor mata. Pemuda itu hanya diam tanpa peduli keadaan. Sibuk bermain gawai, tak mau tahu urusan keduanya.


"Kenapa, Caesar? Kau tahu, aku begitu mencemaskanmu, mencemaskan kalian. Kenapa kau bersikap dingin kepadaku?" tanya Eva dengan derai air mata palsunya.


Caesar menghela napas, menatap sang istri dengan intens. Rasanya tak percaya, Eva telah berani berkhianat di belakangnya. Terlebih laki-laki itu adalah saudara tiri Caesar sendiri.


"Kenapa? Aku juga tidak merasa demikian. Kau selalu sibuk dengan dirimu sendiri sehingga tak ada waktu untuk merawat anakku. Sekarang kau lihat, aku bisa mengurus Evan sendiri tanpa campur tanganmu. Jadi, jangan lagi pedulikan anakku, jangan pedulikan kami. Urus saja dirimu sendiri, percantik dirimu, untuk menyenangkan orang lain." Caesar tersenyum.


"A-apa maksudmu? Apa yang kau katakan, Caesar? Aku sungguh tidak mengerti," kilah Eva terbata-bata lisannya bergerak.


Caesar mendengus, berpaling sejenak untuk menutupi rasa muak dari wajahnya. Dia merasa jijik terhadap wanita itu, jangankan menyentuh, menatap saja rasanya enggan. Bodoh! Selama ini dia sudah dibohongi kecantikan Eva.


"Kau pikir saja sendiri. Mulai malam ini, aku akan tidur di kamar Evan. Kau bebas mau pergi ke manapun, dan kapanpun. Bahkan, bersama siapa pun itu. Pergilah! Senangkan dirimu sendiri." Caesar menatap sang istri masih dengan senyum yang sama.


Air mata Eva berjatuhan tanpa dapat dia tahan. Meski kenyataan, tapi rasanya sakit ketika Caesar memutuskan demikian. Satu rumah, tapi bagai orang asing.


"Tidak! Aku tidak mau. Kenapa harus pisah kamar? Aku tidak mau, Caesar. Jangan lakukan ini padaku!" tolak Eva semakin tergugu dia menangis.


Sederas apapun air matanya jatuh, hati Caesar telah membeku. Tak ada lagi cinta yang tersisa untuk istrinya itu, hanya ada kebencian dan rasa muak yang terus mengisi relung jiwa.

__ADS_1


"Aku juga pernah memohon kepadamu untuk meluangkan waktu menemani Evan, tapi apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan? Kau hanya sibuk dengan dirimu sendiri, tak peduli pada anakku. Apa kau lupa siapa yang memintaku untuk menikah kontrak waktu itu?" tegas Caesar bergeming pada keputusannya.


Bukan hanya masalah itu sebenarnya, tapi lebih kepada masalah pengkhianatan yang dilakukan Eva bersama Gyan. Hanya saja, Caesar ingin mulutnya sendiri yang mengatakan hal itu.


Kegugupan jelas terlihat di wajah yang tanpa riasan itu. Eva memutuskan pandangan dari tatapan Caesar, ada gelisah yang sekilas tertangkap dari manik itu.


"Beri aku kesempatan kedua. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Caesar, kumohon! Beri aku kesempatan merawat Evan," mohon Eva, perlahan menatap wajah Caesar yang bergeming dalam dingin.


"Aku sudah berkali-kali memberimu kesempatan, tapi tak satupun kau gunakan dengan bijak. Sekarang, baiknya kau berpikir akan seperti apa kelanjutan rumah tangga kita ini." Perpisahan, mungkin itu yang sudah direncanakan Caesar. Setelah melihat sendiri bukti pengkhianatan itu, rasanya Caesar sudah tak ingin melanjutkan rumah tangga bersama Eva.


Terkejut? Tentu saja, bola mata Eva nyaris keluar setelah mendengar penuturan suaminya barusan. Sungguh hal yang tak pernah terlintas dalam benak. Oh, tidak! Dia pernah merencanakan itu setelah berhasil menguasai harta Caesar.


"Tidak! Jangan lakukan itu, Caesar! Kumohon!" Eva menjatuhkan diri di lantai, bersimpuh di kaki sang suami.


"Jangan menyentuhku!" Caesar menyingkirkan kedua kakinya, menjarak dari sentuhan Eva.


Eva menatap nanar lelaki yang sudah hampir tujuh tahun itu menikahinya. Air mata jatuh begitu saja, rasa sakit amat menghantam hatinya. Sungguh, apa yang dilakukan Caesar saat ini lebih sakit dari pada kesepian karena tak terdengar tangisan bayi.


"Mengapa?" lirih suaranya menguar. Bergetar bibir itu sebagaimana terguncangnya hati.


Caesar menatap ke dalam manik Eva yang basah, mencari kejujuran yang selama ini selalu tersembunyi.


"Menurutmu bagaimana ... jika milikmu dinikmati orang lain juga? Itu yang aku rasakan." Caesar memutuskan pandangan, berpindah pada Ani.


"Mulai saat ini kau tidak diizinkan menyentuh anakku. Aku sudah memiliki pengasuh yang baru untuknya. Terserah jika Eva masih ingin mempekerjakanmu di sini, tapi ingat selalu batasanmu. Aku tidak peduli meski Cempaka yang memintamu langsung. Jangan lagi dekati anakku!" tegas Caesar seraya berdiri dari sofa dan berlalu tanpa peduli pada tangisan Eva yang begitu menyayat hati.


Ani menganga tak percaya, adalah sebuah siksaan berada dengan sang cucu, tapi tak dapat menyentuh. Ia pun tak tahan untuk tidak menangis. Semua ini salahnya karena terlalu ceroboh.

__ADS_1


__ADS_2