(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 66


__ADS_3

Acara pesta meriah pun digelar di kediaman Caesar dengan megah dan meriah. Para tamu undangan datang dari berbagai macam kalangan, terpisah sesuai status mereka. Para karyawan berkumpul dengan sesama mereka, sedangkan kolega bisnis Caesar berada di tempat khusus yang disediakan oleh tim.


Eva bergabung bersama rekan sosialitanya setelah melihat Ani memakaikan pakaian Evan yang sama seperti dirinya. Sang bintang belumlah muncul, sengaja agar pesta berjalan dengan kondusif. Pesta ulang tahun sekaligus anniversary mereka berdua.


"Aku tidak melihat tuan Arya di sini, ke mana beliau?" tanya salah seorang rekan bisnis Caesar.


Bingung harus menjawab apa, Caesar lebih memilih berbohong.


"Ayah sedang tidak sehat. Beliau harus banyak beristirahat. Jadi, ayah tidak bisa hadir di acara ini," jawab Caesar berkilah.


Dengan eskpresi yang meyakinkan, membuat mereka percaya pada apa yang dikatakannya. Semuanya kembali berbincang, kian kemari membahas apa saja.


Di posisinya, Eva dibanjiri banyak hadiah bahkan, bayi Evan memiliki hadiahnya sendiri. Raut bahagia jelas terlihat di wajah mereka. Sebagai pasangan yang sudah lama menikah dan baru dikaruniai seorang anak, Caesar dan Eva merasa sangat beruntung.


"Di mana bintang malam ini? Aku ingin sekali melihatnya. Dia sekarang mirip siapa? Ibunya atau ayahnya?" Mereka terkekeh, Eva ikut tergabung dalam tawa tersebut. Tak sabar ingin melihat bintang malam itu, di mana bayi Evan akan menjadi pusat perhatian semua orang.


"Entahlah, aku juga terkadang berpikir akan seperti siapa wajahnya karena jujur saja aku tidak melihat diriku ada di sana." Eva terkekeh, tentu saja tidak akan pernah serupa dengan mereka karena dia bukanlah keturunan Arya yang sebenarnya.


"Jika masih bayi memang seperti itu, belum pasti akan mewarisi siapa. Sudah besar nanti berulah akan terlihat," timpal rekan Eva penuh pemakluman.


"Nyonya Eva pasti heran, tapi itu hal wajar. Terkadang akan mirip kakeknya, neneknya, atau bahkan orang lain."


Eva begitu menyimak perbincangan semua rekan yang sudah berpengalaman perihal seorang anak. Itu artinya, wajah bayi Evan yang tidak menyerupai mereka bukanlah suatu yang perlu dikhawatirkan.


"Ya sudah, kalian lanjut saja. Aku tinggal sebentar untuk membawa bayiku," ucap Eva pada mereka semua.


Ia beranjak dari perkumpulan tersebut, MC sudah mengumumkan jalannya acara. Eva meninggalkan ruang pesta dan menuju kamar Evan. Di dalam sana, bayi itu sudah duduk manis di atas keretanya. Dengan Ani yang berdiri di belakang bersiap mendorong keluar.

__ADS_1


Eva menutup pintu dan berhambur mendekati kereta bayi Evan. Ditelisiknya wajah sang anak, mencari jejak Cempaka di sana. Beruntung, tak satu pun rekannya yang tahu tentang Cempaka.


"Aku selalu takut dia tidak akan mirip denganku atau ayahnya. Bagaimana menurutmu, Ani? Apakah ada kemiripan di antara kami?" celetuk Eva dengan lirih.


Tangannya mengusap pipi bayi Evan dengan lembut, sungguh Eva tidak ingin kehilangan asetnya itu.


"Anda tidak perlu mencemaskan hal itu, Nyonya. Setiap anak pasti akan mewarisi salah satunya ataupun keduanya. Mungkin saat ini Tuan Muda belum terlihat mewarisi Anda ataupun tuan, tapi seiring berjalannya waktu kita akan tahu segala sifat dan karakternya. Siapa yang akan mendominasi," jawab Ani tersenyum penuh misteri.


Eva yang tak melihat ekspresi pengasuh sang anak, terus fokus pada bayi Evan yang bermain dengan jemarinya. Bibirnya tersenyum, hilang sudah kekhawatiran yang sejak tadi merundung hati.


Ditatapnya bayi Evan, tak ada jejak Caesar ataupun Cempaka di wajah itu. Mungkin ia mirip dengan salah satu keluarga dari mereka yang belum diketahui. Teringat pada ucapan rekannya bahwa anak dapat mirip dengan orang lain.


Penasaran, Eva mengangkat wajah menilik Ani lekat-lekat. Membandingkan wajahnya dengan sang anak. Namun, pada akhirnya, ia terkekeh karena Evan tidak memiliki garis wajah seperti pengasuhnya itu.


Bodoh! Tidak mungkin dia mirip dengan Ani. Aku ingat, Cempaka memiliki adik kembar. Mungkin Evan mirip salah satu dari mereka. Ya, pasti begitu.


"Kenapa Anda melihat saya seperti tadi, Nyonya?" Ani memberanikan diri bertanya. Tak ingin ada yang mengganjal di hatinya.


"Ah, bukan apa-apa. Aku mendengar temanku berbicara bahwa seorang anak bisa jadi mirip orang lain. Kukira dia akan mirip denganmu, ternyata tidak sama sekali." Eva menertawakan dirinya sendiri.


Diam-diam Ani menghela napas, dia tahu betul bayi yang diasuhnya memiliki garis wajah siapa?


Anda tidak akan pernah tahu, Nyonya. Milik siapa wajah itu?


Ani tersenyum miring untuk beberapa saat, sampai Eva berdiri sambil membawa bayi Evan di dalam gendongan. Ani menormalkan ekspresinya saat sang nyonya mengajak untuk keluar.


"Sudah saatnya." Eva berbalik dan berjalan lebih dulu, diikuti Ani yang lekas mengunci pintu kamar Evan dan memastikannya tak dapat terbuka. Dia tak ingin siapapun masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Riuh rendah suara para tamu menyambut kedatangan sang primadona malam itu. Layar lebar yang dipasang, menampilkan Eva yang menggendong anak mereka menuju podium. Bayi itu tetap tampan meskipun tak mewarisi ketampanan wajah sang ayah.


Caesar mengambil alih mikrofon dari tangan MC, memberikan sedikit sambutan juga terima kasih kepada para tamu yang hadir di pesta malam itu.


"Terima kasih saya ucapkan kepada semua tamu undangan yang telah menyempatkan hadir dalam pesta malam ini. Hari ini adalah hari spesial bagi kami. Di mana tujuh tahun pernikahan kami kali ini ditemani seorang bayi tampan, sang pewaris keluarga Arya."


Tepuk tangan meriah diikuti semua tamu yang berdiri dari kursi mengiringi sambutan Caesar.


"Aku bersyukur karena memiliki istri yang cantik juga setia ...."


Air muka Eva berubah, senyumnya terkesan dipaksa. Tampak pula kegugupan di wajah bermake-up itu. Caesar merangkul bahu sang istri, mengecup Eva dan juga bayi di gendongannya.


"Mohon doa kepada para hadirin sekalian, untuk kelanggengan rumah tangga kami. Terima kasih." Ia menyudahi pidato singkatnya dan mengajak Eva untuk turun dari podium.


Keduanya disambut dengan antusias oleh sanak saudara, juga Lisa yang turut hadir di dalam pesta. Ani tak melepaskan pandangan dari wanita paruh baya itu. Dia waspada mengawasi, setiap gerak dan tingkahnya.


Ia risih melihat bayi Evan yang diciumi banyak orang. Tak sabar, Ani mendekat dan menyingkirkan orang-orang yang terus menciumi bayi itu.


"Maaf, Nyonya-nyonya sekalian. Saya harap Anda semua tidak berlebihan memperlakukan Tuan Muda." Ani meminta dengan sopan, ia membungkuk berharap mereka akan mengerti.


"Memangnya kau siapa?" Salah satu rekan Eva tidak terima.


"Tuan Muda masih bayi, kulitnya masih sangat rapuh dan sensitif. Rentan terhadap benda asing, seperti lipstik dan sebagainya. Untuk itu, saya memohon pengertian Anda semua. Kita semua tidak ingin sesuatu terjadi terhadap Tuan Muda setelah pesta berakhir." Sekali lagi Ani membungkuk.


Melihatnya begitu mengkhawatirkan sang anak, Eva terenyuh. Dia sendiri tidak menyadari bahaya itu. Lagi-lagi tidak berpengalaman.


Desas-desus terdengar, kebanyakan membenarkan yang diucapkan Ani. Eva memberikan bayi Evan kepada pengasuhnya itu, dia merasa aman bila Evan bersama Ani.

__ADS_1


__ADS_2