
"Siapa yang mengatakan itu!"
Suara berat yang terdengar tegas itu menghentikan perdebatan mereka. Semua orang menoleh, para penjaga melepas cekalan mereka, kemudian menundukkan kepala kepada sang pemilik kediaman.
"Cae-caesar ...." Tak ada kata yang meluncur dari bibir lancang Eva. Caesar sama sekali tidak menatapnya, yang dituju manik itu hanyalah wanita yang berada di ambang pintu.
Ibu Eva begitu takjub dengan laki-laki yang pernah menjadi suami anaknya itu, dia tampan, dia kaya, idaman setiap wanita. Kenapa Eva bisa kehilangan tambang emas sepertinya? Ah, Cempaka masihlah anak tirinya, mungkin saja dia bisa mengambil hati Cempaka sehingga dapat menikmati kekayaan Caesar.
"Caesar?" Suara lirih itu datang dari sela bibir Eva, terdengar bergetar.
Namun, jangankan menyahut, melirik saja tidak. Langkah laki-laki itu terus menuju ke depan, pada sosok sang istri yang terlihat tenang. Gerakan dadanya menandakan ia tengah menahan emosi. Entah apa yang dilakukan tiga penyihir itu terhadapnya.
"Kau tak apa, sayang? Apa mereka menyakitimu?" tanya Caesar sembari mengusap pipi Cempaka dengan lembut. Pandang mereka beradu mesra, ada cinta yang memancar dari nada suara laki-laki itu.
Cempaka menggeleng, menyambut sentuhan hangat suaminya seraya menggenggam tangan itu.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Ada banyak orang yang menjagaku, kau tidak perlu risau," ucap Cempaka sembari melayangkan senyuman manis yang menghipnotis sosok Caesar.
Apa yang dilihatnya di depan mata, telah membuat hati Eva terbakar rasa cemburu. Dia berpaling bersamaan dengan rahangnya yang mengeras. Jemari terkepal erat, panas terasa seluruh tubuhnya. Bukan ini yang dia inginkan, bukan pemandangan seperti ini yang ingin dilihatnya.
Cempaka telah merebut posisinya, bukan hanya di rumah itu, tapi juga di hati Caesar.
"Syukurlah. Aku takut mereka berbuat yang tidak-tidak terhadapmu," ucap Caesar seraya merengkuh bahu Cempaka dan berbalik arah menatap pada tiga manusia yang tak pernah merasa puas itu.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk menginjakkan kaki di rumah ini lagi? Perlu kau ingat, rumah ini bukan rumahmu. Ini milikku, aku membangunnya jauh sebelum menikah denganmu. Lagipula, kita sudah bercerai. Itu yang kau inginkan, bukan?" ucap Caesar dengan suara yang rendah, tapi terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Tidak! Kau berjanji padaku bahwa rumah ini adalah milikku. Aku akan menjadi nyonya selama yang aku inginkan, kenapa kau ingkar?" sahut Eva tidak terima dengan apa yang dikatakan Caesar.
Cempaka melirik sang suami, sebenarnya ia tidak menginginkan rumah itu. Namun, senyum tipis yang terbit dari bibir laki-laki itu membuat Cempaka mengernyitkan dahi.
"Aku memang pernah berjanji, dan aku tidak pernah mengingkarinya. Kau telah menjadi nyonya di rumah ini selama yang kau inginkan, dan kau sendiri yang telah memutuskan status nyonya itu pada dirimu. Bukan aku!" tolak Caesar menggelengkan kepala tegas.
__ADS_1
Mata Eva menjegil merah, jelas-jelas yang mengusirnya dari rumah itu adalah Caesar.
"Bukan kau? Lalu, siapa yang mengusirku dari rumah ini malam itu?" bentak Eva semakin meradang.
Lisa membelalak, tak menyangka ternyata Eva bukan pergi sendiri, melainkan diusir Caesar. Sungguh, dia merasa telah ditipu oleh wanita itu.
"Aku tidak mengusirmu, tapi kau sendiri yang telah mengambil keputusan untuk pergi dari rumah ini. Dengan kau berkhianat di belakangku, aku tahu kau sudah tidak menginginkan posisi nyonya di rumah ini dan juga kau ingin pergi dari rumah ini. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa rencanamu dengan selingkuhanmu itu," ujar Caesar membuat Eva seketika menundukkan kepala karena malu.
Mata lelaki itu jatuh pada sang ibu tiri yang juga terlihat gelisah. Semuanya berkumpul di sana, kebetulan memang.
"Aku tahu, kau berencana mengambil semua hartaku dan menjadikanku pecundang. Kau akan mencampakkan aku, karena sudah tidak memerlukan aku lagi. Sekarang, aku kabulkan keinginanmu. Aku ceraikan kau sesuai dengan rencanamu dulu," lanjut Caesar sambil tersenyum tajam ketika Eva melotot ke arahnya.
Air mata wanita itu luruh begitu saja, bukan karena menyesal, tapi karena malu semua aibnya dibuka di hadapan Cempaka. Kesombongan Eva menghancurkan semuanya.
"Lagipula, kau pergi dari sini tidak dengan tangan kosong, bukan? Aku memberimu cek dengan jumlah yang tidak sedikit. Kenapa tidak kau manfaatkan untuk memperbaiki hidupmu? Bukan mengusik kehidupan orang lain yang sejatinya tidak bersalah."
__ADS_1
Ketegangan semakin nyata terasa, Lisa melirik tajam pada Eva. Dua kali dia ditipu wanita itu. Sialan!