
"Tuan, bukankah itu nona?" tunjuk sang sekretaris pada dua orang yang berdiri di tepi pantai beberapa jauhnya dari posisi mereka.
Tuan Arya mengikuti arah yang ditunjuk sekretarisnya, ia membenarkan letak kacamata agar dapat melihat lebih jelas lagi. Matanya memicing, masih belum jelas dalam pandangan.
"Di mataku tidaklah terlalu jelas. Kita hampiri saja mereka," ajak tuan Arya seraya beranjak dari atas batu dan mulai memimpin langkah.
Semakin dekat, semakin jelas dua sosok yang berdiri bersisian itu. Senyum tuan Arya terbit saat melihat kereta bayi di tangan Cempaka. Sedangkan, mereka berdua masih belum menyadari kedatangannya.
"Manda, apa kau sudah bertemu dengan tuan Arya? Ibu sangat mengkhawatirkan kalian. Beliau takut orang besar itu akan mengambil anak-anakmu," tanya Gilang sembari melirik Cempaka yang terus menatap lautan.
"Aku sudah bertemu dengannya, Gilang. Dia juga sudah melihat cucunya. Kalian tenang saja, aku tahu betul seperti apa tuan Arya. Dia orang yang baik, tidak akan mungkin tega memisahkan seorang anak dari ibunya," ujar Cempaka dengan yakin.
Gilang menghela napas, ia berpaling setelah menelisik kesungguhan di wajah wanita itu. Tak ada lagi perbincangan, hanya deburan ombak yang mengisi keheningan di antara mereka.
Tuan Arya tak sabar ingin segera bermain bersama sang cucu, ia mempercepat langkah mendekati mereka berdua.
"Nak!"
Mendengar panggilan itu, Cempaka menoleh. Ia tersenyum melihat kedatangan laki-laki tua tersebut.
"Ayah!"
Gilang mundur memberi ruang kepada mereka untuk saling berbincang. Ia melirik Cempaka, mengawasinya dengan waspada. Sesuai perintah dari Lucy.
Tuan Arya tertegun saat berhadapan dengan kereta bayi milik Cempaka. Matanya membelalak, tubuh tiba-tiba bergetar hebat. Tangannya gemetar hendak menggapai kereta tersebut.
Berselang, ia ambruk menjatuhkan diri di hadapan kereta bayi Cempaka. Air matanya jatuh, hati penuh haru melihat senyum dua orang bayi berbeda jenis kelamin dengan wajah yang hampir serupa.
"M-m-mereka ... c-cucuku?" Suara tuan Arya tercekat, perlahan wajahnya mendongak menatap Cempaka.
__ADS_1
"Benar, Ayah. Aku melahirkan anak kembar, satu perempuan dan satu laki-laki. Zia dan Zio. Semalam, Ayah hanya melihat bayi Zia karena Zio berada di kamar lain." Cempaka menjelaskan kenapa semalam ia hanya melihat satu orang bayi saja.
Tuan Arya terisak, kembali menjatuhkan pandangan pada dua orang bayi yang bermain dengan jemarinya. Mereka serupa, benar-benar serupa. Perpaduan wajah Cempaka dan juga Caesar, jelas terlihat di sana.
"Oh, cucuku! Ya Tuhan! Aku memiliki dua orang cucu sekaligus," ucapnya bergetar.
Di rabanya wajah mereka, tak henti-henti hatinya bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan.
"Apa Caesar tahu kau melahirkan bayi kembar?" tanya tuan Arya menatap wajah Cempaka.
Wanita itu diam untuk beberapa saat sampai akhirnya menggelengkan kepala.
"Aku tidak ingin dia mengetahuinya. Sebagaimana Ayah tahu dia tidak pernah datang untuk menjengukku. Aku hanya ingin dia mengajak anakku berbicara saat di dalam rahim, tapi semua tak sesuai seperti janji yang dia ucapkan ketika mengantarku ke rumah itu. Jadi, izinkan aku untuk egois. Dia bahkan tidak pernah melihat wajah keduanya dan aku tidak ingin dia mengetahui tentang mereka," ungkap Cempaka.
Bukanlah sebuah permintaan, tapi penegasan yang harus dilaksanakan tanpa ada penawaran. Jika bisa, untuk selamanya dia tidak ingin Caesar mengetahui tentang mereka. Biarlah dia bahagia dengan anak yang diurusnya saat ini.
"Jika begitu, kita sembunyikan mereka darinya. Jangan sampai telinga anak itu mendengar tentang mereka. Kenapa rasanya aku jengah dengan kebodohan anak itu. Dia terlalu tunduk kepada Eva sehingga tidak dapat membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak perlu."
Tuan Arya terlihat geram, rupanya seperti itulah sifat Caesar. Dia dikendalikan oleh Eva sehingga tak dapat berpikir dengan jernih. Ditambah sekarang ada seorang bayi di antara mereka.
"Terima kasih, Ayah." Cempaka tersenyum mendengar sahutan dari ayah mertuanya itu.
"Ya, lagipula mereka juga memiliki anak. Jadi, untuk apa menceritakan tentang si Kembar ini. Kakek yang akan membantumu merawatnya dan membiayai semua keperluan mereka." Tuan Arya menambahkan, seraya mengambil bayi Zio dari kereta dan menggendongnya.
Racauan si Kecil juga tawa khas bayinya membuat hati tuan Arya dipenuhi rasa bahagia.
"Hati-hati, Ayah. Dia sangat aktif." Cempaka memperingatkan tuan Arya ketika bayi itu menggeliat di pangkuannya.
"Dia benar-benar luar biasa. Aku sangat beruntung di usiaku yang sudah tua ini, masih dapat melihat mereka. Ah ... kita main, ya. Main sama Kakek."
__ADS_1
Kebahagiaan jelas terpancar di wajah keriput itu. Tuan Arya mengajak bayi Zio belajar melangkah di atas pasir diikuti Cempaka yang memegang bayi Zia. Mereka terlihat berbahagia, senyum tipis menyembul di bibir Gilang.
Dia melihat kebahagiaan di wajah Cempaka. Tuan Arya memperlakukannya dengan sangat baik seperti anak sendiri. Ia berinisiatif menggelar sebuah tikar yang dibawa Cempaka di bawah kereta si Kembar.
"Ekhem!" Suara deheman sekretaris tuan Arya mengalihkan pandangan Gilang dari wanita yang asik bermain dengan anaknya.
"Tuan!" Gilang menganggukkan kepala sopan, rasa malu muncul karena kedapatan mencuri pandang pada Cempaka.
"Kau menyukainya?" tanya laki-laki itu seraya berdiri di sisi Gilang.
Pemuda tersebut menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Saya mana berani, Tuan. Nona sudah seperti saudara saya sendiri. Mana mungkin saya lancang menyukainya," jawab Gilang meski tak sejalan dengan hati serta pikirannya.
Sekretaris tuan Arya manggut-manggut, tapi tak percaya. Ia mencibirkan bibir mengejek sifat pengecut dalam diri Gilang.
"Berapa banyak orang yang menyesal di kemudian hari karena tak mengikuti kata hatinya! Berapa banyak orang yang merutuki kebodohan untuk seumur hidup karena mengabaikan apa yang terdetik di hatinya. Semoga itu bukan kau, Nak." Ia menepuk bahu Gilang, sedikit meremasnya untuk meyakinkan hati sang pemuda.
Gilang semakin menunduk, tak ia pungkiri jauh di relung jiwa mengagumi sosok Cempaka. Selain karena dia sederhana dan tangguh, Gilang juga tahu perjalanan hidupnya yang penuh dengan derita.
Terbesit di dalam hati, rasa ingin melindungi senyumannya. Menjaganya dari segala penderitaan yang dihadirkan dunia dalam hidupnya. Entahlah, apakah dia sanggup?
"Menurut Anda, apakah aku pantas untuknya? Aku bukanlah siapa-siapa, dan aku bekerja padanya. Apakah lelaki biasa sepertiku ini memang pantas bersanding dengan wanita luar biasa itu?" Gilang menoleh, ada ketegasan di kedua maniknya.
Sekretaris tuan Arya terkekeh, ikut menoleh dan menggeleng.
"Rasanya aku tidak perlu menjawab itu karena hanya kepercayaan dirimu yang mampu menjawabnya. Tanyakan saja pada dirimu sendiri pertanyaan yang tadi. Maka kau akan mendapat jawabannya." Sekali lagi ia menepuk bahu Gilang sebelum meninggalkannya sendiri.
Menyisakan pemuda Lucy yang terdiam dalam bingung.
__ADS_1