
Beberapa bulan telah berlalu, kehamilan Cempaka hampir mencapai puncaknya. Dia hidup bahagia bersama tuan Arya yang memperhatikan juga Lucy yang tak pernah meninggalkan.
Sementara di rumah Caesar, Eva mengadakan pesta besar-besaran menyambut kehadiran si jabang bayi. Tuan Arya turut hadir di sana, datang seorang diri demi menghargai sang anak.
"Ayah!" Caesar berlari menghampiri ayahnya.
"Selamat atas kehamilan Eva. Ayah turut senang akhirnya kalian akan memiliki anak," ucap tuan Arya.
"Terima kasih, Ayah. Ini semua juga berkat doa Ayah." Eva mengusap perutnya yang besar. Palsu.
"Di mana selama ini Ayah tinggal?" tanya Caesar.
Tuan Arya menghela napas, teringat kehidupannya sekarang yang tinggal bersama Cempaka. Wajahnya pun terlihat lebih bugar tak seperti saat tinggal bersama keluarganya sendiri.
"Ayah hanya ingin menenangkan diri, tidak tinggal di mana-mana. Hanya mengunjungi tempat di mana ibumu sering mendatanginya," kilah tuan Arya sambil tersenyum.
Di kejauhan seorang pemuda menatap aneh pada sosok tua itu. Ia menghampiri ibunya membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu membelalak.
"Apa Ibu lihat? Dia terlihat sehat. Ibu masih rutin mengirimkan obat-obatan itu, bukan?" bisiknya pada sang ibu yang tak lain adalah Lisa.
Wanita itu menoleh, menelisik tuan Arya yang semakin terlihat bugar.
"Kau benar. Kurang ajar! Mungkin dia tidak meminum obatnya, begini jika tinggal berjauhan. Rencana kita bisa gagal." Lisa turut berbisik, wajahnya memerah tak senang.
"Tapi Ibu harus berpura-pura agar dia tidak curiga."
"Kau benar. Ibu akan menyambutnya." Dengan enggan dan terpaksa, Lisa mendatangi tuan Arya, dia tersenyum sumringah, seolah-olah senang bertemu dengannya.
"Sayang!" Lisa memeluk tuan Arya tanpa segan, memeriksa tubuh tua itu seolah-olah mencemaskan keadaannya.
"Apa kau baik-baik saja? Aku sering mendatangi rumah ini, tapi tak pernah melihatmu. Ke mana saja kau pergi? Dan bagaimana kehidupanmu selama tinggal jauh dari kami?" cecar Lisa berakting menunjukkan kepeduliannya.
__ADS_1
Tuan Arya tersenyum, tetap bersikap romantis pada wanita itu.
"Aku baik-baik saja. Kau tenang saja, aku hidup dengan baik selama ini. Hanya saja aku ingin menyendiri terlebih dahulu, menjauh dari kehidupan yang membuatku pusing," jawab tuan Arya sambil tersenyum.
"Syukurlah jika begitu. Aku senang mendengarnya. Apakah setelah ini kau akan pergi lagi? Akan meninggalkan kami lagi?" tanya Lisa sambil meraba dada laki-laki tua itu.
Tuan Arya menghela napas, menatap Eva yang perutnya telah membuncit.
"Sepertinya tidak, aku ingin tetap di sini menyaksikan cucu pertamaku lahir. Aku tidak mungkin meninggalkan momen bahagia ini. Bukan begitu, anakku?" Tuan Arya tersenyum pada pasangan tersebut.
Eva dan Caesar terlihat gugup, tapi kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala membenarkan.
"Tentu saja. Ini adalah cucu pertama Ayah, aku juga ingin Ayah menyaksikan kelahirannya. Jadi, kuharap ayah tidak pergi ke manapun," sahut Caesar yang sedikit bertentangan dengan hatinya.
Eva menundukkan kepala saat pandangan tuan Arya begitu tajam menelisik. Seolah-olah tahu tentang kebohongan yang sedang mereka lakoni.
"Syukurlah jika begitu. Rasanya tak sabar aku ingin segera melihatnya terlahir ke dunia ini. Sudah lama sekali aku menantikan seorang cucu. Rumah ini tidak akan pernah sepi lagi, tangisan bayi akan mengisi siang dan malamnya." Tuan Arya tersenyum lagi, merindukan keadaan itu.
Pesta berlangsung meriah, ada banyak tamu yang datang mengucapkan selamat kepada pasangan tersebut. Sanak saudara, kerabat jauh dan dekat, semuanya berkumpul dalam momen bahagia itu. Ada banyak tumpukan hadiah yang Eva terima.
Pesta itu diadakan hingga malam hari, tuan Arya memutuskan untuk kembali ke rumah itu. Lisa juga ikut menginap memastikan suaminya meminum obat yang dia berikan. Entah obat apa, tapi selama ini tuan Arya sudah meminumnya.
"Sayang. Apa kau masih rutin mengkonsumsi obat yang aku berikan?" tanya Lisa ikut duduk di sofa di sebelah tuan Arya.
"Tentu saja. Jika aku tidak meminumnya, tak akan aku sehat seperti sekarang ini. Kau lihat, aku bahkan bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi," jawab tuan Arya sambil tersenyum lebar dan menunjukkan keadaan dirinya yang jauh lebih baik.
Lisa tersenyum, menjatuhkan kepala di bahu laki-laki itu. Ia mendengus saat tuan Arya tidak memperhatikan.
"Yah. Aku senang mendengarnya. Kau harus rutin mengkonsumsi itu agar kesehatanmu semakin pulih dan tetap terjaga." Ia mengusap lengan suaminya.
Tuan Arya melirik tajam, tapi hanya diam membiarkan wanita itu bergelayut di lengannya.
__ADS_1
"Sudah larut, sebaiknya kau segera beristirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan kulitmu." Tuan Arya mengingatkan Lisa, wanita itu paling takut kulitnya rusak.
Ia berjengit, menjauh dari bahu suaminya.
"Kau sendiri bagaimana?" tanyanya manja.
"Aku masih ingin di sini, jika mengantuk aku akan menyusulmu ke kamar. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Caesar, itupun jika dia kembali turun ke bawah sini." Tuan Arya tersenyum saat Lisa menatapnya.
"Jangan terlalu larut, aku menunggumu di kamar." Ia beranjak, tak lupa mengecup pipi suaminya sebelum meninggalkan laki-laki itu sendiri di ruang keluarga.
Tuan Arya menunggu, entah apa yang sebenarnya dia tunggu. Hanya alasan saja karena tak ingin berlama-lama mengobrol dengan istrinya. Beberapa saat menunggu, tuan Arya mendengar suara ketukan langkah menuruni anak tangga.
Keadaan rumah yang gelap, menyembunyikan keberadaannya. Ia melihat Caesar dan Yudi berbincang di bawah tangga. Penasaran, tuan Arya diam-diam mendekat agar dapat lebih jelas mendengarnya.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkan kabar tentang Cempaka?" tanya Caesar kepada kepala pelayannya itu.
"Ya, Tuan. Menurut tuan Arjuna dalam waktu dua bulan ke depan nona akan melahirkan." Yudi menjawab sesuai yang dikabarkan Arjuna.
"Ya, bagus jika begitu. Lalu, bagaimana keadaannya?" Caesar bertanya lagi.
"Beliau baik-baik saja. Mmm ... Tuan, kenapa Anda tidak mendatangi nona saja? Bukankah nona dan bayinya lebih membutuhkan perhatian Anda? Kehadiran Anda di sisinya, mungkin saja sangat berguna," saran Yudi karena menurutnya Eva sama sekali tidak membutuhkan Caesar dan yang membutuhkan adalah Cempaka.
"Waktunya sudah sebentar, lagi. Ayah juga ada di sini ... yang terpenting terus beri kabar kepadaku tentang perkembangannya." Caesar tak mampu menjawab saran Yudi.
Ia menepuk bahu laki-laki itu, menyembunyikan keinginan hatinya.
"Beristirahatlah, ini sudah malam." Caesar menepuk bahu Yudi sebelum meninggalkannya ke teras depan.
Ia mencoba menghubungi Cempaka, tapi selama ini tak pernah diangkat wanita itu. Ponsel Cempaka sulit dihubungi. Caesar menghela napas, menatap rembulan yang malu-malu bersembunyi di balik awan.
Tuan Arya yang mendengar, menghela napas panjang. Tak seharusnya Caesar menikahi Cempaka, jika dia tak dapat memperhatikannya.
__ADS_1