
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Eva sembari merebahkan kepala di dada suaminya.
Ia merasa tak nyaman melihat laki-laki itu hanya diam tak berbicara. Caesar melingkarkan tangan di bahu Eva, tersenyum padanya seolah-olah berkata bahwa dia baik-baik saja.
"Tak ada apapun. Kau tak perlu risau," ucapnya sambil mengusap-usap lengan Eva menenangkannya.
Wanita itu kembali tenang meskipun ia tahu Caesar sedang memikirkan Cempaka. Jika dia tak dapat pergi menemuinya, maka Caesar pun tak akan pernah bisa pergi.
Mereka tiba di rumah, keluarga Eva mulai berdatangan ke rumah tersebut bergantian menjaganya yang sedang hamil. Caesar tak dapat meninggalkannya karena hanya akan menimbulkan kecurigaan pada semua anggota keluarga.
"Di mana ayah?" tanya Caesar kepada Yudi saat ia tak melihat sosok tua itu.
"Tuan pergi sebentar ke pemakaman. Beliau diantar sekretaris pribadinya, mungkin ada hal yang perlu mereka bahas, Tuan." Yudi membungkuk, ia sempat bertemu dengan sekretaris keluarga Arya sebelum kepergian sang ayah.
"Oh. Ya sudah. Ada kabar dari Cempaka? Aku ingin menjenguknya, tapi mereka tak mengizinkan aku pergi." Caesar melirik sekelompok orang di ruang tamu, keluarga Eva.
"Bukankah Anda bisa menanyakannya kepada tuan Arjuna?" ucap Yudi teringat pada supir Caesar yang selalu mengantar dan menjemput Cempaka untuk kontrol.
"Aku tak sabar menunggunya untuk esok. Sebenarnya aku tak perlu izin dari siapapun, tapi entah mengapa Eva selalu tahu jika aku akan pergi. Selalu saja ada halangan untukku pergi." Caesar menghela napas, kini ia tengah menanggung akibat dari kebohongannya.
"Yang sabar, Tuan. Semua akan ada waktunya, di mana Anda akan bisa bertemu dengan nona." Yudi merasa iba pada majikannya.
Setelah kepergian Cempaka, Caesar kembali murung. Senyumnya tak lagi terlihat, ia bahkan sering kedapatan termenung seorang diri.
****
Sore hari di rumah Cempaka, mobil Arjuna tiba di halaman membawa Cempaka kembali. Tak seperti biasanya, Arjuna langsung berpamitan pergi karena Caesar menghubunginya.
"Saya permisi, Nona. Jaga kesehatan Anda, jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak pikiran," ucap Arjuna membungkuk sopan.
"Kau tidak singgah dulu? Kenapa terburu-buru?" Dahi Cempaka mengernyit dalam, merasa heran dengan sikap Arjuna.
"Tidak kali ini, Nona. Tuan menghubungi saya dan meminta saya untuk segera menemuinya," jawab Arjuna seraya berbalik dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Cempaka tak terlalu menanggapi, ia masuk ke dalam rumah bersama Lucy, menutup pintu dan menguncinya. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata memindai dari balik sebuah dinding.
"Kau pergilah! Aku ingin menemuinya," titah salah seorang dari mereka tanpa ingin dibantah.
"Lalu, bagaimana Anda kembali, Tuan?" tanya sang sekretaris kepada tuan Arya.
"Aku tidak ingin kembali hari ini, aku ingin tinggal di sini beberapa hari lagi. Kau bisa kembali saat aku hubungi," titah tuan Arya seraya berdiri tegak sebelum berjalan mendekati rumah Cempaka.
Mata tua itu awas memindai, dia tahu ada orang-orang Caesar di sekitar rumah itu yang berjaga dan akan melaporkan apa saja kepada tuan mereka.
"Keluarlah! Aku tahu kalian ada di sini," perintah tuan Arya dengan penuh penekanan.
Sekelompok orang berdatangan menghadap laki-laki tua itu. Dipindainya wajah mereka satu per satu, sebelum memberikan ultimatum kerasnya.
"Kau sudah memastikan wajah-wajah di depanku ini?" ucap tuan Arya membuat mereka kebingungan.
"Sudah, Tuan. Anda bisa melanjutkan, saya sudah menyimpan wajah mereka semua dan memiliki datanya," sahut sebuah suara tanpa wujud semakin menambah kebingungan dalam diri mereka.
"Aku harap dari kalian tak ada satupun yang melaporkan kedatanganku ke sini kepada Caesar dan istrinya, ataupun yang lainnya. Siapapun. Jika itu sampai terjadi, bukan hanya nasib kalian yang akan berakhir, tapi juga keluarga kalian. Apa kalian mengerti!" Pelan, tapi penuh penekanan. Ancaman yang diucapkan tuan Arya bukanlah hisapan jempol semata.
Mereka tahu, di dalam senyum itu tersenyum kekejaman seorang Arya. Yang apabila berani mengusik ketenangan keluarganya maka, bersiap menanggung akibatnya.
"Mengerti, Tuan!" sahut mereka serentak.
"Pergilah! Kembali ke tempat kalian, mulai sekarang kalian bekerja untukku. Menjaga menantuku di sini!" Tuan Arya mengibaskan tangan mengusir mereka.
Kelompok itu membungkuk sebelum membubarkan diri kembali ke tempat mereka bersembunyi. Tuan Arya menghela napas, gerbang itu masih tertutup.
Ia melangkah dengan membawa senyuman, penyelidikannya selama tinggal di rumah Caesar tidaklah sia-sia. Gerbang dibukanya, semakin lebar bibirnya tersenyum. Kaki tua itu melangkah pasti, hati berbunga bahagia saat mendapatkan kabar tentang siapa Cempaka.
Tuan muda menikahinya sekitar dua bulan yang lalu, tapi merahasiakan pernikahan itu dari semua orang. Tujuannya untuk memancing seorang anak.
Begitu laporan yang diterimanya dari seorang utusan yang handal dan dapat dipercaya. Tuan Arya juga menyelidiki tentang siapa Cempaka dan seperti kehidupan keluarganya.
__ADS_1
Tok-tok-tok!
Ia menghela napas menunggu pintu dibuka sang empu.
"Saya akan melihatnya, Nona." Lucy beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu utama. Biasanya seorang utusan Caesar akan secara rutin mengirimkan kebutuhan rumah tangga mereka.
"Ya!" Lucy membuka pintu, tercengang melihat siapa yang datang. "Tu-tuan?"
Mendengar itu, Cempaka menoleh panik. Ia pikir Caesar yang datang, gelisah segera saja melanda hatinya. Apa yang harus dia katakan bila laki-laki itu bertanya perihal kondisi perutnya.
"Lu-lucy?" Cempaka memanggil gugup.
Lucy masih mematung di dekat pintu, dari tempatnya duduk ia hanya melihat samping tubuh wanita itu. Tak lama, Lucy bergeser memberikan jalan pada seseorang yang datang.
"Di mana dia?" tanya tuan Arya sambil tersenyum ramah.
"No-nona ada di dalam, Tuan." Lucy tak berani mengangkat wajahnya, ia membiarkan tuan Arya masuk dan segera menutup pintu tersebut. Menguncinya agar tak ada siapapun jua yang masuk.
Tuan Arya tersenyum melihat punggung Cempaka yang tampak gelisah. Ia menggigit kuku sendiri, terlihat sekali kegugupannya. Tuan Arya melangkah ke hadapan Cempaka, bahkan tongkat sebagai pegangannya tak terdengar di telinga wanita hamil itu.
Mulut Cempaka terbuka, matanya menjegil manakala melihat ujung tongkat yang menapak pada lantai. Perlahan, ia mengangkat wajah, memastikan mata tak salah melihat.
"Tu-tuan!" Cempaka terhenyak. Ingin bangkit, tapi tak bertenaga tiba-tiba.
"Duduk saja." Tuan Arya menjatuhkan bokong di sofa hadapan Cempaka. Bibirnya terus tersenyum dengan tangan yang diletakkan di atas ujung tongkat.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya tuan Arya, tetap ramah seperti saat mereka pertama kali berbincang. "Kenapa pergi tidak berpamitan kepadaku? Aku mencarimu untuk sekedar berbincang, tapi kau tak ada. Ternyata aku pindah ke sini," lanjut tuan Arya sambil mengangkat wajah menatap langit-langit rumah.
"Sa-saya baik, Tuan." Cempaka menundukkan wajah.
Pandangan tuan Arya ikut turun menatap perutnya yang membesar.
"Panggil aku ayah!"
__ADS_1