(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 7


__ADS_3

Di sebuah kamar apartemen, seorang pemuda tengah berbaring menatap langit-langit yang tampak suram sejak kedatangannya. Tak ada warna, apalagi suara nyanyian yang merayu. Hanya suara hati yang kerap menamai kesunyiannya.


Ia tersenyum, mengingat gadis yang dikenalnya siang tadi. Pertemuan tanpa sengaja di toko obat, membuatnya selalu terbayang pada paras yang sederhana itu. Tanpa senyum, dan terlihat banyak masalah.


"Ternyata namamu Cempaka. Sayang, kau istri tuanku. Seandainya bukan, maka aku yang akan menikahimu. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sayang hanya sebelah tangan." Ia berdecak, biarlah mencintai dalam diam. Mengagumi tanpa harus mengutarakan, yang penting setiap hari dia akan selalu melihat senyum di wajah sederhana itu.


Arjuna mendekap guling, bergulir ke samping sambil membayangkan Cempaka yang berada dalam dekapan. Bibirnya tersenyum, matanya ikut terpejam. Biarlah dia memeluk gadis itu hanya dalam angan dan mimpi. Membayangkan senyum serta kehangatan sikapnya, dia semakin dimabuk cinta.


Di tempat lain, Baron dengan asik tertawa di meja judi. Pundi-pundi rupiah yang didapatkannya dari Eva, memuaskan hati laki-laki itu dalam menjalankan hobinya. Yaitu, bermain di meja judi serta menenggak minuman keras.


"Ayo, pasang! Malam ini aku yakin pasti menang!" ucap Baron seraya menenggak minuman di botol.


"Kudengar, Baron menjual anaknya pada orang kaya." Seseorang menepuk bahu Baron membuatnya tak senang.


Dia yang hilang setengah kesadarannya karena mabuk, lantas marah dan membanting botol di tangan hingga terberai. Telunjuknya terangkat, menuding laki-laki yang tadi berbicara. Mencengkeram kuat kerah bajunya, menyudutkan tubuh yang lebih kecil itu.


"Jaga mulutmu! Atau aku robek hingga kau tak lagi dapat bicara. Aku tidak menjualnya, aku hanya ingin menolong mereka yang ingin memiliki anak. Mereka memelas, memohon kepadaku agar dapat menikahi Cempaka. Jangan asal kau bicara!" bentak Baron, kedua matanya menyalang tajam dan merah menyala.


Jelas dia marah, bagaimanapun Cempaka adalah anaknya. Kabar seorang ayah yang menjual anak gadisnya pada orang kaya terdengar sangat kejam di telinga Baron, dan dia tentu saja tidak bisa menerima meski mengakui di dalam hati. Ia telah menandatangani surat kontrak jual-beli rahim Cempaka.


"Wow! Santai! Aku tidak tahu soal itu. Kabar yang kudengar seperti itu, tapi setelah mendengarnya langsung darimu ... aku minta maaf," ucapnya mengalah demi meredam amarah Baron.


Tangan laki-laki bengis itu turun dengan kasar, meraup uang di atas meja yang sempat ia letakkan untuk bermain judi dan pergi meninggalkan kegiatan haram itu. Semata-mata karena terlanjur kesal dan emosi sehingga mood untuk bermainnya hilang.


"Hei, Baron! Jangan marah. Kita lanjutkan bermainnya, tanggung," sergah seorang teman mengejar langkah Baron.


Namun, laki-laki itu tidak peduli sama sekali, terus berjalan semakin jauh dan hilang di kegelapan. Sedikit rasa sesal terbersit di hati bila mengingat semua anak-anaknya. Baron berbelok menuju sebuah lahan kosong di dekat rumahnya. Lahan yang terdapat dua buah gundukan tanah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi kedua anak kembarnya.


Ia berdiri di antara mereka, memandang dengan sedih. Sungguh, ia pun tak ingin semua itu terjadi. Namun, apa hendak dikata? Keadaan yang memaksanya melakukan tindakan kejam itu.


Tak ada yang dilakukan Baron, hanya terus berdiri memandang kedua gundukan itu. Selanjutnya, pergi dan kembali ke rumah yang kini sunyi dari suara-suara celoteh ketiganya.


****

__ADS_1


Di rumah besar itu, Cempaka masih terlelap. Letih yang ia rasakan, membuatnya tidur tanpa tahu waktu. Ia melenguh, membuka mata dan beranjak duduk sambil membentang kedua tangan.


"Nyaman sekali tidur di sini. Rasanya seperti mimpi bisa tidur di tempat nyaman seperti ini." Ia tersenyum, mengusap selimut yang terasa lembut dan halus.


Cempaka beranjak turun, dikejutkan oleh hal lain. Ia tertegun, melihat makanan sudah tersedia di atas nakas. Hati-hati Cempaka membuka tudung saji, dan berbinar melihat menu yang disuguhkan. Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, dan perut sudah pun keroncongan, Cempaka melahap makanan tersebut dengan rakus.


"Apa seperti itu cara makanmu! Kau bahkan tidak membersihkan dirimu terlebih dahulu sebelum menyentuh makanan. Menjijikkan!" hardik suara Caesar begitu menyengat hati Cempaka.


Uhuk-uhuk!


Ia tersedak, memukul-mukul dadanya yang tiba-tiba menyempit. Caesar berdecak kesal, kemudian berbalik dan pergi. Cempaka menatap tajam punggung itu, tapi rasa perih mengalihkan semua emosinya.


Sial! Karena dia yang berbicara tiba-tiba, aku tersedak. Perih.


****


Suara percikan air di dalam kamar mandi membentuk senyuman di bibir laki-laki yang tengah duduk menunggu di tepi ranjang. Berkali-kali matanya melirik kamar mandi, tak sabar menunggu wanita di dalam sana.


Ia berdecak, lantas berdiri dan menghampiri pintu kamar mandi. Mengetuknya dengan pelan, meminta untuk diizinkan masuk.


"Masuk, sayang. Aku masih lama," sahutan dari dalam membentuk senyuman di bibir laki-laki itu. Ia segera membuka pintu sembari menanggalkan satu per satu pakaiannya.


Tangan gemulai itu memanggilnya, berkedip mata merayu. Tersenyum sang lelaki, bahkan tak malu untuk tidak berbusana di depannya. Mereka saling memeluk, memagut, dan menorehkan sentuhan yang membangkitkan sang renjana.


"Sayang, bukankah seharusnya kau mulai tidur dengannya? Supaya kita bisa segera mendapatkan anak," ucap Eva tak mengendurkan dekapan.


Sesungguhnya dia tak rela, tapi demi diakui sebagai menantu di rumah Arya, dia harus merelakan Caesar tidur dengan wanita lain.


"Tak ada yang membuatku berselera selain dirimu, sayang. Mungkin nanti, disaat kau telah memuaskanku. Aku akan pergi menemuinya hanya untuk menabur benih. Sekarang, biarkan aku menikmati istriku," lirih Caesar dengan suara yang parau.


Ia menyesap kulit pundaknya, membuat Eva merintih dan meringis kenikmatan. Caesar memboyong tubuh sang istri melanjutkan permainan di atas tempat tidur.


Di kamarnya, Cempaka menatap kesal nasi di piring. Selera makannya lenyap begitu saja sejak laki-laki itu membentaknya. Tak lagi berselera, ia beranjak sambil membawa piring tersebut menuju dapur.

__ADS_1


Namun, langkah yang terkesan buru-buru itu, seketika terhenti oleh bunyi-bunyian aneh yang tertangkap telinganya. Penasaran, Cempaka mengendap mendekati kamar utama. Menempelkan telinga demi dapat mendengar lebih jelas suara dua orang yang tengah kepayahan.


"Apa yang mereka lakukan? Apa boleh aku mengintipnya?" Ia berbisik pada diri sendiri, memberanikan diri mengintip dari lubang kunci. Meski samar, apa yang dilihatnya berhasil membuat jantung Cempaka berguncang.


Kaki dan tangannya gemetar, menjauhkan diri dengan segera. Peluh sebesar-besar biji jagung bermunculan, merembes sampai membasahi kemeja yang dikenakannya.


"Nona! Apa yang Anda lakukan di sana?" tegur Yudi, mengalihkan kepala Cempaka dari pintu pada sosoknya.


Bibirnya berkedut, tapi tak mampu berkata-kata. Yudi menghela napas, melangkah mendekati gadis itu. Membantunya untuk berjalan meninggalkan lorong utama yang tak bisa didatangi sembarang orang.


"Lupakan apa yang Anda lihat juga apa yang Anda dengar. Konsekuensi dari menggosipkan seisi rumah sangatlah besar. Mari! Biar saya yang bawakan piringnya. Sebaiknya, Anda lekas membersihkan diri karena tuan tidak menyukai sesuatu yang tidak bersih," ucap Yudi sembari mengambil piring di tangan Cempaka.


Laki-laki itu pergi menuruni anak tangga mengantarkan piring bekas makan Cempaka ke dapur. Sementara gadis itu, masih termangu bila mengingat apa yang dilihatnya tadi.


Apa yang mereka lakukan tadi? Berciuman? Apa mungkin sebrutal itu? Oh, Tuhan! Aku tak sanggup membayangkannya.


Hatinya bergumam ngeri, bergidik takut. Ia berbalik dan membawa dirinya kembali ke kamar. Menyandarkan punggung pada daun pintu, sembari menarik napas panjang-panjang.


Teringat pada ucapan Yudi tentang ketidaksukaan Caesar, Cempaka menciumi tubuhnya sendiri. Sedikit bau asam menyeruak dari balik ketiak. Ia meringis, sudah pasti tak ada yang tahan dekat dengannya.


Cempaka terburu-buru masuk ke kamar mandi, menanggalkan pakaiannya dan berendam di dalam bathub dengan taburan busa yang menghanyutkan. Ia terlena, berendam lebih lama tidak masalah baginya. Tak ada siapapun juga yang menunggu.


"Segar, dan membuatku merasa nyaman. Otot-otot dan sendi-sendi terasa mengendur." Ia bergumam terus terpejam menikmati hangatnya air yang menyentuh kulit.


Cukup lama Cempaka berada di dalam kamar mandi, membuat jengah laki-laki yang masuk ke kamarnya beberapa detik lalu. Suara air tak lagi terdengar, Cempaka melilitkan handuk ke kepala juga tubuhnya.


Kulit yang semula kusam dan berdebu, kini terlihat lebih bersih. Begitu pula wajahnya yang kuyu, tampak lebih segar alami. Kecantikan sederhana tanpa polesan make-up atau sejenisnya.


"Hhmm ... coba nggak ada jerawat, pasti bagus mukamu, Campaka," gumamnya pada bayangan di dalam cermin.


Ia berbalik dan keluar kamar mandi tanpa memperhatikan keadaan kamar. Terus berjalan melewati laki-laki yang menatapnya liar.


"Apa selama itu kau mandi!"

__ADS_1


"Tu-tuan!"


__ADS_2