
Caesar tiba di apartemen Arjuna, ia dipertemukan dengan asisten rumah tangga yang selama ini mengurus keperluan sang pemilik.
"Selamat datang, Tuan!" sambut wanita hampir tua dengan membungkuk sopan setelah mendengar pintu terbuka dan cepat-cepat menghampiri.
Wanita itu mendongak, menatap heran saat sang tuan tak kembali sendiri. Seolah-olah bertanya lewat sorotan mata, Arjuna mendekat untuk memberitahu siapa yang datang bersamanya.
"Ini Tuan Caesar, atasanku. Untuk beberapa hari ke depan, beliau akan tinggal di sini. Tolong, perlakuan beliau seperti Ibu memperlakukan aku," ucap Arjuna sambil menepuk lengan wanita hampir sepuh itu.
Mendengar nama besar keturunan keluarga Arya, wanita itu tertegun cukup lama. Bulir bening mengendap di kedua sudut matanya, hati bergetar bergelora. Sungguh tak menduga, dia akan bertemu langsung dengan orang besar tersebut.
Caesar tersenyum, mengulurkan tangan hendak berjabat. Mata tua itu memindai tangan tersebut, kemudian kembali mendongak menatap wajah Caesar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tunggu sebentar!" katanya, seraya berbalik ke dapur untuk melakukan sesuatu.
Caesar menatap bingung kepada Arjuna, sedangkan pemuda itu hanya menghendikan bahu tak tahu. Berselang, wanita itu datang kembali dengan senyum sumringah.
"Saya sudah mencuci tangan saya dengan bersih, Tuan. Saya tidak ingin mengotori tangan Anda." Ia meraih tangan Caesar dan menjabatnya.
"Saya Rina, panggil saja begitu!" ucapnya lagi salah tingkah, jabat tangan mereka terlepas tatkala mata tua Rina menangkap sesosok makhluk kecil di gendongan Caesar.
"Dia Tuan Muda Evan, anak Tuan. Apa Ibu tidak keberatan mengasuhnya selama Tuan pergi bekerja?" ucap Arjuna menjawab pertanyaan sang asisten rumah tangga yang tak terucap.
Wanita itu menoleh, genangan air yang ditahannya jatuh perlahan. Sebuah kehormatan dapat mengasuh seorang keturunan dari keluarga Arya.
"A-apa Tuan percaya pada saya? Sa-saya hanya seorang wanita tua yang miskin. A-apa tidak apa-apa menyentuh Tuan Muda? Bahkan, mengasuhnya?" tanya wanita itu terbata dan lirih.
Tidak semua orang seberuntung dirinya, dapat bertemu dan berjabat tangan dengan anggota keluarga Arya. Bahkan, mengasuh keturunannya.
Caesar mendekat, bibirnya tersenyum ramah. Dari mata berkabut itu, dia melihat ketulusan. Itulah kenapa Arjuna begitu mempercayainya.
__ADS_1
"Aku percayakan pengasuhan Evan kepadamu, Ibu. Hanya selama aku pergi bekerja, dan setelah aku pulang kau bebas. Tenang saja, bayaranmu akan aku lipat gandakan," ucap Caesar dengan pasti.
Wanita yang masih dalam keadaan syok itu, menoleh perlahan kepada Caesar. Bukan karena ingin bayarannya ditambah sebab gaji yang diberikan Arjuna pun sudah sangat besar dengan pekerjaan yang sangat ringan. Dia hanya tak menduga diberi kepercayaan untuk mengasuh bayi tersebut.
"Bu-bukan begitu, Tuan? Sa-saya hanya tidak percaya Anda menyerahkan asuhan Tuan Muda kepada saya. Sa-saya terharu, Tuan. Ini sebuah kehormatan bagi saya sebagai rakyat kecil," ucapnya disusul isak tangis yang menyeruak.
Arjuna dan Caesar saling menatap satu sama lain, anggukan kepala sang tuan menandakan persetujuannya terhadap wanita itu.
"Sudahlah, Ibu. Sekarang, lebih baik Ibu siapkan kamar untuk Tuan karena kami akan kembali ke kantor," ucap Arjuna sambil mengusap-usap bahu wanita tersebut.
Ia mengangguk tanpa menyahut, masih dalam keadaan menangis wanita itu pergi meninggalkan mereka untuk menyiapkan sebuah kamar istimewa.
"Dari mana kau mendapatkan wanita itu? Dia tidak seperti mereka kebanyakan," tanya Caesar sambil mendaratkan bokong di sofa.
"Entahlah, Tuan. Saya menemukannya saat dia sedang menangis di pinggir jalan karena tak memiliki biaya untuk pengobatan anaknya. Dari sanalah saya membawanya bekerja di sini," jawab Arjuna ikut duduk di hadapan Caesar.
"Syukurlah. Semoga saja Evan betah berada di tangannya karena selama ini dia tidak pernah jauh dari pengasuhnya itu." Caesar menimang anaknya, bermain dengan Evan.
"Tuan, kamarnya sudah saya siapkan. Perlu saya siapkan makan siang?" Wanita itu terlihat lebih antusias.
Air matanya telah berganti dengan senyuman, terus melirik bayi Evan yang asik bermain dengan mainannya.
"Mari, Tuan. Kita lihat kamarnya!" ajak Arjuna mempersilahkan Caesar untuk berjalan lebih dulu melihat keadaan kamar yang akan ditempatinya.
"Baiklah, terima kasih." Caesar tersenyum kepada wanita itu, ia berdiri dan tanpa terduga menyerahkan Evan kepadanya.
Kedua mata wanita itu membelalak terkejut, sebelum akhirnya meraih tubuh mungil Evan meski ragu.
"Tolong jaga untukku!" ucap Caesar seperti sebuah perintah yang mengandung ancaman.
__ADS_1
"Ba-baik, Tu-tuan!" Tubuhnya lemas seketika, ia ambruk bersama bayi Evan di pangkuan setelah Caesar dan Arjuna pergi.
Keduanya melihat kamar yang disiapkan Rina, kamar yang sama luasnya seperti kamar utama milik Arjuna. Pemuda itu memang sengaja membuat dua kamar utama untuk berjaga-jaga.
"Ini terlihat seperti kamar utama. Apa ini kamarmu?" tanya Caesar sembari melirik Arjuna.
"Tidak, Tuan. Ini kamar Anda, kamar saya di sebelah." Arjuna tertawa, hatinya bergelora karena mulai hari itu dia akan memiliki teman saat malam datang menjelang.
"Benarkah?" Caesar tak percaya, segera keluar untuk melihat kamar Arjuna.
Tanpa meminta izin sang empu, Caesar membuka pintu kamar tersebut. Nampaklah sebuah kamar yang tak jauh beda dengan kamar yang disiapkan untuknya. Ia melirik Arjuna curiga, sedangkan pemuda itu mengusap tengkuk salah tingkah.
Caesar menutup pintu itu kembali, berbalik sambil melipat kedua tangan di perut, menatap tajam Arjuna. Yang ditatap, semakin salah tingkah menggigit bibirnya.
"Saya hanya berharap suatu hari Tuan akan datang dan menginap di sini. Untuk itu, saya menyiapkan kamar ini khusus jika Tuan datang. Sekarang, semuanya terlaksana. Kamar ini telah didatangi oleh pemiliknya," jawab Arjuna untuk tatapan mata tajam sang tuan.
Ia memberanikan diri untuk mendongak, menatap wajah Caesar yang perlahan mengendur dan tatapan tajamnya berganti teduh nan bersahabat. Untuk seumur hidupnya, Caesar merasa memiliki seorang sahabat sekaligus saudara.
Caesar mendekat, tanpa diduga Arjuna, ia memeluknya. Caesar menepuk-nepuk punggung Arjuna, selama ini hanya dia yang memang selalu memperhatikan dirinya.
"Terima kasih. Aku baru menyadari kau adalah orang yang begitu tulus selama berada di sampingku. Maaf karena aku terlambat menyadari," ucap Caesar lirih.
Arjuna terenyuh, perlahan mengangkat tangan membalas pelukan Caesar. Bibirnya tersenyum haru, dia yang selama hidup sebatang kara, selalu berhayal memiliki keluarga. Caesar, adalah orang pertama yang dianggapnya saudara sebelum ibu asisten.
"Tidak masalah, Tuan. Saya senang Anda berkenan tinggal di sini," jawab Arjuna lirih pula.
Caesar melepas pelukan, tersenyum sambil menepuk bahu sang asisten. Keduanya kembali ke tempat Evan dan ibu. Tertegun melihat wanita itu yang tengah menyuapi Evan dengan bubur tim.
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1