
Eva bergegas menuju kamar putranya, berharap Caesar ada di sana bersama Evan. Penampilan elegan yang selalu melekat, hari itu ia tanggalkan karena permalasahan Evan. Salahnya karena tidak begitu memperdulikan anak tersebut. Salahnya yang masih selalu sibuk dengan diri sendiri. Semua, memang salahnya.
Merasa diratukan oleh Caesar hingga membuat Eva berani berbuat semaunya. Eva membuka kasar pintu kamar anaknya, tapi kenyataan pahit yang harus dia terima. Kamar itu kosong, tak ada Caesar ataupun Evan.
"Sial! Ke mana dia membawa Evan?" Dia mengumpat kesal, menutup kembali pintu tersebut dan berbalik ke lantai satu. Langkahnya berlanjut menuju kamar Ani.
Brak!
Ani yang sedang tidur di ranjang kecilnya, terlonjak duduk dengan dada yang berdegup kencang.
"Nyonya?" Suaranya terbata, napas tercekat di tenggorokan.
"Katakan padaku, selama ini kau membawa Evan keluar untuk menemui Cempaka, bukan? Jawab dengan jujur, Ani. Aku tidak main-main!" tuding Eva dengan wajah mengeras dan mata menjegil marah.
Ani mengernyitkan dahi, beranjak pelan dari ranjang dan berhadapan dengan Eva.
"Maaf, Nyonya. Apa maksud Anda nona Cempaka ...?" Pertanyaan Ani terpotong, menggantung tak berniat melanjutkan.
"Jangan berpura-pura, Ani! Kau tahu Evan bukan anakku, dan selama ini selalu rutin membawanya kepada Cempaka. Aku tahu, kau bekerja sebagai pengasuh Evan atas suruhan wanita itu!" Suara Eva meninggi, tapi Ani terlihat biasa saja.
Tidak terkejut sama sekali, wanita itu menatap Eva dengan dalam. Ada ketidakrelaan di kedua matanya, keserakahan, ambisi, dan segala bentuk keangkuhan.
"Maaf, Nyonya. Saya memang diminta menjadi pengasuh tuan muda di rumah ini, tapi saya tidak pernah membawa tuan muda bertemu dengan nona Cempaka. Bagaimana bisa bertemu, jika nona sendiri tidak ada di kota ini," ungkap Ani sembari menggelengkan kepala dengan pelan.
Eva mendengus, dia sama sekali tidak mempercayai ucapan Ani. Menganggapnya bekerjasama dengan Cempaka menyembunyikan keberadaan wanita itu.
"Kau pikir aku percaya? Lihat saja! Aku akan menemukan wanita itu dan akan memberinya pelajaran termasuk dirimu, Ani! Kau sudah berani berdusta kepadaku, aku tidak akan segan memberimu pelajaran!" ancam Eva.
__ADS_1
Mata tajamnya berkilat menusuk kedua manik Ani, tapi meski demikian wanita di hadapannya tidak terlihat gentar sama sekali.
"Bagaimana Anda akan menemukan nona, sedangkan nona sudah tidak ada di sini. Percayalah, Nyonya. Anda tidak akan pernah bisa menemukan nona di kota ini karena beliau sudah pergi sejak malam kelahiran anaknya," terang Ani.
Tetap saja, tidak membuat Eva percaya. Dia lebih mempercayai pemikirannya dari pada apa yang disampaikan Ani.
"Tentu saja aku tidak akan bisa menemukannya karena kalian bekerjasama dan pastinya wanita itu akan pergi setelah kau memberitahunya, tapi aku akan tetap menemukan dia. Aku akan tetap menemukannya!" kecam Eva seraya berbalik meninggalkan kamar Ani dan berlalu pergi.
Ani tersenyum sinis, hatinya menertawakan kebodohan Eva yang tak mempercayai ucapannya.
"Cari saja, saya yakin Anda tidak akan pernah menemukan nona di kota ini. Anda pikir Evan adalah bayi nona Cempaka?" Ani tertawa kecil, Eva tidaklah sepintar kedengarannya. Dia masih bisa terlihat bodoh, seperti yang dilakukannya tadi.
Ani kembali ke peraduan, merebahkan diri dengan nyaman. Dia tidak akan memikirkan keberadaan Evan karena bayi itu bersama ayahnya. Caesar tidak akan menyakiti Evan, dia mengganggap bayi itu anaknya bersama Cempaka.
****
Eva pergi menemui Lisa di kediamannya, berniat bekerjasama dengan sang mertua untuk menemukan Cempaka juga Caesar dan bayinya. Benar yang dikatakan Lisa, dia akan datang padanya untuk meminta bantuan.
"Nyonya ada di dalam, silahkan!" ucapnya sembari menjulurkan tangan menunjuk ke dalam rumah.
Eva melanjutkan langkah menapaki teras, tanpa mengetuk masuk begitu saja. Dia melihat Lisa duduk santai di ruang tengah rumah. Ekor mata Lisa melirik, sudut bibirnya terangkat sebelah, dia tahu Eva akan datang.
"Kau datang? Apa ada masalah?" tanya Lisa tanpa harus menoleh ke belakang. Cukup tahu dari parfum yang digunakan Eva. Tangannya sibuk membolak-balik majalah fashion seolah-olah tak peduli dengan kedatangan sang menantu.
Evan tidak menyahut, terus berjalan melewati Lisa sembari melirik dengan ekor matanya. Dia mendaratkan bokong di atas sebuah sofa berhadapan dengan sang mertua.
"Kenapa kau tidak menyambutku, Ibu? Kau terkesan tak acuh padaku. Apa karena masalah tadi? Jika iya, aku minta maaf," ucap Eva tak terdengar tulus. Justru terkesan memaksa karena menahan kekesalan.
__ADS_1
Lisa tersenyum mencibir, menutup majalah dan meletakkannya di atas pangkuan. Menghela napas malas, menatap wajah Eva yang mengeras sambil tersenyum simpul.
"Kau ingin sambutan seperti apa, menantu? Apa kau menginginkan sebuah pesta? Jamuan teh? Atau aku harus menggelar karpet merah untukmu berjalan?" sindir Lisa sembari melipat kedua tangan di perut.
Tak seperti biasanya, selama ini Lisa selalu antusias menyambut kedatangan Eva ke rumah itu. Sekarang, Lisa jauh berbeda. Seolah-olah tidak membutuhkannya lagi untuk mendapatkan bantuan.
Eva tersenyum mengejek, merasa masih memegang kartu AS Lisa sehingga wanita di hadapannya tidak akan berani berbuat macam-macam.
"Kau lupa, kau sedang berhadapan dengan siapa? Ingat, aku masih memegang rahasiamu, Ibu." Eva mencibirkan bibir, merasa di atas awan.
Namun, tanpa diduga, Lisa justru terkekeh seolah-olah tidak takut dengan ancamannya.
"Kau juga harus ingat, rahasiamu ada di tanganku. Sekali saja kau bertindak gegabah, maka hidupmu akan hancur!" Lisa balik mengancam, dia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya. Tuan Arya tak ada kabar, dan tak tahu di mana rimbanya.
Eva berjengit, tautan tangannya terlepas, kedua mata membelalak tak percaya. Sungguh tak menduga Lisa akan mengancamnya balik. Selama ini, wanita itu hanya diam dan selalu mematuhi perintah darinya.
"Oh, rupanya kau sudah berani mengancamku. Baiklah, anggap saja kita seri. Sekarang aku ingin mengajakmu bekerjasama, Ibu," ucap Eva setelah sekian detik menormalkan gejolak hatinya.
Lisa kembali terkekeh kecil, sudah ia duga wanita serakah itu akan datang untuk meminta bantuan padanya.
"Kali ini apa? Apa keuntungannya untukku?" tanya Lisa jual mahal.
Dia tak ingin dibodohi lagi oleh wanita licik itu, sudah cukup selama ini hanya diiming-imingi oleh kekuasaan, nyatanya tak pernah ada.
Eva memicingkan mata tak senang, semua yang terjadi sudah keluar dari jalurnya. Dia menghela napas, mulai menyadari jika Lisa tak lagi sama dengan yang dulu.
"Keuntungan? Tentu saja posisimu di sini sebagai nyonya dan pemilik rumah ini. Aku pastikan kau yang memiliki semua ini. Percayalah!" Eva mengedipkan mata, merayu hati Lisa.
__ADS_1
Lagi-lagi, ibu Gyan itu tertawa. Sudah sejak lama dia menginginkan kepemilikan rumah dan seluruh harta yang ada di dalamnya. Sayang, tuan Arya tak kunjung memberikannya.
"Jangan mengada-ada. Suamiku sekarang bahkan tidak ada dan tidak jelas kabarnya, tapi baiklah ... kau ingin bekerjasama apa?" Lisa mendekatkan wajah setelah menertawakan Eva.