
Jika kau ingin hidup dengan tenang, maka rawat dan sayangi anak kita. Dia ada di dekatmu. Selamanya, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu.
****
Gyan meneguk ludah kembali setelah membaca pesan tersebut. Buru-buru menekan tombol dial untuk menghubungi nomor asing itu, tapi lagi-lagi seperti biasa tak dapat dihubungi.
"Anak? Anak apa? Ke mana aku harus mencarinya?" Gyan mengacak rambutnya frustrasi, ketenangan hidup yang dia inginkan masih sangat jauh untuk diraih.
"Astaga! Di mana anak itu? Aku harus mencari ke mana?" Gyan meremas kepalanya, menunduk dengan kesal.
Dia sendiri tidak tahu di mana kediaman gadis itu. Peluh dan air mata menyatu dalam kecemasan, hati dirundung gelisah juga rasa takut. Di mana dia dapat menemukan anaknya? Dia membutuhkan sebuah petunjuk.
"Ya, aku butuh petunjuk!" serunya pelan.
Tanpa menunggu, dia mengetik pesan balasan untuk nomor asing tadi. Meminta petunjuk meski tahu nomor itu tak dapat dihubungi untuk saat ini. Setidaknya, siapapun itu dia akan membaca pesan saat mengaktifkan kembali nomornya.
****
Di villa, kepala pelayan menghadap tuan Arya. Dia menerima kabar dari salah satu utusannya tentang rencana kedatangan Caesar ke villa.
"Tuan!"
"Mmm ... ada apa?" Tuan Arya membolak-balik surat kabar membaca artikel bisnis terbaru.
"Saya mendapat kabar bawah tuan Caesar akan berkunjung ke villa akhir pekan ini," lapor kepala pelayan membuat tuan Arya tertegun beberapa saat.
"Aku ingin kau meminta orang-orangmu untuk mengawasi Lisa dan anaknya. Tidak hanya Caesar," pinta tuan setelah menurunkan surat kabar dari hadapan wajahnya dan menatap laki-laki itu.
"Baik, Tuan. Saya juga mendengar jika tuan Caesar menetap sementara di rumah asistennya."
__ADS_1
Dahi tua tuan Arya berlipat mendengar laporan selanjutnya.
"Ada apa? Apa mereka bermasalah?" tanya tuan Arya.
"Karena nyonya Eva tidak begitu memperhatikan anak mereka. Nyonya selalu sibuk dengan dirinya sendiri dan bahkan sering pergi keluar meninggalkan tuan muda. Begitu yang saya dengar," ucap sang kepala pelayan sesuai dengan berita yang diterimanya.
Tuan Arya menghela napas, Caesar mengingatkan pada dirinya yang dulu terlalu memanjakan Lisa sehingga dengan mudah dikendalikan.
"Baiklah, biarkan dia datang!"
Tuan Arya bangkit meninggalkan surat kabar, berjalan tertatih memasuki villa. Raut wajahnya terlihat lain, ada jejak kecewa juga kesedihan di kedua maniknya yang berkabut. Entah, apakah untuk dirinya sendiri, ataukah juga untuk sang putra?
Tuan Arya membawa dirinya menapaki lantai dua villa, di mana kamar yang dulu ia huni bersama mendiang sang istri berada. Dahulu, Caesar begitu bahagia setiap kali menginap di sana. Dia anak yang baik, penurut, dan ceria.
Tuan Arya membuka pintu kamar, melangkah gontai mendekati ranjang. Merebahkan dirinya yang lelah di atas sana, membayangkan sapuan hangat sang istri di kepala yang amat membuai.
****
Sementara di resort, Cempaka tak lagi bersembunyi di rumah. Ia lebih sering mengunjungi tempat usahanya untuk memantau. Bersama si Kembar yang duduk di dalam kereta.
Ada banyak mata memandang ke arahnya, wajah sederhana yang dipoles apa adanya tak mengurangi pesona Cempaka sebagai janda anak dua. Dia ramah, menyapa mereka setiap kali berpapasan. Tersenyum manis pada setiap pengunjung yang melintasinya.
"Manda!"
Suara panggilan Lucy, menghentikan langkah Cempaka yang tengah menyusuri sekeliling resort. Ia menoleh, dan tersenyum pada wanita itu. Lalu, mengajaknya untuk duduk di sebuah gazebo yang ada di bagian samping resort.
"Hallo, sayang!" Lucy mengangkat bayi Zio dan memangkunya.
Membiarkan mereka bermain di gazebo, merayap sesuka hati mereka. Kedua wanita itu mengawasi, si Kembar tumbuh dengan baik. Mereka sehat dan tidak kekurangan kasih sayang.
__ADS_1
"Kau tidak ingin mencari ayah pengganti untuk mereka?" tanya Lucy tiba-tiba.
Cempaka tercenung, memandang iba keduanya. Bukan tak ingin mencari pengganti, tapi dia tak yakin ada laki-laki yang mau menerima kedua anaknya. Lagipula, Cempaka tidak mengenal siapapun di daerah tersebut selain Gilang.
"Entahlah, Lucy. Aku tidak pernah memikirkan hal tersebut. Melihat mereka tumbuh dengan baik dan sehat, aku sudah merasa cukup. Aku hanya takut, mereka tidak dapat menerima anakku," jawab Cempaka jujur.
Sejujurnya, dia masih mengharapkan Caesar. Jauh di dalam lubuk hati kecilnya, berharap laki-laki itu akan datang mencari mereka.
"Kau masih menyimpan Caesar di hatimu. Ingat, Manda. Dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Mereka kini memiliki anak meskipun bukan darah daging mereka sendiri. Sudah waktunya kau memikirkan kebahagiaanmu, memikirkan diri sendiri. Kau membutuhkan pasangan untuk mengarungi kehidupan ini," tutur Lucy mengingatkan Cempaka pada kodratnya sebagai makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri.
Ya. Dia tidak menampik, sedikitnya masih menyimpan rasa untuk ayah keduanya anaknya. Terkadang, Cempaka berhayal dialah istri Caesar dan bukan Eva. Laki-laki itu tidak pernah berlaku kasar padanya sejak malam pertama mereka.
Cempaka tersenyum, Lucy selalu tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kau benar, Lucy. Aku memang mengharapkan dia datang mencariku. Dia laki-laki yang memperlakukan aku dengan baik. Berbeda sekali dengan Baron, yang selalu berlaku kasar terhadap ibu juga kami, anaknya." Cempaka mengalihkan pandangan dari kolam ikan kecil di depan mereka, kepada Lucy yang tertegun mendengar penuturannya.
"Bukankah dia sudah menelantarkanmu saat mengandung mereka?" Lucy menguak kejadian di mana Caesar tak sekalipun mengunjungi Cempaka meski telah mengandung anaknya.
"Aku ingat, dan aku tidak pernah lupa." Cempaka menghela napas, memutar pandangan kembali pada kolam ikan di hadapannya. "Tapi terlepas dari itu, dia tidak pernah berlaku kasar kepadaku."
Tetap saja, pujian Cempaka tidak menyenangkan hati Lucy. Dia membenci Caesar dan menganggap laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan membiarkan Cempaka yang hamil tanpa perhatian dari suaminya.
"Hanya karena seperti itu, kau lantas masih mengharapkan dia. Masih banyak laki-laki baik yang akan memperlakukanmu dengan istimewa." Lucy mencibir, dia tidak tahu seperti apa pandangan Cempaka terhadap laki-laki sebelum bertemu Caesar dan merasakan kebaikannya.
"Laki-laki mana yang akan memperlakukanku dengan baik? Sedangkan ayahku saja selalu menyiksaku, memperlakukan aku seperti budak. Bahkan, menjualku demi kesenangannya semata. Dulu, aku menganggap semua laki-laki itu sama. Seperti Baron yang selalu berlaku kasar terhadap pasangannya." Cempaka kembali mendesah, Lucy mulai mendengarkan dengan saksama.
"Dulu, aku tidak pernah ingin menikah. Aku takut bernasib sama seperti ibuku yang selalu disiksa dan diperlakukan seperti sapi perah. Sampai aku terpaksa menikah. Jujur saja aku membenci Caesar, tapi setelah malam itu, aku menyadari kebaikannya. Dia berbeda dengan Baron. Dia suami yang baik dan penuh perhatian. Laki-laki pertama yang memperlakukan aku layaknya manusia."
Cempaka menatap Lucy, dari kedua matanya memancar kesungguhan, juga cinta. Lucy tak dapat berkata-kata, diam dan mencerna apa yang baru saja diucapkan Cempaka.
__ADS_1