
Akhir pekan yang ditunggu, sekaligus hari yang dinanti Lisa di mana Eva akan membawanya pergi ke rumah utama keluarga Arya. Rasa penasaran yang menggebu, menarik hati dan pikiran Lisa untuk segera pergi.
"Ibu! Ibu akan pergi? Bagaimana denganku?" tanya Gyan cemas.
Dia takut bila harus ditinggalkan sendiri di rumah. Bayangan gadis itu terus menghantui pikiran juga hatinya, mengganggu di setiap siang dan malam.
"Ibu akan pergi bersama Eva. Kau di rumah saja karena mungkin Eva masih tersinggung dengan sikapmu." Lisa berkata lembut terhadap anaknya itu, dia merasa malu atas kejadian kemarin dan akan menjelaskannya kepada Eva.
"Aku tidak ingin sendirian, Bu. Aku takut. Bagaimana jika dia datang dan mencelakaiku, Bu?" Gyan mencengkeram tangan Lisa dengan sangat kuat hingga getaran rasa takut dapat dirasakan wanita yang telah melahirkannya itu.
Lisa menyentuh jemari anaknya, menepuknya pelan menyalurkan ketenangan.
"Baiklah. Ibu akan mencoba berbicara kepada Eva." Lisa tersenyum, betapa mengerti ketakutan pemuda itu.
Sementara di rumah Caesar, tak hanya Eva yang gelisah karena Caesar benar-benar tak pulang ke rumah. Akan tetapi, Ani pun tampak tak tenang di kamarnya. Sungguh tak menduga bahwa Caesar akan membawa pergi Evan.
"Kenapa tuan tidak kembali ke rumah? Ke mana dia membawa Evan?" gumamnya cemas.
Ani memainkan jemari, sesekali akan menggigit kukunya berpikir ke mana Evan dibawa Caesar.
"Apa aku harus bertanya kepada nyonya? Mungkin saja dia tahu ke mana Evan dibawa?" Ani bergegas keluar dari kamarnya, berjalan dengan langkah lebar menghampiri Eva yang masih berada di lantai atas.
Langkah Ani terhenti saat melihat Eva yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Nyonya!" Ani menjegal langkahnya, berdiri tepat di hadapan Eva.
"Ada apa? Apa kau tidak lihat aku sedang terburu-buru?" bentak Eva dengan ketus. Dia masih membenci Ani, dan menyimpan dendam terhadap wanita itu.
__ADS_1
"Saya hanya ingin bertanya tentang tuan dan tuan muda. Saya mencemaskan keadaan tuan muda, Nyonya. Apa tuan muda baik-baik saja?" tanya Ani, pancaran matanya menyiratkan kecemasan yang tak dibuat-buat. Dia memang mencemaskan cucunya itu.
Deru napas Eva memburu, menatap tajam manik Ani yang berembun. Dia menghirup udara sangat dalam, menetralkan emosi yang masih saja meluap.
"Aku tidak tahu. Sudahlah, mereka tidak kembali dan aku tidak tahu di mana mereka berada. Sekarang menyingkir dari jalanku, jangan menghalangi aku!" sentak Eva, melebarkan mata menusuk kedua manik pengasuh anaknya itu.
Dia berjalan sembari menyenggol bahu Ani hingga bergeser beberapa langkah. Eva mengenakan kacamata hitam tanpa peduli pada reaksi pekerjanya itu. Ani berbalik, menatap penuh kebencian padanya.
Anda begitu sombong, Nyonya. Tunggu saja kehancuran Anda. Apa yang Anda banggakan, tidak akan pernah menyelamatkan Anda.
Ani berbalik kembali ke kamarnya, dia mengemasi sedikit barang berniat pulang ke rumah. Tanpa berpamitan karena sang majikan tidak ada di rumah.
"Ani! Kau akan pergi ke mana?"
Ani lupa, jika masih ada Yudi sebagai kepala pelayan yang bertanggungjawab atas semua pekerja di rumah tersebut. Kepadanya, para pekerja seharusnya meminta izin setiap kali akan pergi.
Yudi memindai pengasuh tuan mudanya itu, selama ini dia memaklumi Ani dan memberinya sedikit kebebasan ketika akan membawa Evan bermain di luar. Namun, kali ini berbeda, dia pergi seorang diri dan tidak bersama bayi itu.
"Bukankah kau tahu aturannya? Kenapa kau tidak ke ruanganku untuk menghadap dan meminta izin? Di rumah ini ada aturan yang harus kau patuhi selama bekerja di sini." Sederet pertanyaan dari Yudi membuat Ani mendongak menatap kepala pelayan tersebut.
"Tapi selama ini saya tidak pernah meminta izin kepada Anda ketika akan keluar. Kenapa kali ini saya harus menghadap kepada Anda?" Ani balik bertanya, kerutan di dahinya menandakan kebingungan.
Yudi menghela napas, salahnya karena terlalu membebaskan Ani sehingga membuat wanita itu lupa pada aturan yang ada.
"Itu karena kau pergi bersama tuan muda, dan aku yakin kau telah mengantongi izin dari nyonya ataupun tuan. Sekarang, tuan muda tidak sedang bersamamu. Kau pergi seorang diri dan untuk itu harus menghadap kepadaku terlebih dahulu. Katakan urusanmu, maka kau akan mendapatkan izin dariku," tegas Yudi tanpa membedakan pekerja yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Ani bungkam, diam dan menatap lekat garis wajah keras milik orang kepercayaan Caesar itu. Dia tidak akan bisa pergi dari rumah tersebut tanpa izin dari Yudi. Jika harus memaksa, sudah pasti kepala pelayan itu akan memberinya hukuman.
__ADS_1
"Baiklah. Pak Yudi, apa aku diizinkan pulang ke rumah menjenguk keluargaku? Tuan muda sedang bersama ayahnya, aku menganggap hari ini bagian dari liburku." Ani mengalah dan meminta izin kepadanya.
"Baik, tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaanku! Apa yang kau lakukan terhadap tuan muda sehingga tuan membawanya ke tempat lain dan tidak kembali ke rumah?" Mata Yudi menatap tajam bagai elang mengincar mangsa.
Ani berjengit, tubuhnya termundur secara spontan mendengar pertanyaan dari laki-laki itu.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini. Sebagai orang kepercayaan tuan, aku selalu tahu apa yang terjadi. Aku ingatkan jika kau masih ingin berada di dekat tuan muda, jangan lagi melakukan kesalahan, karena aku yang tidak akan segan memecatmu. Pergilah, dan kembali saat sore hari!" Yudi berbalik pergi membiarkan Ani termenung memikirkan kesalahannya.
Yudi mengetahui apa yang terjadi karena selain dua pengawal itu, dia selalu meminta orang untuk membuntuti Ani ketika pergi keluar. Bahkan, dia sudah mengetahui kebusukan Eva dan cepat atau lambat akan sampai ke tangan Caesar.
"Astaga! Aku lupa laki-laki itu. Aku pikir, dia hanya bekerja di rumah dan tidak akan tahu situasi di luar." Ani mengepalkan tangan kesal, berbalik cepat karena tak ingin Yudi kembali dan malah melarangnya pergi.
****
Di apartemen Arjuna, bayi Evan sudah terbiasa berada di tangan pengasuh barunya. Ibu begitu telaten mengurus bayi tersebut, dan Caesar menyukainya. Kedua lelaki itu sedang bersiap untuk pergi, mengunjungi makam ibu Caesar.
"Juna, aku ingin Ibu ikut bersama kita," ucap Caesar sembari membenarkan dasi di hadapan cermin.
"Baiklah. Jika itu yang Anda mau, Tuan." Arjuna sigap keluar memberitahu wanita tersebut untuk ikut bersama mereka.
"Apa tidak apa-apa saya ikut, Tuan?" tanya ibu pengasuh ragu.
"Tidak apa-apa, ini permintaan Tuan. Bersiaplah, tuan muda akan bersamaku," titah Arjuna seraya mengambil alih bayi Evan dan mengajaknya bermain.
Mereka pergi tanpa diketahui siapapun, dengan menggunakan mobil pribadi Arjuna yang tidak akan dikenali.
"Eva, Ibu dan Gyan? Ke mana mereka akan pergi?" Caesar mengernyit ketika melihat ketiga orang itu berada di dalam satu mobil yang sama saat lampu jalan berubah merah.
__ADS_1
Dia meminta seseorang untuk mengikuti kepergian mereka dan melaporkannya.