(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 52


__ADS_3

"Aku mencari pasien bernama Cempaka. Semalam dia datang ke rumah sakit bersama pelayannya. Apakah mereka masih di sini?" tanya tuan Arya kepada petugas medis di bagian informasi.


"Pasien bernama Cempaka, ya? Sebentar, saya cek terlebih dahulu." Ia mulai mencari nama Cempaka pada layar komputer, dengan sangat pelan dan hati-hati khawatir akan terlewat.


"Semalam pasien sudah dijemput keluarganya, Tuan. Jadi, sudah tidak ada di rumah sakit ini lagi," beritahu petugas medis itu sambil tersenyum ramah kepada tuan Arya.


Laki-laki tua itu tertegun, rasa tak percaya karena rumahnya kosong.


"Apa yang dia keluhkan? Apa dia melahirkan?" tanya tuan Arya lagi memastikan.


Petugas medis tersebut menggelengkan kepala, tak ada catatan medis tentang Cempaka yang melahirkan.


"Tidak, Tuan. Pasien bernama Cempaka hanya kontrol biasa saja sehingga malam itu dia langsung pulang dari rumah sakit ini," jawabnya lagi masih dengan tersenyum.


Tuan Arya menghela napas, berlalu tanpa kata. Diikuti sang sekretaris yang nampak bingung dengan situasi yang ada.


"Aku ingin kau mencari apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang telah membawanya pergi dan ke mana mereka pergi?" titah tuan Arya tanpa menghentikan langkah kakinya hingga tiba di parkiran dan masuk ke dalam mobil.


"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya dan mencari ke mana nona pergi."


Mobil itu melaju meninggalkan parkiran rumah sakit dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan. Apakah dia harus bertanya kepada Caesar? Tapi apa mungkin laki-laki itu mau menjawabnya dengan jujur? Biarlah dia temukan sendiri jawabannya.


"Kembali ke rumah lama. Aku tak ingin kembali ke rumah itu." Dia kembali memerintahkan sang sekretaris untuk pergi ke rumah lamanya. Rumah yang dulu ia tempati bersama mendiang sang istri dan sudah lama sekali tidak pernah didatangi.


Mobil berbelok ke arah jalur lain, menuju kediaman lama keluarga Arya. Dia ingin menenangkan hati, setidaknya sampai kabar tentang Cempaka dia dapatkan.


"Selamat datang, Tuan! Senang Anda kembali ke rumah ini lagi!" sambut para pelayan yang selama ini menjaga rumahnya.


Rumah berlantai dua yang besar dan megah, dengan halamannya yang sangat luas di setiap sisinya. Dikelilingi banyak pepohonan yang ditanam oleh tangan sang istri sendiri.


"Aku merindukanmu, sayang. Apa kau melihatku dari tempatmu di sana? Sungguh menyedihkan, bukan?" Ia bergumam sambil menatap langit malam dari balkon kamarnya.

__ADS_1


Rumah yang selalu dalam keadaan bersih dan rapi meskipun pemiliknya tak pernah datang berkunjung. Bukan tanpa sebab, tuan Arya hanya tak ingin rumah itu dimiliki oleh Lisa juga anaknya.


"Semoga kau tenang di alam sana." Ia berbalik masuk kembali. Merebahkan tubuh di atas ranjang yang pernah menjadi saksi kebahagiaannya bersama sang istri.


Sungguh berat perjalanan hidupnya tanpa dia di sisi. Ia menghela napas, meraih sebuah figura yang bergambar dirinya dan seorang wanita cantik yang memangku seorang bayi laki-laki.


Tuan Arya mendekapnya, mencoba menyelami rasa yang telah hilang belasan tahun lamanya. Kehidupannya bersama Lisa sama sekali tidak bahagia seperti kelihatannya. Belum lagi obat-obatan yang entah apa yang selalu diberikan Lisa padanya. Dia ingat, semenjak tinggal bersama Cempaka, tak pernah lagi meminum obat-obatan itu. Lalu, keadannya membaik dan lebih sehat.


"Apa mungkin yang diberikan Lisa bukanlah obat, melainkan racun? Selama tinggal bersama Cempaka, dan meminum ramuan kesehatan dari wanita itu aku merasa lebih baik. Bodoh sekali, selama ini aku mau meminum obat tersebut." Tuan Arya mulai menyadari kondisi tubuhnya.


"Aku akan menyelidiki tentang obat itu." Dia mengancam.


Tak ingin lagi hidup di bawah aturan Lisa. Dia laki-laki bebas yang tak perlu patuh pada istrinya.


Sementara di rumah Caesar, Lisa sibuk mencari keberadaan suaminya usai pesta. Setiap sudut rumah sudah dia datangi, tapi tak juga menemukan laki-laki tua itu.


"Ke mana perginya si tua bangka itu?" Dia mengumpat sambil berkacak pinggang.


Napasnya menderu berat, emosi memuncak melebihi kapasitas otaknya. Pening terasa, laki-laki tua itu tak pernah mengatakan ke mana dia akan pergi.


"Kau melihat si tua bangka? Ibu sudah mencarinya ke setiap sudut, tapi tak juga menemukannya." Ia mendekati pemuda itu bertanya tentang tuan Arya padanya.


"Aku juga tidak melihatnya, Bu. Tadi itu pesta begitu ramai hingga tak memperhatikan sekitar," jawabnya sambil menggelengkan kepala dan mengangkat bahu.


Lisa menghela napas, menunduk sambil berpikir tentang kepergian suaminya. Dia pergi meninggalkan halaman belakang rumah, kesal sendiri karena tak dapat menemukan tuan Arya.


"Yudi, apa kau melihat ayah?" Caesar bertanya panik kepada kepala pelayan itu.


"Tuan besar? Bukankah beliau ada di pesta?" Yang ditanya balik bertanya karena tidak tahu.


"Aku tidak tahu. Aku mencari ayah selepas pesta, tapi tak ada di manapun. Coba kau hubungi nomor ayah atau sekretarisnya?" pinta Caesar.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Yudi merogoh saku menghubungi nomor tuan Arya, tapi tak dapat tersambung. Sepertinya laki-laki tua itu memang sengaja menjauh dari semua orang.


"Tidak tersambung, Tuan," ucapnya, kemudian menghubungi nomor milik sekretaris tuan Arya.


"Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu waktu Anda." Yudi segera berucap begitu sambungan terangkat. Dia diam mendengarkan.


"Saya hanya ingin bertanya, apa tuan besar ada bersama Anda? Beliau tidak ada di rumah," tanya Yudi.


Caesar memperhatikan, dia membiarkan kepala pelayan itu yang berbicara sendiri kepada sang sekretaris.


"Maafkan aku, tapi sejak kepergian kami waktu itu tuan belum ada lagi menghubungiku." Jawaban dari seberang sana, membuat Yudi tertegun.


Caesar menghela napas, dia tahu ayahnya tak ada di sana.


"Baiklah, terima kasih banyak, Tuan." Yudi mematikan sambungan dan menggelengkan kepala ketika menatap Caesar.


"Apa yang dia katakan?" tanya laki-laki itu tak sabar.


"Sekretaris tuan mengatakan, sejak kepergian mereka pada waktu itu tuan belum ada lagi menghubunginya." Yudi kembali menggelengkan kepala.


Caesar berdecak, dan berlalu pergi ke kamarnya. Ia melihat Eva sedang memandangi putra mereka, sambil sesekali menciumi tangannya. Caesar tersenyum, menutup pintu perlahan dan mendekat.


"Biar aku yang mencari pengasuh untuknya. Apa dia tertidur sepanjang malam?" Caesar berbisik di telinga Eva.


"Entahlah, mungkin saja belum. Jika bisa secepatnya kau mencarikan pengasuh. Dia akan terbangun di sepanjang malam untuk menyusu," bisik Eva pula khawatir akan mengganggu tidur si bayi.


Caesar menghela napas, merebahkan tubuh menatap langit-langit kamar.


"Ada apa?" Eva berbalik dan memeluk suaminya.


"Aku tidak bisa menemukan ayah di rumah ini. Kau tahu ke mana ayah pergi?" Caesar tak mengalihkan pandangan dari sana.

__ADS_1


"Aku terlalu hanyut di dalam pesta tadi, jadi tidak begitu memperhatikan ayah. Sudah tanya ibu?" Eva mengusap dada suaminya.


"Dia juga mencari ayah."


__ADS_2