
Di rumahnya, Cempaka tengah menikmati secangkir teh hangat bersama Lucy. Kondisi perutnya yang membesar, membuatnya tak dapat melakukan banyak hal. Untuk berjalan saja, ia membutuhkan bantuan.
"Nona, kabarnya di rumah tuan sedang ada pesta besar-besaran menyambut kehadiran si jabang bayi," lapor Lucy sedikit cemas.
"Biarkan saja, apa peduliku." Cempaka tak acuh, apapun yang mereka lakukan ia sama sekali tidak peduli.
"Nona, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?" tanya Lucy lagi.
Cempaka menghela napas, ia sudah hilang kepercayaan terhadap anggota keluarga itu. Namun, jika dia memutuskan pergi saat itu juga, hidupnya tak akan pernah bisa tenang.
"Sebenarnya aku ingin pergi sekarang juga, Lucy. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi buronan yang terus dikejar-kejar ke manapun pergi. Kita hanya harus menjalankan rencana kita dengan baik agar mereka semua tidak mencurigainya," ucap Cempaka dengan tekad yang memancar kuat di matanya.
"Saya pikir pada awalnya tuan telah menerima Anda dan mulai mencintai Anda." Lucy melirik Cempaka dari tempatnya duduk.
Wanita itu tersenyum sinis, menertawakan dirinya yang dulu bodoh dan terhanyut oleh buai seorang Caesar. Mana mungkin laki-laki itu mau menjadikannya istri di istana itu, disaat dia sudah memiliki ratu yang sempurna secara fisik.
"Aku memang bodoh. Pernah terhanyut oleh sikapnya yang lembut. Aku hampir saja jatuh cinta padanya, Lucy. Kukira meski aku istri kedua yang dinikahinya secara rahasia, akan tetap memiliki tempat di hatinya. Nyatanya, dia memang hanya menganggapku sebagai istri kontrak, mesin pencetak anak untuknya. Kupikir semua orang kaya seperti itu. Bebas melakukan apa saja yang mereka mau karena uang yang berbicara." Cempaka memicingkan mata penuh kebencian.
Baginya, Caesar dan Baron tiada beda. Mereka sama-sama kejam dan tak dapat menghargai seorang wanita. Cempaka membenci Caesar sama seperti dia membenci Baron.
Lucy meneguk ludah berat, melihat pancaran kebencian yang tidak main-main di kedua manik Cempaka itu.
"Lucy!" Cempaka menurunkan pandangan pada wanita di depannya. Lucy mendongak, menunggu apa yang akan dikatakan sang majikan.
"Kau yakin tempat yang kau maksud itu aman? Mereka tidak akan menemukan kita?" tanya Cempaka memastikan tempat yang akan mereka tuju.
Lucy tampak berpikir, memang tempat yang jauh dan terpencil, tapi tidak menutup kemungkinan mereka tak akan menemukan tempat itu.
"Soal itu aku tidak tahu, Nona, karena seperti yang Anda katakan orang kaya bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Akan tetapi, tidak ada salahnya kita mencoba, Bukan? Setidaknya tiga tahun ke depan kita akan hidup dengan aman di sana," ujar Lucy bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Cempaka menghela napas, benar-benar tak ada tempat untuk mereka bersembunyi.
"Tapi aku yakin, jika rencana kita berhasil dijalankan maka, tak akan ada yang mencari kita. Kecuali ada kesalahan dalam rencana itu." Cempaka menerawang jauh, berharap semua rencana yang dijalankan akan sesuai dengan keinginan.
"Anda benar, Nona. Jika begitu kita harus mempersiapkannya dari sekarang juga," sahut Lucy setuju.
Keduanya akan bekerja sama dalam menjalankan rencana yang dibuat Cempaka.
"Bagaimana pesanan perlengkapan bayiku? Sudah kau pesan, Lucy?" tanya Cempaka mengingat sebentar lagi waktu persalinannya akan tiba.
"Sudah, Nona. Saya sudah menyiapkan semuanya, bahkan sebagian ada kiriman dari tuan," jawab Lucy.
"Pisahkan, aku tidak ingin anak-anakku memakai pemberian mereka." Cempaka menyeruput teh miliknya, sebelah tangannya mengusap perut dengan gerakan pelan. Dia harus kuat dan tegar demi bayinya.
"Kau harus pergi lebih dulu membawa bayiku, Lucy. Mungkin aku akan tertahan di rumah sakit untuk waktu yang tidak aku ketahui. Tunggu saja aku di tempat yang sudah kita sepakati sebelumnya," ucap Cempaka mengingatkan kembali wanita itu.
"Tentu, Nona. Anda tidak perlu khawatir, saya akan membawa bayi Anda pergi dengan segera," jawab Lucy dengan pasti.
"Bagaimana perasaan wanita itu saat ini? Apakah dia merasakan sensasi pergerakan bayi di perutnya seperti yang aku rasakan?" gumam Cempaka sambil memperhatikan perutnya yang tak henti bergerak.
"Dia tak akan pernah merasakannya, Nona, karena kehamilannya palsu." Lucy tersenyum, dari tempatnya duduk dia dapat melihat pergerakan perut Cempaka.
Berat badan wanita itu bahkan kian bertambah seiring perkembangan janin di rahimnya. Cempaka juga terlihat lebih santai, dan bahagia sejak Caesar memindahkannya ke rumah tersebut. Apalagi laki-laki itu tak pernah datang sehingga harapan Cempaka terkabulkan untuk menyembunyikan kehamilan kembarnya.
"Kau benar. Seandainya mereka tahu seperti apa rasanya melihat pergerakan mereka di dalam perut ...." Cempaka menggantung kalimatnya, tak terlalu peduli pada reaksi pasangan itu.
Keduanya terus berbincang tentang segala hal, persiapan persalinan, juga perlengkapan bayi Cempaka.
"Ah, hampir aku melupakannya. Bagaimana dengan keluargamu? Kau sudah memastikan mereka tidak akan menghambat rencana kita?" tanya Cempaka untuk kemudian.
__ADS_1
"Anda tenang saja, Nona. Mereka sudah setuju membantu. Kami juga akan ikut pindah bersama Anda untuk menjaga Anda dan bayi itu." Lucy tersenyum puas mengingat suaminya pun ikut mendukung rencana Cempaka.
Wanita hamil itu menghela napas, bersyukur dan merasa lega karena ada banyak orang yang membantunya.
Tok-tok-tok!
Keduanya tersentak mendengar ketukan di pintu.
"Siapa yang bertemu malam-malam begini?" Cempaka bergumam heran.
"Nona!"
"Itu tuan Arjuna. Sebentar, saya bukakan pintu dulu," ucap Lucy seraya beranjak dari duduk dan melangkah ke depan untuk membukakan pintu.
"Ada apa, Tuan? Nona sedang beristirahat," ucap Lucy tak mengizinkan Arjuna untuk masuk ke dalam rumah. Lagipula laki-laki itu pun tak berniat masuk.
"Ya, saya tahu. Aku datang hanya untuk memberikan ini kepada Nona. Tadi tuan menitipkannya kepadaku dan memintaku untuk segera memberikannya kepada Nona," jawab Arjuna sambil menyerahkan sebuah tas belanja kepada Lucy.
"Apa ini?" Lucy melongok melihat isinya.
"Entah. Mungkin sesuatu untuk bayi Nona." Arjuna melirik ke dalam rumah, berharap dapat melihat Cempaka.
"Oh, ya sudah. Jika tidak ada yang lain lagi, saya akan menutup pintunya." Lucy tersenyum kepada Arjuna.
Pemuda itu mengangguk seraya berbalik meninggalkan teras rumah sederhana milik Cempaka. Lucy menutup pintu dan menguncinya, membawa tas yang dibawa Arjuna kepada Cempaka untuk mengetahui isi di dalamnya.
"Ada kiriman dari tuan, Nona." Lucy meletakkan tas tersebut di depan Cempaka.
Wanita itu memeriksa, sepasang sepatu bayi berwarna biru juga ada pakaian di dalamnya. Cempaka tak berminat, ia mendorong tas tersebut menjauh hingga ke hadapan Lucy.
__ADS_1
"Satukan dengan yang sebelumnya." Perintah ini menjadi akhir obrolan mereka. Cempaka beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.