
Keduanya berdiri di depan sebuah gerbang besi tinggi menjulang, kokoh dan tak tergoyahkan. Di balik gerbang tersebut, berdiri sebuah bangunan megah bak istana raja-raja. Dicat warna putih bersih, dengan dua daun pintu utama.
Halaman yang luas dan ditumbuhi beberapa pohon yang menyejukkan tempat tersebut. Berada di ketinggian membuatnya dapat terlihat dari jarak berapa meter.
"Apa ini villa yang kita tuju?" tanya Cempaka pada Gilang.
"Hanya ini satu-satunya villa di sini. Tidak ada lagi," jawab Gilang sambil memperhatikan keadaan di dalam gerbang.
Sepi, tak satu orang pun terlihat di dalam sana. Hanya ada sebuah mobil mewah terparkir di halaman tanpa adanya pergerakan dari penghuni di dalam villa.
"Maaf, kalian mencari siapa?" Teguran yang tiba-tiba terdengar mengejutkan keduanya.
Cempaka dan Gilang sontak menjauh dari pagar besi tersebut setelah melihat kemunculan laki-laki paruh baya yang menegur mereka secara tiba-tiba. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu ada di depan mata.
"Maaf, apa ini villa milik keluarga Arya?" tanya Cempaka dengan hati-hati.
Mata tajam laki-laki di balik pagar besi itu memindai, menelisik Cempaka dari ujung rambut hingga pada kereta si Kembar. Sedikitnya Cempaka melihat keterkejutan di wajah laki-laki itu.
"Ada keperluan apa kalian mencari villa tuan Arya?" tanyanya lagi dengan nada tegas.
Cempaka melirik Gilang yang terlihat bingung harus menjawab apa. Pasalnya, dia hanya diajak Cempaka untuk menemani.
"Saya ingin bertemu dengan beliau. Ayah mengundang kami untuk datang ke sini," jawab Cempaka dengan senyum di bibir.
"Maaf, seingat saya tuan Arya tidak memiliki seorang anak perempuan dan menantunya tentu saja bukan kau. Kami sangat mengenal keluarga beliau. Pergilah, jangan mengaku-ngaku!" usir laki-laki itu dengan kedua mata melirik pada bayi kembar di kereta Cempaka.
Cempaka tetap tersenyum, dia memaklumi ketidaktahuan dari laki-laki itu.
"Maaf, Tuan. Saya sudah membuat janji dengan tuan Arya, kenapa tidak Anda tanyakan dulu kepada beliau?" ujar Cempaka masih mempertahankan senyumnya.
Terlihat jelas di raut wajah laki-laki itu, dia tidak mempercayai Cempaka. Secara kebetulan sosok tuan Arya muncul dan duduk di teras villa. Mungkin dia menunggu kedatangan Cempaka.
"Itu tuan Arya. Coba Anda beritahu beliau kedatangan kami," pinta Cempaka dengan sopan. Alih-alih berteriak, dia memilih untuk meminta laki-laki itu memberitahu tuan Arya.
__ADS_1
"Tunggu di sini!" katanya, seraya berbalik pergi menghampiri sang tuan di teras rumah. Beberapa langkah kemudian, dia berbalik dan menatap Cempaka kembali.
"Cempaka."
Bibir yang terbuka hendak bertanya mengatup kembali dan berbalik melanjutkan langkah. Di tempatnya, Cempaka bisa melihat wajah berseri laki-laki tua itu. Dia tersenyum ketika pandang mereka bertemu.
Tuan Arya bangkit berjalan mendekati gerbang, berniat membukakan sendiri pintu tersebut. Namun, sang penjaga mendahului, dan membukakannya untuk Cempaka.
"Selamat datang, selamat datang! Mari masuk, Nak!" Tuan Arya membentang tangan lebar, menyambut kedatangan Cempaka dan kedua anaknya.
Cempaka tersenyum, sambil mengajak Gilang ia mendorong kereta anaknya untuk masuk.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu." Laki-laki penjaga gerbang itu membungkuk, meminta maaf kepada Cempaka.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa mengerti. Terima kasih karena sudah mengikuti ucapan saya," sahut Cempaka dengan sopan.
Tuan Arya mengambil alih kereta si Kembar dan mendorongnya menuju villa. Diikuti Cempaka dan Gilang yang mengekor di belakang. Gilang memutar pandangan menatap ke segala sudut bangunan tersebut.
"Tuan mengatakan, beliau juga menantunya. Apa tuan Caesar memiliki dua istri? Tapi nona Cempaka sangat berbeda dengan nyonya Eva. Ramah dan sopan," pujinya sambil tersenyum.
Ia menutup pintu gerbang dan menguncinya. Kembali ke tempat berjaga menikmati secangkir kopi yang ditinggalkan.
"Ayah senang akhirnya kau mau berkunjung ke sini." Tuan Arya mengambil bayi Zio dan memangkunya.
"Rasanya hari-hari tuaku dipenuhi bunga dengan kehadiran mereka. Kelak, mereka berdua yang akan menjadi pewarisku," ujar tuan Arya sesuai dengan apa yang terdetik di hatinya.
Apa yang diucapkannya kini, sangat berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan dulu ketika di rumah pemberian Caesar.
Namun, Cempaka tidak terlalu mempedulikan, dia pikir itu hanya gurauan. Jadi, tidak menganggapnya sama sekali.
"Maaf, Ayah. Yang seharusnya menjadi pewaris keluarga Arya bukankah anaknya nyonya Eva?" tanya Cempaka mengingatkan tuan Arya tentang cucu dari Eva.
"Dia sudah mendapatkan bagian, yang seharusnya memang menjadi miliknya. Dia pewaris Caesar, tapi mereka adalah pewarisku." Tuan Arya mempertegas ucapannya.
__ADS_1
Cempaka tercenung, menatap tuan Arya dengan saksama. Laki-laki itu tampak serius, entahlah apa yang harus dia rasakan. Apakah harus bahagia? Ataukah cemas?
"Ah ... bagaimana keadaan Ayah?" Cempaka bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Dia membawakan teh herbal untuk laki-laki tua itu konsumsi.
"Ya, seperti yang kau lihat! Sejak meminum teh darimu, Ayah merasa sangat sehat. Tidak seperti dulu, untuk berjalan saja Ayah butuh pegangan." Tuan Arya tersenyum mengingat kesehatannya yang terus memulih kian hari.
"Aku bawakan untuk Ayah, jangan lupa meminumnya. Kedua cucu Ayah ingin Ayah menemani tumbuh kembang mereka," ucap Cempaka sambil menyerahkan bungkusan kepada tuan Arya.
"Terima kasih, Nak." Tuan Arya sangat senang.
Ia mengajak Cempaka dan kedua cucunya untuk berkeliling villa, sementara Gilang memilih duduk di sebuah gazebo di halaman dekat pos jaga.
"Ayah berencana memberikan villa kepadamu karena hanya kau yang Ayah percaya mampu menjaga dan merawatnya."
Cempaka tertegun, rasa tak percaya tuan Arya mengatakan hal tadi. Laki-laki tua itu mengajak Cempaka ke halaman belakang, menuju pintu yang tak pernah dibuka untuk umum.
"Ini pintu apa, Ayah?" tanya Cempaka saat mereka berhadapan dengan pintu berwarna coklat tersebut.
"Di dalam sini, rumah terakhir istri Ayah dibangun." Tuan Arya menghela napas, kemudian membuka pintu tersebut dan mengajak Cempaka masuk untuk mengunjungi makam sang istri.
Di dalam sana, hanya ada satu bangunan kecil tanpa dinding yang mengurung sebuah gundukan tanah dengan nisan bertuliskan Nirmala.
"Apa ... ini makam ibu tuan Caesar?" tanya Cempaka sambil menatap batu nisan tersebut.
Lagi-lagi tuan Arya menghela napas, membenarkan gendongan bayi Zio agar tetap nyaman.
"Benar. Dia wanita yang paling Ayah cintai. Ayah pernah melakukan kesalahan, dan sekarang baru menyadari. Rasanya, Ayah ingin mengulang waktu untuk meminta maaf padanya dan memperbaiki semua."
Suara laki-laki tua itu bergetar, ada kesedihan yang mengalun tertangkap pendengaran Cempaka.
"Jangan larut dalam penyesalan, Ayah. Untuk menebus penyesalan itu, Ayah harus hidup dengan lebih baik, bahagia, dan sehat. Aku yakin, itu semua akan membuat mendiang istri Ayah bahagia di alam sana." Cempaka mengusap punggung tuan Arya.
Laki-laki itu terenyuh, bersyukur bertemu dengan Cempaka dan bahkan bisa hidup dekat dengannya.
__ADS_1