
Plak!
Eva menampar Ani karena wanita di hadapannya hanya diam dan tak mampu menjawab. Disapunya pipi yang terasa panas dan perih, sambil meringis dalam diam. Tak hanya kulit pipi yang memanas, tapi juga hati Ani yang ikut bergejolak.
"Katakan! Di mana anakku!" bentak Eva dengan napas terhembus tak beraturan. Matanya memerah penuh emosi, kedua tangan terkepal bersiap melayangkan pukulan lagi.
"Tu-tuan muda bersama ayahnya, Nyonya. Tu-tuan marah karena sa-saya membawa tuan muda keluar," jawab Ani terbata-bata dan menunduk.
Eva terhenyak mendengar itu, jika benar artinya Caesar marah. Dia yang salah karena membiarkan Ani membawa bayinya keluar rumah. Melihat itu, Ani tersenyum miring. Dia menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat Eva terus merasa bersalah agar tidak menyalahkan dirinya.
"Tuan meminta saya pulang lebih dulu dan menunggunya. Saya tidak tahu ke mana tuan membawa tuan muda. Saya pikir mereka kembali ke rumah," lanjut Ani sambil berdesis karena rasa perih akibat tamparan keras Eva.
Eva diam tidak menjawab, berbalik meninggalkan Ani menuju kamarnya untuk menelpon Caesar. Ani mendongakkan kepala, tersenyum sinis menatap Eva yang seketika dilanda kepanikan.
"Aku tidak ingin disalahkan sendiri, Anda juga harus bertanggungjawab atas kejadian hari ini," gumam Ani seraya berbalik menuju kamarnya sendiri.
Eva sibuk menelpon Caesar bolak-balik, tapi laki-laki itu sama sekali tidak mengangkatnya.
"Ayolah, Caesar! Angkat!" Panik dan gelisah, berkali-kali dia membasahi bibir sendiri dan sesekali menggigitnya.
"Argh! Sial!" Eva membanting ponsel ke atas ranjang, menyugar rambut dengan kasar sambil bertolak pinggang.
Napasnya belumlah normal kembali, masih memburu dengan cepat dan tak beraturan.
"Ke mana Caesar? Kenapa dia tidak mengangkat telponku?" Gusar, itulah yang tertangkap dari raut wajah Eva.
Sudah pasti Caesar marah kepadanya, benar yang dikatakan Lisa dia memang terlalu membebaskan Ani membawa anaknya.
"Apa aku harus mendatangi kantornya?" Eva berpikir beberapa saat.
Ia bergegas menyambar tas juga ponsel dan berlari keluar. Meminta supir pribadinya untuk mengantar ke kantor Caesar.
Sementara di tempatnya, Caesar tengah berada di sebuah ruang VIP salah satu restoran untuk makan siang. Di sampingnya, Evan tertidur dengan lelap setelah lelah bermain. Bayi itu tidak menangis sama sekali.
__ADS_1
"Ternyata mengasuh bayi itu tidak lelah, Arjuna." Caesar bergumam sambil tersenyum meski sempat kerepotan di saat Evan buang air.
Caesar menggantikan popoknya walaupun harus melawan rasa jijik dan mual. Itu pengalaman pertamanya semenjak kehadiran bayi mungil tersebut.
"Anda belajar dengan cepat, Tuan," puji Arjuna.
Benar, mereka tertawa setelah berhasil mengganti popok Evan. Hanya begitu saja, peluh membanjiri wajah serta membasahi kemeja keduanya. Seperti selesai berperang dengan pesaing bisnis mereka.
Caesar tertawa mendengar itu, ada kebahagiaan tersendiri di wajahnya ketika dia berhasil mengurus Evan sendiri.
"Sepertinya, mulai saat ini aku ingin merawat Evan dengan tanganku sendiri," ucap Caesar.
Timbul ketidakpercayaan di dalam hatinya terhadap siapapun yang mengasuh Evan termasuk Eva, ibu angkatnya.
"Anda yakin, Tuan?" tanya Arjuna memastikan.
"Yah. Setidaknya aku harus mencoba. Tadi itu adalah percobaan pertamaku," jawab Caesar tetap dengan senyum yang menyiratkan kebahagiaan.
"Arjuna, aku ingin kau dan yang lainnya mencari jejak Cempaka. Aku ingin dia kembali kepadaku," titah Caesar setelah sekian lama terdiam sambil menatap wajah anaknya.
Gamang. Apa yang harus dilakukan Arjuna, sementara dia harus tetap merahasiakan tentang kehadiran si Kembar. Arjuna tak pernah tahu, jika anak itu bukanlah anak yang dilahirkan Cempaka.
"Kau mendengarku, Juna?!" Caesar melirik, menatap curiga pada asistennya itu.
"Saya mendengarnya, Tuan. Anda tidak perlu khawatir, saya dan yang lainnya akan menemukan nona cepat atau lambat," sahut Arjuna tegas.
Caesar mengangguk dan kembali menatap anaknya. Satu lagi rencana yang ada di dalam otaknya.
"Tuan, ponsel Anda berdering!" beritahu Arjuna ketika Eva menelpon.
"Biarkan saja! Aku ingin memberikan wanita itu pelajaran. Selama ini dia selalu seenaknya sendiri, dan aku selalu mengalah. Semakin aku biarkan semakin dia keterlaluan. Aku tahu Evan bukanlah anaknya, tapi setidaknya dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku ini," ucap Caesar kesal.
Arjuna mengerti, semua ini terjadi karena permintaan Eva sendiri. Memang sudah seharusnya wanita itu lebih banyak memiliki waktu dengan Evan. Nyatanya, Eva masih saja menyibukkan diri sendiri.
__ADS_1
Anda benar, Tuan. Sudah saatnya Anda bangun dan membuka mata.
Arjuna hanya dapat menjawab di dalam hati, dia ingin Caesar tahu dan menyadarinya sendiri jika selama ini dia diperbudak Eva. Sudah saatnya Caesar bangkit dan terlepas dari sosok Eva yang mengaturnya.
"Dan untuk sementara ini, aku akan tinggal di apartemenmu. Aku tidak akan kembali ke rumah untuk beberapa waktu lamanya." Itulah rencananya, Caesar akan tinggal di tempat Arjuna dan membiarkan Eva mencarinya.
"Apa Anda yakin, Tuan?" Arjuna sedikit heran, pasalnya Caesar belum pernah menginap di manapun kecuali di hotel saat melakukan perjalanan bisnis keluar kota.
"Yah, aku akan tinggal di tempatmu beberapa waktu sampai keadaan hatiku membaik dan Eva menyadari kesalahannya," jawab Caesar sembari mengusap-usap dahi anaknya.
Arjuna tak menanggapi, matanya memindai raut wajah sang tuan yang tampak lain. Ada kesedihan, kerinduan, juga harapan yang entah ditujukan pada siapa. Mungkin untuk Cempaka.
"Aku ingin mengunjungi ibu sekalian mengenalkan Evan padanya. Akhir pekan nanti temani aku pergi ke sana, mudah-mudahan ayah pun ada di sana. Aku berharap ayah memang di sana," ucap Caesar tiba-tiba.
Yah, sudah lama sekali dia tidak mengunjungi ibunya. Besar harapan tuan Arya ada di sana karena hanya tempat itu yang tidak diketahui Lisa.
"Baiklah, Tuan. Saya rasa memang sudah waktunya Anda mengunjungi nyonya. Beliau juga ingin mengenal cucunya," sahut Arjuna sambil tersenyum dengan mata melirik bayi Evan.
Bayi itu menggeliat dalam tidurnya, dengan lembut tangan Caesar menepuk-nepuk bokong sang bayi agar dia kembali tertidur.
"Begini rasanya mengurus seorang bayi. Repot, tapi menyenangkan. Aku bahagia. Jika aku tahu mengurus anak sebahagia ini, mungkin aku akan lebih sering mengurus Evan," ujar Caesar sembari mengangkat bayi itu ketika ia membuka matanya.
Diletakkan bayi Evan di pengakuan, meski masih menguap dan mengucek kedua mata karena rasa kantuk yang melekat. Caesar menciumi wajahnya, kemudian beranjak pergi meninggalkan restoran mengantar Evan ke apartemen Arjuna.
"Siapa yang tinggal bersamamu, Juna?" tanya Caesar saat dalam perjalanan.
"Ada ibu, asisten yang bekerja di sana sampai saya datang. Beliau tidak menginap karena memiliki keluarga," jelas Arjuna.
"Kau percaya padanya?" Caesar menyelidik.
"Sudah sejak pertama kali saya menempati apartemen itu, Tuan. Beliau bekerja dengan sangat baik, aku percaya padanya."
"Apa tidak masalah, menitipkan Evan padanya? Hanya ketika aku bekerja?" Caesar menatap Arjuna.
__ADS_1
"Tidak masalah, Tuan. Saya yakin ibu tidak akan membuat Anda kecewa."