
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan sudah Cempaka melewati hari-harinya di rumah baru tersebut. Selama itu pula, Caesar melupakan janjinya. Ingin dia lari dan pergi jauh saja, tapi orang-orang milik Caesar menjaga ketat rumah itu. Di setiap bulan, Arjuna akan datang menjemput untuk melakukan kontrol.
Seperti bulan itu, bulan keempat mereka tinggal di rumah tersebut.
"Nona, sepertinya tuan melupakan janjinya lagi. Anda tidak apa-apa?" celetuk Lucy yang merasa iba dengan sang majikan.
Meski hidup berkecukupan dan tidak kekurangan apapun jua, tapi tetap saja sebagai seorang wanita hamil membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari suami.
"Tidak apa-apa. Tak perlu dipermasalahkan. Aku sebenarnya tidak ingin memikirkan dia, tapi bagaimana pun anak di dalam kandungan ini membutuhkan ayahnya. Nyonya tidaklah hamil, tak ada kehidupan di dalam rahimnya, tapi di sini ... sebuah kehidupan tumbuh." Cempaka mengusap perutnya yang mulai menimbulkan pergerakan sedikit.
Lucy memeluk wanita malang itu, hanya dia yang dimiliki Cempaka saat ini. Terkadang anak-anak Lucy akan datang bermain bahkan, menginap di rumah tersebut.
"Yang sabar, Nona. Semua akan ada waktunya." Lucy menguatkan wanita itu. Selama ini Cempaka terlihat baik-baik saja, tidak terlihat stress ataupun terlihat memikirkan hal-hal yang lainnya.
Mobil Arjuna sudah datang, laki-laki itu masih sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Tersirat rasa iba di kedua maniknya setiap kali datang ke rumah Cempaka.
"Tuan Arjuna sudah datang. Sebaiknya kita bersiap-siap. Bukankah hari ini kita akan mengetahui sesuatu? Anda harus bersemangat, Nona!" Lucy membantu Cempaka memakai blazer.
Ia membawakan tas berisi keperluan miliknya, sebelum membuka pintu menemui Arjuna.
"Bagaimana kabar Anda, Nona?" sapa Arjuna dengan sopan.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kesulitan saat berjalan, mungkin karena kandunganku yang berbeda dengan milik wanita lain." Cempaka terkekeh.
Arjuna sigap membantu, perut Cempaka yang sudah sedikit membesar seperti hamil tua membuatnya kesulitan berjalan.
"Hati-hati, Nona!" Arjuna membukakan pintu untuknya, membantu Cempaka untuk duduk di dalam dengan hati-hati.
"Apa tuan tidak menanyakanku? Apa tuan tidak ingin menyapa anaknya? Dia sudah mulai menunjukkan dirinya," tanya Cempaka dengan perasaan yang perih.
Sudah pasti dia akan mendengar jawaban yang sama. Seperti yang sering dikatakan Arjuna.
__ADS_1
"Tuan menemani nyonya di rumah sakit, Nona. Beliau sering menanyakan keadaan Anda, tapi nyonya selalu mencegahnya untuk pergi menemui Anda." Lagi.
Cempaka menghela napas, memalingkan wajahnya pada jendela. Sebelah tangan menopang kepala, dan yang lain mengusap perutnya yang membuncit.
"Kuharap kalian akan menjaga rahasia ini. Jangan sampai telinga yang lain mendengarnya. Itupun jika kalian memang benar-benar peduli padaku." Suara Cempaka terdengar lirih dan bergetar, memukul sanubari Arjuna juga Lucy.
Pemuda itu mengeratkan genggaman pada kemudi, dia tidak akan pernah mengkhianati Cempaka. Sudah banyak penderitaan yang wanita itu alami.
"Anda tenang saja, Nona. Saya berjanji dengan nyawa saya sendiri." Lucy mengucapkannya dengan tegas dan yakin tanpa keragu-raguan.
Cempaka tersenyum samar, tapi tak memalingkan wajah dari jendela.
"Aku harap tuan tidak akan pernah datang menjengukku agar keadaan ini tak diketahuinya. Aku tidak berharap dia datang, sungguh!" ucap Cempaka lagi bersungguh-sungguh.
Ada hal yang ingin dia sembunyikan dari laki-laki itu juga istrinya. Sebuah rahasia yang hanya diketahui olehnya dan dua orang yang setia mengantarnya untuk melakukan kontrol kandungan.
"Saya harap tuan tidak pernah mengetahuinya, tapi apakah Anda yakin akan menyembunyikannya dari tuan, Nona?" Arjuna berharap yang sama.
"Ya. Aku akan segera pergi setelah melahirkan. Terserah kalian, apakah akan membantuku atau tidak? Aku akan tetap pergi sendiri," ucap Cempaka dengan segenap keyakinan hati.
"Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda, Nona. Ke manapun Anda pergi, saya akan ikut dengan Anda," ucap Lucy sembari memegangi tangan Cempaka meyakinkan wanita itu atas apa yang dia ucapkan.
Cempaka menoleh padanya, tersenyum haru dan penuh syukur.
"Terima kasih karena selama kau selalu ada untukku, tapi aku tidak tahu akan ke mana setelah ini. Apa kau tidak masalah? Bagaimana dengan keluargamu?" Cempaka bertanya meyakinkan pilihan hati Lucy.
Namun, wanita beranak dua itu tersenyum, ringan dan tanpa beban.
"Saya tahu ke mana kita akan pergi. Itupun jika Anda tidak keberatan maka, saya akan membawa Anda pergi ke sana," ucap Lucy dengan yakin.
"Tidak masalah, aku akan ikut selama itu akan menjamin keamananku." Cempaka menyahut dengan pasrah.
__ADS_1
Lucy mengangguk pelan, dia sudah menentukan ke mana mereka akan pergi setelah Cempaka melahirkan. Jauh dari kota tersebut, dan jauh dari jangkauan Caesar.
"Biarkan aku yang mengantar-"
"Tidak! Kau begitu dekat dengannya, sudah pasti dia akan selalu membutuhkanmu. Kau tidak bisa mengantar kami. Cukup pastikan saja kepergian kami tak diketahui olehnya," sela Cempaka dengan cepat mengingat Arjuna adalah kaki tangan Caesar.
Pemuda itu gamang, sebelah hatinya membenarkan ucapan Cempaka dan sebelah lagi ingin melindungi wanita itu. Arjuna terdiam, begitu pula dengan kedua wanita di kursi belakang itu. Sampai mobil mereka memasuki area parkir rumah sakit, jauh dari mobil Caesar terparkir.
Dari dalam mobil, Cempaka dapat melihat laki-laki itu memapah Eva berjalan. Mesra dan layaknya suami siaga. Padahal, yang benar-benar mengandung ada di belakangnya. Di belakang mereka, beberapa keluarga ikut untuk melihat pemeriksaan.
"Mari, Nona!" Arjuna membuka pintu, Cempaka mengenakan masker juga kacamata hitam sebelum keluar.
Mereka mengambil jalan yang berbeda, langsung menemui dokter dan membuat skenario. Cempaka bersama Lucy dan Arjuna berada di ruangan dokter, tersembunyi. Sedangkan Eva dan Caesar berada di ruang pemeriksaan.
"Wah. Bayinya sehat. Lihat, apakah itu!" seru salah satu anggota keluarga kegirangan.
Oh, mereka sudah ditipu. Itu bukan berasal dari rahim Eva ataupun dari rahim Cempaka, melainkan dari rahim wanita lain yang disewa Cempaka demi menjaga rahasianya.
"Mereka terdengar bahagia," bisik Lucy di telinga sang majikan.
"Biarkan saja saat ini mereka bahagia, kita lihat sampai kapan kebahagiaan mereka akan berlangsung?" Cempaka mengulas senyum sinis.
Sampai Caesar dan rombongannya pergi, mereka tetap bersembunyi. Dokter datang menghampiri bersama wanita hamil tersebut, dan mulai memeriksa Cempaka.
"Dokter, aku harap Anda merahasiakan kehamilan kembar ini seperti Anda merahasiakan kehamilan palsu nyonya Eva. Tolong aku, Dokter," pinta Cempaka setelah pemeriksaan selesai dilakukan.
Dokter paruh baya itu tersenyum, dan mengangguk pasti. Dia sudah membuat perjanjian dengan Cempaka akan merahasiakan kehamilan kembarnya dari Caesar. Seperti perjanjian yang dilakukan Caesar dan Eva dengannya.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Setelah mengetahui kenyataannya, saya jadi berpikir kembali untuk mengabarkan ini kepada tuan. Anda berhak atas anak yang ada di kandungan Anda," ujar dokter tersebut menerbitkan senyum kelegaan di bibir Cempaka.
"Terima kasih, Dokter."
__ADS_1
"Jangan sungkan!"