
Cempaka mengernyit ketika sesuatu mengurung tubuhnya. Perlahan membuka mata dan menurunkan pandangan, sebuah tangan melingkar di pinggang, menyentuh perutnya.
Dia tahu tangan siapa itu, dari jemarinya saja sudah hafal betul. Cempaka melirik ke belakang tubuhnya, kembali ke posisi semula setelah melihat Caesar yang tertidur sambil memeluknya dari belakang.
Cempaka mengusap tangan Caesar, membangunkannya karena sesuatu yang harus dia lakukan.
"Tuan, bangun! Aku harus ke kamar mandi," ucap Cempaka sedikit menggoyangkan tangan Caesar agar laki-laki itu terbangun.
Namun, entah terlalu lelah atau menikmati masa bahagianya, Caesar bergeming dalam tidurnya. Cempaka menghela napas, mengangkat perlahan tangan laki-laki itu dan beranjak turun. Diletakkannya tangan Caesar di atas bantal, sekilas ia melihat Lucy terbaring di sofa memunggungi.
Cempaka berjalan menuju kamar mandi, rasa pening di kepalanya sedikit berkurang. Setelah kepergiannya, Caesar terusik. Tangannya meraba tubuh Cempaka yang terasa lain, mengernyit wajah itu merasa aneh.
Caesar membuka mata, terlonjak duduk karena tak mendapati sosok yang dipeluknya.
"Champa!" Dia memanggil, suaranya yang cukup lantang menyentak tubuh Lucy dari tidurnya.
"Tuan! Ada apa?" Tergopoh ia datang ikut merasa panik melihat keadaan sang tuan.
"Kau melihatnya? Di mana dia?" tanya Caesar cemas.
"Tuan! Aku di kamar mandi!" Suara sahutan dari dalam kamar mandi, melegakan hati keduanya.
Caesar beranjak dari ranjang dan mendekati kamar mandi. Berdiri di depannya, menunggu Cempaka selesai dengan hajatnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Caesar mengetuk pintu tersebut dengan pelan.
"Ya, Tuan." Jawaban singkat dari Cempaka tak membuat hatinya tenang.
Caesar menggerakkan pegangan pintu hendak membukanya, tapi terkunci. Berselang, Cempaka membuka pintu dan mengernyit heran melihat wajah panik suaminya.
"Tuan, ada apa?" Ia menoleh ke sisi ranjang, di sana Lucy terlihat menghela napas.
Caesar tidak menjawab, melainkan memegangi kedua bahu Cempaka dan menilik seluruh tubuhnya.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Caesar tak menyudahi kepanikannya.
"Aku baik-baik saja, Tuan. Hanya tadi sedikit pusing saja. Apa ini di rumah sakit?" tanya Cempaka mengenali situasi ruangan yang didominasi warna putih.
"Aku yang membawamu ke sini. Yudi menelpon dan mengatakan kau pingsan," jawab Caesar sembari menarik tubuh Cempaka ke dalam dekapan.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa-apa. Apa kita bisa kembali sekarang?" Cempaka mendongak menatap kedua manik hitam yang memancarkan kecemasan.
"Kau yakin tidak apa-apa?" selidik Caesar dengan dahi mengernyit.
Merasa dimanja, Cempaka menggelengkan kepala.
"Aku sudah lebih baik. Kita pulang, ya. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini," pinta Cempaka sengaja mengeratkan pelukannya.
Melihat kedipan mata manja itu, Caesar menghela napas. Ia mengangguk dan mengajaknya mendekati ranjang.
"Ah, Tuan! Siapa yang memakaikan aku baju? Apa Lucy?" tanya Cempaka teringat kala ia jatuh pingsan hanya mengenakan bath robes saja.
"Aku." Caesar menjawab santai.
"Apa?" Kedua mata Cempaka menjegil lebar, kemudian meringis malu membayangkan tubuh tanpa sehelai benangnya dieksplor Caesar dengan bebas.
Ia menunduk menatapi tubuhnya sendiri, meratap dan meringis hingga rasa malu membuat wajahnya memerah.
"Kenapa kau terkejut seperti itu?" Caesar berbalik dan mendelik tak senang.
Sementara Lucy menutupi mulutnya khawatir akan ketahuan jika ia tengah tersenyum.
"Sudahlah. Lagipula aku sudah sering melihatnya. Kau tidak perlu malu lagi." Caesar tersenyum, seraya merangkul bahu Cempaka dan mengajaknya keluar.
Mereka duduk di lobi menunggu Lucy menyelesaikan persyaratan pulang sambil menunggu kedatangan Arjuna. Caesar yang terlalu bahagia, secara spontan mengecup pipi Cempaka.
Wanita itu berjengit, sedikit menjauhkan kepala darinya. Disapunya pipi sambil mengedarkan pandangan malu. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
"Tuan, ada apa dengan Anda?" tanya Cempaka bingung.
"Tidak ada. Aku hanya sedang merasa bahagia." Caesar menghendikan bahu, kemudian bersandar punggung santai. Seolah-olah itu hal yang biasa dia lakukan di tempat umum.
"Bahagia? Apa yang menyebabkan Anda bahagia?" Dahi Cempaka berkerut, senyum di bibir laki-laki itu memang lain. Sangat berbeda dari biasanya. Lebih alami, lebih segar, dan sumringah.
"Kau tahu, sebentar lagi aku akan menjadi ayah," bisiknya di telinga Cempaka.
"Benarkah?" Ada yang perih di hati Cempaka. Jika ia hamil, kemudian melahirkan, maka kebersamaan mereka pun akan berakhir. Cempaka tak akan lagi merasakan sentuhan lembut dari tangan kekar itu.
"Tentu saja. Tidak sia-sia aku selama hampir satu bulan ini menabur benih. Pada akhirnya membuahkan hasil juga. Ingat, jangan terlalu lelah. Kau dan bayiku harus dalam keadaan baik-baik saja," ucap Caesar dengan nada lembut mengalun.
__ADS_1
Cempaka terdiam, menundukkan kepala sedih.
Benar. Benih ini hanya titipan. Mereka menitipkannya di rahimku yang sudah mereka sewa. Tuhan ... perih sekali rasanya.
"Ayo!" Caesar beranjak, mengulurkan tangannya pada Cempaka.
"Ah, iya." Cempaka bangkit tanpa menyambut uluran tangan tersebut. Hatinya terlalu sibuk memikirkan nasibnya setelah melahirkan nanti.
Namun, Caesar segera meraih tangan itu, dan menggandengnya keluar rumah sakit. Arjuna telah menunggu di parkiran, berdiri siaga di dekat pintu mobil. Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk mereka dan tak lupa pula untuk Lucy.
"Terima kasih!"
Arjuna berlari ke sisi kemudi dan menjalankan mobil tersebut dengan segera. Di sepanjang perjalanan, Caesar tak melepaskan genggaman tangan mereka. Bahkan, sesekali dia akan mencium punggung tangan Cempaka karena rasa bahagia yang meluap-luap.
Namun, tidak dengan wanita itu, Cempaka lebih memilih menatap jalanan. Menjatuhkan kepala pada jendela. Terlalu cepat, dia mulai merasa aman berada di dekat Caesar. Bisakah dia berlama-lama bersamanya?
Perasaan apa ini? Seharusnya aku bahagia, bukan? Karena setelah melahirkan nanti, aku akan terbebas dari pernikahan ini, tapi kenapa aku bersedih? Rasanya aku ingin menangis.
Terbayang saat Caesar begitu lahap memakan masakannya. Terbayang pula saat ia memintanya untuk membuat suatu makanan. Cempaka menyukai itu. Merasa berguna dan dibutuhkan. Namun, setelah melahirkan nanti, tak akan lagi yang memintanya untuk memasak. Tak akan ada lagi yang memuji masakannya seperti Caesar.
Kau tidak bisa seperti ini, Cempaka. Kau harus bisa menerima takdirmu.
Cempaka membeku dengan pandangan mengarah pada jendela. Sentuhan Caesar di kulit tubuhnya, juga kecupan mesra di tangannya, semakin meremukkan hati Cempaka.
Mobil berhenti di halaman, tepat ketika tuan Arya muncul dari dalam rumah.
"Tuan, biar saya turun duluan. Sebaiknya Anda tidak turun untuk menghindari kecurigaan Tuan Besar," ucap Cempaka sembari menarik tangan yang digenggam Caesar.
Ingin menjawab, tapi lidah laki-laki itu kelu terasa. Salahnya berdusta karena terlalu ingin melindungi posisi Eva. Cempaka membuka pintu bersamaan dengan Lucy. Senyum hangat tuan Arya menyambut kedatangannya.
"Aku mencarimu, Nak. Dari mana saja kau?" tanya tuan Arya sembari menarik tangan Cempaka untuk duduk di teras.
"Hanya berjalan-jalan di luar, Tuan. Ada apa Anda mencari saya?" Cempaka tersenyum ramah.
Melihat keakraban keduanya, hati Caesar terenyuh. Tuan Arya tidak seakrab itu dengan Eva, tapi terhadap Cempaka ... ia bahkan tak segan mengajaknya berbincang.
"Kita kembali!" titah Caesar kepada Arjuna.
Dari teras, tuan Arya melirik. Laki-laki tua itu tahu Caesar berada di dalam mobil. Hanya berpura-pura tak tahu agar penyelidikannya aman.
__ADS_1