
"Ani! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berdebat dengan Ibu?" tanya Caesar dengan sikap yang tak suka.
Dia tidak menyukai sikap Ani yang terlalu keras terhadap Lisa meskipun dia sendiri tidak menyukai wanita paruh baya itu.
"Maaf, Tuan. Sudah tugas saya sebagai pengasuh Tuan Muda untuk memastikan keselamatannya. Saya memang tidak tahu apa yang nyonya Lisa lakukan, tapi saya melihat beliau ingin memasukkan sesuatu ke dalam mulut Tuan Muda. Saya hanya ingin memastikan apa yang ada di tangannya. Itu saja, Tuan," jawab Ani dengan kepala menunduk.
Salahnya karena terlalu keras kepada ibu tiri Caesar itu, tapi ia juga tidak dapat bersikap diam saja jika keselamatan bayi Evan terancam.
Caesar menghembuskan napas sedikit kasar, ia menatap tajam pada pengasuh anaknya yang tidak memiliki rasa bersalah itu.
"Tapi tetap saja aku tidak suka kau bertindak keterlaluan seperti tadi. Dia wanita yang dinikahi ayah, artinya dia ibuku meski bukan kandung, menghormatinya sama saja menghormati ayahku. Lain kali, bersikaplah dengan lebih baik. Aku ingin kau meminta maaf padanya," tegas Caesar penuh penekanan.
Oleh karena insiden tadi, acara pesta dibubarkan sebelum waktunya. Para tamu meninggalkan rumah sang pemilik acara setelah Caesar mempersilahkan mereka kembali.
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi, dan saya berjanji akan meminta maaf kepada nyonya Lisa," ucap Ani semakin dalam menundukkan kepala. Kedua tangannya meremas rok yang ia kenakan, geram dan kesal, tapi tak dapat melawan.
"Ya sudah, pergilah!"
Ani mengangguk, seraya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Eva yang sejak tadi hanya mendengar, menahan diri untuk tidak memprotes sikap Caesar. Sampai Ani benar-benar pergi meninggalkan mereka, barulah Eva bereaksi.
"Ani hanya ingin melindungi Evan dari bahaya, Caesar. Seharusnya kau tidak perlu sekeras itu padanya." Eva melirik Caesar, sambil menimang Evan di gendongannya.
Laki-laki itu menghela napas, menjatuhkan tubuh di sofa samping mereka. Ia mengambil Evan dan memangkunya, bermain dengan sang anak demi menuntaskan rasa rindu kepada Cempaka.
"Aku tahu, tapi yang aku maksud Ani seharusnya tahu tempat. Tadi itu ada banyak teman ibu ... kau pasti tahu seperti apa perasaan ibu sekarang, bukan? Bayangkan, jika kau menjadi ibu." Caesar menciumi sang anak, membayangkan yang ada di samping adalah Cempaka.
__ADS_1
Eva tercenung, dia membenarkan ucapan suaminya, tapi menyimpan amarah kepada Lisa di dalam hati. Seharusnya wanita tua itu yang tidak membuat masalah di acara pesta Evan. Itu sudah menjadi resiko dari apa yang dia lakukan.
"Eva, sering-seringlah di rumah dan bermain dengan Evan. Jangan terlalu sering meninggalkannya," pinta Caesar sambil melirik Eva yang duduk di sampingnya.
Eva mendengus mendengar permintaan Caesar, tapi sepertinya dia harus melemah dan mengikuti kemauan laki-laki itu. Demi mendapatkan hati juga simpatinya.
"Kau tahu, akhir-akhir ini salonku sering dikunjungi artis-artis papan atas juga para istri pejabat. Tak jarang juga ada teman-temanku juga berkumpul di sana. Jadi, terkadang mereka meminta bertemu denganku. Jika kau ingin aku seperti itu, aku akan mengurangi jadwalku mendatangi salon. Aku juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Evan," sahut Eva meyakinkan hati Caesar.
Ia bergelayut di lengan suaminya dengan manja, bermain bersama Evan yang tampak asik mengemuti jarinya. Caesar menoleh, mencium kepala Eva penuh cinta.
"Terima kasih, ya." Mereka terlihat bahagia, perlahan Caesar mulai melupakan Cempaka.
Menghapusnya dari ingatan. Menganggapnya tak pernah ada karena dia hanya menginginkan seorang anak dari wanita itu.
"Apa kau tenang di atas sana? Sedang apa kau di sana? Bersantai? Bersenang-senang?" sarkasnya pada hembusan angin yang tak terlihat.
Ia tertawa getir, kehilangan yang ia rasakan benar-benar membekas di dalam ingatan.
"Kau pastilah menertawakan aku, bukan? Aku pastikan semua orang yang menyakitimu akan menderita!" Air muka Ani berubah, merah padam dan penuh amarah. Kilatan matanya memancarkan kebencian juga dendam yang membara.
Dia meremas pembatas balkon, seolah-olah sedang mencabik-cabik orang-orang yang sudah memberikan rasa sakit pada kehidupannya. Malam terus berlalu, gelap pun semakin nyata menabur rasa takut. Ani memutuskan masuk ke dalam kamar, menatap ranjang Evan yang belum terisi. Mungkin malam ini, bayi itu tidur dengan orang tuanya.
Ani merebahkan diri di atas ranjang, tidur sambil memeluk guling milik Evan.
****
__ADS_1
Di villa, tuan Arya tengah merenung sambil mendekap potret sang istri. Segala kerinduan tentangnya, terobati oleh kehadiran Cempaka. Hatinya menghangat setiap kali berbincang dengan wanita itu.
Ia membuka gambar sang istri, memandanginya dengan penuh kasih.
"Aku sudah tidak kesepian lagi, sayang. Di sini, ada Cempaka yang begitu memperhatikan aku. Kau tidurlah yang tenang di sana. Bukankah kau selalu memintaku untuk tidak menikahi Lisa? Aku akan meninggalkannya mulai sekarang." Tuan Arya mengusap gambar seorang wanita cantik dan mempesona.
"Kau benar, sayang. Kau memang selalu benar. Lisa adalah wanita licik, dia hanya menginginkan hartaku. Aku sungguh menyesal karena tidak pernah mendengar ucapanmu. Maafkan aku, sayang. Maaf. Mungkin sudah terlambat, tapi aku benar-benar menyesal."
Tuan Arya meneteskan air mata, mengingat masa-masa di mana sang istri masih menemani perjalanan hidupnya. Dia selalu terlihat cantik dan mempesona sehingga membuat tuan Arya tak mampu memalingkan mata pada yang lain.
"Seandainya waktu bisa diputar ... aku ingin kau kembali kepadaku. Sampai saat ini aku masih tidak percaya bahwa kematianmu karena sakit." Tuan Arya tercenung, seolah-olah menemukan sesuatu.
"Jangan-jangan Lisa adalah penyebab kematianmu ... dia yang membuatmu sakit seperti yang dilakukannya padaku. Ya Tuhan, ternyata selama ini aku telah memelihara ular berbisa. Kenapa aku baru menyadari setelah semuanya terjadi."
Tuan Arya menghela napas panjang, kematian sang istri yang terasa janggal olehnya selama ini selalu mengganggu. Seolah-olah ada yang harus dituntaskan, tapi dia tak menyadarinya.
"Sepertinya aku harus menyelidiki ini lagi."
Tuan Arya beranjak dari perapian menuju kamarnya. Mengambil ponsel dan menghubungi sang sekretaris untuk menyelediki Lisa juga anaknya.
"Aku curiga dialah yang menyebabkan kematian istriku. Aku ingin kau menyelidiki mereka, temukan apapun yang mencurigakan." Tuan Arya memerintahkan sekretarisnya untuk menuntaskan kasus kematian sang istri.
Sekali lagi, kehadiran Cempaka tanpa sadar telah membuka mata hatinya. Dia sempat menaruh hati kepada Lisa juga mempercayainya dengan sangat. Ternyata, Lisa adalah ular berbisa yang dipeliharanya dengan penuh cinta.
Dia tidak akan pernah tertipu lagi oleh segala rayuannya.
__ADS_1