
Malam itu Eva berniat pergi ke salon miliknya. Berencana tinggal di sana untuk sementara waktu sampai keadaan membaik. Dia berdiri di tepi jalan menunggu kedatangan taksi yang dipesannya. Bahkan, Caesar tak berniat mengantar.
Laki-laki itu memang tidak meninggikan suara, tapi bertindak dengan tegas tanpa menghamburkan tenaga. Eva berbalik, memandangi rumah mewah yang selama hampir tujuh tahun itu ia tinggali. Rasanya tak rela jika itu akan menjadi milik orang lain, apalagi Cempaka.
"Astaga! Aku lupa pada Ani." Eva terhenyak ketika mengingat Ani, buru-buru mengirim pesan kepadanya. Lewat Ani, dia bisa memata-matai siapa yang nanti akan tinggal di rumah itu.
Ani, bertahanlah di rumah itu. Jangan sampai mereka memecatmu!
Pesan terkirim, Eva tersenyum licik. Berselang, sebuah mobil yang dipesannya datang. Menyebutkan nama Eva. Tanpa menunggu, segera saja masuk dan meminta sang supir untuk pergi.
Eva mengeluarkan cermin dari tas kecilnya, memoles make-up ke wajah. Dia tidak ingin karyawan di salon melihatnya dalam keadaan kacau. Bagaimanapun keadaannya, seorang Eva harus selalu tampil cantik dan menarik. Mobil tiba di depan sebuah gedung berlantai empat.
Eva membayar ongkos, dan segera turun tanpa memperhatikan sekitar. Salonnya selalu ramai pengunjung hingga larut. Di lantai puncak adalah ruangan khusus untuknya beristirahat dan sesekali akan didatangi Caesar.
Dengan senyum mengembang sempurna, Eva menyeret koper miliknya. Namun, alangkah bingung ia ketika mendongak menatap keadaan salon. Langkah Eva terhenti, wajah mengernyit tak mengerti. Ke mana semua pelanggan? Ke mana semua karyawan?
"Kenapa salon gelap seperti ini? Apa itu?" gumam Eva, seraya melanjutkan langkah saat menangkap sesuatu yang menggantung di pintu. Diletakkannya koper sebelum berlari mendekat.
Napas Eva tercekat di tenggorokan, seketika dunia ikut berhenti berputar. Tanda segel terpasang jelas di sana. Eva syok, degup jantung yang tiba-tiba meninggi membuat dadanya terasa sakit.
"Tidak! Ah, jantungku! Ini tidak mungkin! Siapa yang berani menyegel salonku?!" hentak Eva sembari menarik papan tersebut dan melemparnya. Salon itu benar-benar terkunci, tak ada kegiatan di dalamnya.
"Ke mana semua karyawan? Kenapa mereka meninggalkan salon ini tanpa menghubungiku?" geram Eva mulai menekan satu per satu nomor karyawan, tak ada yang menjawab sampai pada nomor sekretarisnya, barulah sambungan terangkat.
"Kenapa kalian pergi meninggalkan salon? Siapa yang sudah berani menyegel salonku?" bentak Eva pada orang kepercayaannya itu.
"Maaf, Nyonya. Kami sendiri tidak mengerti, tiba-tiba sekelompok orang datang dan membubarkan salon. Mereka mengatakan bahwa salon ditutup atas perintah dari tuan Caesar. Kami tidak dapat melakukan apapun, Nyonya. Maafkan kami," ucap sekretaris Eva sambil terisak.
Sulitnya mencari pekerjaan membuat mereka bersedih karena tempat bergantung selama ini harus disita.
"Lalu, kenapa kalian tidak menelponku? Kenapa tidak memberitahuku?!" Eva meradang, suaranya meninggi memekakkan telinga.
"Kami tidak diberi kesempatan untuk menghubungi Anda, Nyonya. Mereka mengusir kami dengan paksa. Bahkan, para pelanggan dibubarkan dan mereka langsung merebut kunci salon," jawab suara dari seberang masih terisak sedih.
Eva tak dapat lagi berkata-kata, emosinya kembali memuncak. Gigi saling beradu hingga menimbulkan bunyi gemeratak yang jelas. Ia langsung mematikan sambungan tanpa berpamitan. Mencari kontak Caesar dan menghubunginya.
"Sial! Dia masih mematikan ponselnya!" umpat Eva ketika tak dapat menghubungi lelaki itu.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke rumah itu, aku harus meminta penjelasan kepadanya. Seenaknya saja dia menutup tempat usahaku tanpa berbicara lagi!" Eva berbalik, kembali menyeret koper miliknya dan pergi.
Sayang, memesan taksi tak semudah yang dia bayangkan.
"Kenapa lama sekali datang?!" Eva berdecak lidah, tak sabar ingin mendamprat laki-laki yang sudah berani menyita salonnya itu.
Setelah lima belas menit menunggu, taksi itu muncul dan berhenti tepat di hadapan Eva.
"Kenapa kau lama sekali? Kau tahu aku sudah berdiri di sini sejak memesan taksimu. Sungguh menyebalkan!" umpat Eva dengan wajah bengis dan angkuhnya.
Supir tersebut tergopoh-gopoh turun dan membawakan koper milik Eva.
"Maaf, Nyonya. Terjadi kemacetan di jalan," katanya sembari membungkuk sebelum memasukkan koper tersebut ke dalam bagasi.
Gegas ia kembali untuk membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Eva masuk.
"Kau tahu tujuan kita, bukan?" tanya Cempaka sembari bersedekap dada kesal.
"Tahu, Nyonya. Saya sering mengantar para pekerja ke rumah itu," jawab sang supir seraya menjalankan mobilnya dengan segera.
Semua ini karena Cempaka. Karena kehadiran wanita itu ... ah, rasanya aku menyesal memintanya menikah dengan Caesar.
Eva menggerutu di dalam hati, seluruh wajahnya mengernyit menahan kekesalan yang melanda hati. Sungguh, dia menyesal.
Seharusnya aku memikirkan ini sebelum mengambil keputusan itu. Aku kira Caesar tidak akan lepas dari genggaman. Nyatanya, dia pergi karena perempuan itu.
Eva menghembuskan napas kasar, menumpahkan emosi yang membuat dadanya sesak. Apapun yang terjadi, dia tetap menyalahkan Cempaka.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Caesar. Gerbang yang tertutup rapat, tapi kehidupan masih jelas terlihat.
"Tunggu di sini, aku hanya sebentar!" titah Eva sebelum turun dari mobil dan masuk ke dalam gerbang. Beruntung, belum terkunci dan penjaga gerbang berada di dalam pos jaga.
"Tunggu, Nyonya! Anda tidak boleh masuk begitu saja!" cegah sang penjaga gerbang menghadang langkah Eva.
Emosi yang sudah naik semakin memuncak tak terkendali. Eva mendorong dada laki-laki itu meski tak tergoyahkan.
"Kau pikir kau siapa? Kau lupa siapa aku? Aku nyonya di rumah ini. Kau hanya pekerja rendahan bisa-bisanya menghalangi jalanku!" ketus Eva menatap nyalang laki-laki bertubuh tegap itu.
__ADS_1
"Saya memang pekerja rendahan, untuk itulah saya ditugaskan menjaga keamanan rumah ini dari orang-orang yang akan membuat kegaduhan. Lagipula, Anda bukan lagi majikan saya. Sekarang, silahkan pergi! Anda tidak diterima di rumah ini!" Dengan tegas dan berani, dia mengusir Eva. Tangannya terangkat menunjukkan jalan keluar untuk wanita angkuh itu.
"Kau ...!"
"Silahkan! Apa perlu saya melakukan kekerasan?" ucap penjaga gerbang itu bergeming pada sikapnya.
Eva menggeram, wajah dan matanya memerah. Dada kembang kempis seiring napas yang terus memburu.
"CAESAR, KELUAR KAU! LAKI-LAKI PENGECUT! BERANINYA KAU MENUTUP SALONKU! KELUAR KAU!" teriak Eva menggema hingga ke dalam rumah.
Arjuna, Yudi, dan Caesar yang baru saja memejamkan mata hendak tertidur kembali terjaga. Ketiganya beranjak keluar, tapi Yudi lebih dulu sampai di teras.
"Nyonya! Jangan membuat kegaduhan di sini. Silahkan Anda pergi!" Penjaga gerbang itu mendorong tubuh Eva meski mendapat perlawanan.
"Ada apa ini?" Suara Yudi menghentikan aksi penjaga gerbang yang mendorong Eva.
"Yudi! Panggil tuanmu! Aku ingin menuntut penjelasan darinya!" jerit Eva ketika melihat Yudi.
"Anda?" Kaki Yudi melangkah menuruni tangga teras. Menatap tajam kepada Eva yang beberapa saat lalu sudah pergi dari rumah itu.
"Untuk apa lagi Anda datang? Saya rasa sudah tidak ada urusan lagi di sini," ucap Yudi setelah berhadapan dengan Eva.
"Tidak ada urusan kau bilang? Dengan lancang dia menutup tempat usahaku. Kau bilang tidak ada urusan?!" pekik Eva tidak terima. Merasa dipermainkan oleh Caesar setelah terusir dari rumahnya.
"Tentu saja aku berhak melakukan itu." Suara Caesar menyambar membuat Yudi segera menyingkir dari jalan.
Eva mendongak cepat. "Apa maksudmu? Kau pikir kau yang membangun usaha itu? Lancang sekali!" sentak Eva masih dengan emosi yang berapi-api.
"Memang bukan aku yang membangunnya, tapi tempat itu dibangun tentunya menggunakan uangku. Aku berhak melakukan apapun yang aku suka," sahut Caesar tak lagi memiliki belas kasihan terhadap wanita itu.
"Kau keterlaluan, Caesar!"
"Ya, kau boleh mengatakan aku seperti itu. Uang yang aku berikan, anggap saja sebagai pertukaran. Sekarang, pergilah! Kau tidak diizinkan menginjakkan kaki di rumah ini. Pergi sebelum orang-orangku yang akan mengusirmu dengan paksa!" tegas Caesar seraya berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.
"Kurang ajar kau, Caesar! Kau memang tidak memiliki perasaan. Kau kejam!" jerit Eva sembari memberontak dari cekalan orang-orang Caesar.
Laki-laki itu tak peduli, menulikan telinga dan tetap melanjutkan langkah.
__ADS_1