
Matahari tenggelam mengiringi kedatangan Cempaka di rumah utama keluarga Arya. Gerbang yang dicat berwarna hitam itu masih kokoh berdiri meski sudah lama ditinggal pemiliknya. Penjaga gerbang sigap membuka jalan untuk mereka, hawa sejuk langsung saja menyambut.
Pepohonan rindang dari berbagai jenis buah, bunga-bunga yang sebagain bermekaran di sepanjang halaman, menyambut kedatangan mereka. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Padahal, di dalamnya hanya berdiri sebuah bangunan sederhana yang dipoles cat putih bersih. Sangat terjaga, terawat, dan sama sekali tak terlihat seperti rumah tak berpenghuni.
"Inikah rumah nyonya besar?" gumam Cempaka tanpa sadar. Nada suaranya menyiratkan kekaguman yang luar biasa. Sepanjang mata memandang, dia dibuat takjub oleh suasana sekitar rumah itu.
"Benar, Nona. Nyonya sangat sederhana, dan sangat menyukai tanaman. Semua pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sini, adalah hasil karya tangannya sendiri," jawab sang supir dengan senyum bangga yang terulas.
Lucy sendiri tak dapat berkata-kata, sangat jauh berbeda dengan keadaan di rumah Eva yang serba mewah.
"Itulah kenapa beliau membangun rumah di wilayah ini?" Cempaka kembali bertanya.
"Benar, Nona. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk masyarakat. Hanya sejak beliau meninggal, gerbang itu selalu tertutup. Nyonya sangat ramah kepada tetangga, tak segan membantu bila ada yang kesusahan. Tidak pernah membanggakan statusnya sebagai keluarga Arya yang terhormat. Bahkan, di antara mereka ada yang tidak mengenal beliau sebagai menantu dari keluarga terpandang. Itulah nyonya."
Cempaka dan Lucy saling menatap satu sama lain, kehidupan yang dijalani seorang nyonya besar bagai langit dan bumi bila melihat Lisa dan Eva. Mereka tidak seperti nyonya. Bahkan, Caesar terlalu angkuh untuk menjadi anak dari wanita yang diceritakan supir tadi.
Mobil berhenti tepat di depan teras, pintu utama telah terbuka dan kepala pelayan di sana sudah berdiri menunggunya. Satu orang pekerja sigap membukakan pintu untuk mereka, dan yang lain membuka bagasi membawakan koper bersama sang supir.
Cempaka dan Lucy merasa takjub dengan sambutan itu. Tidak seperti saat di rumah Eva, tak ada yang peduli padanya. Semua orang menganggapnya pekerja sama seperti mereka.
"Selamat datang, Nona. Kami senang Anda datang berkunjung!" sapa kepala pelayan tersebut dengan tubuh membungkuk sopan.
"Maaf, Pak, tapi saya hanya tamu di sini." Cempaka merasa tak pantas mendapatkan penghormatan itu. Dia bukan siapa-siapa keluarga Arya, tapi disambut sedemikian rupa.
Kepala pelayan itu menegakkan tubuh, tersenyum bibirnya saat bersitatap dengan manik Cempaka.
"Persis seperti mendiang nyonya. Mari! Saya antar ke kamar Anda. Ini adalah rumah Anda, kami sudah menunggu kedatangan Anda sejak diumumkannya sang pewaris." Tangan laki-laki itu menjorok ke dalam, mempersilahkan Cempaka untuk masuk.
__ADS_1
Mendengar itu, Cempaka semakin bingung. Dia sama sekali tidak menyangka akan mewarisi harta milik keluarga Arya. Bahkan, bermimpi saja tidak. Ia melangkah diikuti Lucy meski dengan hati yang bingung dan ragu.
"Memangnya siapa pewaris yang kalian maksud?" tanya Cempaka mensejajarkan langkah dengan kepala pelayan tersebut.
"Tuan memberitahukan kepada kami bahwa akan datang keturunan dari keluarga Arya yang akan mewarisi rumah ini. Bukan dari nyonya Eva, tapi dari yang lain. Pagi tadi kami mendapat kabar bahwa Anda akan datang." Ia tersenyum ramah, jauh berbeda dengan Yudi.
Cempaka melirik Lucy, semua hal yang terjadi mematahkan persepsi Lucy yang menganggap tuan Arya penuh muslihat.
"Ini kamar utama. Sekarang menjadi kamar Anda. Kamar untuk kedua tuan muda dan nona muda, berada di sebelah kamar ini. Akan ada dua orang pengasuh yang membantu Anda merawat mereka selama tinggal di sini," ucap kepala pelayan tersebut sembari membuka pintu kamar yang dimaksud.
Sebuah ruangan yang sangat luas, di dalamnya terdapat ranjang berukuran besar yang ditata rapi dan bersih. Tak ada kesan kumuh apalagi kesan menyeramkan lantaran sudah lama tak dihuni. Keadaan kamar itu masih sama seperti ada yang menempati.
Sebuah lemari besar dari kayu terbaik masih terlihat kokoh, meja rias dengan cermin yang besar berada di sampingnya. Jendela besar dengan tirai berwarna putih menghadap langsung pada taman bunga. Tak lupa pula kamar mandi. Itu lebih dari cukup untuk mereka tempati bersama.
"Bisakah anak-anakku tidur di sini saja? Aku tidak terbiasa tidur sendiri," pinta Cempaka setelah mengamati keadaan kamar tersebut.
"Tentu saja. Sesuai permintaan Anda, Nona. Beristirahatlah, kami akan menyiapkan makan malam untuk Anda." Kepala pelayan tersebut membungkuk seraya undur diri sembari mengajak Lucy keluar dan menuju kamarnya.
Cempaka meraba lemari besar tersebut, membukanya, dan alangkah terkejutnya ia saat semua pakaian telah tersusun rapi di dalamnya termasuk pakaian milik si Kembar.
"Kita punya rumah, sayang." Cempaka menghampiri kedua anaknya yang ia turunkan di lantai. Dia mengganti pakaian mereka, memandikan keduanya menggunakan air hangat.
Rasa haru memenuhi relung jiwanya saat ini, tuan Arya benar-benar menyayangi kedua cucunya itu sekalipun terlahir dari rahim seorang wanita yang tak diinginkan sang anak.
Usai memandikan keduanya, Cempaka merebahkan diri di ranjang bersama mereka. Menidurkan si Kembar di atas kasur yang empuk.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
"Nona, kami membawakan ranjang untuk tuan dan nona muda!"
Cempaka yang sedang menyusui keduanya, buru-buru bangkit dan menutup bagian dada.
"Masuklah!"
Pintu terbuka, dua orang pekerja laki-laki mendorong sebuah box bayi berukuran besar ke dalam kamar tersebut. Mereka menatanya sesuai dengan keinginan Cempaka. Setelah itu, mereka pergi dan membiarkan sang nona beristirahat.
"Lihat, kalian bahkan memiliki tempat tidur sendiri di sini. Mommy tidak akan khawatir kalian jatuh saat terbangun dan tidak ada Mommy di kamar," lirih Cempaka bergetar penuh haru.
Kedua anak kembar itu tertawa, tapi mulut mereka terbuka lebar menguap karena rasa kantuk yang menyerang. Cempaka kembali menyusui keduanya, satu per satu si Kembar tertidur yang lebih awal adalah bayi Zia. Menyusul bayi Zio yang menyusu tak cukup sebentar.
Dengan sangat hati-hati Cempaka memindahkan mereka ke dalam box. Nyaman sekali tidur mereka, dipandanginya kedua wajah yang terlelap itu. Diciumnya dahi mereka. Tanpa sadar air mata menetes, akhir dari sebuah perjalanan membuahkan kebahagiaan. Semuanya tak sepahit empedu.
"Manda!"
Lucy mengetuk pintu dan kemudian membukanya, dari dekat box bayi Cempaka meletakkan jari telunjuk di bibir memintanya untuk tidak membuat suara gaduh. Lucy mengangguk dan tersenyum.
Cempaka mendekat, keduanya duduk di sofa sambil memperhatikan si Kembar dari balik box.
"Aku minta maaf karena selama ini tidak mempercayai tuan Arya. Aku pikir dia hanya ingin mengambil hatimu dan setelah itu, memisahkan kalian. Setelah melihat ini semua, aku sadar bahwa tuan Arya memang benar-benar menyayangimu dan kedua anakmu." Lucy menggenggam tangan Cempaka.
Ada sedikit rasa bersalah bersarang di hatinya terhadap tuan Arya yang selama baik. Benar yang dikatakan Cempaka, dia memang baik. Hanya saja, mata hati Lucy yang tertutup karena terlanjur membencinya.
"Tidak apa-apa, Lucy. Setiap orang memiliki sisi baik dan jahat dalam dirinya. Kita tidak boleh memandang remeh kebaikan orang lain karena kita sendiri belum tentu mampu melakukan kebaikan seperti yang mereka lakukan. Kau lihat sekarang, masa depan anakku memiliki harapan. Mereka punya rumah untuk bernaung dari panas dan hujan."
Cempaka menghela napas, mendongak pada langit-langit kamar, menahan air agar tidak jatuh dari tahtanya.
__ADS_1
"Mereka tidak akan hidup dalam kekurangan. Ada aku yang akan menyayangi mereka, ada kau, ada kakeknya yang begitu memperhatikan mereka." Cempaka kembali menurunkan pandangan, menatap Lucy dengan senyuman.
"Terima kasih karena selama ini kau selalu menemaniku, Lucy. Kau keluargaku satu-satunya sebelum tuan Arya mengakui kami. Aku tidak akan pernah melupakan semua yang kita alami." Cempaka memeluk Lucy, keharuan di hatinya berhasil menjatuhkan air dari pelupuk yang segera disapu Cempaka.