
Sementara di tempat tinggal baru Cempaka, wanita itu terlihat lebih bugar dan segar setelah beberapa hari beristirahat tanpa melakukan apapun. Ia baru saja keluar dari sebuah tempat yang akan dijadikannya sebagai lahan bisnis.
Sebuah bangunan yang terbengkalai dan tidak dihuni oleh pemiliknya sudah bertahun-tahun lamanya. Dijual dengan harga sangat murah, berlokasi di pesisir pantai. Cempaka tersenyum puas, ia memanfaatkan uang yang diambilnya dari ATM Caesar sebelum menyerahkan kartu itu kembali.
"Nona, apa yang akan Anda lakukan dengan tempat terbengkalai ini?" tanya Lucy ketika mereka berdua berada di depan bangunan tersebut.
Keduanya menatap gedung itu, sebuah lahan bisnis yang akan sangat menguntungkan untuk ke depannya. Setelah mengamati keadaan tempat tersebut, Cempaka menggali potensi alam yang ada di sana.
"Aku akan mendirikan bangunan ini sebagai tempat singgah yang nyaman bagi mereka yang ingin berlibur di pantai ini. Sangat disayangkan sekali, di tempat seindah ini tak ada tempat untuk beristirahat walau hanya sekedar untuk mengisi perut saja," ujar Cempaka.
Ada banyak wisatawan yang datang berkunjung ke pantai tersebut. Pantai indah dengan air lautnya yang jernih dan pasir berwarna putih. Sebenarnya, ada banyak para pedagang yang berjejer di sepanjang bibir pantai. Warung-warung sederhana yang didirikan oleh masyarakat setempat.
"Bukankah sudah ada banyak warung di sekitar pantai ini?" tanya Lucy lagi masih bingung.
"Bukan tempat seperti itu yang ingin aku bangun, Lucy. Sebuah tempat tinggal sewa bagi mereka yang ingin menginap di pantai ini. Rumah makan sekaligus tempat beristirahat," ujar Cempaka menuangkan ide yang ada di dalam otaknya.
"Kau tenang saja, aku masih memiliki uang dari kartu milik Caesar. Di dalam sana ada hak anakku. Tak apa aku memanfaatkanya sedikit, bukan?" Cempaka tersenyum lebar, diikuti Lucy yang setuju dengan idenya.
"Nona Manda?" Seseorang memanggil membuat keduanya menoleh.
Seorang laki-laki yang berprofesi sebagai mandor ditunjuk Cempaka untuk mengawasi jalannya pembangunan.
"Hallo, Pak Benny! Akhirnya Anda datang juga memenuhi permintaanku," ucap Cempaka yang berganti identitas sebagai Amanda.
"Tentu saja, tawaran yang Anda berikan sangat menggiurkan. Jadi, kapan pembangunannya akan dimulai?" ujar laki-laki bertubuh tinggi besar itu kepada Cempaka.
"Secepatnya, Pak Benny. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi. Gerakkan orang-orang milik Bapak untuk melakukan pembangunan sesuai yang aku inginkan." Tegas dan yakin Cempaka mengucapkan kalimat tadi.
__ADS_1
Mereka berjabat tangan tanda kesepakatan dimulai. Cempaka mengajak Lucy kembali ke kediaman mereka. Sebuah rumah sederhana peninggalan orang tua suami Lucy yang tak jauh dari tempat tersebut.
"Hallo, sayang!" Cempaka meraih seorang bayi dari dalam kereta yang diasuh oleh anak kedua Lucy.
Sementara suami dan anak sulungnya, pergi bekerja sebagai nelayan. Hanya sementara, setelah resort yang dibangun Cempaka berdiri, mereka tak perlu lagi pergi melaut.
"Apakah dia menangis sepanjang kau mengasuhnya, Dinda?" tanya Cempaka sambil memangku bayi itu.
"Tidak, Nona. Dia baik dan terus tertawa sepanjang aku menjaganya, tapi sekarang sepertinya dia merasa lapar." Remaja itu tersenyum melihat bayi di pangkuan Cempaka menarik-narik kemeja ibunya.
"Kau benar. Jika begitu, aku masuk dulu." Cempaka beranjak masuk ke dalam rumah, dan segera ke kamarnya. Ia menyusui bayi itu sambil membayangkan kehidupan mereka untuk ke depannya.
"Ibu, apakah nona akan membangun sesuatu di tempat ini?" tanya Dinda kepada Lucy.
"Yah. Kau lihat saja keajaiban apa yang akan terjadi di sini," ujar Lucy penuh misteri.
Ia bosan tak melakukan apapun di sana, beruntung ada anak Cempaka yang dijaganya. Jika tidak, hidupnya akan benar-benar sangat membosankan.
"Kau di rumah saja, menjaga anaknya nona. Jika tempat itu sudah selesai, kita akan bersama-sama membantu nona mengembangkannya." Lucy mengusap kepala anaknya.
Remaja itu tersenyum, kemudian menoleh pada bangunan yang berjarak hanya beberapa meter saja dari rumahnya. Tak sabar rasanya ingin melihat tempat itu segera berdiri, tempat yang seperti apa sungguh tak ada di dalam benaknya.
"Apa nona akan mendirikan sebuah restoran di sana, Ibu? Masakan nona sangatlah lezat. Semua orang pasti akan menyukainya," ujar Dinda membayangkan saat dulu ia sering memakan masakan Cempaka.
"Sepertinya benar. Nona mengatakan ingin membangun sebuah tempat peristirahatan yang bisa dinikmati para wisatawan yang ingin menginap di pantai ini," jawab Lucy.
"Seperti hotel?" Dinda menoleh pada ibunya.
__ADS_1
"Entahlah. Kita lihat saja nanti." Lucy tersenyum pada anaknya.
"Ibu akan ke dapur memasak makan malam untuk kita. Kau ikut?" Lucy beranjak dari duduk.
Hari sudah mulai memasuki waktu sore hari, suami dan anaknya akan kembali ke rumah sebelum hari berganti malam. Dinda mengangguk, mengekori sang ibu pergi ke dapur.
Kehidupan mereka emang sederhana, tapi mereka terlihat bahagia. Tidak menganggap Cempaka sebagai beban dalam keluarga, mereka menerima wanita itu sebagai anggota keluarga.
****
Di rumah lama, tuan Arya duduk merenung di balkon kamarnya. Menatap langit senja yang bertabur awan jingga nan indah. Matahari perlahan bergerak menuju peraduannya. Sudah dua pekan lamanya sejak ia kehilangan jejak Cempaka, wanita itu belum juga ditemukan.
Tuan Arya menghela napas panjang, setiap kali menghubungi sekretarisnya belum juga membuahkan hasil. Hampir putus asa, tapi tuan Arya belum menyerah.
"Kerahkan seluruh orang-orang kita untuk menyebar ke segala penjuru negeri mencari menantu dan cucuku." Itulah perintah yang diberikan tuan Arya tiga hari yang lalu saat ia menghubungi sekretarisnya.
"Di mana kalian? Bagaimana kehidupan kalian? Kenapa Caesar tega melakukan ini semua?" Ia bergumam teringat laporan sang sekretaris tentang alasan Cempaka pergi.
"Tuan Caesar telah menceraikan nona, Tuan. Itulah mengapa nona pergi dari kota ini. Beliau sudah tidak memiliki keluarga, satu-satunya keluarga adalah ayahnya yang saat ini berada di dalam penjara karena tuduhan membunuh kedua anaknya yang kembar."
Tuan Arya menghela napas lagi, tak habis pikir dengan kelakuan anaknya yang begitu egois. Demi mendapatkan keturunan, memanfaatkan ketidakberdayaan seorang wanita.
"Rasanya aku tidak bisa tinggal diam di sini saja. Aku ingin mencari mereka sendiri," gumam tuan Arya lagi seraya beranjak dari balkon dan masuk ke kamarnya.
Rumah luas itu telah menjadi sunyi sejak kepergian sang istri tercinta. Sesunyi hatinya yang meski telah menikah dengan Lisa. Ia tak lagi memiliki anak karena Lisa memang tak berniat memilikinya bersama laki-laki tua itu.
Ia tiba di depan sebuah potret besar, bulan madunya bersama ibu Caesar di pantai. Terbesit keinginan di dalam hati untuk pergi ke tempat itu lagi.
__ADS_1