(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 39


__ADS_3

Rumah besar itu kembali sepi, hanya menyisakan tuan Arya dan istrinya beserta para pelayan. Caesar menggelar acara syukuran bersama Eva di kantornya, hari itu semua karyawan diliburkan dari bekerja.


"Apa kau sudah bertemu dengan Cempaka?" tanya tuan Arya pada istrinya.


"Cempaka?" Lisa mengernyit, mengingat-ingat nama yang pernah singgah dalam ingatannya.


"Yah, gadis yang tadi kau usir dari kursi," jawab tuan Arya menjelaskan.


Mulut Lisa membulat ketika mengingat siapa itu Cempaka.


"Dia istri Arjuna. Ada apa?" Ia menatap suaminya heran, kenapa bertanya tentang gadis itu.


"Istri Arjuna?" Tuan Arya mengulang bingung, Yudi mengatakan dia pelayan pribadi Eva. Lalu, sekarang Lisa mengatakan dia istri Arjuna.


"Yah, benar. Mereka membawanya ke rumah ini untuk membantu Eva. Apalagi sekarang dia sedang mengandung, sudah pasti membutuhkan bantuan seseorang yang bisa memperhatikan dirinya," ujar Lisa terdengar masuk akal.


Tuan Arya tercenung, dia lebih melihat kedekatan Cempaka dengan Caesar daripada Arjuna karena sekalipun ia tak pernah melihat kebersamaan mereka. Namun, demi penyelidikan yang sedang dia lakukan, tuan Arya menganggukkan kepala.


"Oh, jadi begitu. Aku kira dia cuma pelayan pribadi Eva, ternyata istri Arjuna." Tuan Arya manggut-manggut mengerti.


"Memangnya kenapa? Kau sering berbincang dengannya?" selidik Lisa sembari menelisik wajah suaminya.


"Hanya sekali, itu karena aku baru melihatnya. Yudi mengatakan jika dia adalah pelayan pribadi Eva." Tuan Arya tersenyum sambil menatap wajah sang istri.


"Aku dengar dia hanya sebentar saja tinggal di sini, setelah itu Arjuna akan membawanya kembali," ujar Lisa memberitahu suaminya.


Keduanya terus berbincang apa saja untuk menghabiskan waktu.


"Sayang. Aku membutuhkan uang, ada sesuatu yang harus aku lakukan pada bisnis baruku. Kau tahu, bukan, saat ini persaingan bisnis begitu ketat. Aku tidak ingin tertinggal. Bisakah kau memberiku tambahan modal?" rayu Lisa sembari memijit pelan lengan suaminya.

__ADS_1


Tuan Arya melirik, bulan kemarin dia sudah memberi modal tambahan untuk bisnis Lisa. Akan tetapi, tak sekalipun wanita itu menunjukkan kepadanya tentang bisnis yang sedang ia geluti.


"Bukankah bulan lalu aku sudah memberimu tambahan modal? Apalagi yang kau butuhkan untuk bisnismu itu?" selidik tuan Arya menahan diri agar kecurigaannya tak diketahui Lisa.


"Itu aku menambah gedung, sekarang aku ingin mengisi gedung kosong itu dengan barang-barang yang akan aku jual. Bisnis ini menguntungkan, aku yakin. Kau tidak akan merasa rugi pokoknya." Lisa tertawa garing, merayu tuan Arya tidaklah sulit. Jadilah istri yang patuh dan diam di rumah, maka apapun yang kau minta dia akan berikan.


Tuan Arya menghela napas, ia merogoh saku mengeluarkan ponselnya. Lalu, mengetik sejumlah angka untuk dikirimkan ke nomor rekening sang istri.


"Aku sudah mengirimnya, kau cek saja. Ingat, jika bisnis itu tidak membawa keuntungan untukmu, maka tinggalkan saja." Tuan Arya menasihati karena selama ini tak sekalipun ia mendengar laporan Lisa tentang keuntungan dari bisnisnya.


"Ya, kau tenang saja. Terima kasih banyak, ya." Lisa mencium pipi tuan Arya. Ia berdiri dari duduknya bersiap hendak pergi.


"Jika begitu aku pergi dulu, ya. Nanti aku datang lagi ke sini. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa minum obatnya." Lisa kembali mencium pipi tuan Arya sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Caesar.


Laki-laki tua itu menghela napas, semakin ke sini sikap Lisa semakin terlihat hanya memanfaatkannya saja. Sepertinya tuan Arya harus merencanakan sesuatu untuk berjaga-jaga di kemudian hari. Ia menghubungi sekretarisnya dan meminta bertemu.


****


Pesta kecil-kecilan digelar dengan aneka makanan terhidang yang sengaja Caesar siapkan. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya perih bila mengingat Cempaka yang seharusnya berada di posisi Eva.


Namun, pernikahannya dengan Cempaka adalah rahasia, tidak ada yang tahu selain mereka dan para pelayan di rumah Caesar.


"Terima kasih." Eva tersenyum bahagia, terlihat gurat kebahagiaan di wajahnya. Tak sabar rasanya menjadi pemilik gedung tersebut.


"Anda semakin terlihat lebih muda, Nyonya. Apakah ini aura dari si Jabang Bayi?" celetuk salah satu karyawan wanita memuji kecantikan Eva yang tak pernah memudar.


"Ah, kau bisa saja." Eva tersenyum malu, tapi di dalam hati dia memuji dirinya sendiri. Seperti para bidadari, kecantikannya kekal abadi.


"Terima kasih pestanya, Tuan, Nyonya." Bergantian mereka memberikan selamat kepada pasangan itu. Setelah tiga tahun menikah, akhirnya kabar baik itu mereka dengar jua.

__ADS_1


"Bersenang-senanglah hari ini, esok kalian harus kembali pada pekerjaan kalian!" seru Caesar.


Mereka bersorak, setidaknya satu hari itu mereka tidak perlu melakukan pekerjaan. Beristirahat dari angka-angka yang terus berputar-putar juga huruf-huruf yang menari-nari di pelupuk. Semuanya terlihat bergembira.


Sementara di tempat lain, Cempaka dengan dibantu Lucy tengah merapikan tempat tinggal baru mereka. Mengatur seisi rumah agar terlihat lebih rapi dah enak dipandang. Menyapu, mengepel, membersihkan apa saja sebelum benar-benar mereka tempati.


"Nona, sebaiknya Anda beristirahat saja. Biarkan saya yang menyelesaikan semuanya," ucap Lucy merasa kasihan pada majikannya itu.


Lagipula, Cempaka merasa lelah. Disapunya keringat yang memenuhi wajah, sembari menghela napas pendek-pendek karena lelah.


"Jika begitu, tolong, ya. Perutku sedikit mual," ucap Cempaka seraya meletakkan alat kebersihan di tempatnya. Ia duduk di sofa, melepas lelah, menatap halaman rumah dari jendela yang tampak sepi.


"Lucy, kenapa di sini sepi sekali? Apa tidak ada yang tinggal di sini?" tanya Cempaka tak mengalihkan pandangan dari teras rumah yang lengang.


"Ya, Nona. Karena penghuni di komplek ini mereka jarang sekali di rumah. Hanya pada waktu malam saja mereka akan mengisi rumah, selebihnya mereka habiskan di luar," jawab Lucy memberitahu Cempaka.


"Lalu, anak-anak mereka? Apakah di sini tidak ada anak-anak kecil?" Cempaka kembali bertanya, kali ini memalingkan wajah kepada Lucy.


"Mereka bersekolah, setelah itu para pengasuh mereka tidak mengizinkan mereka untuk bermain di luar."


Cempaka manggut-manggut mengerti, komplek itu tak jauh berbeda dengan komplek perumahan yang dihuni Caesar. Sama-sama sepi, di antara tetangga tidak saling mengenal satu sama lain.


"Mmm ... Lucy! Aku ingin itu. Bisa kau membelikannya untukku?" Cempaka berseru saat seorang pedagang melintas di halaman rumahnya.


Lucy baru saja menyelesaikan pekerjaan, terburu-buru menerima uang dari Cempaka dan berlari keluar rumah. Seorang penjual buah dan rujak yang secara kebetulan berkeliling di komplek tersebut.


Cempaka tak sabar, air liurnya terus berkumpul di bawah lidah ingin segera mencicipi rujak tersebut.


"Makanlah bersamaku. Akan terasa lebih nikmat bila kita memakannya bersama-sama."

__ADS_1


Keduanya terlihat semakin akrab, di rumah itu tak ada aturan yang memberatkan. Merekalah pemiliknya, tak ada pembantu dan majikan. Cempaka ingin mereka seperti teman yang tidak saling memanfaatkan.


__ADS_2