
Di rumah besar Caesar, Eva memenuhi keinginan suaminya untuk tidak sering-sering pergi keluar meninggalkan bayi mereka. Namun, tetap saja, di rumah itu pun ia jarang bermain dengan bayi Evan. Sibuk menghabiskan waktu dengan bermain ponsel, atau memanjakan diri dengan segala hal.
Ani datang di saat Eva sedang melakukan perawatan terhadap kuku-kukunya yang cantik. Dia mendorong bayi Evan ke hadapan ibunya.
"Nyonya, keperluan Tuan Muda sudah menipis, saya akan pergi membelinya. Apa Anda tidak keberatan menjaga Tuan Muda sebentar? Atau saya bawa saja?" ucap Ani melihat Eva yang begitu sibuk dengan dirinya, sudah pasti dia tidak akan bisa fokus menjaga bayi tersebut.
"Apa kau tidak lihat, Ani? Aku sedang sibuk. Kau bawa saja bersamamu, tapi ingat jangan lama-lama dan kembali dengan selamat," sahut Eva menunjukkan kuku-kukunya yang sedang dihias.
Mata lentik itu melirik bayi di dalam kereta, tersenyum meski tak acuh padanya. Sudut bibir Ani tertarik ke samping, dia senang diizinkan pergi keluar bersama bayi tersebut.
"Baiklah jika begitu, Nyonya. Saya permisi dulu!" Ani mengangguk seraya mundur untuk segera pergi membeli keperluan bayi Evan.
Di luar, supir dan pengawal yang dikhususkan menjaga bayi tersebut sudah siap untuk mengawal mereka. Secara kebetulan, Ani berpapasan dengan Lisa yang berkunjung ke rumah itu.
"Selamat datang, Nyonya!" Ani membungkuk sopan, teringat pada perintah Caesar yang menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Lisa.
Lisa tak menanggapi, mendengus sambil berpaling seraya melanjutkan langkah yang sempat terhenti karena sapaan Ani.
"Saya meminta maaf atas kejadian malam itu, Nyonya. Kiranya Anda bermurah hati untuk memaafkan saya yang rendah ini."
Kalimat Ani yang terdengar lembut bagai hembusan sepoi angin itu, sukses menghentikan langkah Lisa lagi. Dia berbalik, menatap tajam pada pengasuh cucunya.
"Kau yakin, kau meminta maaf dari dalam hatimu?" tanya Lisa memastikan semua pekerja tidak ada yang merendahkan majikan.
"Ya, Nyonya. Saya sangat menyesal atas kejadian malam itu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya," ucap Ani yang dilanjutkan di dalam hati. Di tempat keramaian pesta.
Lisa menyunggingkan senyum, ia berjalan mendekat sambil bersedekap dada angkuh. Melirik Ani juga bayi Evan di dalam kereta. Bayi yang menggemaskan sebenarnya, dan entah mengapa dia memiliki kedekatan dengannya.
__ADS_1
"Baiklah. Kali ini aku akan memaafkanmu, tapi jika lain kali kau melakukan hal yang sama jangan salahkan aku yang akan langsung mengusirmu dari sini," ancam Lisa dengan pasti.
"Baik, Nyonya." Cengkeraman Ani pada kereta bayi Evan mengerat, tapi ia mencoba untuk menahan diri dan mengalah.
"Terima kasih sekali lagi. Jika begitu, saya permisi." Ani berbalik dan hendak pergi, tapi panggilan Lisa menghentikan dirinya.
"Tunggu! Kau mau pergi ke mana? Kenapa cucuku kau bawa?" selidik Lisa mengernyit tak senang melihat Ani membawa bayi Evan keluar.
Ani kembali berbalik dan membungkuk. "Maaf, Nyonya. Atas izin nyonya Eva saya hanya ingin mengajak Tuan Muda pergi berjalan-jalan. Saya tidak sendiri, ada pengawal yang akan mengawasi kami."
Lisa tahu, Ani memang sering mengajak bayi Evan keluar untuk bermain di taman. Eva selalu mengizinkan hal tersebut, tapi entah dengan Caesar.
"Oh." Hanya itu, Lisa berbalik dan masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Ani, yang bergegas pergi.
Lisa mencari keberadaan Eva, sedikit tak senang Ani begitu dibebaskan untuk membawa Evan. Ia mendengus melihat Eva begitu sibuk dengan kegiatannya.
Eva tak acuh, sibuk memandangi kukunya yang baru saja dihias. Dia tidak menyukai Lisa karena wanita itu sama serakahnya seperti dirinya.
"Kau tidak mendengarku, Eva? Evan itu cucuku meskipun tiri. Aku mengkhawatirkannya, apa kau tidak mengkhawatirkan anakmu sendiri?" Nada bicara Lisa mulai terdengar kesal.
Eva mendengus, dia menganggap Lisa hanya berakting dan yang sebenarnya wanita tua itu tak peduli sama sekali.
"Aku sedang sibuk, Ibu. Apa Ibu tidak melihat? Lagipula, Evan bersama Ani. Tidak akan terjadi apapun padanya, aku percaya pada pengasuh anakku, Bu." Eva sama sekali tidak memandang kepada Lisa.
Ibu tiri Caesar itu semakin jengah dibuatnya, Eva semakin semena-mena dan merasa dirinya di atas awan. Lisa menghela napas, mencoba untuk tidak terbawa emosi.
"Aku hanya khawatir kau akan menyesal, Eva. Itu saja. Selebihnya, terserah padamu." Lisa tersenyum saat Eva meliriknya.
__ADS_1
Wanita tua itu bangkit dari sofa, pergi meninggalkan Eva yang terus sibuk merawat dirinya. Manik Eva mengekor langkah Lisa dengan tajam, semakin tak senang dengan tingkah sok berkuasa dari mertuanya itu.
"Kau sudah berani mengancamku, padahal posisimu ... mudah saja bagiku untuk melenyapkanmu." Eva memicingkan mata penuh kebencian.
Selalu merasa tak senang kegiatannya diganggu. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Lisa untuk membuat Eva menyadari sikapnya yang terlalu membebaskan Ani.
Eva melanjutkan kegiatannya tanpa mengindahkan ancaman Lisa. Sementara wanita tua itu, pergi keluar rumah berkumpul bersama teman-temannya. Lisa mengeluarkan ponsel menghubungi Caesar.
"Apa Ibu mengganggumu?" tanya Lisa begitu panggilan terjawab.
"Tidak, Bu. Kebetulan tidak ada rapat hari ini. Ada apa? Ibu tidak biasanya menelponku," sahut Caesar sedikit menaruh curiga karena Lisa tidak pernah menghubunginya.
"Ah, tidak apa-apa. Ibu ingin bertemu denganmu. Kau ada waktu?" pinta Lisa meski sedikit ragu, dia harus melanjutkan rencananya.
Caesar diam beberapa saat, Lisa tak pernah meminta bertemu sebelumnya. Hati Caesar bertanya-tanya, berita apa yang ingin dibicarakan ibu tirinya itu.
"Ya, Bu. Di mana? Ibu tentukan saja tempatnya, kirim padaku lewat pesan. Aku akan datang," jawab Caesar pada akhirnya.
Lisa menutup sambungan, mengetik pesan kemudian. Bibirnya menyunggingkan senyum licik, entah apa yang direncanakan wanita tua itu sebenarnya. Ia menepuk sang supir, memintanya untuk pergi ke sebuah cafe di mana dia akan bertemu dengan Caesar.
"Kita lihat saja nanti, setelah ini kau akan mendiamkan pengasuh anakmu itu atau tidak?" gumamnya tersenyum puas.
Mobil yang membawa Lisa berhenti di sebuah parkiran cafe. Ia turun setelah menggunakan kacamata hitam, dan berlenggok dengan angkuhnya. Para karyawan di cafe tersebut menyambut dengan ramah dan sopan, Lisa memesan sebuah ruang privasi di tempat tersebut.
"Aku akan menanyakan perihal laki-laki tua itu kepadanya. Mungkin saja dia tahu di mana keberadaannya? Sial!" Lisa bergumam kesal setelah duduk di ruang VIP yang disediakan cafe tersebut.
Ia membuka ponsel mengirim pesan pada orang-orang yang dimintanya mencari keberadaan tuan Arya. Lisa menghela napas, masih nihil. Sudah pasti wanita tua itu tidak mengetahui perihal villa keluarga Arya di sebuah tepi pantai. Yah, karena itu hanya menjadi rahasianya. Bahkan, Caesar dilarang membawa Eva ke sana.
__ADS_1